
“Gimana biasanya Aditia dan Alka melakukan pekerjaan lapangan?” Hartino bertanya pada istrinya.
“Aku pernah dengar kalau Alka dan Aditia suka nimbrung sama tukang sayur.” Alisha menjawab dengan wajah serius.
“Ini sih pagi hari, seharusnya tukang sayur keliling ada.”
“Ok, kita tunggu saja di sini, kita tunggu tukang sayur lewat yang dikelilingi oleh ibu-ibu rumah tangga atau pembantu, karena biasanya dari mereka informasi mudah didapat.”
Tak lama muncul tukang sayur, hanya butuh waktu 15 menit agar tukang sayur itu dikerubungi ibu-ibu.
Alisah dan Hartino menghampiri, berpura-pura akan beli sayur.
“Eh, warga baru? Tinggal di mana?” Tiba-tiba ada yang bertanya, Alisha dan Hartino yang tidak biasa dengan pekerjaan lapangan kelimpungan karena belum menyediakan jawaban.
“I-itu, kami ngontrak di ... di situ.” Alisha hanya asal menunjuk saja.
“Oh di rumahnya Pak Haji Asep?”
“Iya!” Alisha dan Hartino hanya asal mengiyakan saja, satu masalah beres.
“Ih pasangan muda ya? baru nikah kan?” Ibu yang lain bertanya.
“Iya, baru nikah ini.” Alisha menjawab.
“Mau beli apa Mbak?” Tukang sayur bertanya.
“Hmm, beli ... beli ayam deh.”
“Mau yang mana?”
“Itu yang boneless, bagian dada yang dipotong searah, biar seratnya nggak ganggu saat dimakan, daging dada terbaik untuk menjaga berat badan, trus ....”
“Maksud istri saya, yang ada aja Bang.” Hartino menyadari bahwa istrinya belum pernah beli di tukang sayur, ditambah dia jago masak, bahan yang dipilih pasti yang terbaik, terlahir dari orang kaya raya, kadang membuat Alisha tidak mampu beradaptasi dengan cepat.
“I-iya Bang, maaf saya kebanyakan nonton drama korea.” Alisha tertawa dan ibu yang lain juga.
“Ih iya, saya juga sering nonton korea di tipi, keren banget tuh kalau lagi drama keluarga, sampe mau nangis saya.”
Alisha yang bahkan tidak suka film drama hanya tertawa dan berharap tidak ada yang akan tanya judul drama korea yang dia suka. Karena dia tidak tahu!
“Itu sayur juga nggak apa Bang. sayur sop ya.” Alisha bertanya seperti yang lain fokus.
“Eh tau nggak si Nci meninggalnya mendadak gitu.” Seorang ibu mulai menjadi informan tanpa diminta.
“Duh, udah meninggal mah jangan diomongin kali.” Ibu yang lain menghalangi, Alisha dan Hartino kecewa.
__ADS_1
“Memang baru ada yang meninggal?” Alisha memancing agar obrolan itu bergulir.
“Iya! Itu yang rumahnya itu.” Alisha dan Har sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu.
“Sakit meninggalnya? Wah harus di periksa tuh, apalagi sekarang musim virus, takutnya kan interaksi sama tetangga tuh.” Alisha sengaja menciptkan rasa takut yang mungkin ditampik dengan cerita asli.
Ini teknik memancing namanya.
“Nggak kok, kalau kata saya mah, meninggalnya karena rumor itu.” Ibu itu melanjutkan gosipnya, yang lain diam, ingin juga dengar sepertinya.
“Rumor apa? wah saya pendatang harus tahu nih informasi penting ini, siapa tahu saya jadi belajar banyak.” Alisha sekarang sedang menyentuh kehormatan dari si penggosip, agar dia merasa dirinya penting dan cerita akan semakin dalam.
“Katanya toko emasnya itu nuntut tumbal!”
“Bu! Aduhhhh, jangan sembarangan ah.” Ibu yang lain takut tapi terlihat ingin melanjutkan.
“Ih bener tahu, kan tetanggaku itu pembantunya Nci itu, katanya anaknya aja udah ngamuk-ngamuk, katanya ada 1 kamar yang nggak boleh dibuka, kamar itu tempat ... nyugih katanya!” Ibu itu kembali menjelaskan.
“Ih serius kamu, jangan aneh-aneh ah ceritanya.” Ibu-ibu yang hobi mengingatkan tapi tetap ingin mendengar itu berkata lagi.
“Serius tahu, gimana kalau emang bener, maksudnya toko emas itu pake pesugihan, bisa bahaya beli di sana, mana anak saya dulu beli kalung di sana lagi.”
“Apa buktinya?” Ibu yang lain bertanya lagi.
“Oh begitu, wah menakutkan sekali ya kalau beli emas di Nci itu, tapi anak ibu sakit juga?” Alisha tiba-tiba bertanya, entah kenapa dia hanya ingin mencemooh informan dadakan ini. Hanya memastikan saja.
“Tidak, udah lama belinya, anak saya sih baik-baik aja.”
“Lah itu anak kamu sehat-sehat aja, ngggak sakit, berarti nggak nyugih dia kan?” Ibu yang lain membela.
“Ya kalau anak saya sih, katanya ada keturunan gitu, keturunan yang bisa jaga, tahu kan?” Ibu itu tiba-tiba berkata ranah yang paling dikuasai kawanan.
“Oh, semacam penjaga gitu, khodam gitu? yakin kamu anakmu dijagain jin gitu?”
“Iyaaa, nih anaknya kebetulan lewat, sini nak, ini tante mau pada lihat kalungmu.” Anak itu kebetulan sedang bermain di dekat tukang sayur, lalu ibu itu memperlihatkan kalungnya dan tubuh anaknya yang sehat, dia ingin semua orang percaya bahwa anaknya istimewa.
“Ih iya ya, anaknya emang keliatan beda dari anak yang lain.” Ibu yang lain memuji, semakin tingga hati sajalah ibu penggosip yang percaya anaknya memiliki khodam penjaga itu.
“Yaudah ibu-ibu, makasih ya udah diceritain, saya pamit mau pulang dulu.”
Alisha dan Hartino pamit dan hendak pulang, tapi tiba-tiba dia diteriaki.
“Kok ke sana pulangnya, bukannya kontrakannya di sana?” Ibu penggosip itu sadar kalau Alisha dan Hartino salah jalan, padahal memang mereka saja tidak tahu kontrakkannya yang mana.
“Oh iya, mau ke depan dulu mau ada perlu.” Alisha menjawab asal saja.
__ADS_1
“Oh mau ke warung ya, yaudah besok ngumpul lagi aja ya, biar bisa ngobrol kita.” Ibu penggosip itu terlihat suka sekali ada teman yang sejalan, tapi Alisha kan hanya berpura-pura padahal dia juga jijik mendengarnya.
“Iya Bu, mari.” Alisha pamit dan mereka berdua berjalan keluar dari perumahan itu menuju mobil mewah meraka.
“Apa itu ayam boneless yang dipotong apalah! Kau ini aneh sekali.” Hartino langsung mengoreksi istrinya.
“Aku terbiasa beli bahan masakan memang begitu, harus sesuai dengan apa yang aku butuhkan.” Alisha beralasan.
“Tapi kita tidak sedang mencari kebutuhan sayang, kita sedan menyelidiki, beli yang terlihat saja.” Hartino protes, karena mereka hampir saja dicurigai.
“Kalau begitu aku seharusnya beli satu gerobak dong, karena semua terlihat olehku!” Alisha merajuk karena disalahkan.
“Bukan begitu sayang, tapi itu tadi benar-benar pekerjaan amatir, bagi kita berdua.” Hartino mengingatkan.
“Yasudahlah! Oh ya, soal anak itu, apakah dia punya khodam?” Alisha bertanya karena teringat kata-kata ibu yang suka menggosip itu. Soal anaknya yang punya penjaga.
“Tidak, kosong, aku tidak melihat khodam.”
“Wah ibu itu sukses membohongi para tetangganya.”
“Pasti anak itu suka dibully, makanya ibunya sedang memberikan perlindungan Sha, agar anaknya dianggap istimewa, makanya ibunya berkata demikian pada kita semua. Agar tidak ada yang berani lagi merundung anaknya.
Terkadang cara ibu melindungi anak-anaknya memang berbeda dan rumit.”
“Kasihan sekali anak itu.”
“Tidak perlu kasihan, semua anak akan tumbuh dengan baik jika memiliki kasih sayang dan kehangatan yang baik di rumah, kelihatannya anak itu cukup bahagia beribukan si penggosip itu, karena selalu dibela.”
“Ya,semoga saja.”Alihsap prihatin.
“Soal kasus, kalau anak itu kosong, tapi kan dia beli kalungnya di ttoko emas itu juga, tapi dia tidak jad korban kan! berarti bukan ....”
“PESUGIHAN!” Hartino berteriak mereka merasa menemukan sesuatu, harus segera diberitahu pada yang lain. Mereka bergegas menuju markas.
“Kalau bukan pesugihan, lalu apa ya?”
“Entahlah, kita harus bertemu dulu dengan sosok yang menyerang Aditia dan Alka, siapa dia dan kenapa dia mencelakai orang.” Hartino menjawab pertanyaan Alisha.
“Apakah ini jin iseng penjaga keluarga itu?”
“Mungkin juga, tapi apa motifnya mencelakai ibunya Amanda dan juga anaknya Sum?”
“Iya ya, kenapa sosok ini mencelakai orang? kaena iseng saja tidak perlu sampai mencelakai orang.” Alisha tidak juga bisa menarik kesimpulan.
Biasanya Alka memang yang paling jago menarik sebuah kesimpulan, kawanan memang butuh satu sama lain untuk mengerjakan kasus. Karena setiap kepala punya kemampuannya sendiri-sendiri.
__ADS_1