
Serangkaian kejadian yang telah Pak Abdul lewati tidak membuatnya cukup berani menghentikan proyek tersebut. Rasa takut mempertanggung jawabkan semua kerugian dan juga ketamakannya, tidak membuatnya berjuang untuk memberhentikan proyek tersebut. Pak Abdul tahu, bahwa jika dia akhirnya mengundurkan diri dari proyek, akan ada orang yang menggantikannya, karena untuk menghentikan proyek terlalu mustahil.
Maka jalan terbaik menurutnya adalah, menjalankan semua ini, walau setiap hari selalu saja ada korban, entah terluka, cacat atau bahkan meninggal.
Butuh waktu dua tahun akhirnya bangunan itu berdiri tegak, meleset dari waktu yang diperkirakan, tapi sudah cukup membuat Pak Abdul mampu bernafas lega.
Perlahan kekayaannya juga semakin meningkat, rumah, mobil dan beberapa aset lain sudah dia dapatkan karena proyek tersebut, dalam hatinya dia berkata, bahwa pertaruhan ini sepadan dengan apa yang dia dapatkan.
Ketika bangunan itu sudah jadi, Pak Abdul memegang jabatan sebagai kepala management, dimana semua tenant dan juga pemeliharaan gedung dipertagunggjawabi olehnya.
Mulai dari pembayaran sewa, pembayaran perawatan dan juga semua elemen pendukung seperti air dan listrik.
Bisa dibilang hidup Pak Abdul berada di titik yang cukup baik.
Butuh waktu sekitar 6 bulan akhirnya semua tenant masuk ke dalalam ruangan-ruangan yang sudah disewa, satu lantai ada enam unit. Sehingga ada enam perusahaan pada satu lantai. Sedang gedung memiliki 21 lantai.
Ramai sekali pada pembukaan gedung ini, Pak Abdul sejauh ini merasa semua jerih payahnya berhasil, walau gangguan itu tidak benar-benar berhenti.
Seperti malam ini, ketika Pak Abdul sedang lembur karena harus menyusun laporan bulanan, karena hari ini adalah akhir bulan, waktu dimana laporan harus dikirim kepada pemilik modal.
“Pak Abdul, belum pulang?” Seorang karyawan bertanya, Pak Abdul hanya mengangguk tanpa membalas, semua karyawan yang tidak terkait dengan laporna akhir bulan, sudah pulang, hanya tersisa Office Boy dan juga security. Berdasarkan datanya, hari ini tidak ada tenant yang karyawananya over time, karena kalau mau lembur, sore hari anak buah Pak Abdul akan mendatanya, itu dimaksudkan agar AC central dan juga air tidak dimatikan dari pusat.
Saat sedang sibuk dengan berkas laporannya, tiba-tiba lampu diatas mejanya redup.
Pak Abdul menatap ke atas, lalu lampu normal kembali.
Lalu dia melanjutkan pekerjaan, tidak lama kemudian, lampu redup lagi. Pak Abdul kembali menatap ke atas, lampu kembali normal.
Pada titik ini dia mulai gelisah, bulu kuduknya merinding. Tapi kalau pulang, laporan ini akan terlambat, dia harus tetap memiliki nama baik di mata para atasan.
Akhirnya dia mulai lagi pekerjaannya.
Pada sepuluh menit kemudian lampu kembali redup, Pak Abdul sudah mulai tidak bisa mengendalikan dirinya, dia tahu, mungkin saja sedang dikerjai makhluk itu.
Dia mencoba untuk mengabaikan lampu yang bermasalah itu, matanya tetap fokus pada pekerjaan, walau fikirannya sudah tidak tenang lagi.
Dia fikir kali ini dia akan terlepas dari gangguan jika dia bersikap acuh, tapi ternyata salah, kali ini lampunya tidak redup lagi, tapi mati total lalu menyala.
__ADS_1
Tak … tok … tak … tok.
Saklar lampu berbunyi, seperti ada yang memainkannya, keringat Pak Abdul mulai keluar, untuk melihat kea rah saklar itu dia terlalu takut, sedetik kemudian dia mendengar suara.
“Pak Abdul, mau kopi.” Begitu mendengar pertanyaan itu, Pak Abdul langsung lega, ternyata Office Boy jaga yang menawarkannya minum.
Reflek Pak Abdul menoleh kea rah belakang, dimana Office Girl yang menawarkannya kopi berada.
“Iya Mbak ….”
Saat melihat ke arah belakang, matanya langsung membelalak, suara itu benar memang Office Girl Jaga, tapi wujudnya sama sekali berbeda.
Wanita ini memakai gaun yang begit panjang, skaing panjangnya gaun ini menutupi seluruh lantai, rambutnya panjang, matany putih sempurna, wajahnya pucat pasi menghitam, tangannya memencet saklar lampu dan kakinya mengambang.
Pak Abdul tidak mampu berteriak, seluruh tubuhnya menggigil dan berat, tidak mampu berlari, berdiri saja dia kesulitan.
Mata dan kepalanya seperti ada yang mengendalikan, hingga ia tetap harus menatap lurus pada wanit yang mengerikan itu.
Pak Abdul membaca ayat-ayat suci Al Quran dalam hatinya, berharap dia dapat terlepasa dari cengkraman setan, dia terus mengulang bacaan yang dia mampu.
Perlahan wanita mengerikan itu mendekatinya, selangkah demi selangkah tanpa menatap pada lantai.
Wanitu itu semakin dekat, lalu ketika jarak mereka sudah tinggal satu langkah, wanita berteriak.
“TINGGALKAN TEMPAT INI!!!” Suaranya bergemuruh, membuat meja-meja bergetar, percikan darah keluar dari mulut wanita itu, bukan hanya di tubuh Pak Abdul, darah juga ada di seluruh lantai.
Tadinya itu adalah gaun, tapi berubah menjadi darah. Pak Abdul tidak dapat berbuat apa-apa, dia menangis seperti anak kecil dan tidak dapat ditahan, saking takutnya, celananya basah karena air seninya sendiri.
Setelah berteriak, wanita itu menghilang, seketika Pak Abdul bisa bergerak lagi.
Dia melihat sekeliling, tidak ada siapapun, lampu sudah kembali normal, darah juga tidak ada, tapi bau anyir ini masih saja tertinggal.
Karena rasa takutnya begitu besar, dia akhirnya memilih pulang dan tidak melanjutkan lagi pekerjaan, dia bahkan tidak membersihkan dokumennya, dia berlari hanya membawa tas kerja, saat melewati lorong menuju lift, dia mendengar seorang wanita berteriak memanggilnya, tapi dia tidak mau menoleh sama sekali, dia terus berlari, tidak menunggu lift tapi melewati tangga darurat.
“Kenapa Pak Abdul? Kok lari, dipanggil malah kayak ketakutan, padahal mau saya tawarin kopi.” Office Girl jaga bergumam, kaget karena bosnya lari tunggang langgang saat dia panggil.
“Mbak Susi, pulang yuk, udah malam.” Seorang wanita lainnya mengajak Susi sang Office Girl untuk bergegas pulang.
__ADS_1
“I-iya Mbak.” Susi yang kaget karena teguran perempuan itu lalu bergegas turun dengan lift yang terbuka, saat sudah sampai di bawah, dia terus berfikir.
“Kenapa lu Sus?” Security yang berjaga di luar gedung membawa kopi di tangannya, dia habis buat kopi di pantry dan bertanya pada Office Girl jaga itu.
“Nggak Pak Efendi, begini, tadi Pak Abdul Susi panggil bukannya noleh malah lari ke arah tangga darurat, kayak orang ketakutan, padahal Susi mau tawarin kopi, trus pas Susi lagi bingung, ada yang ajak Susi pulang, karena lagi bingung Susi jawab aja iya, trus Susi turun naik lift, tapi Susi baru sadar, OG yang jaga hari ini kan cuma Susi, trus tadi itu siapa?”
“Emang kayak gimana mukanya?” Pak Efendi bertanya, mereka berdua akhirnya ke luar gedung dan duduk di pos security.
“Mukanya nggak sempet Susi liat, kan tadi langsung aja turun, tapi yang Susi inget suaranya ….”
“Suaranya kenapa?” Pak Efendi semakin penasaran.
“Suaranya, mirip banget sama suara Susi.”
“Hah? Trus dia nggak ikut turun sama lu? kan dia ajak lu pulang.”
“Nah itu dia, karena bingung mungkin ya, Susi turun aja, nggak nungguin dia, orang dalam pemikiran susi, mah, nggak ada OG lain Pak.”
“Wah Sus, lu bikin gue jadi takut, mana hari ini gue jaga sendiri, si Aris nggak masuk kerja, meriang katanya.”
“Susi mau pulang aja ah, Pak. Kan Pak Abdul udah pulang, tadi Pak Abdul udah sampe bawah Pak?”
“Nggak ngeliat gue Sus.” Pak Efendi menjawab.
“Udah kali ya, kan tadi Bapak bikin kopi di pantry.”
“Iya, udah kali. Gue nggak mau ah keliling, yang penting gue jaga di luar gedung aman.” Pak Efendi bergidik membayangkan dia harus masuk ke dalam, walau dia sebelumnya sudah sangat berpengalaman sebagai Security karena sudah hampir 15 tahun dia bergelut dalam pekerjaan tersebut, tapi tempat ini menurutnya begitu menakutkan, banyak sekali hal janggal yang sering dia temui, makanya dia memilih jalan aman saja.
“Yaudah Pak, Susi pulang duluan ya.” Setelah mengambil tasnya di pantry ditemani Pak Efendi, Susi pulang meninggalkan Pak Efendi sendirian, sementara setelah Susi pergi, Pak Efendi langsung mengunci pintu masuk gedung itu dari luar dan kembali ke pos jaga.
Udara terasa dingin sekali, itu yang Pak Efendi rasakan.
Sementara di dalam ada seseorang yang berusaha menggedor-gedor pintu tangga darurat, dia sudah berlari sekitar sepuluh menit tapi tidak juga menemukan lantai lobby, dia merasa terus berputar di lantai yang sama, sudah 5 kali dia bolak-balik naik turun tapi tidak juga menemukan lantai bawah dimana Lobby berada.
Saat dia memutuskan untuk keluar dari pintu tangga darurat, pintu tidak mau terbuka.
Dia terus berteriak tapi tidak juga menemukan siapapun yang bisa mendengar suaranya.
__ADS_1
“Tolong!!! Tolong!!!”