Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 316 : Bus 404 (19)


__ADS_3

Monyet setan itu banyak sekali hingga membuat kawanan kewalahan, Aditia bahkan terluka dibanyak tempat, Alka sudah berusaha untuk melindungi Aditia, walau dirinya juga terluka.


Sebenarnya monyet neraka ini tidaklah sulit untuk dihadapi, tapi karena tubuh mereka terdiri dari api sehingga membuat kawanan harus ekstra hati-hati agar tidak terkena tubuh monyet itu.


Saat masih menghadapi anak buahnya, raja jin tidak mau kalah, dia ikut menyerang Alka, dia bahkan menangkap cambuk Alka hingga membuat Alka tersungkur jatuh, Alka merubah tubuhnya menjadi jin, walau ia tak yakin mampu menghadapi raja jin itu.


Cambuk Alka masih dipegang di kedua sisi, satunya dipegang pemilik satul lagi dipegang oleh raja jin yang tubuhnya mirip kingkong dalam ukuran yang sangat amat besar.


Cambuk Alka ditarik, hingga dia yang tadinya tersungkur dan segera mengubah wujud menjadi jin, akhirnya harus diseret oleh raja jin dengan cambuknya sendiri, Alka tidak bisa menarik kembali cambuknya karena cambuk itu di pegang dengan kuat oleh raja jin, Alka juga tidak mau melepas cambuk itu, karena cambuk itu sangat berharga, hanya Ayi yang boleh menguasai cambuk itu selain dirinya sendiri, karena nilai cambuk itu sama dengan nyawanya sendiri.


Aditia melihatnya langsung berlari dan meninggalkan kawanan yang lain untuk menghadapi monyet kecil yang terasa semakin banyak jumlahnya, baju Jarni sudah robek di beberapa bagian akibat terbakar oleh sentuhan anak buah raja jin yang sebenarnya sudah ditumbangkan tapi tetap saja sudah membakar tubuh kawanan setelah akhirnya mati karena senjata dari kawanan.


Aditia mengejar Alka yang tubuhnya ditarik-tarik oleh raja jin karena cambuknya masih dipegang itu, Aditia mengejar raja jin, begitu sudah dekat, dia langsung menusuk keris mininya ke tubuh raja jin itu, kaget, raja jin itu melepas pegangan cambuknya, ternyata keris itu masih memiliki kekuaan yang tinggi.


Aditia mendekati Alka, dia mellihat Alka sangat lemah, tidak heran, dia pasti kelelahan, karena dia belum benar-benar istirahat, dipaksa Aditia untuk menyelesaikan kasus ini setelah kasus sebelumnya, kawanan kurang tidur, hingga stamina mereka sangat terkuras.


“Ka, masuk ke bus, kamu sudah kelelahan.” Aditia menarik Alka untuk kembali ke bus.


“Nggak! kita harus tetap bersama walau keadaan sulit, lepas.” Alka melepas rangkulan Aditia yang hendak membawanya ke bus, dia mengambil cambuknya lagi dan bersiap menghadapi raja jin yang terlihat masih menahan sakit karena keris mini Aditia.


Dia menyabet cambuknya berkali-kali ke arah kepala raja jin, raja itu marah, dia kesal karena dikerjai oleh makhluk kecil yang terlihat tidak berdaya itu, dia mengejar Alka dengan tubuhnya yang sangat besar itu.


Alka berlari ke kerumunan monyet itu, karena marah raja jin tidak sengaja menginjak anak buahnya, dia terus mengejar Alka tanpa ampun dan terlihat menggila, dia menginjak anak buah yang membelanya, kawanan diperintahkan menyingkir dari pengejaran Alka oleh raja jin itu.


Alka berlari tapi sayang, dia keburu tertangkap, tubuhnya dipegang sempurna oleh raja jin itu, dengan kedua tangan, tubuh Alka terbakar, Alka berteriak kesakitan, kawanan berlari mengejar raja jin itu, Aditia kembali menusuk raja jin itu dengan keris, begitu juga yang lain menerang raja jin dengan senjata pusaka mereka, hingga akhirnya raja jin melepaskan Alka yang kesakitan karena tubuhnya terbakar.


Raja jin kembali murka dan berusaha untuk mengejar Aditia yang menusuk dirinya dengan keris untuk kedua kalinya.


Adiita berlari, kembali anak buah monyet terinjak oleh rajanya sendiri dan mati di tempat, itu memberi Aditia ide, untuk berlari secepat mungkin, berputar-putar agar kaki raja itu membunuh seluruh anak buahnya, tapi tentu saja itu tidak mudah Aditia terllihat sangat kelelahan, Jarni memapah Alka yang tubuh jinnya menghitam pada bagian pinggang di kedua sisi, karena itu adalah bagian yang dipegang.


“Kak, ini terbakar!” Jarni menangis.


“Mana Adit?” Alka bertanya.


“Kak, aku mohon kau harus ke bus, kau harus istirahat dulu, biar kami yang menghadapi raja jin dan anak buahnya, aku mohon kak, kau harus istirahat, kau sudah terluka parah!” Jarni memohon, Alka masih mencari Aditia, dia tidak bisa melihat di mana Aditia berada.


“Mana Adit!” Alka terlihat gusar.

__ADS_1


Sementara Aditia kelahan hingga larinya jadi tidak cepat lagi, dia melihat raja jin sudah tepat di belakangnya hendak menangkap, kalau dia tertangkap, maka gosong sudah tubuhnya.


Tapi dia masih berusaha lagi dan ....


Bum! Suara menggelegar dari arah belakang terdengar, Aditia terjatuh karena terkejut, raja jin itu ternyata sudah tak terlihat, dia tertutupi kabut hitam yang sangat pekat tepat di belakang Aditia. Aditia bangun dan melihat seseorang berjalan dari asap hitam pekat itu.


“Kangen nggak?” seseorang bertanya pada Aditia, Aditia lemas dan terjatuh.


“Bah! Kemana aja sih!” Aditia menangis seperti anak kecil. Dia lega karena sosok yang selalu menguatkannya akhirnya datang juga.


“Kamu pasti sudah bertemu dengan leluhurmu dan mendapatkan penjelasan bukan? aku sengaja merapel hukumanku agar bisa lebih lama bersamamu tanpa terpotong masa hukuman selanjutnya, makanya hukumankupun lebih lama dari biasanya.


Aku sudah membawa pasukan, lihat itu.” Abah meminta Aditia menengok ke belakang, ternyata ada segerombolan makhluk yang memakai selendang hijau di pinggangnya.


“Itu kan ... pasukan Ayi yang dikumpulkan Malik, Bah?” Aditia bertanya.


“Iya, Ayi menghubungiku di tempat aku dihukum, dia memintaku segera menyelesaikan masa hukumanku untuk membantumu, dia juga mengirim pasukannya untuk membantu Kharisma Jagat kerabatnya, aku tidak bisa merasakan marabahayamu, karena aku di zona yang netral, di mana tuanku tidak bisa mendeteksiku karena aku harus menjalani hukuman.


Sedang Ayi selalu mampu mendeteksi siapapun di manapun yang dia inginkan asal masih keturunan khodam dari Kharisma Jagat, beruntung dia tidak pernah sekalipun luput perhatian kepada Kharisma Jagat.”


Abah dan Aditia masuk ke arena pertarungan lagi, sekarang jumlah sudah seimbang, apalagi sekarang Abah Wangsa sudah kembali, mereka terus bertarung menghabisi monyet neraka itu.


Hingga akhirnya monyet itu sudah habis tidak tersisa, dimusnahkan tidak di sekap, karena mereka geram dengan apa yang dilakukan para jin laknat ini.


Raja jin menghadapi kawanan beserta para khodamnya sendirian, dia kewalahan hingga akhirnya tumbang.


Begitu selesai menghabisi raja jin itu, Aditia berlari ke arah Alka yang masih dipapah oleh Jarni, dia melihat keadaan orang yang sangat dia sayang itu, sangat amat terlihat lemah.


“Sakit?” Aditia bertanya.


“Kau tidak apa-apa? tadi aku tidak melihatmu.” Alka malah bertanya keadaan Aditia.


“Sini naik ke bus, semua naik ke bus, kita harus mempertemukan Heru dan Melati, aku ingin kasus ini cepat selesai agar Alka bisa kembali ke gua untuk diobati.” Aditia memerintah semua orang masuk ke bus termasuk pasukan Ayi.


Bus menjadi sangat sesak.


“Kak Adit, Melati hilang.” Arif tiba-tiba berkata setelah semua masuk ke bus itu.

__ADS_1


“Melati hilang?!” Aditia kaget.


“Iya kak.” Semua orang mengiyakan.


“Bagaimana bisa, bukankah kalian semua kusuruh masuk bus?” Aditia geram.


“Tadi kami semua masuk, tapi entah kenapa Melati ternyata tidak masuk, kami bahkan tidak tahu di mana dia sekarang!”


"Kalau begitu, ayo kita temui yang Heru terlebih dahulu, kita harus jelaskan kalau Melati hilang." Aditai lalu membuka pintu alam manusia dari alam ghaib, saat mereka sudah sampai di alam manusia, Aditia turun dan melihat Heru, Samidi dan Winda terlihat sudah menunggu di pinggir jalan.


"Kemana tanteku?" tanya Heru pada Aditia.


Winda dan Samidi berada di belakangnya.


"Kami kehilangan dia saat bertarung dengan raja jin." Aditia langsung pada intinya saja, karena dia sungguh terburu-buru untuk mengobati Alka yang terluka parah.


"Lalu bagaimana dengan tanteku? aku perlu untuk menemuinya, aku ingin dia tahu bahwa ibuku juga menunggunya." Heru terlihat sedih dan kecewa.


"Aku akan bantu kau untuk mencarinya, tapi saat ini, aku akan pulangkan yang ada terlebih dahulu, tunggu beberapa hari hingga keadaan Alka pulih, setelah itu aku janji, aku akan membantumu mencari Melati." Aditia berjanji dan janji Kharisma Jagat bisa dipercaya.


Heru, Samidi dan Winda akhirnya pulang dengan sedih, sedang Aditia membawa bus untuk memulangkan jiwa yang tersesat, Nola dan Arif akan menginap di markas terlebih dahulu, menertralkan tubuh mereka yang lumayan lama tersesat di dunia ghaib, agar kelak ketika pulang mereka bisa pulih kembali, istilahnya, tidak sawan.


...


Sementara Heru sudah sampai rumah, dia melihat ibunya masih menunggu seseorang, sesekali melihat ke arah jendela, ketika melihat Heru datang, dia seperti kecewa.


"Mana Melati?" Tanya ibunya, dia bahkan kadang lupa pada anaknya sendiri, karena terlalu rindu pada adik kesayangannya.


"Mah ... lihat ini siapa?" Heru beranjak dari tempat berdirinya dan memperlihatkan seseorang. Ada Winda yang sedang berdiri di belakang Heru ternyata, dia tak terlihat tadi oleh mamanya Heru.


"Kak ... ini Melati." Winda berkata seperti itu, sorot matanya ... berbeda.


...


"Tolong!!! Tolong!!!!" seorang perempuan di hutan  sendirian, tubuh tuhnya terikat, dia hanya bisa meminta tolong saja, karena ... tidak bisa kembali ke tubuhnya sendiri.


"Nola ... Arif ... tolong aku, tolong Winda!"

__ADS_1


__ADS_2