Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 275: Janur Kuning 9


__ADS_3

Jin tua itu tertawa terbahak-bahak, dia terlihat sangat geli hingga memegang perutnya.


“Kenapa, Ki?” Aditia merasa tersinggung karena jawabannya ditertawakan.


“Dasim, tidak senang jika anak  cucu Adam bahagia, ketaatan dan ketentraman menyembah Tuhan, maka ia akan membuat anak cucu Adam sengsara, dengan cara menabur benih perpecahan diantara seseorang yang berumah tangga.


Kau ini siapa? Dasim atau hanya anteknya?” Ganding tiba-tiba berkata dengan sangat arogan, di tenah jin tua itu menertawakan Aditia yang naif dengan jawabannya.


Jin tua itu mendekati Ganding yang terlihat tidak takut.


“Menurutmu aku yang mana?” Jin itu semakin mendekatkan wajahnya pada Ganding.


“Dasim tidak terlalu sering menunjukan wajahnya, dia bukan nama tapi jenis, bisa jadi kau bagian darinya, tapi bukan dirinya.” Ganding memberikan asumsi, semua orang terperanjat, kenapa tak terpikir hal itu.


“Bagaimana kau berkesimpulan bahwa kami bagian dari Dasim?”


“Kalian bukan bermaksud menolong, tapi kalian memberi noda pada pernikahan, Sasa dan Beni baik untuk satu sama lain, tapi kalian membuat rumah tangga mereka menjadi tidak tentram dengan bermaksud menanamkan benih rasa takut, curiga, kecewa dan akhirnya enggan bersama.”


“Mungkin saja ini perintah Tuhan untuk memisahkan mereka.”


“Darimana perintah itu berasal?” Ganding bertanya.


“Dari Tuhan?”


“Acuannya?”


“Kau acuannya apa?”


“Al Quran, jelas. Bahwa ketika kau tanya pada Aditia kenapa kami selalu mengorbankan bangsa jin dan apakah manusia derajatnya lebih tinggi, itu jelas bahwa derajat kami lebih tinggi, bukankah bangsa kalian diharuskan bersujud pada Nabi Adam sebelumnya? Maka anak cucunya pun memiliki derajat yang sama untuk kalian, walau akhirnya kalian menolak untuk bersujud.


Acuan kami jelas, bahwa setiap perbuatan kami adalah untuk menolong, lalu acuan kalian apa untuk mengundang mereka? hitungan macam apa yang kalian ciptakan untuk merusak rumah tangga mereka? ketika memilih tanggal sengsara dan mati sebagai tanggal hajatan untuk pernikahan para pocong jahanam ini?” Ganding bertanya kembali.


“Kau!”Jin tua itu terlihat tidak senang dengan apa yang dikatakan Ganding.


“Bukankah kau menjanjikan perdamaian jika kami bisa menebak dengan tepat siapa kamu dan apa tujuanmu.” Ganding mengingatkan karena jin itu terlihat sedang menyiapkan pertarungan dengan wajahnya yang terlihat sangat marah karena mungkin tersinggung, dia belum mengatakan bahwa jawaban Ganding benar.


“Baiklah, satu pertanyaan lagi, kenapa aku mengundang mereka?” Jin itu bertanya pertanyaan pamungkas.


“Jika aku bisa menjawab dengan tepat, maka kau harus berhenti mengundan lagi, kau harus mulai tobat.” Ganding juga mengajukan syarat.


“Baiklah, hanya jika jawabanmu tepat, tapi kalau jawabanmu tidak tepat, maka kalian yang harus berhenti mengganggu kami seperti Mulyana.” Jin itu setuju.


“Baiklah, pertama kau bagian dari Dasiman, lalu tujuanmu mengundang mereka semua karena kau punya tugas untuk memisahkan pasangan yang sulit untuk dipisahkan karena mereka yang berjuang mempertahankan pernikahan.


Lalu kau mengundang mereka, berharap salah satu diantaranya akan membawa batu jimat sebagai souvenir, batu itu kau buat begitu indah agar menggoda mereka untuk mengambilnya, batu itu adalah benih dari kebencian, rasa takut dan sifat buruk seluruh dunia, batu itu akan berbisik pada pasangan untuk saling mencurigai, saling membenci dan akhirnya saling melepaskan, kemenanganmu ditandai dengan berpisahnya pasangan tersebut.


Setiap kedatangan pasangan itu, adalah tanggal lara angka empat dan pati angka, itu adalah hajatan bagi perayaan kesengsaraan dan juga kematian bagi pernikahan pasangan yang kalian undang, karena benih itu pasti diambil oleh salah satu orang yang kalian undang, karena sedikit banyak, manusia itu suka keindahan, batu itu memang kalian buat sebegitu indahnya dan menggoda untuk diambil.

__ADS_1


Ketika batu itu dibawa pulang, maka benih keburukan dunia itu menyebar dengan sangat cepat, menyapa hati pasangan yang sedang gundah gulana karena rasa takut diundang ke tempat kalian.


Sasa dan Beni pasangan yang sangat serasi, tiba-tiba saling berubah karena benih berupa batu itu, mempengaruhi hati setiap pasangan.


Lalu pocong-pocong ini, adalah pasangan setan yang merayakan pernikahan di tanggal buruk mengambil kebahagiaan pasangan manusia yang akan dihancurkan pernikahannya.


Kau adalah penghulu setan-setan ini, bukan, itu bukan bangku pelaminan seperti yang Beni dan Sasa sangkakan, mungkin juga semua pasangan sangkakan saat  diundang ke sini, tapi itu semua adalah bangkumu sebagai penghulu setan, dengan menghancurkan pernikahan manusia yang kokoh sebelumnya, kau mampu menikahkan setan, dengan energi jahat yang akan kalian ciptakan dari benih tersebut.


Bukankah aku tepat menjawabnya, tanpa meleset sedikitpun?” Ganding tertawa.


Jin itu terdiam, bahkan Ganding mampu menebak dengan tepat apa jabatannya di sini.


“Jadi benar, itu jawabannya?” Aditia terlihat penasaran.


“Benar aku penghulu, benar aku adalah bagian dari Dasim, benar bahwa aku mengambil energi dari benih yang aku titipkan di batu yang aku taruh di meja depan itu, yang tidak bisa membuat kalian silap karena tidak tertipu walau bentuknya begitu indah.


Benar bahwa akhirnya aku bisa menikahkan setan di sini dengan membuat energi hitam dari benih yang mereka ambil itu sebagai mahar. Jadi, sekali dayung, dua pulau terlampaui, aku bisa memisahkan pernikahan manusia dan membuat pernikahan setan dengan segala keburukan, maka jabatanku akan kokoh.”


“Sayang, sekarang kau harus berhenti, karena perjanjian ini.” Ganding mengingatkan.


“Kau tidak ingin tahu kenapa dulu ayahmu berhenti Dit? Kenapa dia tidak mengusir kami atau bahkan mencari jawaban?” Jin tua tanpa nama itu bertanya.


“Apa aku perlu tahu?” Aditia terlihat tidak tertarik.


“Ayahmu tidak menemukan jawabannya, setepat Ganding menemukan jawaban itu, mungkin juga dia percaya padaku bahwa aku memisahkan pasangan karena perintah Tuhan.” Jin tua itu meledek, dia hendak memanasi kawanan untuk bertarung, dia tidak ingin kalah begitu saja.


“Apa Bapak sebodoh itu?” Alka kali ini yang mulai angkat bicara.


“Ayahku bukan orang yang gampang dibodohi Pak tua, kau kalah, kau harus berhenti menyebar undangan.” Aditia mulai menangkap maksud jin tua ini, yang hendak membuat kawanan marah.


“Aku tidak bisa, karena aku tetap harus menjalankan tugas.” Jin itu hendak melanggar janji.


“Perjanjian sudah dibuat, jadi kau tidak boleh melanggarnya.” Ganding marah.


“Kami terbiasa melanggar janji, bukankah kalian tahu, kami itu terkenal akan tipu muslihat.”


Jin itu hendak meminta pasukan pocongnya untuk bertarung, pertama-tama dia ingin membuat kawanan untuk lelah baru dia hajar, tentu kawanan pasti kalah karena jin ini berumur sudah sangat tua.


“Kalau begitu, aku juga penuh tipu muslihat, Alka jelaskan tentang darah Kharisma Jagat yang menjadi jaminan perjanjian ini.” Aditia meminta Alka yang tahu betul fungsi darah Aditia.


“Darah Kharisma Jagat itu dingin, jika kau berani melanggar perjanjian dengan Kharisma Jagat maka kau akan musnah, karena kau tercipta dari api, sedang darah Kharisma Jagat itu dingin, maka si pelanggar janji, akan merasakan api zat pembentuknya perlahan musnah. Mau coba?” Alka tertawa terbahak-bahak, itu kenapa Aditia sengaja meminta perjanjian ulang, jin tua ini memang punya ilmu tinggi, bahkan tahu tentang kejadian yang kawanan baru alami beberapa waktu lalu di pabrik seragam itu, anak buahnya pasti yang melapor. Tapi ....


Soal Kharisma Jagat hanya si semua Kharisma Jagat saja yang  tahu, ditambah kawanan karena dahulu mereka mencari obat ketika Aditia kehilangan penglihatannya ketika menghabisi jiwa tersesat saat menyangka ibunya telah dibunuh.


Rahasia soal darah Kharisma Jagat yang dingin hanya orang-orang tertentu saja yang tahu dan itu dijaga, tapi sekarang, informasi itu harus mereka beberkan karena menghindari pertarungan yang bisa saja kembali menelan korban lagi.


“Kau tidak percaya, coba saja serang kami, maka kau akan merasakan sakit yang sangat dasyat karena itu.” Aditia menantang.

__ADS_1


“Kalian bocah kurang ajar! Beraninya menipu orang tua!” Jin itu terlihat kesal.


Jin tua itu hendak menyerang, tapi sebelum itu terjadi, dia kesakitan pada seluruh tubuh, seolah tubuhnya dihujam sembilu.


“Sakit Ki? Udah jangan dilawan, selama aku masih hidup, perjanjian itu akan tetap melekat padamu, jika kau berani mengundang lagi pasangan yang harmonis dan membuat mereka terpisah, kau akan musnah.


Hei! Pemimpin kalian ini sekarang sudah tak punya taring, pergi kalian, kami bukan orang-orang yang bisa kalian lawan.” Aditia tertawa mendengar Ganding mengejek Aki tua itu dan mengusir setan-setan yang ngebet kawin itu.


“Tunggu sampai waktunya tiba, aku akan membalas kalian!” Jin tua itu lalu pergi, dia tidak akan mampu menganggu siapapun lagi, karena perjanjiannya dengan Kharisma Jagat, bodohnya jin tua itu, terkadang ilmu tanpa kearifan memang akan menjadi bumerang saja.


Zona janur kuning telah hilang, sekarang terlihat tempat ini aslinya adalah kuburan.


Kawanan mengunjuni rumah Budiman untuk beristirahat.


“Assalamualaikum Pak Budiman.” Tidak ada jawaban dari sana.


Mereka mengulang lagi salam, tapi masih tidak dijawab.


“Oh, mereka pasti mengira kita setan.” Aditia baru sadar karena ini adalah hari hitungan.


“Pak Budiman, ini Aditia, masa tega Pak, suruh kami tidur di luar.” Aditia membujuk, masih tidak ada jawaban juga.


“Pak!” masih tidak ada jawaban.


“Pak, emang setan ngucapi salam!” Ganding berteriak dengan kencang, “perlu apa saya ngucapin dua kalimat syahadat?” Ganding berteriak lagi.


“Iya!” Baru ada suara dari dalam.


Seketika pintu dibuka, Pak Budiman terlihat sangat tegang, karena masih belum yakin kalau ini kawanan.


“Astagfirullah, benar kalian, ayo cepat masuk, takut mereka datang.” Budiman menarik semua orang, istri dan anaknya was-was di ruang tamu.


“Pak, siapa yang bakal marah?” Ganding pura-pura tidak tahu.


“Ya si pocong-pocong itu, saya takut.”


“Sudah tidak akan ada lagi hari hitungan Pak, tenang saja, kuburan ini hanya akan menjadi kuburan seram seperti biasanya, wajarlah kalau tiba-tiba lihat satu dua kali penampakan, tapi takkan pernah ada lagi yang menaruh bunga sebagai tanda hari yang sudah dihitung. Sudah kami usir jin tuanya, si pemimpin pocong-pocong yang mengancam Bapak itu.” Ganding jumawa.


“Kalian sedang berbicara konyol, mana mungkin tempat ini bisa jadi tenang begitu.” Budiman tetap sangsi.


“Yaudah kalau nggak percaya terserah, tapi coba aja buktikan, buka pintunya lebar-lebar, ini hari yang sudah dihitungkan, tanggal 4 kan? nggak akan ada yang berani masuk.” Ganding menantang.


“Terang saja takkan ada yang berani masuk, kan ada kalian, kalalu saya sendirian bagaimana?”


“Pak, kami boleh istirahat nggak? aku capek Pak, abis begadang nih.” Aditia lagi-lagi hendak tidur, yang lain juga, pada fomasi seperti sebelumnya.


Saat sudah terlelap, Aditia pikir ini sudah selesai, tapi ... dia salah.

__ADS_1


“Abah! Abah! Abah!” Aditia berlari mengejar Abah Wangsa yang memang sejak menjanjikan penjelasan akan jin tua itu tidak pernah terlihat lagi, karena sibuk, Aditia pikir itu karena Abah memang sedang mencari jawaban, tapi kenapa sekarang Abah terlihat berlari menjauhi Aditia, semakin dipanggil larinya semakin kencang.


Aditia tidak sadar, bahwa dia sedang bermimpi, sedang yang lain masih terlelap, karena lelah.


__ADS_2