Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 113 : Hartino 7


__ADS_3

“Begitu Pak ceritanya, kami sudah mencoba menyelidiki rumah papanya Har, kami yakin bukan mereka pelakunya, karena ibu tirinya Har sedang hamil, jadi tidak mungkin dia akan melakukan hal gila semacam itu.” Pak Mulyana datang bersama Pak Dirga, mereka duduk di ruang tamu dengan pintu terbuka, maklum mamanya Har itu saat ini seorang janda, akan terlalu bahaya kalau sering kedatangan tamu lelaki, untuk menghindari fitnah, pintu selalu dibuka, Har selalu ikut obrolan, Mulyana selalu datang bersama Dirga.


“Kalau begitu buntu ya, Bu?” Mulyana bertanya.


“Iya Pak.”


“Baiklah, karena kita buntu, maka saya akan mengutarakan hal yang mengganjal beberapa hari ini, tapi saya mohon, Ibu harus berpikiran dingin ya.


Pertama, ketika kita mendatangi rumah kakeknya Har, saya merasa rumah itu sangat tidak nyaman karena, ada hawa pengap dan bau anyir yang entah darimana datangnya.


Kedua, apakah kakeknya Har seseorang yang sangat suka dengan klenik?”


“Berhenti di situ Pak, jangan teruskan, kakeknya Har sangat sayang dia, jadi tidak mungkin dia mencelakai Har, kami masih tetap berhubungan baik juga, jadi tidak ada dendam, saya tidak akan mencurigainya.” Mamanya Har buru-buru menentangg kemungkinan itu.


“Bu, bukankah yang paling mungkin mencelakai kita dari jalur santet itu adalah orang yang paling dekat” Pak Dirga mencoba untuk membuka mata mamanya Har.


“Ya, saya tahu itu, tapi kakeknya Har bukan orang seperti itu, kakeknya Har sangat sayang sama Hard an saya, jadi saya tidak akan mau menanggapi kecurigaan itu.”


“Baik kalau begitu kita akan kesulitan menemukan Pelakunya Bu, apa Ibu mau membiarkannya saja seperti itu? biarkan saja santet itu lama-lama masuk ke rumah ini? karena pagar penjagaku takkan bisa menahan lama serangan bertubi-tubi setiap malam, sedang Har belum mampu melawan.”


“Pak … bukan itu maksud saya,” mamanay Har menangis, dia bingung, “saya sudah kehilangan banyak hal setelah perceraian, saya tidak ingin Har kehilangan kakeknya juga.”


“Ma, Har percaya sama Pak Mulyana.”


“Har! nggak Nak, kamu pasti marah karena kakek kemarin nggak mau bantu kamu, tapi dia lakukan itu karena dia tidak tahu caranya, bukan karena dia jahat, Nak.”


“Ma, kalau kakek benar sayang sama Har, pasti kakek akan lakukan apapun seperti Mama, walau tidak tahu caranya, Mama selalu berusaha untuk membantu Har, bukannya malah membiarkan!”


“Apa yang dikatakan Har benar Bu, kalau Ibu menyerah saat ini, Har akan jadi korban.”


“Aku ….”


“Kalau begitu, izinkan saya yang melakukannya, Ibu tunggu di rumah, tapi Har harus saya bawa ke rumah itu lagi.” Mulyana mengajak Har tanpa menunggu jawaban dari mamanya Har, dia mengulurkan pada Har agar ikut dengannya, Dirga pun sudah berdiri untuk bersiap pergi.


“Sebentar! tidak, aku tidak akan membiarkan Har menghadapi ini sendirian, kami sudah berjanji akan selalu bersama.” Mamanya Har akhirnya jalan dan ikut ke angkot Mulyana.


Sekarang sudah sore, pukul lima sore, tadi Mulyana memang datang ke rumah Har, setelah dzuhur, bicara soal penyelidikan mamanya Har, lalu sekarang mereka pergi ke rumah kakeknya Har.


Angkot diparkir di depan rumah, mereka semua kembali bertamu, diterima jauh lebih baik oleh, oleh mantan adik ipar.


“Gimana, apakah kau sudah ke sana? Kau sudah selidiki mereka?” wanita itu berkata.


“Sudah, bukan mereka, wanita itu sedang hamil, kau tidak tahu itu?” Mamanya Har kesal menjawabnya, seharusnya dia tidak pernah ke sana, seperti meruntuhkan harga diri saja.


“Hah, tidak, mereka belum beritahu kami, bohong kali.”


“Kau yang bohong kali!” Mamanya Har semakin kesal.


“Kalau dia menggunakan kehamilan sebagai bukti penyangkalan, aku juga bahkan bersumpah atas nama anak dan suamiku, apalagi yang kau mau?”


“Sudah! apa tujuan kalian semua ke sini?” neneknya bertanya. Kakek sedang tidak di rumah.


“Kami datang ke sini ….” Mamanya bingung mau jawab apa.


“Kami datang ke sini karena ingin bertemu kakeknya Har, membicarakan mengenai santet ini.” Mulyana yang berbicara kali ini.


“Sekarang kalian malah mau menuduh kakeknya Har yang melakukan santet!” Mantan adik ipar itu histeris karena kaget mendengan berita semacam itu.


“Tega kau ya, kau bukan contoh ibu yang bailk!” Neneknya Har berkata.


“Maaf Bu, maaf, saya ….”


“Kalau begitu, izinkan saya memeriksa kamar di dekat dapur,” Mulyana berkata.


“Tidak, kalian Polisi? Polisi saja perlu surat penggeledahan kalau mau menggeledah, kalian siapa?” Neneknya Har menolak dengan keras.


“Kenapa mesti takut Bu, kalau memang kakeknya Har tidak melakukan, izinkan kami meliaht saja kamar belakang itu.”


“Tidak, kalian mau aku teriaki maling! aku akan suruh warga untuk memukuli kalian!” Nenek itu sudah dalam tahap mengusir.


“Pergi kalian, dasar kau wanita tidak tahu diri, sudah ayah dan ibuku sayang tapi malah menusuk dari belakang.” Mantan adik ipar ikut meneriaki mereka, suasana menjadi gaduh, karena tidak ingin membuat keributan lebih besar lagi, Mulyana mengajak semua orang untuk pergi.


Mereka naik angkot dan memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang sepi dulu, menanangkan diri dan membicarakan rencanan selanjutnya.


Mereka sudah selesai makan, walau mamanya Har terlihat tidak begitu ingin makan, Har juga sama.


“Jadi, ada apa Pak di kamar belakang itu?”


“Apakah ibu pernah masuk kamar itu?” Mulyana bertanya balik.

__ADS_1


“Tidak, dulu saat kami sering main, saya tidak pernah ke kamar itu, karna kamar itu dijadikan gudang, dikunci dan kuncinya entah di mana, saya juga bukan orang yang suka asal masuk ruangan orang walau dulu kami keluarga, tidak juga penasaran isi gudang itu apa.”


“Saya mendengar suara gaduh dari dalam kamar itu, itu bukan gudang, saya yakin ada sesuatu.”


“Har juga pernah dengar Pak, suara gaduh itu, seperti menggedor-gedor pintu, tapi waktu dulu Har tanya, kakek bilang nggak ada apa-apa di sana, mungkin angin yang membuat sesuatu jatuh di dekat kamar itu, karena itu Har tidak bertanya lagi.”


“Kenapa Har nggak bilang Mama kalau denger suara aneh dari sana?”


“Kakek yang larang, katanya nanti Har dibilang gila sama orang-orang karena denger hal yang orang nggak bisa denger.”


“Kakek bilang gitu?” Mamanay Har heran, karena dia merasa mengenal kakeknya Har dengan baik, tapi ternyata dia salah.


“Sudah dapat dipastikan pasti ada sesuatu yang nggak bener di sana dan neneknya pasti tahu juga.” Mulyana yakin.


“Lalu kita harus bagaimana Pak?” Mamanya Har bingung.


“Kita intai rumah kakeknya Har, tapi kalian harus ikut, karena … nanti saja saya jelaskan, apakah tidak apa-apa jika kalian berdua harus tidur di angkotku?” Mulyana bertanya.


“Tidak apa-apa, asal ini bisa membuat Har selamat, saya tidak masalah.”


“Lagian kemarin mama dan Har juga tidur di mobil pas cek rumah papa, jadi nggak apa, angkot Bapak lebih besar, bisa tiduran di belakang.” Har sepertinya sejak saat itu sangat mengagumi angkot Mulyana, ditambah sosok itu lebih mirip ayah ketimbang papanya sendiri.


Waktu Menunjukan pukul Sembilan malam, waktu di mana Har biasanya bermimpi dulu adalah setelah tengah malam, waktu di mana dia diselamatkan oleh senjatanya, perlindungan dari khodam yang belum turun itu.


Santet selama ini tidak pernah kena karena senjata itu selalu melindunginya dengan membawanya ke alam lain bersama seorang wanita lusuh, sesuatu yang paling Hartino takuti dulu.


Saat ini Har dan mamanya tidur karena disuruh oleh Mulyana, sementara Dirga dan Mulyana berada di kursi depan, mereka memantau ditemani kopi dan gorengan.


Dirga mengantuk di jam dua belas malam, belum ada tanda-tanda, lalu di jam satu, bagi Mulyana dan Hartino, mereka akan langsung terkejut, ada ledakan yang cukup keras dari atap rumah kakeknya Hartino, ledakan itu lalu diiringin dengan bola api panas yang melayang, bola api itu sebesar bola tenis, makin lama makin membesar, menjadi dua kali lipatnya.


“Apa itu Pak” Hartino kaget, dia melihatnya, hanya dia dan Mulyana yang lihat, sedang Dirga dan mamanya Har tidak bisa lihat.


“Itu santet kiriman untukmu, dia dikirim ke rumah, ternyata benar dari rumah ini.” Mulyana kesal sekali rasanya.


“Ada apa Nak?” tanya mamanya Har.


“Itu mah ada bola api keluar dari atap rumah kakek, trus ada suara ledakan sebelumnya, Har kaget makanya bangun.”


“Mama nggak liat apa-apa.”


“Hanya orang yang memiliki khodam yang bisa lihat, Har sudah terbuka mata batinnya, tidak heran dia bisa melihat. Tenang Bu, saya juga nggak bisa lihat.” Dirga kesal karena dia juga sama seperti mamanya Hartino.


“Dia akan memburu ke sini, bukan ke rumah, karena tujuannya bukan rumah, tapi Hartino, bersiap Har, kita akan hadapi bersama, Bapak akan tunjukan caranya.”


“Pak Mulyana, bisakah saya saja yang menggantikan Har menghadapinya, Har masih kecil dia mungkin akan terluka.”


“Ibu tidak boleh memandang Hartino seperti anak biasa, pasti ibu sebenarnya sudah tahu hal itu, kalau Hartino anak istimewa, jadi, sekarang, lihat dan perhatikan baik-baik bagaimana anak ibu akan menghadapinya.”


Mulyana membuka pintu mobil, Hartino keluar bersamanya, Mulyana mengeluarkan keris kecilnya, Har juga mengeluarkan golok dari tubuhnya, dia sepertinya masih keberatan dengan golok itu.


“Dengar Bapak baik-baik Nak, jika bola api itu sudah jatuh, kau harus hancurkan dengan golokmu, jangan berikan kesempatan dia untuk melayang lagi, mengerti!” Mulyana serius mengatakannya.


“Iya Pak, Har akan melakukannya.”


Lalu Mulyana bersiap, dia tahu bola api itu akan mengejar Har, karena tujuannya adalah Har, sementara angkot Mulyana tepat di belakang Har dan Mulyana, mamanya Har dan Dirga melihat punggung mereka.


Bola api terbang ke arah Mulyana dan Har, Mulyana segera lompat saat bola api itu mulai mendekat, dia menangkapnya, tapi bukan dengan tangan, dia menangkapnya, dengan keris, bola api itu tertancap di kerisnya, Har melihat itu tertawa dan bertepuk tangan, seolah in iadalah adegan debus, padahal mereka sedang menghadapi bahaya.


“Apa yang Har tertawakan sampai bertepuk tangan gitu?” Mamanya penasaran.


“Tidak tahu Bu, kan saya juga nggak bsia lihat!” Dirga jadi kesal karena dia sama tidak memiliki kemampuan seperti mamanya Har.


Mulyana diseret ke kanan dan ke kiri, dia dibawa dengan sangat mudah oleh bola api itu, bobor Mulyana yang lumayan berat, seperti tidak ada artinya sama sekali, bola itu terus terbang hingga tubuh Mulyana hampir saja ikut naik melayang, tapi Mulyana segera menarik kerisnya dengan kedua tangan, itu membuat tubuhnya semakin berat, lalu saat dia melewati pagar rumah, dengan cepat dia mengaitkan kakinya ke pagar besi itu, sehingga bola api tidak bisa menarik tubuh Mulyana lagi.


Memanfaatkan ketidakmampuan bola api itu untuk bergerak lagi, Mulyana segera menariknya dan menjatuhkannya ke bawah, Har berlari saat melihat bola api itu menyentuh tanah, dia menyeret-nyeret goloknya yang berat itu, lalu saat sudah dekat dengan bola api, dengan susah payah Har kecil mencoba membelah bola api itu dengan goloknya, sekali pukul tidak berhasil, kedua kalinya masih tidak berhasil, dia terus melakukannya berulang, sementara keris mini Mulyana masih menancap dan membaut bola api itu tidak bisa bergerak lagi di tanah.


Setelah lima menit kemudian Har berhasil membuat bola api itu padam karena diserang oleh dua senjata pamungkas milik Har dna Mulyana.


“Sudah Pak?” Har bertanya, karena bola apinya padam.


“Sudah.” Mulyana mengambil sisa bola api panas itu dengan kain hitam yang sudah dia siapkan, membungkusnya lalu mengkikatnya dengan tali yang telah direbus dalam air rebusan daun bidara.


Sudah padam tapi masih memungkinkan untuk berkobar lagi, makanya harus diikat dengan kain rebusan daun bidara, daun ini ampuh untuk urusan sihir hitam.


“Jadi benar Pak, itu kakek yang melakukan?” Har bertanya saat Mulyana sedang membungkus bola api itu.


“Ya, maaf karena kau harus tahu itu.”


“Bagaimana Pak?” Mamanya Har bertanya, dia terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


“Kita harus bertamu, walau sudah malam, kita harus menyapa pemilik dari bola api ini.” Mulyana berjalan ke arah pintu rumah ini, tadi dia dan Har memang memanjat pagar dan menghancurkan gembok pagar rumah ini sehingga semua orang bisa masuk.


“Kalian mau ngapain lagi!” neneknya Har bertanya. Tentu dia tetap kasar.


“Tolong pertemukan saya dengan kakeknya Har, bilang padanya, bola apinya telah saya tangkap.”


“A-apa ….”


“Biarkan mereka masuk Bu.” Kakeknya Har datang dari arah belakang, dia terlihat tenang, tapi di dahinya ada keringat yang cukup banyak.


“Ada kedatangan kalian kemari?”


“Kau tahu alasannya,” Mulyana berkata.


“Aku tidak tahu, makanya bertanya.”


“Kami sudah menemukan bukti bahwa kau adalah orang yang mengirim santet itu, apakah kau ingin menyangkal.”


“Tentu, bukan aku.” Kakeknya Har masih menyangkal.


“Lalu ini apa? kenapa keluar dari rumahmu?” Mulyana mengacungkan kain hitam yang berisi bola api.


“Aku tidak tau itu apa, kau yang bawa, kau yang jelaskan.” Kakeknya Har masih saja bersikap tenang.


“Kenapa kau melakukan ini pada cucumu?” Mulyana tidak menggubris penyangkalannya.


“Aku melakukan apa?”


“Kau tahu maksudku.”


“Apa buktinya, bola api itu bisa jadi hanya karangan kalian, ada yang melihat bola api itu?”


“Har lihat, Har lihat bola api itu keluar dari atap rumah Kakek, Kakek juga dulu melarang Har untuk mengatakan kalau ada sesuatu di dalam kamar belakang itu.”


“Har itu masih kecil, dia mungkin habis nonton sesuatu yang membuatnya berhalusinasi.”


“Kami menemukan kalau kau menggunakan media pribadi Har untuk melakukan santet itu.” Mulyana masih terus mengatakannya dengan memaksa.


“Apa lagi yang kau katakan! media pribadi apa yang kau maksud, sungguh aku tidak habis pikir denganmu, kurang baik apa kami selama ini, kau bukan menantu lagi di keluarga ini, kami masih sayang, tapi sekarang apa yang kau lakukan, kau bawa mereka entah dari mana dan kau tuduh kami.” Kakeknya Har mulai kesal, nada suaranya mulai gemetar karena marah.


“Kau ingin kita bertarung setiap malam di sini?” Mulyana mulai menantang.


“Kita memang bukan dari suku yang sama, tapi kau tahu jelas, ilmuku jauh lebih tinggi darimu, jadi kalau kau masih tidak mau mengakuinya, aku akan gunakan cara lama, karena tidak kau akuipun, aku sudah tahu itu kau.”


“Hei sombong sekali kau anak muda!” Kakeknya Har berdiri karena dia tidak suka dengan perkataan Mulyana.


Tapi kenyataannya Mulyana sebagai Kharisma Jagat dengan level yang tinggi, jadi dia tidak sebanding dengan kakeknya Har yang hanya bermodal ngilmu ilmu hitam, mengambil jin dari jalanan.


“Aku tidak pernah menyantet cucuku, aku juga tidak pernah menggunakan popok itu untuk menjadikannya media santet.”


“Astagfirullah!!!!” Mamanya Har menutup mulutnya, semua orang terdiam.


“Kau kenapa!” mantan adik ipar bertanya.


“Kami tidak pernah memberitahu satu orangpun soal popok bayi Har yang digunakan sebagai media santet, bahkan kepada sepupuku yang aku hibahkan popok kain Har itu, aku tidak katakan popok itu sebagai medianya, aku hanya bertanya soal popok yang kami berikan, tidak ada satupun yang tahu medianya adalah popok!”


“Aku memang melarang mamanya Har memberitahu soal media popok itu pada siapapun dan kau membuka sendiri topengmu.” Mulyana tertawa karena selama mereka menyelidiki tidak ada satu katapun tentang popok mereka katakan pada orang-orang yang mereka curigai, mereka hanya katakan Har disantet.


Kakeknya Har terdiam, neneknya lemas terduduk, begitu juga dengan tantenya Har.


“Jadi, apa alasanmu menyantet Har!” Mulyana sekarang yang berteriak.


Kakeknya Har tertawa, dia tertawa seperti sedang menonton film komedi, semua wanita yang ada di situ hanya menangis, sementara Har terdiam, di sudah, kakeknya bukan orang baik, karena dari dialah bibit buruk sifat ayahnya turun, Har takut menjadi seperti mereka.


______________________________________


Catatan Penulis :


Udah aku jawab ya Gengs, pelakunya kakeknya.


Nih akun yang menang ya aku capture aja ya, biar adil, karena dia yang jawab pertama, soal alasannya part selanjutnya ya aku jawab, alasannya akun yang menang ini bisa jadi benar bisa jadi salah, aku nggak mau spoiler, untuk orang2 yang jawab sama, jangan marah karena nggak dapat hadiah, karena aku memilih satu orang yang paling cepat jawab dan tepat ya. Pas aku lihat alasan memilih kakeknya dari beberapa orang yang jawab benar hampir sama semua, makanya aku pilih yang jawabnya tercepat walau alasannya … next partnya.



Buat Akun di atas, nanti kalau barangnya udah jadi, aku kabari ya untuk minta alamat kamu dan juga BINTANG KEJORA, ongkir aku yang tanggung, jadi tunggu dulu ya, aku yang akan hubungi kalian.


Maaf aku baru post, kemarin moodku berantakan karena sedang tidak enak badan, musim hujan selalu membuat badanku drop, sinus, asma dan asam lambung yang berlarut membuatku kesulitan berfikir, jadi mohon maaf sekali lagi.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2