Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 482 : Nyebrang 14


__ADS_3

“Ya, tapi ... ah, sudahlah, kau makan dulu, istriku sudah menyediakan makanan untuk kita, ayo kita makan di rumahku.” Eman mengajak Aep makan di rumahnya, hal biasa mereka lakukan jika Eman ada di rumah, makan bersama keluarga mereka.


Saat mereka berjalan hendak ke rumah Eman, mereka berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang selesai belanja dari pasar, melihat Eman dan Aep, bukannya menyapa, mereka malah berbisik-bisik, lalu tertawa tanpa bersikap ramah.


Ada apalagi ini?


Baru Saja Eman melangkahkan kaki ke dalam rumah, dia melihat istrinya sudah menangis tersedu-sedu, Aep tidak jadi masuk ke dalam rumah, dia tak ingin masuk ke dalam ranah masalah rumah tangga seseorang. Maka dia menunggu saja dan duduk di halaman rumah Eman.


“Kenapa, Bu?” Eman bertanya.


“Pak, kamu tak dengar tetangga bicara apa tentangku dan ... Kang Aep?” Istrinya sudah di dudukkan di bangku ruang tamu.


“Kau dan Aep? Tidak, aku tidak dengar, ada apa memang?”


“Mereka bilang kalau Aep bermain mata denganku, saat kau pergi ke luar kota, Aep sering menginap  di rumah, mereka bilang aku, aku ... aku jijik mengatakannya! Mereka bilang aku dan Aep ... berselingkuh!” Wanita itu menangis sejadinya, dia merasa sudah sangat direndahkan oleh orang-orang di desa ini, padahal banyak dari mereka tahu, bahkan saat Aep membetulkan sesuatu di rumah ini, dia selalu meminta beberapa orang untuk ikut membantunya, agar tak ada fitnah.


Tapi sekarang, semua orang seolah percaya pada gosip itu, mereka bahkan bilang, bahwa Aep dan istrinya Eman hanya bersandiwara saat Aep datang untuk membantu bersama beberapa tetangga, hanya berpura-pura seolah mereka orang-orang yang taat pada agama dan norma.


Entah dari mana gosip itu berhembus.


“Astagfirullah!” Eman terduduk, lemas mendengar itu.


“Kau percaya pada gosip itu?” Istrinya bertanya, melihat reaksi Eman, dia jadi agak takut.


“Tentu saja tidak, aku hanya merasa kasihan pada Aep, Bu. Tidak ada hentinya semua orang mencoba untuk menjatuhkannya.”


“Kau tidak kasihan padaku! aku juga malu dengan semua gosip itu!”


“Kau tidak perlu membuktikan kesucian dirimu pada siapapun, kau hanya perlu kepercayaan dariku, karena aku suamimu, aku yang akan mempertanggungjawabkan semua dosamu kelak. Tapi Aep? Dia sendirian Bu, siapapun yang menyebarkan gosip itu, pasti mereka ingin kita ikut menjauhinya.”

__ADS_1


Eman lalu teringat kalau Aep masih ada di depan rumahnya.


Eman bergegas ke luar untuk berbicara dengan Aep, saat dia sudah di luar, Eman tahu, Aep mendengar semuanya.


“Aku sudah menjaga dengan sangat hati-hati saat berkunjung ke rumahmu tapi kau tak ada di rumah, hanya jika istrimu benar-benar dalam keadaan darurat dan selalu memanggil beberapa orang untuk ikut masuk, hanya agar tidak ada fitnah seperti ini.


Tapi mereka tetap percaya setelah apa yang aku coba jaga. Orang-orang dungu di desa ini sama saja dengan para dukun itu! mereka tidak tahu terima kasih, banyak hal yang aku lakukan di desa ini untuk mereka, tapi aku hanya dapat kotoran yang dilempar ke mukaku, hanya karena hasutan dari orang yang memang ingin aku terpuruk.


Maka saat ini, jika aku memburu merema satu persatu, bukan salahku, mereka sudah membuat kau dan kelaurgamu ikut susah dan malu.


Aku memang tidak pantas untuk berkawan dengan siapapun.”


“Ep, aku mohon, jangan begini. Aku percaya padamu dan istriku, itu gosip murahan.”


“Andai semua orang seperti Eman, kawanku yang baik hatinya. Man ... maaf, kita hanya akan berkawan sampai di sini saja.


Aku haramkan kau datang ke rumahku lagi, aku juga tak akan menerima apapun bantuanmu. Jangan datang ke rumahku, aku pun takkan datang ke rumahmu.


Bilang pada warga desamu, mereka akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini!”


Aep lalu hendak pulang.


“Ep, aku tahu kau marah, tapi jangan pernah hilangkan sisi baikmu hanya karena marah. Aku mohon Ep.”


“Tidak Man, maaf. Ini terakhir kali kita bicara.”


Aep lalu pergi dari rumah itu.


Aep tidak ingin lagi Eman sulit, dia ingin Eman dan keluarganya untuk hidup lebih tenang tanpa harus menanggung akibat dari berteman dengannya.

__ADS_1


Para dukun laknat itu harus dibuat kapok, dulu ayahnya mati mendadak, mati tanpa sebab, sudah pasti ulah salah satu dukun itu dan sekarang, Aep juga harus ikut merasakan dibombardir oleh serangan ghaib, serangan fitnah dan terakhir serangan pada nafkah yang diusahakan.


Sejak saat itu, Eman tidak pernah lagi bisa bertemu dengan Aep,  dia sungguh menutup diri. Tapi pada malam-malam tertentu, Eman sering mendengar ledakan, dari atap rumah kami.


Sepertinya, dukun-dukun itu tidak hanya menyerang Aep, tapi juga menyerang Eman yang tetap percaya padanya, Eman juga tahu kalau Aep menjaga dia dan keluarganya tanpa bilang.


Selama satu bulan, setiap istri Eman akan ke pasar, pasti banyak orang yang berbisik di belakangnya, tertawa dan melihat jijik pada istrinya, dia sering kali pulang dalam keadaan menangis, Eman sangat kecewa pada dirinya sendiri, kenapa Eman tak dapat lakukan sesuatu, bahkan Aep masih bisa terus menolong dia dan keluarganya setelah dia menutup diri, Aep terus menjaga Eamn setiap malam, Eman tahu dengan jelas, dia menjauhi Eman karena takut dia dan keluarganya menderita dengan menjadi kawan Aep.


Maka hanya ini yang dapat Eman lakukan, dia meminta Pak RT untuk mengadakan rapat, dia merasa fitnah ini semakin membuat keluarganya menjadi kacau, istrinya tidak mau ke pasar, Eman bekerja, jadi sulit membantunya, sedang anak-anaknya sekolah dan mereka juga diintimidasi, dihina, katanya ... ibu mereka adalah ... wanita murahan.


Karena sudah separah ini, aku meminta Pak RT untuk membantu, aku ingin Pak RT mengumpulkan warga, Eman meminta Pak RT untuk bilang pada warga, bahwa Eman akan meminta pertanggungjawaban dari Aep atas fitnah ini.


Dalam hitungan satu jam, semua warga desa itu berbondong-bondong datang. Manusia-manusia ini sangat senang jika ada orang yang akan dicelakai, padahal orang ini belum tentu salah.


Setelah warga berkumpul, mereka menunggu kedatangan Aep.


Eman berdiri di paling depan, dia dan istrinya berdiri di sana, bersama dengan Pak RT dan Pak RW serta Pak Polisi yang ikut menertibkan, jika kelak ada warga yang membangkang, bisa langsung ditindak.


“Tujuan saya datang ke sini ingin menuntut pertanggungjawaban Aep, tapi satu hal yang saya harus pastikan terlebih dahulu, bisa minta tolong pada orang-orang yang pernah datang ke rumah istri saya mendampingi Aep untuk membantu istri saya jika kesulitan di rumah, silahkan maju ke depan?” Eman memulai perkataan, dia menunggu beberapa saat lalu ada 4 orang yang maju ke depan.


“Kau tetangga kami ya, anaknya ibu Watinah, kalau kau membantu Aep ke rumahku, apakah Aep pernah masuk ke kamar kamu sepenglihatanmu?” Eman bertanya pada salah satu pemuda yang maju.


“Tidak, Mang Aep selalu minta kami di dekatnya jika dia masuk ke rumah Mang Eman, katanya takut kalau ada yang dia butuhkan, kami selalu berada di dekatnya.” Jawab pemuda itu.


“Lalu bagaimana dengan istriku? Dia ada di mana?”


“Ibu? Di mana ya? hmm ... ibu di ....”


“Nggak pernah lihat euy, kalau lagi di rumah Mang Eman sama Mang Aep, kita nggak pernah lihat ibu di rumah.” Jawab pemuda yang lain, dia teringat hal itu.

__ADS_1


“Baik, apakah kau juga tak melihat istriku?” Eman bertanya pada pemuda sisanya, mereka mengangguk.


“Maka jelas kan?”


__ADS_2