
Tubuh Diah babak belur penuh luka, dia telah mengenakan seluruh pakaiannya, lalu terduduk karena lelah dan kesakitan.
“Kenapa aku harus berlari ke seliling tempat ini?” tanya Diah.
“Karena ini akan menjadi altar pemujaanku, Ratu terdahulu kerajaan ini, juga dulua memujaku di sini, membangun altar megah, tapi setelah kekuasaannya tumbang, dia dikubur di sini dan altar dihancurkan.
Aku membuat altar itu bangkit kembali dengan percikan darahmu dan juga keperawananmu, bukankah kau tidak melihat tadi, bahwa semua anak buahku telah menjamah tubuhmu, masuk ke dalam semua organmu, untuk menyatu denganmu, sehingga apapun yang kau inginkan saat ini, akan menjadi milikmu.”
Ratu Amanasih memberikan janjinya, janji yang akan membuat Diah benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? tubuhku sudah rusak begini, penuh luka.” Diah terlihat sangat khawatir.
“Pulanglah, bawa ini, masukan tanah ini setiap kali kau mandi, taburkan sedikit pada makanan dan minumanmu juga, jangan mengucap mantraa ataupun rajah, karena itu pasti diketahui oleh cucu ratu, Raja Adi Barang. Dia sangat mahir dalam melihat sihir mantra, tapi dia tidak memiliki ilmu pada sihir yang menyatu dengan tubuh, dia akan tunduk padamu.
“Baiklah, aku akan kembali ke pendopoku, aku akan pastikan melakukan apapun yang kau perintahkan.”
“Diah kembali dengan mengendap-endap di tengah malam, masuk ke pendoponya setelah memastikan dayangnya masih terlelap.
Pagi tiba, Diah terbangun, begitu ingat kejadian semalam, Diah langsung bangun dan memeriksa tubuhnya, tidak ada luka satupun, tubuhnya mulus dan bersih, bahkan lebih mulus dari biasanya.
“Diah, mandi yuk, hari ini ada perayaan kelahiran anak Ratu Dahlia yang kelima, kita semua diharuskan merias diri sebaik mungkin, memakai pakaian resmi selir dan menghadiri upacara perayaannya.” Seorang selit teman pendoponya mengingatkan.
Diah langsung senang, karena dia merasa memiliki kesempatan dengan berada di sekitar Raja, walau dia harus bersaing dengan 32 selir dan sang pemimpin, Ratu Dahlia.
Diah mandi bersama selir yang lain, mereka mandi di kamar mandi utama yang cukup besar, kamar mandi itu memiliki kolam dengan ukuran yang sedang terbuat dari batu kali, beberapa selir mandi bersama ditemani dayang-dayangnya untuk menggosok tubuh mereka.
Ditengah mandi bersama itu, selir Diah masuk ke dalam bak mandi bersama yang lain, lalu saat dia membuka baju, beberapa selir takjub.
“Wahai Selir Diah, tubuhmu begitu putih bersih dan mulus, bahkan aku merasa tubuhmu bercahaya, sangat amat indah dipandang.” Selir itu wanita, tapi tidak segan untuk memuji betapa tubuh Selir Diah sangat indah.
“Iya, saat kau datang tadi pun, terasa wangi sekali, kau pakai wewangian apa?” Selir lain mulai mendekatinya, mereka sangat suka berdekatan dengannya.
“Ya, aku hanya merawat diri saya, aku terbiasa menjaga tubuhku dengan makanan yang sehat, aku lebih banyak makan sayur dan buah.” Ucap omong kosong Diah pada semua teman selirnya.
“Eh tapi, kenapa tubuhmu jadi kusam gitu sih? wajahmu juga terlihat sangat kusam, kau kurang tidur ya?” Tiba-tiba seorang selir lain menghina selir lainnya.
“Iya, aku tidak tahu, akhir-akhir ini kulitku terasa lebih kasar dan juga gelap, aku sudah mencoba merawat tubuhku, tapi tetap saja kulitku terlihat kusam.” Selir yang dihina itu tidak menampik, karena dia memang merasa aneh dengan tubuhnya.
Selir Diah tersenyum tanpa terlihat, tentu saja tubuh kalian semua satu persatu akan kusam dan jelek, karena air mandi di kamar mandi telah diberi Rajah Kalacakra Junggleng, doa pembalik yang membuat bala. Satu persatu, selir ini akan sakit dan terlihat jelek di hadapan Raja, hanya tinggal tunggu waktu saja. Bukankah untuk meruntuhkan kekuasaan Ratu Dahlia yang dipuncak, Diah harus membuat pijakan Ratu Dahlia runtuh, yaitu orang-orang terbawahnya.
“Kemarin Prabu Adi Barang ke kamarmu hanya sebentar? Apa itu karena kulit kusammu?”
__ADS_1
Selir itu mengangguk dan sedikit sedih.
“Kau tidak perlu sedih, jadwal Raja kelak pasti dia akan lama bersamamu, mulailah merawat diri ya.” Diah pura-pura baik.
“Hati-hati, bisa jadi ada yang sengaja ingin mencelakaimu.” Selir lain terdengar menghasut.
“Apa maksudnya?” Selir yang berkulit kusam itu bingung.
“Ya, karena kulit kusammu itu tiba-tiba, bisa jadi, ada yang sengaja membuatnya seperti itu, agar Raja tidak tahan bersamamu.”
“Sssttt .... “Selir Diah meminta selir yang berbicara untuk memelankan suaranya.
“Kalian keluar dulu ya, kami akan mandi sendiri.” Diah meminta semua dayang keluar.
“Kenapa Diah, kok kau meminta dayang kita keluar?” Tanya selir yang tadi curiga ada hal aneh pada selir lain itu.
“Kau tahu kan, kalau dayang-dayang itu suka mengadu pada Ratu Dahlia, hati-hati kau bicara, bisa-bisa kau diadukan.” Diah mulai bersilat lidah.
“Apa maksudmu? Kenapa aku mesti takut kalau Ratu Dahlia dengar apa yang kita bicarakan, aku hanya curiga kalau ada selir lain yang mengerjai dia, aku tidak menyangka apapun pada Ratu Dahlia.” Diah tertawa dalam hati, Selir ini terkena jebakannya, dia sengaja membuat dayang-dayang curiga pada perkataan Selir yang tidak bermaksud menuduh Ratu, dia sebenarnya menuduh Selir lain yang mungkin mulai saling menyerang karena ingin bersama Prabu Adi Barang.
“Mana ada yang berani mencelakaiku, selain orang yang merasa dirinya aman jikalau ketahuan, hanya Ratu Dahlia yang paling mungkin melakukan itu padaku, pada kulit kusamku ini.” Tepat reaksi yang Diah inginkan.
“Tapi apakah Ratu Dahlia orang yang serendah itu?” Diah berkata dengan berbisik. Dia sedang berakting, seolah membela Ratu Dahlia, padahal hanya menggiring semua orang berpikir Ratu adalah orang jahat, biasanya keyakinan yang dibantah, akhirnya akan dicari cara untuk dikukuhkan sebagai sesuatu yang nyata, kebiasaan manusia dalam memaksa orang lain yakin. Diah memancing hal itu.
Dia mungkin akan mencelakai kita satu persatu, aku adalah orang pertama yang kulitnya kusam, jika kulitku makin parah, maka aku akan melakukan apapun untuk bertahan, aku ingin menemui suamiku.”
Mendengar suaminya dipanggil suami oleh orang lain membuat kepala Diah mendidih, dia lalu menatap wanita yang berkulit kusam itu lalu berkata ....
“Raja pasti tidak akan suka dengan wajah kusam dan kulit yang kasar seperti ini, kau harus benar-benar merawat tubuhmu, kalau tidak mungkin kau akan ditendang dari kerajaan.” Diah mengatakannya dengan dingin.
“Apa benar aku akan segera ditendang dari kerajaan? Tapi sebelumnya raja sangat suka datang padaku, seharusnya aku aman.”
“Maka karena itu kau harus waspada, Ratu mungkin cemburu padamu, seperti Diah yang kemarin dipaksa menghadiri sidang darurat karena dituduh melakukan prakter sihir pada Raja dengan mantra.”
“Kau tahu itu?” Diah kaget karena selir teman pendoponya tiba-tiba berkata seperti itu.
“Ya aku tahu, aku menguping dayang yang sendang membicarakanmu, katanya kau ketakutan dan gemetar ketika Ratu memintamu untuk mengaku.”
Bukan itu yang terjadi karena sebenarnya yang terjadi adalah Diah menantang Ratu untuk membuktikannya sendiri, dengan menghadirkan Raja, tapi tentu saja, Diah pandai bersilat lidah.
“Iya, aku takut sekali ketika menghadiri sidang itu, aku sangat takut, hingga membuat aku gemetaran, bagaimana mungkin aku bisa melakukan sihir pada suamiku, aku hanya ingin hidup tenang, aku hanya ingin mengabdi, bahkan pada Ratu sekalipun, tapi entah kenapa Ratu sepertinya tidak suka padaku.” Diah sedih dan berusaha mengeluarkan air mata, dia berbalik menjadikan Selir ini sebagai pendukungnya mungkin akan baik.
__ADS_1
“Ratu sudah keterlaluan bukan? kemarin Diah, lalu selir lain lagi, siapa yang tahu, besok-besok mungkin kita yang akan dikerjai.” Selir lain yang dari tadi hanya diam, tiba-tiba berkata dengan menggebu-gebu.
“Lalu kita harus bagaimana?” Selir lainnya bertanya.
“Kudeta!” Semua orang terdengar kompak walau mengatakannya dengan berbisik.
“Jangan gegabah kalau kalian tidak ingin sepertiku dan dia. Aku di bawa ke ruang sidang darurat, sedang dia harus dibuat jelek seperti itu, kalian harus sabar, jangan bergerak dan bertindak terburu-buru, ingat Prabu Adi Barang sangat percaya pada Permaisuri Dahlia.”
“Trus? Kita harus diam saja diperlakukan tidak adil? Kita ini adalah istrinya, punya tanggung jawab juga untuk melayani Raja.”
“Tunggu sampai kita punya bukti, karena Ratu bukan lawan yang biasa, kita harus bersiap dengan banyak kemungkinan.” Diah tidak menyangka bahwa, Rajah yang menjadi bala justru membuatnya memiliki bala tentara, pada waktunya mereka akan melawan tanpa diminta, sekarang yang terpenting adalah menggoyahkan hati Raja terlebih dahulu.
Ritual mandi selesai, mereka semua berpakaian paling cantik dengan wewangian lalu berbaris bersama untuk menuju aula besar, di mana perhelatan upacara kelahiran diadakan.
Semua Selir duduk di bawah dengan posisi yang sama, dengan kebaya dan kain jarik yang ketat, duduk Selir sungguh sangat menyiksa, berbeda dengan Permaisuri yang duduk di singgasana, Permaisuri memang sangat cantik, tapi Diah hari itu adalah bintangnya, semua mata tertuju padanya, Diah sengaja memakai kebaya berwarna putih, warna kesukaan Raja.
Beberapa kali Raha terlihat melirik ke arahnya, walau tidak sejelas lelaki lain di ruangan ini, tapi Raja jelas mulai memperhatikan Diah Ningrum.
Upacara kelahiran Putra Mahkota sudah selesai, semua orang lalu dibubarkan sesuai protokol kerajaan, Raja, Ratu dan Putra Mahkota keluar duluan, baru semua orang.
“Enak sekali ya jadi Permaisuri, kakiku sangat sakit karena tadi duduk menindih kakiku sendiri, dua jam kita menahan sakit, sementara Permaisuri duduk dengan anggun di samping Raja.” Selir lain berkata saat mereka berjalan kembali ke pendopo masing-masing, tentu berbisik agar tidak terdengar dayang.
“Ya, aku juga tadi iri melihatnya, duduknya Ratu sangat anggun dan cantik.” Diah masih berpura-pura menjadi gadis lemah.
“Kita semua juga akan terlihat anggun dan cantik jika diizinkan untuk duduk dengan anggun di singgasana Raja, bukan duduk bersama dayang.” Selir yang tadi membuka percakapan terlihat kesal.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan, kita harus fokus untuk membuat Raja nyaman, sehingga dia akan betah bersama kita.”
“Hei Diah, kau bahkan belum pernah tidur dengan Raja, lalu kenapa kau seolah mengerti sekali?” Seorang Selir mengejek Dahlia.
“Aku memang belum tidur dengan Raja, tapi percayalah bahwa kesabaran dan ketulusan akan menyentuh hati Raja dan akhirnya menyayangi kita.” Diah masih saja berpura-pura.
“Diah, kau ini terlalu baik, mungkin karena kau masih muda makanya pikiranmu masih naif, kelak ketika kau begitu menginginkan bersama Raja dan betapa lembut sentuhannya, kau akan sangat ingin selalu bersama Raja.” Selir lain ikut menimpali.
Diah merasa sangat panas dengan omongan itu, karena beraninya dia mendeskripsikan sentuhan lelaki yang sangat Diah inginkan dengaan gamblang, Diah kesal karena hanya dia yang belum disentuh Raja.
“Diah, percuma kau cantik dan sangat berkilauan begitu, kalau Raja saja enggan menyentuhmu.” Selir yang terkenal sangat tajam lidahnya menghina.
Suasana mulai panas, Diah akhirnya pamit ke pendopo karena sudah sampai, sebelumnya dia juga berkata di telinga selir yang tadi berani menghinanya.
“Aku berharap kebaikan untukmu.” Selir Diah sengaja berkata cukup keras walau dia sedang berbisik pada selir yang tadi menghinanya.
__ADS_1
Semua orang dengar Diah sedang mendoakan orang yang sudah menghinanya, Diah sungguh mulai dikagumi. Padahal Diah sedang merapal Rajah pembalik, sehingga doa baiknya akan berbalik menjadi bala dengan segera.