Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 388 : Toko emas 18


__ADS_3

Kawanan datang ke tempat itu, mereka datang ke tempat Babah itu, tapi menunda masuk ke dalam.


“Assalamualaikum.” Aditia menyapa sesosok binatang bertubuh besar, seperti srigala, tapi bertubuh sangat besar, berbeda dari srigala biasanya, tentu saja berbeda, ini srigala jadi-jadian.


Tidak dijawab berarti bukan jin muslim.


“Kami butuh masuk, tapi ini pertemuan damai, tidak bermaksud bertarung, sampaikan pada tuanmu.” Abah Wangsa keluar dari tubuh Aditia dan melakukan komunikasi, kalau dilihat umur, Abah Wangsa lebih tua, makanya makhluk itu mengalah dan masuk ke dalam, hendak bertanya pada tuannya, apakah boleh memasukkan kami ke dalam tempat praktek mereka, kondisi di mana antar makhluk ghaib bergesekan itu memang selalu menjadi momok mentakutkan, babah bukan orang biasa, dia punya ilmu ghaib, tapi entahlah, putih atau hitam, mungkin juga abu-abu, karena Aditia melihat, dominan ilmu putihnya dibanding ilmu hitam.


“Kalian sudah buat janji?” Seorang lelaki bertanya, dia sepertinya adalah petugas dari tempat praktek ini, dia yang membuat orang mendapatkan nomor antrian dan memilih siapa yang boleh dan tidak untuk masuk.


“Sudah, tanyakan saja pada tuanmu, dia pasti izinkan kami masuk,” Aditia menjawab.


“Jangan nyelak antrian dong, kami udah nunggu lama nih.”


“Kami sudah booking Babah jauh-jauh hari, coba aja cek sama Babahnya, kami berhubungan melalui handphone, jadi kami nggak nyelak antrian, kami sudah nunggu jauh lebih lama dibanding anda.” Ganding kesal karena mereka butuh Babah secepatnya.


“Mana buktinya!” Orang lain ikut nimbrung.


“Coba saja tanya Babah, apakah kami memang boleh masuk duluan?” Ganding dan yang lain terlihat santai saja, tidak takut dikeroyok orang yang sudah mengantri lama. Karena ini bukan untuk kepentingan individual, tapi untuk kepentingan bersama. Makanya Ganding jadi tetap kekeh mau masuk duluan.


Petugas itu masuk dan setelah beberapa waktu berselang, petugas itu keluar lagi, dia langsung meminta kawanan masuk setelah menunggu cukup lama itu.


Yang lain protes dan petugas itu memberi pengertian bahwa kawanan membuat janji jauh hari dengan Babah langsung.


Begitu sampai di bagian belakang tempat praktek ini, mereka ke kamar di mana Babah berada, bukan tempat praktek biasa, ini ternyata ruang tengah, karena yang datang banyak.


“Aku sudah dengar tentang kalian dari penjagaku.” Babah mengelus seekor srigala yang besar itu, srigala jadi-jadian.


"Kami ke sini karena ada tujuan." Aditia sebagai pemimpin yang berbicara.


"Silahkan saja, Kharisma Jagat yang Agung." Bebah tahu kalau Aditia berbeda dengannya, walau dia dukun termasyur di sini, tapi Kharisma Jagat bukan tandingannya.


"Ini soal ... Anak Ambar."


Babah terdiam, dia menghela nafas lalu membuangnya dengan berat.


"Ini pasti soal keluarga itu kan?" Babah bertanya.


"Keluarga Lana Jayamerta?"


"Bukan nama sesungguhnya, tapi kami memanggilnya begitu."


"Jadi benar ini adalah soal anak ambar?" Ganding kali ini yang bertanya.


"Kupikir keluarga terakhir takkan menggunakan ritual ini, karena setelah menikah mereka memiliki dua anak yang sehat, tapi sepertinya kutukan itu tak pernah menghilang dari keluarga Lana Jayamerta.


Pada umur 12 tahun, anak yang ditunggu-tunggu meninggal dunia, maka keluarga terakhir itu datang padaku.


Aku ingin menolak untuk membantu, karena memelihara anak ambar akan membuat kau mendapatkan keberuntungan yang terikat pamrih.


Kalian yang biasa menangani masalah ghaib pasti tahu, bahwa ruh tidak pernah puas, karena mereka perlahan menjadi serakah."


"Jadi benar yang kita hadapi anak-anak lagi!" Hartino kesal mendengarnya, baru juga mereka selesai dengan anak-anak ghaib itu, sekaranh ketemu anak ghaib lain yang mendekati masa puber!


"Babah, bisa tolong ceritakan kisah lengkapnya? Karena kami harus menjemput anak itu untuk 'pulang'."


"Tidak mudah memulangkan anak ambar, mereka terikat dengan orang tuanya, yang meninggal baru ibunya, selama ayahnya masih hidup, anak ambar tetap akan hidup."


"Kami bisa usahakan, tapi kami harus tahu asal usulnya." Aditia memaksa.


"Baiklah kalau begitu, aku akan ceritakan, begini ceritanya ...."


...


"Kamu bakal punya adek, Mami lagi hamil adekmu nih." Pemilik toko emas yang sudh menunggu anak kedua selama 10 tahun itu terlihat senang.


"Aku nggak mau adek." Anaknya marah, saat itu dia berusia 10 tahun, dia terbiasa jadi pusat perhatian selama ini harus berbagi kasih sayang, dia takut kalau bayi itu kelak mengambil orang tuanya.


Banyak tetangga yang mengatakan pada anak itu bahwa nanti adiknya akan mengambil orang tuanya. Para tetangga hanya bercanda, tapi mereka tidak tahu bahwa berandaan itu membuat anak kecil jadi ketakutan dan berpotensi tidak sayang adiknya.


"Kok gitu, adek nanti jadi temen main cici loh." Maminya berkata dengan lembut.


"Aku bisa main sendiri, main sama teman, pokoknya nggak mau punya adek, nanti mami sama papi dicuri sama dia!" Anak itu berteriak dan berlari masuk ke ka kamar, kamarnya amsih di lantai 1 waktu itu, kamar yang sekarang dikunci untuk anak ambar. Dulu adalah kamar milik anak sulung ketika masih kecil. Sementara rumah masuh 1 lantai dan kamar hanya ada 2 saja. Kamar utama dan kamar anak yang tidak terlalu besar.


Kelak rumah itu akan direnovasi, menjadi rumah berlantai 2, 3 kamar di bawah dan 3 kamar di atas.


"Kenapa si Cici?" Papinya bertanya, dia baru saja pulang dari kerja, papinya saat itu masih bekerja di suatu pabrik ternama, dengan posisi sebagai kepala produksi. Kelak dia akan punya pabrik sendiri berbekal pengalaman dari pabrik ini.


"Dia bilang ga mau punya adek."


"Ah biasa anak kecil mah, ntar juga kalau adeknya udah lahir dia bakal sayang." Papinya tidak terlalu menggubris apa yang dikatakan anak sulungnya.

__ADS_1


"Iya, nanti juga pasti sayang."


Mereka berdua yakin bahwa hal ini hanya masalah kecil.


Waktu berlalu dan kelahiran adik akhirnya terjadi. Anak itu lahir dengan sempuran tanpa kurang suatu apapun, anak cantik dengan kulit yang sangat putih.


Tidak seperti dugaan, ternyata anak sukung tetap tidak sayang pada adiknya.


"Ini adiknya kamu loh, sini ayo dicium." Maminya memaksa, ia baru saja pulang setelah melahirkan.


"Nggak mau, adek bikin papi dan mami nggak pulang-pulang, adek sendirian di rumah sama mbak doang. Adek udah ga disayang!"


"Kok ngomongnya gitu!" Maminya marah.


"Kata mbak, kalau adek nggak mau makan, nanti papi sama mami lebih sayang adek, nggak sayang aku lagi!"


Pembantunya yang senior ketakutan, dia tidak sadar kalau ancamannya yang bercanda itu terpatri di kepala anak sukung keluarga ini.


"Maaf Bu, saya cuma bujuk cici biar mau makan, karena kemarin pas Ibu sama bapak di rumah sakit, adek nggak mau makan, mau sama Ibu katanya, makanya saya ...."


"Lain kali jangan gitu ngomongnya, dia jadi makin nggak sayang adiknya!" Nyonya rumah marah.


"Cici, mbak nggak tau kalau mami sama papi sayangnya sama Cici dan juga adek."


"Dulu sama Cici aja, kenapa sekarang dibagi ke adek juga! Jadinya buat Cici sedikit dong!"


"Nggak, nggak gitu Ci. Kasih sayang itu bisa banyak, Cici lahir, trus ada kasih sayang 1 buat Cici, trus adek lahir, lahir juga kasih sayang 1 buat adek, jadinya Cici 1 adek 1. Nggak ada yang dikurangin Ci." Maminya berusaha menjelaskan.


"Bohong! Mami bohong!" Anak sulung itu kembali merajuk dan masuk kamar dengan membanting pintu.


"Maaf nyonya saya ...."


"Sudah! Nasi sudah jadi bubur, jangan terlalu sering cici main di luar, para tetangga suka bicara sembarangan." Nyonya rumah lelah dan sedang menahan sakit, dia ingin menunda dulu masalah ini agar bisa lebih fokus pada pemulihannya, dia juga harus menyusui.


Waktu berjalan, adek saat ini sudah berumur 2 tahun sedang kakak berumur 13 tahun, kakak semakin fokus dengan sekolah dan menjaga jarak dengan adik, walau dia sudah cukup besar, tapi rasa iri tidak pernah hilang.


Dia tidak mau membantu maminya untuk mengurus bayi, dia bahkan tidak pernah bercanda dengan adiknya dan terkesan menganggap adiknya tidak ada.


Sampai ada sebuah kejadian yang sangat mengerikan.


Kakaknya sedang mengerjakan PR di rumah, maminya sedang memasak di dapur untuk adiknya, ketika itu masih umur 2 tahun, adiknya itu menangis di kamar ibunya, karena kakakya mengerjakan PR di meja makan yang dekat dengan kamar utama, di mana adiknya berada, maka si anak sulung terganggu.


Dia memanggil ibunya agar menghentikan suara tangis adiknya, tapi ibunya malah berteriak meminta anak sulung untuk menenangkan adiknya.


Dengan wajah penuh kebencian, sang kakak masuk ke kamar orang tuanya, mendekati adik yang tidak pernah ingin dia lihat sama sekali, melihat wajah yang dia benci, seketika sang kakak langsung terbesit pemikiran aneh, dia mengambil sapu tangan yang ada di dekat situ, sapu tangan sang adik, yang digunakan maminya untuk mengelap muntahan ketika adiknya minum terlalu banyak atau mengelap kotoran dari makanan saat adiknya makan itu.


Sapu tangan itu dijejalkan ke mulut adiknya, dalam hati kakaknya bicara bahwa, ini langkah benar untuk membuat adiknya berhenti menangis bukan? kata mami dia harus menenangkan adiknya, sekarang terasa sudah tenang.


Tidak ada tangis lagi yang mengganggu, kakaknya tersenyum sambil melihat ke arah adiknya.


Saat Adiknya terlihat sudah sesak napas, ibunya berteriak dari luar kamar dan melempar mangkuk isi makanan yang sedang dia bawa.


Maminya berlari dan segera mengambil sapu tangan yang terjejal di mulut anak itu. Mendorong anak sulungnya hingga jatuh dan menangis sesegukan.


Suaminya datang karena dia sedang libur dan berada di ruang tamu.


“Kenapa?” Suaminya membangunkan anak sulung yang ikut menangis juga karena didorong ibunya.


“Dia menjejalkan sapu tangan ke mulut adiknya.”


“Tapi kata mami aku harus tenangin adik, makanya aku mau dia diam, aku sumpel mulutnya!” Sang kakak tidak mau kalah.


“Bawa anak itu keluar dari kamar ini!” Maminya berteriak dan suaminya menuruti, dia membawa anaknya keluar kamar dan menutup pintu kamar itu, sedang mangkuk yang sudah dipecahkan tadi sudah dibersihkan oleh pembantunya.


“Kamu kok bisa sih menyumpal mulut adikmu itu? itu namanya jahat.”


“Nggak kok, aku cuma pengen adek diem aja.” Sang kakak bermuka datar tanpa penyesalan, justru yang dia kesalkan adalah, dia didorong oleh ibunya.


Papi melihat itu menjadi takut karena sang kakak benar-benar membenci adeknya dan tidak tahu bahwa perbuatannya barusan adalah percobaan pembunuhan.


Papinya masuk ke kamar dan melihat mami yang masih menangis karena tidak menyangka anak sulungnya mampu berbuat seperti itu.


“Papi lihat kan, dia sudah keterlaluan!”


“Mi, ini berbahaya, kita pisahkan mereka.”


“Maksudnya?”


“Kita taruh sementara cici di tempat saudara kita ya.”


“Apa itu nggak apa-apa?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa supaya keduanya selamat.” Papinya berusaha meyakinkan.


Akhirnya keputusan diambil, kakak dipindahkan ke tempat kerabat mereka yang rumahnya tidak terlalu jauh, semua kebutuhan kakak dipenuhi, tapi memang mami dan papi sibuk dengan urusan masing-masing, hingga hanya bisa menemui kakak pada waktu libur saja dan membawanya pulang.


Waktu terus berjalan, hingga anak bungsu mereka sudah sekolah, saat ini umurnya 6 tahun, saat itu umur 6 tahun sudah bisa masuk SD dan memang umur itulah anak-anak mulai masuk SD.


Kakak pulang ke rumah, karena merasa bahwa mereka sama-sama sudah lebih besar, jadi seharusnya bisa dikendalikan dan mungkin akan saling rindu karena dipisahkan.


Tapi … kejadian lagi terjadi.


Mereka berdua ditinggal oleh mami dan papi karena mami mulai menjaga toko emas lagi, toko emas itu biasanya hanya dijaga oleh pegawai toko saja, tapi karena ditemukan kecurangan pada pembukuan penjualan yang dilakukan manual, pegawai itu dipecat dan akhirnya mami mulai menjaga toko emas itu lagi, sementara anak-anak dijaga oleh pembantu senior yang juga mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memasak, membersihkan rumah dan mencuci baju.


Keluarga itu baru hanya punya 1 pembantu, belum punya supir karena mobil juga masih mobil lama, suami masih hanya sebagai buruh pabrik walau jabatannya lumayan tinggi.


“Kamu ambil pensil Cici ya!” Anak bungsu masih tidur di kamar orang tuanya, sedang anak sulung sudah punya kamar sendiri, kamar yang nantinya akan jadi kamar yang dilarang dimasuki.


“Nggak kok, aku nggak ambil.” Anak bungsu sedang menonton di kamar orang tuanya.


Kakaknya masuk dan mengambil paksa tas sekolahnya, ternyata memang benar ada di tempat pensilnya.


“Ini apa!” Kakaknya mendekati adiknya.


“Itu dibeliin mami!” Adiknya merasa tidak salah karena pensil itu memang dikasih ibunya kemarin.


“Bohong! Kau pasti yang ambil, kau memang pencuri, maling!” Kakaknya berteriak di muka adiknya.


Adiknya mendengar itu langsung berteriak dan memukul kakaknya, karena kesal.


Kakaknya yang tidak terima di pukul dan barangnya dicuri, segera mendorong adiknya dan menendang perut adiknya, pembantu senior yang melihat itu langsung melerai mereka, tapi terlambat, perut adiknya memar.


Pertengkaran itu memang bisa dilerai, tapi membuat mereka semakin memiliki jarak.


“Jadi kalian bertengkar siang ini?” Ibunya bertanya.


“Cici yang jahat, dia nuduh aku pencuri, maling! Aku nggak ambil pensilnya itu pensil yang mami belikan untukku!” Adiknya berkata dengan penuh emosi, papi dan mami di sana, di meja makan, masalah ini digulirkan setelah makan malam selesai.


“Ini pensilku! Belum aku pakai karena pensilku masih ada, pensilku patah semalam, aku mau pensil baruku, tapi nggak ada, siapa lagi yang ambil kalau bukan dia!” Kakaknya memberikan bukti pensil baru yang sudah diraut itu.


“Maaf Cici, itu Mami yang ambil dari tempat pensil Cici, karena kemarin pensil adik habis, Mami nggak punya simpenan pensil, jadi pinjem pensil Cici dulu, salah Mami karena nggak bilang Cici, karena mami lihat pensil Cici masih panjang dan Cici juga masih punya pensil electric kan , jadi ….”


“Apa semua yang Cici punya harus diambil dia Mi? mau begini terus, buat apa Cici dijemput dari rumah saudara? Mening Cici di rumah sana aja, di sini semua yang Cici punya diambil!” Kakaknya kecewa karena ibunya tidak bilang, walau sebenarnya ibunya hanya lupa saja dan belum bilang kalau pensil kakaknya dipinjam dulu.


“Adek jangan terlalu kasar sama cici ya, kasihan, cici kan dari dulu ngalah pindah supaya kalian nggak berantem, jadi adek ….”


“Perut adek sakit Mi.” Adeknya membuka perutnya yang memar.


Ibunya langsung panik, karena melihat adek terlihat kesakitan, perutnya memang memar. Papi melihat itu yang tadinya diam saja buru-buru mengambil kunci mobil dan membawa adiknya ke klinik 24 jam. Karena adek terlihat sangat kesakitan.


Begitu sampai klinik adek diperiksa, adek hanya mengalami memar ringan dan hanya diberikan obat pereda nyeri saja, lalu mereka pulang.


Begitu sampai rumah adek tidur di kamar dan kakak dipanggil ke luar oleh ibunya.


“Cici tahu nggak kalau adek kesakitan tadi?”


“Tahu.”


“Cici nggak ngerasa salah?”


“Mami nggak kepikiran kalau Cici juga sakit? Lihat ini.” Kakaknya memperlihatkan tulang kering kakinya yang memar juga.


“Adek tendang kamu?”


“Cici nggak ngeluh ke Mami, karena tahu, pasti adek yang bakal dibela, kalau Cici ngeluh pasti mami sama papi bakal usir Cici lagi.”


“Nggak! kami nggak pernah ngusir kamu!”


“Dulu waktu adek masih umur 2 tahun, Cici diusir dari rumah ini kan? Karena kalian lebih sayang adek. Mami bohong, mami bilang kalau sayangnya Mami sama, tapi nyatanya Cici yang diusir keluar kan?”


“Kamu nih ngomong apa sih, kamu yang harus berubah, adekmu bukan musuh, kalian itu saudara, lahir dari rahim mami, sama-sama anak kami!”


“Trus kenapa Cici yang diusir!”


Maminya terdiam, kiranya baru tersadar, memisahkan mereka bukanlah langkah terbaik.


___________________________________________________


Catatan Penulis :


IG | TIKTOK | FB : Muka Kanvas


Yang belum follow aku di Noveltoon/Mangatoon, yuks follow/ikuti dulu ya.

__ADS_1


Ini nih caranya :



__ADS_2