Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 71 : Perempuan di Ujung Gang 5


__ADS_3

"Kabar baiknya adalah, ruh itu kemungkinan pernah tinggal di gang ini. Karena dia bertemu dengan Ranti di depan gang." Aditia berasumsi.


"Ada lima puluh lebih keluarga di sini, lalu bagaimana kita menemukan identitasnya?" Papanya Imran bertanya, semua memang sepakat akan mencari informasi identitas ruh tersebut baru dengan begitu akan lebih mudah menemukan penyebab ruh itu masuk ke tubuh Ranti dan kemudian membujuknya untuk keluar.


"Yang kita butuhkan memang waktu, tapi Ibu Ranti tidak punya waktu sebanyak itu." Alka mengeluh.


"Kak, ditidurin aja dulu ruhnya, seperti dia menidurkan ibu Ranti, kita tidurkan dia juga, setelah ibu Ranti sadar sementara itu, kita bisa tanyakan lebih jauh apa yang dia alami, mungkin bisa sekalian dapat clue juga." Ganding memberi saran.


"Terlalu berat menidurkannya, dia bukan arwah biasa." Alka menolak karena dia tahu, akan sulit.


"Kalau begitu, tidurkan Ibu Ranti, tubuhnya harus dibuat sangat lemah hingga si ruh tidak berdaya.


Makannya ibu Ranti bisa kita berikan makan melalui selang, aku akan minta bantuan kenalanku yang seorang tenaga media, ini leadaan darurat." Kali ini Hartino yang mencoba memberi saran.


"Itu jauh lebih mudah, kita bisa berikan obat tidur secara berkala dengan dosis aman, mengikat seluruh tangannya sembari mencari cara menemukan siapa ruh itu." Alka setuju.


"Gimana Pak? Apakah setuju?" Aditia bertanya pada Imran.


"Lakukan apapun yang menurut kalian benar," jawabnya.


Lalu Hartino mengatur semuanya, ini demi kebaikan Ranti, makanya mereka harus melakukan ini.


Sementara Alka, Aditia dan Imran masih meneruskan diskusi di halaman depan, papanya juga ikut.


"Pak, mari kita eliminasi keluarga yang akan kita wawancarai." Aditia berkata.


"Caranya bagaimana?"


"Apakah Ibu Ranti bilang, laki-laki atau perempuan yang telah datang ke rumah malam itu? Yang ternyata pintu masih terkunci dari dalam," lanjut Aditia.


"Ya, katanya seorang perempuan," jawab papanya Imran.


"Iya benar, perempuan, Ranti juga bilang padaku menyapa seorang perempuan, ibuku juga bilang tadi ada perempuan yang menunggu anaknya. Jadi sudah dapat dipastikan, bahwa ruh itu perempuan." Imran menambahkan.


Adakah seorang perempuan yang meninggal baru-baru ini?" Aditia bertanya lagi.


"Kalau itu sepertinya tidak ada, perempuan yang baru meninggal."


"Coba ingat lagi Pak Imran, kita tarik jauh, dalam waktu tiga sampai enak bulan ke belakang." Aditia masih bertanya.


"Kalau itu, lita mesti cek ke Pak RT, karena kami kurang ingat ...."


"Sebentar, mamamu itu kan biasanya bantu urus jenazah, coba kamu suruh dia ke sini lagi, Giska di biar kamu dulu yang jaga di kamar atas." Papanya menyarankan.


Imran mengikuti lalu dia segera memanggil mamanya, tidak berapa lama mamanya Imran turun.


"Kenapa ya?"


"Bu, mau minta tolong, coba ingat-ingat dalam waktu tiga sampai enam bulan ada perempuan yang meninggal tidak?" Aditia kembali bertanya.


"Sebentar coba saya ... oh ya, sebulan yang lalu ada Tinah, itu loh Pa, neneknya temen Giska yang kerja di salon, dia meninggal sebulan lalu." Aditia tersenyum senang.


"Kalau begitu kita bisa coba ke rumahnya bertanya, bagaimana?"


"Bisa, tapi jangan beramai-ramai nanti dia merasa terganggu."


"Baik Pak, saya dan Alka akan datang ke sana bersama Pak Imran dan Bapak, sisanya di rumah jaga Ibu Ranti." Lalu semua bersiap untuk pergi ke rumah Tinah.


"Ada apa ya?" Suaminya Tinah yang seorang pelayar masih di rumah karena dalam masa berkabunh.

__ADS_1


"Begini Pak, kami kemari mau minta bantuan." Papanya Imran membuka percakapan.


"Ya, mau minta bantuan apa ya?"


"Begini pak, mengenai kematian istri Bapak, Ibu Tinah, apakah meninggalnya secara wajar?" Aditia bertanya.


"Maksudnya?" Suaminya Tinah terlihat kesal dengan pertanyaan itu.


"Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung, kami akan jelaskan alasan kami bertanya, tapi mohon bantu kami dulu dengan menjawab pertanyaan kami."


Walau agak kesal dan bingung, akhirnya suami Tinah mau menjawab, "istriku meninggal karena gagal ginjal, kami semua tidak tahu penyakit istri, termasuk anak-anak kami, karena istriku tidak mengeluh sedikitpun tentang sakitnya, ketahuan malah saat sudah kronis, bahkan cuci darah tidak dapat membantu, hanya seminggu langsung colaps dan akhirnya meninggal."


"Tapi Pak, apakah ada urusan Ibu Tinah yang belum selesai? Apakah ada sesuatu pesan yang dia merasa harus dilakukan?"


"Kalau urusan belum selesai tentu banyak, dia masih kerja di salon, masih punya anak remaja yang jauh dari menikah, masih ada saya suaminya, tapi takdir mana bisa memperhitungkan hal tersebut." Suami Ibu Tinah mengusap air matanya dengan kasar, jelas bahwa ada rasa perih karena ditinggal istri di sana."


"Bukan urusan seperti itu pak, kalau itu bukan urusan yang belum selesai, tapi urusan yang memang dikerjakan sehari-hari, maksud saya seperti janji, janji dia pada Bapak, janji dia pada anak-anak atau janji dia pada pelanggan?"


"Saya tidak tahu seingat saya, tidak ada janji seperti itu."


"Kalau ... hutang?" Aditia bertanya dengan sangat hati-hati.


"Alhamdulillah, kami berkecukupan, pekerjaan saya dan pekerjaan istri cukup untuk membiayai kehidupan kami." Dengan tegas dia mengatakan bahwa istrinya tidak punya hutang.


"Pak, apakah bapak tidak mendengar sesuatu yang janggal mengenai ibu Tinah?" Aditia memberanikan diri bertanya, walau sunglan tapi ini harus ditanyakan.


"Sebenarnya, apa sih yang mau kalian tahu?! Apakah kalian mencurigai istri saya ada main di luar?!" Kali ini dia benar-benar marah.


Pertanyaan ini tidak aneh sama sekali, karena pertama Tinah itu walau sudah punya cucu, tapi masih terlihat sangat cantik dan muda, jika kita melihatnya tidak akan menyangka dia punya cucu, lalu dia kerja di salon sementara suaminya bekerja di kapal pelayaran, tentu asumsi liar seperti ini akan selalu ada.


"Maaf pak, kami tidak bermaksud apapun, kami membutuhkan ini informasi ini karena ... karena menantu saya kerasukan." Papanya Imran terlihat gusar.


"Kami sedang mencari informasi perempuan yang merasuki Ranti, dia adalah ruh yang masih penasaran dan berniat jahat pada tubuh Ranti, makanya kami bertanya ke sini karena Almarhum Bu Tinah belum lama ini meninggal."


"Jadi maksudmu istriku tidak meninggal dengan tenang?! Kau fikir dia jadi setan yang gentayangan! Keluar kalian semua, orang lagi berduka malah kalian tuduh-tuduh! Pergi kalian!" Suaminya Tinah marah dan mengusir mereka.


"Kalian ngerasa nggak sih ada yang dia sembunyikan?" Imran bertanya setelah sudah di luar.


"Kita ke tempat kerjanya, tanyai rekan kerja dan bosnya, pasti mereka lebih terbuka karena tidak ada kepentingan apapun." Alka memberikan ide, semua setuju dan langsung ke salon tempat Tinah bekerja, hampir semua orang tahu Tinah bekerja di slaon mana.


Begitu sampai, salon tampak sepi. Ketika mereka masuk dua orang di dalam buru-buru menghampiri dan bertanya mau perawatan apa.


"Ini yang cowok-cowok mau potong rambut, lalu saya mau creambath aja." Alka menjawab.


"Ok, kalau begitu, yuk rambutnya di cuci dulu." Salah satu pegawai salon bertanya, sedang yang satu lagi sepertinya adalah bosnya, karena dia tidak pakai seragam.


"Sebentar dulu, kami akan bayar dua kali lipat masing-masing perawatannya, tapi temenin ngobrol dulu ya, di dalam jangan di sini."


Yang Alka maksud di dalam adalah kamar yang ada di ruko salon ini tapi terpisah dengan ruangan perawatan.


"Ngobrol apa ya?" Si bosnya bertanya.


"Boleh balik dulu nggak tanda open ya jadi close?" Alka meminta.


"Hah?"


"Saya bayar lebih lagi sesuai pemasukan seharian, saya cuma mau ngobrol." Alka kembali membujuk.


"Boleh Bu?" Benar saja ternyata yang satu bosnya, karena si pegawai meminta izin.

__ADS_1


"Boleh, asal bukan MLM atau asuransi ya." Alka dan Aditia tertawa.


"Nggak kok bu, tenang saja, ini soal Ibu Tinah." Aditia menenangkan.


Lalu mereka ke ruang yang lebih sepi lagi, setelah sebelumnya membalik tanpa salon buka menjadi tutup.


"Ada apa dengan Tinah?" Ternyata ruangan mereka sekarang berkumpul adalah tempat istirahat pegawai, mereka semua duduk diatas tikar, tidak ada apa-apa hanya ada tikar dan rak yang mungkin bisa untuk menyimpan barang pegawai.


"Begini Bu, kami langsung saja ya pada intinya, jadi Pak Imran ini istrinya kerasukan, kemungkinan dia kerasukan ruh perempuan yang mati penasaran, perempuan yang meninggal belum lama ini adalah Ibu Tinah, makanya kami mencoba cari alasan kenapa Ibu Tinah merasuki Ibu Ranti, agar kami bisa membujuk ruh itu keluar dari tubuh Ibu Ranti." Aditia akhirnya terpaksa menyebut ruh itu Tinah dengan yakin, hanya untuk menyingkat penjelasan.


"Astagfirullah, tidak mungkin! Tinah itu perempuan baik-baik, dia tidk punya hutan pada kami, juga tidak ada masalah dengan kamu, kan Nur?" Si bos memastikan.


"Ndak ada Bu, Mbak Tinah itu perempuan baik, dia senior tapi membimbing dengan lembut, saya tidak punya masalah atau ganjalan dengan Mbak Tinah." Rupanya nama pegawai itu adalah Nur.


"Kalian tahu kalau suami Bu Tinah berlayar?" Alka memancing.


"Ya, Tinah sering cerita kok." Si bos menjawab.


"Apakah ada kemungkinan kalau, Ibu Tinah ... berselingkuh?"


"Astagfirullah! Nggak, nggak, nggak! Tinah itu solatnya rajin, nggak genit dna centil walau banyak yang goda, karena salon kami kan, untuk perempuan dan laki-lali, jadi kemungkinan digodain akan selalu ada. Tapi Tinah bisa menjaga diri, bener kan, Nur?"


"I-iya bu."


"Baiklah, apakah kalian tahu, jika saja ada janji atau keinginan yang mungkin saja belum terpenuhi?" Alka kembali bertanya.


"Keinginan sih banyak, tapi standar seperti orang tua pada umumnya, ingin anak-anaknya sekolah tinggi dan kerja dengan nyaman, ingin naik haji dan keinginan lain yang menurut saya semua orang juga sama, bukan sesuatu yang spesial." Si bos masih menjawab.


"Baiklah kalau begitu kami pamit, seperti janji saya, ini uang untuk mengganti kerugian kami menggunakan waktunya, ini uang lima juta, apakah cukup?" Alka memberikan uang yang memang sudah dia siapkan sedari dalam perjalanan menuju slaon, pantas dia tadi minta mampir ke ATM.


Mereka semua keluar dan pulan ke rumah Pak Imran.


"Nak Alka, uangnya nanti Bapak ganti ya." Papanya Imran berkata, mereka sudah sampai rumah.


"Tidak perlu Pak, itu dana yang disiapkan yayasan untuk urusan seperti ini, kami punya investor, jadi bapak tenang saja." Alka menenangkan, dia mengarang cerita tentang investor.


"Masa iya Nak Alka, itu uangnya banyak loh."


"Iya Pak, justru masalah Ranti ini adalah tander, kalau kami mamou pecahkan nanti investor akan berikan kami imbalan, tenang saja." Alka kembali mengarang, itu untuk menenangkan hati Pak Imran, manusiawi berfikir bahwa setiap pertolongan ada imbalannya, makanya untuk membuat hati Keluarga Imran tidak terbebani, Alka mengarang cerita.


"Baik kalau begitu, terima kasih ya."


Papanya Pak Imran dan Imran mohon izin ke dalam, mereka akan solat dzuhir bergantian, sementara Aditia dan Alka menyusul nanti, mereka masih di halaman.


"Ka, kamu curiga nggak sih sama si Nur? Pegawai salon tadi?" Aditia bertanya ketika mereka berdua saja, Jarni, Ganding dan Hartino di ruang tamu, mereka masih berkoordinasi menidurkan Ranti.


"Ya, dia menjawab sedikit gugup ketika ditanya soal perselingkuhan." Alka ternyata punya kecurigaan yang sama.


"Kita perlu untuk ...."


"Interogasi ulang Nur, ya kita perlu." Mereka berdua tersenyum.


____________________________


Catatan Penulis :


Panggilan untuk para AJP Addict, cuss tebak, ruanh dan waktu dipersilahkan.


Jangan lupa Vote, like, coment atau isi bucket hadiah juga boleh.

__ADS_1


Makasih ya.


__ADS_2