
“Jadi di sini tempatnya?” Jarni bertanya pada Ganding. Mereka sudah di belokan tangga menuju lantai lima, Pak RT tidak mau menemani ke sini karena dia tadi kesal Ganding meledek dengan memanggil nama anak itu.
“Ya, pasti di sini, itu sisa makanan berserakan.” Ganding yakin.
“Aku merasakan bau anyir dan gosong dalam waktu bersamaan. Lalu semua benda ini kenapa tidak disingkirkan, ini sudah dalam keadaan jelek.”Jarni menunjuk snack yang berserakan itu.
“Mereka tidak berani Jarni, ini sudah diberikan pada ‘dia’, jadi mereka membiarkan saja begini, mungkin pemikirannya adalah, daripada diganggu.” Ganding berasumsi.
“Kita sekarang ngapain lagi?” Jarni bertanya.
“Apalagi selain pendekatan interogasi warga sekitar?” Ganding lalu naik ke lantai lima, Wangapuk tidak muncul.
Ganding mengetuk rumah paling depan setelah anak tangg, tidak ada jawaban, Ganding mengetuk laig, masih tidak ada jawaban.
“Itu kosong Mas, kamu saudaranya?” Seseorang berkata, dia sepertinya sedang ingin turun dan melihat Ganding serta Jarni.
“Bukan, kami petugas Pemda, mau memantau rumah susun ini, tapi lihat belokan itu saya jadi penasaran. Karena semua areal rumah susun ini sangat bersih, lalu kenapa belokan itu dibiarkan kotor berserakan makanan yang terlihat sudah tidak bagus lagi.” Ganding menjawab pria paruh baya yang tadi memberi informasi tentang rumah kosong yang Ganding ketuk.
“Oh itu, ke Pak RT aja, nanti dijelasin.”Pria itu terburu-buru jadi hanya berkata seadanya.
“Pak sebentar, tadi kami sudah bertanya ke Pak RT, kami sudah tahu, tentang Wang ....”
“Sssttt, diam!” Lelaki itu yang tadinya hendak turun lalu mendekati Ganding dan menariknya agar menjauh dari anak tangga, seolah mereka sedang diperhatikan.
“Ada apa?” Ganding pura-pura tidak tahu.
Lelaki itu akhirnya membawa Ganding dan Jarni ke rumahnya, rumah itu kosong.
“Saya tinggal di sini bersama istri dan anak saya. Satu anak lelaki dan satu anak perempuan, mereka sudah remaja. Kalian berdua kalau menyebut nama tadi, tolong hati-hati. Karena kalau sampai ‘dia’ marah, bisa mengancam ketentraman rumah susun ini.” Lelaki itu masih terliaht khawatir, pintu rumah dibiarkan terbuka.
“Oh begitu Pak, kok takut ya dengan hal seperti itu, saya besok mau bawa petugas kebersihan Pak, mau membereskan makanan berserakan di belokan tangga itu.” Ganding menatap Jarni dengan tatapan aneh.
“Jangan! kau mau celaka!” lelaki itu memperingatkan.
“Apa hubungannya membersihkan bekas makanan itu dengan celaka?” Ganding pura-pura tidak tahu lagi.
“Kau tahu, kalian harus hati-hati di sini, kalau kalian mau selamat.”
“Pak, kita mah ngapain takut ama begituan, takut mah ama Tuhan.” Ganding mencoba memancingnya.
“Kalian nih ngeyel sekali dikasih tahunya.” Bapak itu terlihat mulai kesal.
“Pak, jangan percaya hal itu, kecuali Bapak melihat sendiri kejadiannya.” Ganding mencoba memancing lebih dalam lagi.
“Itulah, karena saya melihat kejadiannya sendiri, makanya saya peringatkan kalian.” Bapak itu lalu mendekati Ganding duduknya, dia seolah takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Ada apa Pak?” Ganding penasaran.
__ADS_1
“Anakku, namanya Andri dan Rahma, mereka berdua kemarin pulang larut, lalu mereka akhirnay harus meninggalkan makanan di belokan tangga itu untuk ‘dia’ sayang ....”
“Sayang kenapa Pak?” Ganding terlihat makin penasaran.
“Sayang anakku yang perempuan itu salah meninggalkan barang, dia meninggalkan pensil, kalian tahu, akhirnya anak perempuanku itu sempat di tarik kakinya dan terjatuh oleh ‘dia’ dua anakku itu melihat wujud ‘dia’ dengan jelas, sosok itu mengajak anak perempuanku untuk bermain, tapi anakku mengucapkan kata itu, kata untuk menghindari ‘dia’.”
“Lalu sekarang berarti anakmu selamat? Dia baik-baik saja kan?”
“Dia baik-baik saja, kami mengungsi, sekarang kami tinggal di kost-an dekat sini, karena akan bahaya bagi anak perempuan kami jika dia tetap di sini, dia pasti diincar, makanya kami pindah sementara sampai empat puluh hari.”
“Oh begitu, yang penting anak perempuanmu baik-baik saja.” Ganding tahu, anak itu tidak baik-baik saja, tubuhnya telah ditarik sebentar ke dunia ‘dia’ setidaknya dia akan sawan karena sempat menyentuh dunia ghaib.
“Dia tidak baik-baik saja, dia sekarang tidak berani kemana-mana, bahkan ke kamar mandi, kami mengurusnya bergantian, sejak kejadian itu seminggu yang lalu anakku benar-benar menjadi pendiam.
Sulit makan, sulit tidur dan sama sekali tidak mau bicara, saat ini dia sedang melakukan terapi, tapi belum juga sembuh.”
“Pak, ini teman saya bisa melihat begituan, mau dibantuin dia nggak?” Ganding menunjuk Jarni, Jarni yang ditunjuk kaget, ini terlalu tiba-tiba, lagian, mereka berdua kan memang bisa melihat ‘begituan’ sungguh terlalu lelaki ini, Jarni kesal sekali dan menatap Ganding dengan tatapan yang cukup judes.
“Bisa memang? Dukun di kampung aja nggak bisa sembuhin, dia ini masih anak muda, apakah bisa?” Lelaki itu memastikan lagi.
“Kenapa kita tidak membuktikannya Pak?” Ganding menantang.
“Yasudah, tapi hati-hati ya, ini bukan dalam jangkauan kalian, saya tidak mau anak saya tidak sembuh lalu kalian jadi ikutan sakit.”
“Iya Pak, tenang saja.”
Hanya berjalan lima belas menit mereka sudah sampai, letak indekos yang mereka sewa ada di lantai dua, begitu sampai, Jarni dan Ganding langsung diajak masuk, indekos ini benar-benar hanya kamar dan kamar mandi saja, mereka tinggal berempat di kamar ini, jadi saat Ganding dan Jarni masuk, ruangan terasa penuh.
“Ini mereka katanya bisa bantu Rahma Bu.” Bapak itu menjelaskan kedatangan Jarni dan Ganding. Ibunya hanya mengangguk, ada raut tak percaya dari wajahnya saat melihat Ganding dan Jarni.
Rahma yang sedang berbaring lalu di bangunkan, Rahma terlihat pucat, dia duduk bersila di hadapan Jarni.
Jarni dan Rahma berhadapan, Jarni mengerluarkan ularnya, Rahma melihat, dia ketakutan, tapi ditahan oleh ibunya agar tidak berlari dari kamar ini. Rahma menutup matanya, hanya Rahma, Jarni dan Ganding yang melihat ular Jarni.
Jarni mengambil sedikit bisa ular ghaibnya, lalu bisa itu diteteskan ke jari telunjuknya, lalu Jarni meminta Rahma membuka mulutnya dan menjulurkan lidah, Rahma melakukannya tanpa perlawanan, Jarni lalu mengusap lidah Rahma dengan telujuk tangannya yang sudah dilumuri bisa ular ghaib.
Rasanya sangat pahit, Rahma langsung meminta minum setelah merasakan bisa ular ghaib itu, dia juga menangis karena rasa pahit itu sangat tidak tertahankan.
“Anak saya kenapa?” Bapaknya bertanya.
“Tidak apa-apa, dia hanya sedang meminum obat saja, dia akan sembuh, percayalah.” Ganding berkata dengan tenang.
“Kalian yakin?”
“Ya, tanya saja pada anakmu.” Ganding meminta bapaknya bertanya.
“Tanya apa?”
__ADS_1
“Apakah dia melihat lagi hal-hal yang orang lain tidak lihat?”
Bapaknya bingung, karena anaknya tidak pernah cerita apa yang dia lihat selama ini, karena dia banyak diam setelah kejadian itu.
“Nak, gimana sekarang.”
“Pak ... Bu ... aku nggak liat ‘mereka’ lagi, mereka yang mukanya serem-serem.” Rahma menangis dipelukan ibunya, dia akhirnya jujur, bahwa setelah kejadian itu, dia memang melihat makhluk yang tak kasat mata, makanya dia jadi diam, karena takut kalau ‘mereka’ sadar bahwa dia bisa melihat.
Dia menyembunyikan dari ayah dan ibunya karena tidak mau menambah beban, karena dirinya ayahnya harus menyewa kamar kost, itu pasti memberatkan karena ayahnya hanya seorang OB di suatu perusahaan, untuk biaya sehari-hari dan sekolah saja kadang kurang, tapi dia malah membuat masalah.
“Jadi selama ini Ade lihat ‘mereka’?” bapaknya bertanya.
“Iya, Ade nggak berani bilang karena takut ayah sama ibu jadi makin susah, maafin ade ya.”
“Nak, ayah sama ibu cuma pengen Ade sembuh, mulai sekarang apa yang Ade rasain harus bilang sama Ibu ya.” Ibunya memeluk anaknya.
Setelah selesai, Jarni dan Ganding bermaksud pamit, bapaknya mengantar mereka keluar, saat sudah di luar, bapaknya lalu memberikan amplop putih pada Jarni.
“Ini tidak banyak, tapi saya mohon terima, terima kasih karena sudah mau membantu.” Bapak itu terlihat sangat bersyukur.
“Pak, nggak perlu.” Ganding menarik amplop itu dari tangan Jarni dan mengembalikannya.
“Maaf ini tidak banyak, tapi Insyaallah kalau ada rejeki saya pasti tambah.” Bapak itu salah sangka, dia pikir ditolak karena jumlah uangnya terlalu sedikit, padahal Jarni belum membuka amplop itu sama sekali.
“Pak, kami bantu orang nggak pamrih, tulus. Kami juga akan bantu bereskan tempat itu agar ‘dia’ tidak lagi mengganggu di sana, oh ya, ini ada sedikit dari kami, ini bantuan dari Pemda, dari pemerintah Pak, untuk orang yang sedang kesulitan seperti Bapak, diterima ya.” Ganding menyerahkan amplop coklat, dibanding amplop bapak itu, amplop Ganding tentu lebih tebal dan dia berbohong lagi, itu jelas bukan bantuan pemerintah.
“Ini beanr dari pemerintah?” Bapak itu terlihat curiga.
“Tentu saja, kami kan utusan dari sana, kami ini di departemen yang dirahasiakan, kami ada di departemen ghaib yang menangani masalah ghaib yang warga alami. Jadi Bapak harus rahasiakan bantuan kami ya, supaya kami ini bisa tetap menjalankan tugas.” Ganding makin pandai mengarang, tapi Jarni rasa ini berlebihan.
“Oh, seperti agent rahasia gitu ya?” Bapak itu tiba-tiba berkata.
“Iya betul! Seperti itu!” Ganding terlihat senang karena bapak ini ternyata tidak curiga.
Setelahnya mereka berdua pamit. Setelah sudah di luar mobil mewah menjemput mereka.
“Kau ini berlebihan sekali, mana ada pemerintah membuat departemen ghaib, kau gila!” Jarni kesal karena Ganding asal bicara.
“Terkadang kita perlu segila Adit dalam menyelesaikan masalah.” Ganding membela diri.
“Tapi kakak akan marah kalau tahu kita begini.”
“Kakak bilang kan, jujurlah tentang jati diri kita sesungguhnya jika hanya dalam keadaan sangat darurat dan mengancam nyawa, kalau tidak, kita harus menutupi jati diri kita.” Ganding masih membela diri.
“Tapi kau tidak menutupi jati diri kita tadi, kau hanya mengkamuflasekannya!” Jarni kesal.
“Oh iya ya.” Si jenius baru sadar.
__ADS_1
“Bodoh! Untung aku sayang.” Jarni berkata dengan berbisik, Ganding tidak begitu dengar, dia baru sadar telah melakukan hal bodoh, tapi itu tidak bisa ditarik, semoga bapak itu tidak bermulut besar dan mengoceh tentang mereka.