Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 432 : Bulan Madu 30)


__ADS_3

Aditia terus menepuk pipi lelaki jenius itu, Jarni menangis melihat Aditia berusaha keras membangunkan Ganding.


"Bangun Nding! Bangun!" Aditia tidak merasakan detak jantung Ganding.


Aditia buru-buru melakukan CPR, dia takkan membiarkan kawanan celaka lagi.


"Bangun Nding! Bangun!" Aditia terus menekan dada Ganding agar denyut jantungnya kembali.


Ganding batuk dan dia terbangun.


“Brengsek!” Aditia sudah sangat khawatir, bahkan saking khawatirnya, jika saja Ganding celaka, maka dia akan segera menghabisi siapapun yang dia lihat.


Karena kawanan saat ini adalah saudara yang diamanatkan ayahnya. Aditia telah kehilangan ayah, dan kerisnya baru-baru ini, dia tak ingin kehilangan siapapun.


“Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan ini lagi!” Aditia kesal, dia lalu menjauh dari kawanan, Alka mengejarnya dengan pincang, sembari memberi perintah pada Alisha untuk tetap melanjutkan menghancurkan bangunan ini. Karena sekarang giliran alat besar untuk mulai menghancurkan sisa bangunannya dan membersihkan sisa bangunan itu. Hingga dasar tanahnya terlihat.


“Dit, bisakah aku bicara sebentar.” Alka menahan Aditia yang hendak pergi, dia benar-benar merasa jantungnya hampir copot karena melihat Ganding hampir mati tadi.


“Pertama Alisha tertusuk, lalu kakimu patah, lihat kau mengejarku sambil terseok, karena kau punya wujud jin makanya kau masih bisa menahannya, lalu tadi! Aku hampir kehilangan Ganding, jika saja aku kehilangan dia, sungguh aku tidak akan bisa lagi hidup dengan baik. Kalian tanggung jawabku!”


“Dit, kau pun terluka, lihat itu!” Alka menunjuk bahu Aditia yang bercucuran darah, dia bahkan tak sadar dirinya terluka karena begitu takutnya kawanan celaka.


“Kita obati dulu bahumu,” Alka berkata.


“Kita bahkan belum bertemu dengan Sak Gede, tapi kita sudah babak belur begini!”


“Makanya Dit, ayo kita obati dulu lukamu.”


Alka menariknya, Aditia ikut karena melihat Alka kesakitan menahan kakinya yang patah, dia berdiri saja sulit tapi tadi mengejar Aditia karena takut Aditia akan menyerah.


Ganding sedang istirahat, Hartino menemani, Jarni mengobati Alka dan juga Aditia, sedang Alisha sedang mengkoordinasi dengan yang lain, karena gedung benar-benar harus diselesaikan penghancurannya.


Alisha lalu berlari ke arah kawanan.


“Sudah sampai dasar, kita sudah bisa melihat tanahnya, kalian tahu, warna tanahnya berbeda, bukan berwarna tanah pada umumnya, yang kemerahan atau kecoklatan, tapi tanahnya berwarna … merah!” Alisha berkata dengan bersemangat.


“Itu kemungkinan pintunya.” Alka berkata.


“Warna merah menandakan energi yang sangat kuat dari kemarahan.” Ganding mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Apapun yang ada di dalamnya adalah kemarahan yang sangat kuat, makanya pintu dari puranya berwarna merah darah seperti itu, bukan berwarna merah bata,” Hartino berkata.


“Kalau itu pintunya, lalu mana bagian puranya? Bukankah puranya memang dibangun oleh ayahnya Anggih?” Aditia teringat sesuatu.


Pemimpin Balian tiba-tiba ikut menimbrung.


“Pura terbalik.”


“Maksudnya?” Aditia heran karena begitu datang pemimpin Balian itu langsung berkata seperti itu.


“Itu bukan bagian pintu pura, itu adalah bagian bawah pura, lelaki itu membangun pura terbalik, kami pernah mendengar soal ini, tapi kami anggap angina lalu, karena tidak akan ada orang yang mampu membangun pura terbalik, karena pura itu dibangun hanya untuk kamuflase pemujaan gelap. Pemujaan yang dilakukan untuk iblis, bukan untuk dewata seperti yang selalu kami lakukan.”


“Pemujaan gelap?”


“Setiap pembangunan pura, semuanya sesuai dengan pedoman yang tertulis dalam lontar Asta Kosala dan lontar Asta Bumi. Fungsi pura tersendiri adalah tempat ibadah dan merupakan bangunan suci pusat penyembahan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan bagi kami.


Maka pura yang kita lihat ini tidak mengikuti pedoman dari semua pura yang dibangun di sini, maka satu-satunya yang bisa menjelaskan adalah, ini pura gelap, di mana pura tidak punya gerbang bahkan … pintu.” Pemimpin Balian menjelaskan.


“Lalu apa yang kita lihat ini?” Aditia bertanya.


“Bagian bawah pura, alasnya, Sak Gede membalik pura yang dibangun untuknya, masuk ke dalam bumi, ajaran yang diajarkan pun semuanya diputarbalikkan.


Menandakan ajaran yang salah dan menghina Tuhan.”


“Ya, pura ini sengaja dibuat terbalik untuk menghina Tuhan, membuat kemukjizatannya sendiri dan melawan hukum alam.”


“Sak Gede sungguh menakutkan.”


“Kita akan menghancurkan bagian alas pura ini, begitu kita hancurkan, Sak Gede akan keluar, bahkan mungkin dia sudah bersiap menghadapi kita, walau saat ini dia pasti sangsi kita akan bisa menjebol alas puranya.”


“Tapi teman-temanku sudah sangat parah, kami takut kalau dia keluar, kita tak mampu melawannya dan akan jatuh korban jiwa.”


“Kalian mau menunggu? Siapa yang bisa jamin Sak Gede tak keluar sendiri?” Pemimpin Balian itu bertanya dengan nada yang serius.


“Maksudmu, kau takut kalau sampai kita tunda penyerangan sampai besok, Sak Gede akan keluar sendiri dan menyerang kita?” Aditia mengambil kesimpulan.


“Ya, aku yakin dia akan melakukannya kalau kita tunda.”


“Apa kau yakin kita akan menang menghadapinya?” Aditia bertanya.

__ADS_1


“Setiap kemungkinan, angkanya selalu 50 dibanding 50 Dit, bukankah kau tahu itu.”


“Walau kita ramai, tapi membuat pertahanannya hancur saja sudah membuat kita semua babak belur begini.”


“Kita keluarkan saja dulu dia, itu yang paling penting saat ini, kalau akhirnya dia menyerang, kita akan ….”


“Itu perbuatan yang tercela.” Aditia tidak mau melakukannya, karena itu tidak adil jika dilakukan.


“Kau ini sedang ingin mengalahkan dia, atau ingin menegakkan keadilan?” Pemimpin Balian berkata dengan kasar.


“Aku ….”


“Dit, bukankah kita sudah sepakat untuk melakukan sesuai cara mereka, mereka sedang membantu kita, bukankah perjanjian bantuan juga hanya sampai bangunan ini hancur, lihat sekarang mereka hendak membantu kita menghancurkan Sak Gede.” Jarni mengingatkan itu.


“Tapi itu bukan gaya kita.”


“Gayamu pertahankan saja di kotamu, ini kota kami, maka menggunakan gaya kami.” Pemimpin Balian itu semakin menegaskan.


“Dit, kami setuju dengan cara itu.” Hartino berkata dan yang lain juga setuju.


“Baiklah, mari kita lakukan dengan gaya kalian.” Aditia akhirnya setuju dan mereka bersiap.


Puing-puing sisa vila itu sudah diangkut keluar dari areal yang mereka butuhkan untuk mulai menghancurkan alas dari vila.


Tetap menggunakan formasi ganjil, tapi Alka dan Ganding tidak diizinkan bergabung, mereka masuk ke dalam tim cadangan.


Setelah semua orang siap, kembali menghimpun kekuatan, kekuatan memantul ke atas langit, lalu turun menukik seperti seekor elang yang hendak menyerang musuh, terbang dari ketinggian dengan kecepatan tinggi berwarna hitam pekat, saat dia menyentuh alas pura, timbul lagi ledakan yang sangat kuat, Jarni dan 5 Balian lain bersiap, mereka langsung membuat pagar untuk menghalau ledakan itu hingga tidak membuat semua orang mental lagi.


Saat ledakan sudah menghilang, ada asap yang mengepul keluar dari pura terbalik itu, asap itu semakin lama semakin banyak dan membuat semua orang kehilangan pandangannya karena tertutup asap.


Kawanan saling mendekat, karena mereka terbiasa bertarung dengan jarak saling dekat, memastikan satu dan yang lainnya selamat.


“Aku tidak bisa melihat apapun.” Aditia berkata.


“Alka dan Ganding ada di mana?” Alisha berteriak, karena dia merasakan energi yang sangat tinggi, tapi aneh, energi ini tidak dapat dideskripsikan sebagai energi gelap atau terang, energi ini aneh, makanya dia waspada dengan bertanya keberadaan Alka dan Ganding.


“Kami di sini.” Alka memberitahu dia dan Ganding sudah mendekat pada kawanan.


Suasana yang tadinya hening, tiba-tiba menjadi ricuh, ada suara teriakan dari mana-mana, teriakan yang memilukan, selain suara teriakan, mereka mendengar suara lain lagi, yaitu suara … suara benda jatuh, suara … tulang patah dan suara ….

__ADS_1


“Tetap bersama, apapun yang terjadi.” Aditia berkata dengan tegas, yang lain saling memegang tangan agar tidak terpisah. Vila itu menjadi tempat yang sangat gelap, karena asap yang begitu tebal, suasana di sekitar vila menjadi seperti malam, padahal ini belum malam.


Kawanan bersiap dan … ada yang menarik kaki Aditia, tubuhnya terseret, kawanan terus saling memegang hingga membuat yang lain juga ikut terseret, mereka ….


__ADS_2