
“Bagaimana apakah kau merasakan sesuatu pada toko itu?” Alka bertanya, mereka sudah dapat alamat rumah pemilik toko emas, sekarang sedang menuju ke rumah itu, dengan angkot andalan.
“Bau itu sangat menusuk, sangat amat menusuk, jejak makhluk itu ada,” Aditia menjawab.
“Aku merasa ada yang aneh, aku pikir penjaga toko itu mungkin sedang kesulitan, karena aku melihat ada tanda pada tangannya, tanda yang aneh.” Alka kali ini yang mengungkapkan kejanggalannya.
“Tanda apa?”
“Aku melihat energi gelap pada tangan kanan wanita itu, energi itu aku temukan juga pada tangan Amanda, aku tidak bilang karena aku belum menemukan jawabannya, tapi jika menelisik dari pernyataan Amanda bahwa ibunya memiliki memar pada bagian tubuhnya dan juga Amanda yang merawata, maka besar kemungkinan ….”
“Penjaga toko itu sedang merawat seseorang yang menjadi target juga!” Aditia langsung memutar balik angkotnya.
“Dit, ini masih prematur, jangan gegabah.” Alka mengingatkan.
“Lebih baik gegabah daripada jatuh korban lagi, sudah cukup dengan semua korban yang telah kita tolong dari kasus-kasus ini Saba Alkamah, ini yang aku tidak suka darimu, kau terlalu banyak berpikir!” Aditia jadi kesal.
“Sedang kau terlalu banyak bertindak gegabah!” Alka tidak suka dirinya dimarahi. Tapi tindakan ini tidak Alka larang lagi, karena bisa jadi benar, gegabah lebih baik daripada terlambat.
Alka dan Aditia memilih untuk membututi Sum saja, mereka berdua melihat bahwa Sum dan pembantu pemilik toko sudah baru menutup tokonya dan Sum keluar dari pasar dijemput suaminya, mereka berdua pulang ke rumah.
Alka dan Aditia mengetuk rumah Sum dan tanpa basa basi, mereka mengendam seisi rumah, kecuali anak Sum, karena menggendam anak kecil bisa kena sangsi.
Setelah kedua orang tuanya dibuat tidur oleh Alka dan Aditia, mereka menghampiri anak Sum yang terlihat tidak masalah dengan kedatangan mereka, Alka membujuk anak itu untuk memperlihatkan punggungnya, Alka membuka baju anak itu pada bagian punggung saja dan melihat memar yang sesuai dengan deskripsi yang disebutkan oleh Amanda, memar yang ibunya juga alami.
Sedang pada tangannya ada memar yang sama.
Alka mengambil gelangnya dan langsung melempar gelang itu.
“Panas!” Alka berkata dengan pelan karena takut ada tetangga yang mendengar karena rumah Sum adalah kontrakan beberapa pintu yang letaknya berdempetan.
Aditia memegang tangan Alka dan melihat ada luka bakar yang seketika itu, “Brengsek!” Aditia mengambil gelang itu dengan kerisnya, lalu menaruh gelang itu pada sapu tangan khusus, sapu tangan yang tentu saja sudah dimantrai Alka pada saat itu juga.
“Kita ambil gelangnya? Nanti Sum cari gimana? Kita mencuri loh namanya.” Alka protes.
“Kita tinggalkan uang saja, gimana?”
“Jangan, nanti malah jadi aneh, janggal dan bisa menimbulkan polemik, banyak orang yang melihat kita datang ke rumah ini karena ini kontrakkan.” Alka tidak setuju.
“Lalu gimana? Kita butuh gelang itu untuk memastikan.”
“Sebentar aku foto gelanngya.” Alka mengambil gelang itu dan memfotonya, dia mengirim fotonya pada Alisha dan menuliskan pesan … [Cari yang sama persis, aku butuh dalam waktu dua jam.]
Alisha menjawab, [Satu aku sampai di sana. ] Alisha memang selalu bisa diandalkan, dia lalu menyuruh semua teman-temannya untuk mencari gelang itu, dia memang punya banyak koneksi dengan sesama orang kaya.
Setengah jam kemudian, Alisha mengabari kalau dia sudah dapat gelangnya.
Lalu setelah dapat itu Alisha dan Hartino pergi ke rumah Sum, memarkirkan mobil mewah mereka jauh dari rumah itu dan berlari menemui Alka dan Aditia, tepat satu jam.
__ADS_1
“Bagaimana kau mendapatkannya?” Aditia takjub karena dalam waktu satu jam Alisha mendapatkannya.
“Ada temanku yang ibunya juga punya toko perhiasan, mereka sudah tutup toko, tapi aku bilang akan beli dengan harga 3 kali lipat, kubilang saja untuk hadiah, aku lupa beli, makanya akhirnya dia mau membuka tokonya lagi dan aku mendapatkan gelangnya sama persis. Memang kenapa dengan gelangnya?”
“Ini coba pegang.” Aditia memberi gelang itu pada Alisha. Alisha membuka sapu tangan itu dan memegang gelangnya, dia tak terbakar, tentu saja, tak ada gesekan ghaib, karena Alisha sudah tidak memiliki ilmu ghaib dalam dirinya.
“Biasa saja.”
“Alka tangannya terbakar, kemungkinan gesekan ilmu, kau bawa dulu ke markas, aku dan Alka butuh ke rumah pemilik toko emas itu, berikan gelang ini pada Jarni dan Ganding, mereka bisa melihat isinya kalau memang ada, lalu aku sudah mengirim nama pemilik toko emas itu, Hartino kau cari latar belakangnya, aku perlu tahu semua hal tentang perempuan itu. Oh ya, mana uang yang aku minta kau bawakan tadi?” Aditia ternyata meminta Hartino membawakannya uang.
“Alka sebentar, di mobilku ada kotak P3K aku akan mengobati tanganmu dulu. Alisha dan Alka lalu ke mobil mewah milik Har dan mengobati luka bakar Alka, walau sebenarnya tidak perlu, hanya butuh waktu beberapa jam untuknya bisa pulih, tapi memang sakit tetap terasa selama beberapa jam itu.
Setelah mengobati luka bakar pada tangan Alka, Alisha dan Hartino menerima perintah dari pemimpin dengan baik dan kembali ke markas ghaib.
Sementara Aditia dan Alka membangunkan dua orang yang telah mereka gendam tadi dan berpura-pura baru saja datang ke rumah Sum, banyak yang melihat mereka bertandang, kalau pergi begitu saja, bisa-bisa Sum curiga.
“Ada apa ya?” Aditia pura-pura baru datang, Sum dan suaminya terlihat linglung.
“Ini kami tadi tahu rumahnya Ibu Sum dari orang pasar, calon istriku suka sekali dengan cincinnya, jadi kami bermaksud membeli cincin itu.” Aditia berkata dengan tenang.
“Oh, tapi toko sudah tutup.”
“Iya tahu, makanya saya ke sini, ini tolong simpankan uangnya, besok saya ambil cincinnya ya, ini saya sudah bawakan kwitansi, ditanda tangani saja.” Aditia memaksa, lalu Sum seperti sapi yang dicucuk hidungnya hanya mengikuti apa yang Aditia perintahkan, sudah bangun dari gendam, bukan berarti sudah sadar sepenuhnya.
Setelah menerima uang itu dan berjanji memberikan cincinnya besok, Alka dan Aditia pamit.
“Sum, ini uang banyak sekali loh.” Suaminya ketakutan, karena bisa saja ini uang palsu, mana kwitansinya ditandatangani Sum.
“Kok orang gampang banget ya Sum, kasih uang ke orang lain.”
“Nggak tahulah, aku yang aneh, kok sekarang sudah jam segini ya, perasaan tadi pulang dari toko masih sore, ini kenapa udah mau malem?”
“Kita ketiduran kayaknya, lah anak kita gimana ya?” Suaminya berlari ke kamar karena tadi sebelum sampai rumah sudah mengambil anak itu dari rumah tetangga, orang yang biasa dititipkan anaknya ketika mereka bekerja.
Anak itu sedang main di kasur dan terlihat tenang.
…
Sudah malam, Aditia sudah sampai di rumah pemilik toko emas itu, dia mengetuk rumahnya, ada seorang wanita paruh baya membuka.
“Ada Ibu yang punya toko emas? Kami ada perlu.” Aditia memberitahu maksud kedatangan mereka.
“Oh, Ibu lagi di apartemen temenin anaknya, mau saya teleponkan ibu?” wanita itu adalah pembantu dari pemilik toko emas itu.
“Tidak usah, kasih kami nomor teleponnya aja, gimana?”
“Duh maaf, nggak berani ya, nanti saya telepon dulu ibu, apakah boleh kasih nomor telepon, takut dimarahin saya.” Pembantu itu hendak masuk dan berbalik membelakangi Alka dan Aditia, Alka menggunakan kesempatan ini untuk menggendamnya, walau tangannya sakit dan lelah karena serangan tak terduga itu, Alka tetap menggendam pembantu itu, seketika, pembantu itu terdiam. Mereka akan masuk rumah diam-diam.
__ADS_1
Melihat pembantu itu sudah diam membeku karena efek gendam, Alka mencoba melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, begitu juga Aditia, tapi sesaat kaki mereka masuk, tubuh mereka terlempar keluar, tubuh itu menubruk pagar dengan keras.
Aditia buru-buru menarik Alka untuk bangun. Alka terlihat kesakitan, karena hari ini dia sudah dua kali celaka.
Hal yang tidak mereka persiapkan terjadi, kekuatan macam apa yang mempu menghempas seorang Kharisma Jagat dan juga seorang manusia setengah jin dan setengah manusia itu.
Pintu rumah ditutup dengan kencang setelahnya, Adiita dan Alka tidak mungkin mengajak berperang saat itu juga, karena akan membuat keributan, apapun itu, yang pasti bukanlah makhluk biasa, bisa jadi sulit ditaklukan, karena tidak tahu jenis apa, ditambah Alka dan Aditia dalam kondisi tidak prima.
“Kita tidak bisa melawan sekarang.” Aditia kesal tapi tidak bisa gegabah, dia harus tahu saatnya mundur.
“Ya, tapi baunya memang dari rumah ini, sangat tajam, ketika pembantu itu membuka pintu, aku langsung mencium bau yang kau rasakan Dit.”
“Ya, aku juga, berarti target kita sudah benar, hanya perlu tahu saja, apa yang kita hadapi. Kembali ke markas ghaib.”
“Tidak Dit, kembali ke gua, aku harus meminum ramuanku yang ada di gua, aku merasa lemah sekali.”
Aditia setuju dan mereka berdua menuju gua Alka.
Begitu sampai, Alka langsung meminum ramuannya. Dia benar-benar merasa lelah sekali.
“Keningmu berkeringat.” Aditia mengusap kening Alka. Alka duduk di tempat tidurnya, sedang Aditia di sampingnya.
“Iya, aku lelah sekali.”
“Tanganmu masih sakit?”
“Ya, sedikit, untuk Alisha segera membalutnya.”
“Maaf aku tidak peka, karena aku selalu merasa kau itu wanita kuat, padahal ada sisi manusia juga dalam dirimu, yang bisa sakit.”
“Tak apa, aku senang kau mengandalkanku.” Alka tersenyum.
“Kau cantik sekali, jepitan itu cocok di rambutmu, padahal jepitan murah, kau membuatku malu, memakainya terus, seolah aku tidak mampu memberikan yang jauh lebih bagus.
“Aku suka warnanya, warna hijau, warna kehidupan. Aku merasa nyaman dan tenang saat memakainya.” Alka tersenyum lagi.
“Jangan terlalu banyak tersenyum, kita hanya berdua di sini, bahaya.”
“Kenapa?” Alka bingung.
“Karena bisa saja aku jadi buas.”
“Kau!” Alka kesal karena Aditia mulai mengeluarkan sisi laki-lakinya, semua laki-laki sama saat dihadapkan dengan wanita yang dia cintai berdua saja.
“Alka, jika saja ada kesempatan, bisakah kita … bersama?”
“Bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.”
__ADS_1
“Hanya agar kau ingat saja, bahwa aku menunggu waktu itu dan selalu akan menunggu.”
Alka tersenyum.