
“Dit, kau mau menjadi manten, makanya pakai melati roncean begitu?” Ganding tertawa saat mereka berempat akan mulai memenuhi undangan jin kuburan itu.
“Bisa diem nggak? kamu pikir aku mau pakai ginian, tapi kalau aku nggak pake ginian, kita nggak akan bisa melihat pintu gang itu.”
“Nding, fokus ya.” Alka memperingat, karena Ganding selalu mengejek Aditia yang memakai melati roncean itu.
“Sorry, sorry.” Ganding meminta maaf.
Lalu mereka terus berjalan menuju gang itu, Aditia memegang tangan Alka, sedang Alka memegang tangan Jarni, sementara tangan Aditia yang lain memegang tangan Ganding, sehingga mereka bisa melihat pintu gang itu, tidak perlu meraba dan menebak-nebak dengan tubuh jin Alka, mereka melihat dengan jelas pintu gang itu, banyak makhluk datang dengan pakaian bagus tapi wajah dan tubuh tidak utuh, ternyata benar ada pernikahan, Aditia datang pada hari hitungan di mana mereka mengadakan hajatan.
Mereka terus berpegangan, walau posisi tidak bersisian. Hingga akhirnya sampai di depan pintu gerbang pemakaman itu, sungguh pemakaman itu terlihat berbeda, karena undangan itu, akhirnya pemakanan terlihat seperti gedung pernikahan.
“Mereka menipu yang diundang dengan semua ini, apa memang ada pernikahan, Dit?” Ganding bertanya.
“Kau pikir aku cenayang tahu soal itu!”
“Kita kan memang termasuk percabangan cenayang Dit.”
“Kalian ini! bisa nggak sih kalian diam!” Alka kesal, mereka sudah melepaskan pegangan karena sudah sepenuhnya masuk ke zona ghaib pemakaman ini.
Saat masuk mereka melihat security yang wajahnya begitu pucat, dia duduk di bangku dan tangannya terlipat di meja yang ada di depannya.
Saat melewati Security itu, dia terlihat berdiri, tapi saat melihat melati yang dikalungkan pada leher Aditia, Security itu tidak jadi menghadang dan mereka dibiarkan masuk saja.
Begitu melewati Security, Aditia dan Ganding melihat sebuah gedung yang cukup besar, gedung itu tidak ada sama sekali di pemakaman ini, hanya rumah yang tidak terlalu besar berdinding kokoh milik Budiman di pemakaman ini. Gedung darimana yang bisa dibangun hanya semalam, mungkin milik Bandung Bondowoso, pikiran Ganding liar dan dia tertawa.
“Kau kenapa?” Aditia bertanya.
“Tidak apa-apa.” Ganding terkekeh lagi.
“Kau pasti mikir yang tidak-tidak, kau itu kan kadang aneh.”
“Kau pikir kita semua tidak aneh?” Ganding dan Aditia tertawa bersama.
Alka kesal melihatnya karena mereka terlihat sangat menyepelekan kasus ini, tidak sama sekali terbebani, kurang serius.
“Kalian bisa serius nggak sih, apa karena kita tidak bertarung makanya kalian punya waktu tertawa begitu?”
“Ibu Alka yang terhormat, kami hanya sedang mengobrol santai.” Aditia membuat kesalahan dengan menyepelekan komplain wanita yang sangat mencintainya.
“Pak Aditia, kau mau kucambuk agar diam?” Alka kesal.
“Tidak, aku takut.” Aditia malah meledek, sementara Alka hendak mengeluarkan cambuknya.
“Kak, jangan, ini tempat orang, jangan buat onar, kakak harus lebih tenang, ingat, kita sedang menghadapi kasus.”
__ADS_1
“Nding, darimana kau belajar mengembalikan kata-kataku?” Alka kesal dan memasukkan kembali cambuknya.
Tidak terasa mereka sudah sampai gedung pernikahan itu, lalu saat masuk, benar kata Beni tidak ada meja untuk menaruh amplop, tapi di dekat pintu masuk ada meja, di atas meja itu tersimpan batu-batu yang ditata begitu indah, mungkin mata orang biasa akan sangat tertarik untuk mengambil, padahal benda pusaka itu tidak seharusnya dipegang, apalagi dicuri seperti yang Beni lakukan.
Benar juga kata Beni dan Sasa, begitu masuk mereka melihat begitu banyak yang berkerumun, mereka berpasang-pasangan, seperti sedang antri hendak bersalaman dengan pengantin.
“Ini kita ikut ngantri?” Ganding bertanya.
“Normalnya gitu Nding, tapi ini kan nggak normal, makanya kita salip aja antriannya.” Aditia hendak berjalan menerobos antrian dan melihat pengantinnya.
“Dit! Kalau mereka nggak suka dan marah gimana?” Ganding menarik bahu Aditia mencegahnya menerobos antrian.
“Ya, bertarung lah, masa mau diam aja.”
“Ok kalau begitu, boleh kan, Kak?” Ganding meminta izin untuk berkelahi, mereka seperti hendak tawuran, padahal kalah jumlah.
“Berkelahi, jika memang harus, aku juga sudah siap.” Alka mengeluarkan cambuknya, Jarni ular mininya, sedang Aditia dan Ganding juga bersiap dengan senjatanya.
Mereka mulai menerobos barisan antrian, saat mereka sudah menerobos, semua pasangan itu terlihat marah, mereka mulai menunjukan perangai yang tidak baik, mereka menunjukkan wujud aslinya, yang tadinya pasangan-pasangan yang sangat rapih, menjadi pasangan berpakaian putih lusuh dengan ikatan di kepala dan juga kaki.
“Kau pikir aku takut? mau kubuat wajahmu lebih hancur lagi?” Ganding mengancam yang mendekati wajahnya, dia menunjukkan wajah tak utuh, tapi Ganding sudah sangat biasa melihat itu semua.
Pocong itu terlihat enggan menyerang, dia lalu mundur, begitu juga dengan yang lain.
Aditia dan kawanan akhirnya mampu melihat pasangan yang ada di pelaminan, tapi ... semakin dekat semakin terlihat, siapa yang ada di sana sebenarnya.
“Ya, dia.”
“Kok dia sendirian, nggak sama jin perempuan, ini pernikahan atau apa sih?” Ganding bingung.
“Gimana kalau kita tanya aja?” Aditia maju.
“Assalamualaikum Aki.” Aditia menyapa.
“Waalaikumsalam, kau mau dinikahkan juga?” Aki itu bertanya.
“Ingin kalau bisa, tapi kan kau tahu, hukum pernikahan manusia itu mengikuti agama yang dianutnya, jadi tidak bisa kau nikahkan aku dengan Alka begitu saja.”
“Hei!” Alka kesal karena Aditia tiba-tiba curhat.
“Saba Alkamah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan makhluk unik sepertimu, bukankah ayah ibumu melanggar hukum Tuhan hingga kau menjadi bukan manusia dan juga bukan jin seutuhnya, kau ini makhluk apa?” jin tua itu terlihat sangat arogan.
“Aku ciptaan Tuhan, bukankah tak ada satupun kelahiran yang akan terjadi tanpa izin-NYA?” Alka menjawab dengan cerdas.
“Tapi mungkin kau diciptakan bukan dengan kasih dan sayang bukan? karena makhluk sepertimu hanya sedikit, mungkin diciptakan untuk menghukum, kau tidak jengah dengan semua itu?”
__ADS_1
“Tidak. aku percaya Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya, hanya hambanya saja yang kurang tahu diri untuk bersyukur. Hingga merasa paling benar.”
“Kau itu wanita dengan lidah yang tajam.” Jin tua itu terlihat kesal berdebat dengan Alka.
“Aku meminta izin untuk diberikan kesempatan dua kali menjawab pertanyaanmu tempo hari. Karena kami punya dua jawaban, jika kau berkenan, kami akan menjawabnya bergantian, tapi jika kau tidak berkenan, mau tidak mau pertarunganlah jalan keluar.”
“Kau pikir bisa menakuti mereka akan sama dengan mampu mengalahkanku?” Jin tua itu sombong, walau benar, dia memang sangat kuat.
“Kami mungkin takkan mampu mengalahkanmu, tapi ingat, jika aku gugur di sini, maka Ratuku takkan diam, kau tahu kan, aku adalah Kharisma Jagat, membuatku celaka, apalagi mati, akan membuat kerajaan Ayi Mahogra gempar, kau yakin mau membuat Ayi Mahogra marah dan membuat bala tentaranya datang kemari?”
“Kau mengancam?!” Jin tua itu terlihat murka.
“Tidak, hanya memberitahumu resiko menghabisiku, mana yang lebih merugi dengan kematianku.”
“Aku tidak ada hubungannya dengan Ratumu itu, tapi kau yang pertama masuk ke tempat ini, jadi kalian yang membuat onar.”
“Tapi tetap saja Ki, membunuhku, akan membuat dunia ghaib gempar, ingat, perang kemarin saja antara Ayi dan para Tetua beserta khodamnya membuat dunia ghaib bebenah, kau mau repot lagi?” Aditia masih terus menyudutkan jin tua itu agar dia menerima kalau jawaban kawanan ada dua.
“Baiklah, aku menghormati Ratumu dengan mau menerima jawaban-jawaban kalian, tapi satu syaratnya, jika kalian salah, maka sebagai gantinya, senjata kalian jadi milikku, kalian semua!”
“Bagaimana kami tahu kau tidak menipu kami, bisa saja kau bilang jawaban kami salah semua sehingga kami akhirnya memberi yang kau mau.” Ganding bertanya lagi.
“Mari buat perjanjian.” Jin itu akhirnya pada inti dari pertarungan ini.
“Kami tidak terbiasa untuk membuat perjanjian dengan kaum kalian, tapi kali ini baiklah, tapi bukan perjanjian pesugihan, ini hanya perjanjian sesama makhluk Tuhan yang mencari keadilan.” Aditia lalu mengiris jari telunjuknya, darah itu lalu di taruh di bejana, sedang jin tua itu meludah di bejana sebagai pertukaran, lalu menyebutkan perjanjiannya, tidak diperkenankan ada kebohongan antara mereka berdua, jika salah satu jawaban Aditia benar, maka jin tua itu harus mengakuinya dan berhenti mengundang manusia untuk datang ke tempat ini.
Setelah perjanjian dilakukan, Aditia mulai menjelaskan jawabannya, dia akan maju duluan untuk menjelaskan apa yang menjadi kesimpulannya.
“Kau adalah jin yang membantu manusia lepas dari pernikahan yang salah, seperti kau membantu Sasa dan Beni berpisah, karena mereka berdua sudah selesai jodohnya, tidak mampu berpisah, maka kau membantu mereka untuk berpisah. Dengan menunjukkan sifat aslinya, Sasa yang jadi takut dengan suaminya karena terbayang wajah-wajah mengerikan dari penghuni di pemakaman ini dan Beni yang menjadi serakah serta tidak bertanggung jawab.
Bahwa inti dari pernikahan adalah tanggung jawab, maka dari itu kau memisahkan mereka dengan caramu, karena kau diutus memang untuk membantu pernikahan yang takdirnya selesai tapi tidak diselesaikan karena manusia yang tidak ikhlas. Kau telah diperintahkan Tuhan untuk memisahkan mereka agar mereka menjadi manusia yang patuh dan mendapatkan pasangan sesuai dengan ketentuan Tuhan.
Kau mengundang mereka karena memang sudah tugasmu melakukan itu sejak dahulu kala, bahkan sebelum tempat ini menjadi pemakaman bukan?”
Jin tua itu mengernyitkan dahi dan dia kaget, karena Aditia menebak hal yang menurutnya tidak akan pernah terpikir oleh seorang Kharisma Jagat, Jin tua itu terlihat menimang-nimang sesuatu.
“Bagaimana kesimpulan itu datang?” Jin tua itu akhirnya bertanya setelah Aditia menjelaskan jawabannya.
“Karena Beni bukan orang baik dan Sasa terlalu baik hingga mereka harusnya memang tidak bersama, Tuhan mengutusmu untuk memisahkan mereka, agar mereka akhirnya saling bahagia dengan pasangan pilihan Tuhan.” Aditia menjelaskan kembali.
Jin itu memandang Aditia dengan serius, dia benar-benar kaget dan bingung harus menjawab apa, karena jawaban seperti itu tidak terduga sama sekali.
“Bagaimana, apakah jawabanku benar?” Aditia mendesak.
Jin itu hanya diam saja, dia memperhatikan Aditia dengan seksama, lalu setelahnya dia berdiri mendekati Aditia, wajahnya sangat serius, seolah dia sangat bangga pada Aditia.
__ADS_1
“Cu, jawabanmu ....”