
Mereka bersiap di parkiran apartement tersebut, menggunakan mobil mewah Jeep Wrangler Unlimited Rubicon, karena masuk apartemen mewah, tidak bisa menggunakan angkot Mulyana, pasti sudah dicegat duluan.
Mereka sepakat tidak menggunakan teknologi apapun untuk berkomuikasi, mereka hanya mengandalkan Alka dengan wujud jinnya.
Alka keluar apartemen, berubah wujud menjadi wujud jin, di melayang tanpa terlihat karena sudah berubah menjadi jin secara sempurna.
Dia masuk dengan melewati satu dinding demi dinding, karena tubuh itu sudah transparan.
Begitu sampai unit yang dia lihat saat mengintip masa lalu Rido, dia masuk. Gelap, apartemen gelap.
Alka terus masuk dan akhirnya sampai di ruangan gelap tempat mereka menyimpan ruh itu.
Alka masuk dengan mudah ke ruangan gelap itu, begitu masuk Alka bingung, begitu banyak botol serupa tapi tidak dinamai, Alka akhirnya mengecek satu-satu botol itu dengan melihat melalui mata batin isi dari botol-botol itu.
Hingga botol terakhir, Alka yakin itu botolnya, tapi … untuk memastikan, dia akhirnya menerawang lagi isi botol itu.
“Bukan!” Alka kaget, karena botol itu isinya jin koleksi lainnya.
Alka mulai panik, karena penglihatan ini tidak mungkin salah, itu adalah kejadian lampau yang tidak bisa direkayasa.
Sementara Alka mencari ulang karena mungkin dia yang salah, lampu ruangan gelap itu menyala, seorang perempuan duduk dihadapan rak penuh botol mini itu sambil tertawa dengan suara berbisik, bangku yang sangat mewah dia duduki menghadap Alka yang panik, wanita itu berpakaian gaun tidur berwarna hitam yang cukup terbuka, di tangan kirinya ada botol mini dan di tangan kanannya ada segelas wine yang sedang dia nikmati, ternyata Alka sudah menjadi tontonan dari tadi.
Alka melihat keadaan sekitar, dia melihat energi berwarna merah, energi apa itu, Alka bingung, dia tidak pernah melihat energi itu sampai sekarang.
“Kau mencari ini?” Alisha bertanya.
“Alka terdiam, dia mengubah wujudnya menjadi manusia lagi, percuma karena dia sudah terkepung energi merah itu, Alka tidak mau ambil resiko.
Alisha mempersilahkan Alka duduk di depannya, mereka hanya terpisah meja kecil.
“Wine?” Alisha menawarkan minuman itu pada Alka.
Alka duduk dan menjawab, “Aku tidak minum.”
“Baiklah, aku benar kan? Kau mencari ini?” Alisha bertanya lagi.
“Siapa kau? Kenapa kau membuntuti kami dan menculik ruh itu? kami tidak sedang bermain-main saat ini.”
“Aku tidak membuntuti kalian, aku hanya membuntuti satu orang yang kebetulan dia selalu bersama kalian.”
“Siapa?”
“Tebak.” Alisha bermain-main dengan Alka.
“Kalau aku bisa menebaknya, apakah botol itu bisa aku dapatkan?” tanya Alka.
“Tidak semudah itu.”
“Lalu?”
“Pada dasarnya aku tidak suka berkelahi, tapi aku tidak keberatan jika kau menginginkannya, tapi kita berdua akan menghabiskan energi, karena kau dapat melihat energiku kan, saat ini?” Alisha memang tidak lagi mengunci energinya seperti dahulu, ketika pertama bertemu dengan Alka di perpustakaan dulu.
“Ya, kita punya level ilmu yang sama. Tapi soal kemenangan kan, bukan hanya dari ilmu, kau lupa pengalaman juga penentu?” Alka kesal, karena Alisha sepertinya mempermainkan dia.
“Darimana kau tahu aku tidak punya pengalaman, sedang kalian berlima bisa aku kelabui?” Alisha tertawa berbisik lagi.
“Apa yang kau mau?”
Alisha menaruh gelas winenya, dia bersemangat hingga duduknya lebih maju.
“Mau buat perjanjian darah denganku?” Alisha menawarkan kesepakatan, Alisha sepertinya tahu, sebagian diri Alka adalah jin, sehingga jika melakukan perjanjian darah akan membuat Alka harus tunduk pada perjanjian itu atau dia akan celaka. Karena kitab perjanjian sudah diatur sejak dahulu kala oleh bangsa manusia dan jin.
“Tidak sebanding, aku bisa saja meraih botol itu, aku memilih bertarung.” Alka mulai kesal, dia mengeluarkan cambuknya.
Alisha menaruh pedangnya di meja.
“Pakai tangan kosong, aku tidak mau ada benda di ruangan ini rusak, semua hal di sini terlalu berharga untuk kau hancurkan.
“Aku tidak perduli!” Alka menyabet cambuk itu pada tubuh Alisha, Alisha menghindar, dia balik menyabet pedangnya, Alka juga berhasil menghindar.
Alisha menunduk dengan tangan kiri berada di belakang dan kanannya memegang pedang. Itu adalah kuda-kudanya, dia memakai gaun yang sangat terbuka tapi tidak terganggu sama sekali.
Alka menyerang dengan brutal pada Alka, dia menyabet ke segala arah, Alka menghindar dan sesekali menyabet cambuknya. Hingga cambuk Alka melilit tangan Alisha, Alisha terdiam, Alka tersenyum karena tangannya kena.
Alka menarik Alisha, seharusnya tubuh Alisha terpental, tapi … dia tidak bergerak sediktipun.
Alka terus menghentak cambuknya agar Alisha bisa terpental, tapi gagal, Alisha mengambil alih tali yang melilit tangannya dan menghentak tali itu, Alka yang terpental. Alka jatuh.
Alisha menggunakan kesempatan itu untuk menyabet Alka dengan pedangnya, gagal! Alka berhasil menghindar.
“Kenapa? kau heran ada yang bisa sebanding dengan kekuatanmu?” Alisha tertawa lagi, kali ini dia terus menyabet pedangnya tanpa ampun, Alka kewalahan, dia bisa menghindar dan sesekali menyabet cambuk dan membuat tubuh Alisha terluka, tapi … Alka heran, Alisha tidak kesakitan juga.
Alka lelah, Alisha masih saja bersemangat menyerangnya, wanita ini benar-benar tidak kenal ampun, hingga akhirnya pedang itu berada tepat di leher Alka.
__ADS_1
Alka mundur dan memegang pedang itu, pedangnya sangat tajam dan melukai tangan Alka, Alisha menarik pedang itu dan terdiam. Dia mundur dengan pedang yang masih menyisakan darah dari tangan Alka dan akhirnya duduk kembali di tempat semula.
Alka juga duduk kembali di tempat semula, tangannya perih sekali, pedang apa itu, kenapa lukanya tidak sembuh dengan cepat.
“Kan sudah kuperingati, tanganmu sakit?” Alisha tulus menanyakan itu, “Rania! Ambilkan kotak P3K ya.” Alisha berteriak pada seseorang Alka bingung, siapa Rania.
Seorang wanita negro masuk dan membawa kotak P3K.
[Oh, wanita yang menjebak ruh itu di gedung terbengkalai.]
Rania jongkok di hadapan Alka, mengobatinya luka ditangannya. Rania juga bukan wanita biasa, energinya hampir mirip dengan Alisha.
“Apa maumu?” Alka bertanya lagi, Rania sudah keluar setelah membalut luka Alka.
“Aku punya dua pilihan untukmu, pilih salah satunya, maka botol ini bisa kau bawa pulang dan ruhnya bisa ‘pulang’ tanpa kau bujuk, karena aku sudah menyiksanya, dia akan pulang walau tanpa disuruh. Mudah kan?” Alisha berkata serius, tidak ada tawa lagi di bibirnya.
“Sebutkan.” Alka duduk, dia kelelahan, peluh di keningnya masih terlihat. Alisha bangun dan memberikan air putih pada Alka, jelas Alka butuh itu, tanpa curiga dia meminumnya, tentu saja, tidak ada apa-apa di sana.
“Pertama, lepaskan Hartino, jangan pernah datangkan siapapun untuk menggoyahkannya keluar dari tim kalian.” Alisha melemparkan pilihan pertama.
“Hartino!” Alka bangun dan mengebrak meja, “jangan harap aku akan menjual temanku!” Alka marah.
“Yang kedua, bantu aku, bantu aku masuk dalam timm dan aku akan pastikan dia kembali ke tim kalian lagi.”
Alka duduk lagi, dia tidak mengerti maksud Alisha.
“Bantu kau untuk masuk tim? Bagaimana caranya? untuk apa?” Alka bertanya.
“Aku ingin berada dekat dengan Hartino.”
“Hartino tahu kalau kau … seperti ini?” Alka menunjuk sekeliling ruang, maksudnya betapa Alisha kental akan kleniknya.
“Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak ingin dia tahu.”
“Lalu bagaimana caraku membantumu sedang Hartino akan masuk kembali dan dia pasti mengenalimu.”
“Ayolah, kita berdua tahu caranya.” Alisha mengerlingkan mata padanya.
“Apa niatmu? Aku tidak akan membuat timku dalam bahaya, apa kau punya musuh?” Alka curiga.
“Lucu sekali, bukankah kalian yang punya banyak musuh?” Alisha tertawa.
“Lalu kenapa?”
“Hartino hidupku, aku ingin bersamanya, itu saja alasannya.”
“Mungkin kau hanya pernah merasakan cinta yang sederhana, makanya kau tidak mengerti rasa yang aku rasakan pada Har.” Alisha menatap Alka dengan tajam. Alisha tidak tahu, bahwa percintaan Alka sama rumitnya.
“Jelaskan padaku dengan benar, aku takkan mau jika kau hanya ingin menyakiti Har.” Alka menjadi sangat serius
“Bagaimana mungkin cinta memiliki akhir yang melukai, Saba Alkamah.” Alisha tidak sopan, memang dia teman sebayanya hingga memanggil Alka dengan nama saja, mungkin karena merasa ilmu mereka sama tingginya.
“Beritahu aku dulu dengan benar.” Alka memaksa.
“Aku mencintainya sejak kecil, aku menginginkannya sejak kecil. Tapi Hartino tidak menginginkanku, aku tahu saat ini prioritasnya adalah kalian, walau sekarang dia jauh, aku melihat jauh ke dalam matanya, kalau dia tidak pernah meninggalkan kalian walau raganya jauh dari kalian. Aku ingin dia seperti itu padaku, aku ingin bersamanya walau itu berat.” Mata Alisha melembut, Alka tahu, itu sebuah ketulusan.
Alka tahu, prinsip yang Hartino pegang, lalu Alka terdiam, apakah ini perempuan yang ….
“Jangan bilang, namamu … Alisha!” Alka selalu dengar nama itu dari Ganding, karena memang hanya Gandig yang tahu kisah cinta Hartino, dia cerita percintaannya hanya pada Hartino.
“Ya, betul, aku Alisha. Salam kenal.” Alisha mengulurkan tangan, Alka menyambutnya.
Pada kenyataannya Alka tahu sekarang kenapa Hartino tidak menerima Alisha, bukan karena prioritasnya adalalah lima sekawan, tapi, itu karena Hartino menjaganya. Dia takut Alisha menjadi korban atas sisi lain Hartino dalam dunia ghaib.
Tapi Alka tidak mungkin memberitahu itu. Karena itu adalah curahan hati Hartino. Alka tertawa terbahak-bahak, ini sih persoalan mudah, kenapa mereka muter-muter sih.
“Deal! Aku setuju, kau masuk dalam tim kami, kalau begitu, kita lakukan persiapannya.” Alka lalu pamit dengan membawa botol ruh itu untuk dipulangkan.
Alka kembali ke mobil mereka yang terparkir di parkiran apartemen.
“Kak, lama banget.” Ganding khawatir.
“Ya, ini ruhnya, sudah aku dapatkan.” Alka memberikannya pada Jarni, mereka akan mengantarnya ‘pulnag’ setelah menjemputnya tadi. Walau kali ini berbeda, dijemput pakai mobil mewah, bukan angkot.
“Kak, siapa ceweknya, coba liat dong, kakak kan janji bawa fotonya.” Ganding bertanya.
“Tidak sempat, aku tadi bersembunyi dulu, dia keburu datang.” Alka membuat alasan.
“Jadi, dia apa? dukun? Aditia bertanya.
“Bisa dibilang begitu, biasa, pengkoleksi jin.” Alka menjawab mencoba santai.
“Yaudah, yuk pulang.” Ganding mengemudikan mobil itu dan mereka akan segera mengantar ruh untuk ‘pulang’ dan mereka pun akan pulang.
__ADS_1
...
“Hai, malam, sedang apa?” Alisha datang ke ruang tamu Hartino, dia tiba-tiba ada di sana, dengan pakaian yang sangat feminim, rok berwarna pink dan kemeja pelangi, tidak lupa sepatu haknya yang menambah kesan feminim alegant.
“Lagi baca.”
“Baca apa nonton?” Alisha menggoda, karena dia tahu, baik buku maupun televisi itu, tidak menjadi perhatian Hartino.
“Kok malam-malam ke sini?” Hartino bertanya, karena tumben Alisha datang sudah cukup larut.
“Aku habis gabung sama temen-temen lamaku, temen SMA kita, inget nggak?” Alisha berkata.
“Oh, temen-temenmu yang centil-centil itu?”
“Kok gitu sih?” Alisha pura-pura mengeluh.
“Ya, tentu saja, bayangkan kerja kalian saat sekolah dulu, berdandan saja, memakai pakaian ketat dan godain cowok-cowok populer.”
“Aku nggak kok!” Alisha berpura-pura kesal. Karena dulu fokusnya hanya Hartino, sampai sekarang.
“Ya, selain kamu, makanya aku bilang kalau temenmu yang centil, kecuali kamu lah.” Hartino elarat, takut Alisha ngambek.
“Mau gimana pun mereka, mereka itu temanku, aku tetap sayang mereka, walau kadang kami juga sering bertengkar, karena beda-beda pendapat, tapi kami tidak pernah saling meninggalkan. Marah sebentar, tapi habis itu nongkrong lagi sama mereka.”
“Emang kamu berantem sama kawananmu?” tanya Hartino.
“Ya, kemarin sempat selisih paham, aku lulusan luar negeri, jadi cara pandangku berbeda, aku lebih sering mengadopsi gaya kebarat-baratan saat menyelesaikan masalah, lebih banyak pakai logika. Tapi teman-temanku kan kuliahnya di sini, jadi bagi mereka nilai-nilai kebudayaan asia masih sangat dipertehankan, seperti misalnya selalu mengedepankan empati yang tinggi di atas apapun.”
“Jadi mereka musuhin kamu dan anggap kamu kebarat-baratan?”
“Iya ....” Alisha merangkul Har dengan manja.
“Trus kamu maafin mereka dan mau ketemu sama mereka lagi?”
“Iya lah, kami tetap jalin silaturahmi sampai sekarang setelah belasan tahun berhubungan. Masa itu semua aku hilangin cuma gara-gara satu kesalahan doang, padahal udah banyak banget yang kami lalui bareng, susah bareng, sedih bareng dan sekarang berantem bareng, baikan lagi deh.” Alisha memasang senyum manja.
Salah satu jurusan yang Alisha ambil dalam beberapa gelar yang dia pilih adalah Psikologi, makanya mengarahkan Hartino untuk mempercepat marahnya perkara mudah bagi Alisha, makanya dia menjanjikan pada Alka bahwa Hartino akan kembali ke kawanan. Karena selama dia jalan dengan Hartino dia melihat Hartino sangatlah gusar, tubuhnya ada bersama Alisha, tapi pikirannya ke kawanan.
Makanya akhirnya Alisha membatalkan keputusan untuk memisahkan mereka, karena Hartino akan sangat tersiksa, makanya dia mengganti rencananya dengan memberi stimulasi pada otak Hartino untuk memaafkan temannya, melalui ucapan-ucapan yang menggiring pemikiran positif pada Hartino, seperti malam ini, perkataan Alisha akan terakumulasi dalam alam bawah sadar Hartino dan membuatnya mulai berpikir memaafkan teman-temannya.
Alisha selalu membuat semua rencananya sempurna.
“Har, mau aku masakin sesuatu nggak?” Alisha menawarkan diri untuk membantunya memasak.
“Nggak, udah malam, mau aku antar pulang?” Hartino menawarkan diri.
“Nggak, aku pakai supir.”
“Oh yaudah, pulang sana.”
“Ngusir?”
“Ya, pergi sana anak durhaka!” Hartino berakting seolah dia adalah ayah dari Alisha yang sedang marah.
Alisha tertawa dan akhirnya pamit pulang.
Alisha naik ke mobilnya, tapi tidak duduk di bangku belakang seperti biasa, itu karena ternyata Rania yang mengemudikan mobilnya.
“Hanya sebentar saja?” Rania bertanya.
“Ya, aku perlu memberinya afirmasi yang cukup agar dia segera kembali ke kawanan.”
“Kenapa kau tak pakai cara mudah saja sih?” Rania bertanya lagi.
“Cara mudah apa?” Alisha bingung.
“Ya, kau kan bisa memberikan pelet pada Hartino selagi kalian pergi bersama, kau memasak untuknya beberapa kali, seharusnya kau bisa menaburkan pelet pada makananya, itu mudah sekali, dengan begitu kau bisa menaklukan Hartino lebih cepat, kalian bisa menikah dengan segera dan dia meninggalkan kawanan selamanya karena kau bisa membuat mereka lupa.”
“Lalu dimana esensi cintanya? Aku ingin Har mencintaiku, bukan menjadi budakku. Kalau sekedar ingin budak, banyak pria yang bisa aku taklukan dengan pelet. Tapi aku inginnya cinta, cinta yang tulus, bukan kepalsuan karena pengendalian, hanya wanita serakah yang melakukan itu. Mengambil banyak dan berkorban seminim mungkin. Itu namanya bukan cinta, tapi kemunafikan.”
“Ah Nona, kau terlalu berfilsafat kau memang selalu mendahulukan hati dan ketulusan.”
“Siapa bilang, aku juga orangnya hitung-hitungan, makanya aku selalu berhasil.” Alisha mengerlingkan matanya.
“Jadi, besok aku akan menghilang sementara ya, karena kau akan mulai bergabung dengan kawanan?”
“Ya Rania, tapi kau harus tetap memberiku kabar keberadaanmu, karena mungkin terkadang aku membutuhkanmu.”
“Anytime, Nona.” Lalu mobil melaju dan mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
_____________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Sampai sini masih pada benci Alisha? aku nggak akan marah kalau kalian marah karena aku menghadirkan toko Alisha yang lebih hebat dari Alka, karena aku tahu, kalian sangat sayang sama lilma sekawan, takut mereka pisah dan aku cukup kagum sama pembaca Ajp yang selalu saja menganggap serius tulisanku. Makanya aku update setiap hari supaya kalian nggak lama nunggu, walau masih banyak typo, maafkan, karena masih proses aku edit kok pelan-pelan.
Terima Kasih semua.