
Tenda sudah dipasang, mereka memasang dua tenda untuk laki-laki dan perempuan, hari masih sore, Aditia dan yang lain benar-benar seperti kemping. Mereka membawa kompor gas portable, alat masak dan semua keperluan untuk makan tanpa perlu menyusahkan warga, karena prinsip kawanan adalah menyelesaikan kasus tanpa berharap imbalan, mungkin itu salah satu alasan harta mereka tidak pernah habis, karena mereka selalu memposisikan sebagai pemberi, bukan penerima.
“Kamu mau?” Alka bertanya pada Aditia. Dia menawarkan mi yang ada di gelas yang terbuat dari sterofoam.
“Iya mau.” Alka lalu memberikan makanan itu pada Aditia, begitu juga yang lain, sejak tak ada Alisha lagi, Alka dan Jarni bergantian mengurus makanan para pria, biasanya Alisha yang menjadi juru marak bagi semua orang, Alka juga tak begitu pandai masak, beda dengan Alisha yang bisa masak enak dalam keadaan apapun, tapi dalam wujud Lais, terkadang Alka dan Jarni rindu padanya, bukan pada masakannya saja, tapi cara pandangnya tentang apapun, kadang terlalu tegas tapi tetap sangat hangat pada siapapun.
Setelah makan mereka akhirnya membagi kelompok untuk menyusuri seluruh komplek dan memastikan bahwa semua orang mendapatkan air daun bidara ramuan Alka. Alka dan Jarni menyusuri komplek sedang yang Aditia dan yang lain tetap di tenda.
“Iya, kami murid Kiai Tardi, jadi anak ibu salah satu korban ya? Saya dengar semua korban lehernya mulai bengkak?” Alka bertanya pada orang tua Mira.
“Iya, awalnya hanya benjolan kecil lalu lama-lama besar dan makin naik ke atas, ini mulai merambat ke arah pipi.” Ibunya menjelaskan.
“Boleh saya pegang?” Alka bertanya lagi.
“Iya boleh.” Mira juga meyodorkan pipinya. Alka merasa dingin sekali, semakin dingin, lalu Alka juga memegang kening Mira, sama seperti Ezy, remaja yang jadi korban juga.
“Kalau begitu kami pamit.”
Alka menarik Jarni karena ingat sesuatu.
“Kenapa Kak?” Jarni bertanya.
“Kita harus ke korban pertama.”
Mereka berlari, begitu sampai, akhirnya mereka memencet bel rumah, lalu seorang pembantu keluar, pembantu itu sudah tahu siapa Alka dan Jarni, jadi dipersilahkan, majikan hanya ada Ibu Setiabudi.
“Sudah sampai seluruh bagian pipi, Mbak Surti ini korban pertama setelah sekian lama tidak ada korban ya, Bu?”
“Kata Pak RT sih gitu.”
“Coba pegang, Bu.” Alka meminta Ibu Setiabudi untuk memegang benjolan pada Surti, awalnya dia menolak, karena takut, tapi Alka memastikan bahwa dia aman kalau hanya memegangnya.
“Apa rasanya?” Alka bertanya setelah Ibu Setiabudi memegang benjolan itu.
“Dingin, dingin sekali.”
“Bu, seharusnya kalau sakit fisik atau medis, maka seharsunya benjolan ini terasa hangat dibanding seluruh tubuh lain, tapi ini malah dingin sangat dingin, aneh kan?” Alka berkata dengan hati-hati.
“Iya.”
“Suruh dia istirahat ya, yuk kita semua keluar.” Alka meminta semua orang keluar.
Begitu sampai di luar Alka meminta pintu kamar pembantunya ditutup lalu digembok.
Ibu Setiabudi bingung tapi dia nurut saja dulu, minta penjelasan nanti saja.
Pintu kamar pembantu sudah digembok, pembantu lain sementara waktu tidur di kamar tamu saja dulu.
Lalu mereka semua berkumpul di ruang tamu.
“Jadi kenapa kita harus gembok kamar itu?”
“Karena kalau dibiarkan, dia akan membuat rumah ini porak poranda.”
“Maksudnya?” Dia akan kehilangan akal setelah ini, seperti orang gila, tapi sebenarnya dia kesurupan, tapi dengan tingkat yang sangat tinggi, tidak bisa diusir, hanya harus mencabut dari akarnya. Namanya … Tiri Mayit, ini adalah ketika tubuh dibuat seperti mayat, dikendalikan oleh iblis.”
“Apa?! maksudnya dia kerasukan iblis? Apa kita perlu memulangkannya ke kampung?” Majikannya mau lepas tangan, sangat tipikal orang-orang kaya.
“Pulangkan bagaimana? Dengan bis? Orang akan celaka, dengan mobil pribadi? Sama saja. Langkah terbaik adalah menguncinya, dia takkan mampu mendobraknya, karena Jarni sudah memantrai pintunya, agar tidak terlihat oleh iblis itu. Tapi jika malam hari ada suara ketukan, gedoran atau bahkan seperti anggota keluarga memanggil, kau harus mengabaikannya. Sebaiknya, kau dan keluargamu tidur satu kamar yang ada kamar mandinya, kunci pintu dan jangan biarkan semua orang keluar saat malam, mendengar apapun harus diam dan tidak menggubris.”
“Ini berbahaya?”
“Kalau sampai dia keluar, dia bisa berbuat onar, menyakiti dirinya sendiri, atau anggota keluarga lain.”
“Kalau begitu kami harus apa?”
“Sementara kau harus mengikuti apa yang aku suruh.”
“Kalau pindah sementara waktu boleh?”
“Boleh, kau mau tinggal di hotel ya?” Alka menebak, memang mental orang kaya begini, merasa banyak uang, bisa meninggalkan orang rendahan seenaknya, padahal Surti dulu bisa kena penyakit begini karena bermaksud membelikan bubur buat majikannya.
“Kalau begitu, kau harus memberikan kuncinya padaku, agar aku bisa memantau Surti.”
__ADS_1
“Aku akan tinggalkan pembantuku di sini. Jadi kau bisa minta bantuan dia.”
“Bu, saya takut kalau ditinggal sendirian.” Pembantunya menolak.
“Kamu di sini lah, jagain Surti dan rumah, masa mau ikut majikan ke hotel! Lagian di hotel kami nggak perlu kamu, semua bsia kami pesan online.”
“Tapi Bu, saya takut.”
“Tenang saja, kalau kau mengikuti arahanku, kau takkan kenapa-kenapa, yang penting adalah, kau ikut arahanku.” Alka menenangkan pembantu itu, dia lumayan kesal melihat kelakuan orang kaya ini, bagi mereka, dia dan keluarganya yang harus selamat, orang lain tidak perduli, khas sekali kelakukan orang-orang kaya. Seolah hanya hidup mereka saja yang penting, sedang hidup orang miskin tidak penting.
Alka lalu pamit, dia hendak memberitahu soal asumsinya, karena masih ada satu hal yang belum dia temukan, yaitu, persamaan antara tiga korban ini, semua jin ataupun setan, selalu memilih korban yang seragam, masalahnya seragamnya itu apa? yang sama itu apa? kita nggak Cuma bicara keimanan saja di sini.
“Kalian dapat apa?” begitu sampai tenda, hari sudah gelap. Aditia dan yang lain sedang minum kopi, Aditia tanpa bertanya langsung memberikan kopi itu pada Alka dan yang Jarni.
“Surti sudah mulai naik ke atas, kemungkinan sukmanya akan dimatisurikan oleh iblis itu, aku yakin ini adalah Tiri Mayit.”
Ganding langsung membuka kitab yang dia dan Alka susun, adakalanya dia tidak ingat karena kasusnya sangat jarang.
“Wah, ini kasus langka, dia akan kerasukan sempurna, sudah sampai mana bukolnya? Bukol adalah media yang digunakan oleh iblis untuk menguasai jiwa dan pikiran manusia, tapi wujudnya tidak ada yang tahu apa, bisa bagian tubuh iblis atau bisa jadi benda pusaka.”
“Udah sampai pipi.”
“Nding, kata kitab apa?”
“Kalau sudah bukol itu sudah sampai kepala, Surti akan ngamuk karena kerasukan sempurna, dia bisa mencelakai orang.”
“Wah, Surti harus diamankan.”
“Kakak udah amanin kok, aku juga sudah memberi pagar supaya pintunya tidak terlihat oleh bukolnya. Hingga si iblis tidak bisa membuat Surti keluar dari kamar itu.” Jarni menjelaskan.
“Aman kalau begitu.”
“Tapi kita harus tetap waspada, karena kalau sampai dia bisa keluar dari kamar, dia akan mencelakai orang.”
“Kesurupan sempurna itu memang paling bahaya, apalagi yang merasuki iblis.” Hartino teringa tentang Alisha, yang terasuki Esash, dia tidak bisa dibilang jin biasa, dia sudah masuk ke golong iblis jahanam.
“Kita tunggu malam ini, kita harus menemukan tukang bubur setan itu.” Aditia bertekad.
“Ya, kita udah lama nggak bertarung nih, pegel-pegel aku, gara-gara Aditia sebulan koma. Eh tapi Dit, kau bisa bertarung tanpa Karuhun?”
“Kau mau adu ilmu!” Ganding kesal karena Aditia malah mengejeknya balik, tapi Kharisma Jagat memang bukan orang biasa, bahkan jauh luar biasa dari para anak-anak indigo dengan khodam.
Malam semakin gelap dan mencekam, komplek juga sepi, tidak ada yang berani untuk keluar rumah bahkan tanpa diadakannya jam malam, semua orang sepakat untuk tidak ke luar rumah.
Alka dan kawanan di luar tenda, mereka hanya menunggu, jika saja beruntung, menemukan tukang bubur setan itu.
Bahkan Security diperingatkan Alka untuk tidak berkeliling, Alka menjamin tidak akan ada yang datang untuk mencuri, karena Alka dan Jarni telah menabur pagar ghaib di sekeliling komplek yang luas agar maling tidak melihat lokasi ini sepi. Hanya untuk jaga-jaga saja.
Waktu menunjukkan sepuluh malam, masih saja tidak ada yang lewat di tanah kosong itu.
Alka dan Aditia sebenarnya yakin, setan itu tidak akan datang, karena takut oleh kawanan, energi mereka terlalu kuat.
Tapi mereka memang harus membuat kompleknya tenang, makanya mereka ke sini menginap.
“Kak, menurutmu, apa yang menjadi kesamaan tiga orang korban ini, jenis kelamin, tidak mungkin, Ezy lelaki, lalu apa si tukang bubur mengincar otak yang cerdas? Tidak juga, Surti bukan kalangan akademik yang sama dengan dua orang korban lainnya, lokasi? Ezy tidak tinggal di sini, terakhir, Hartino sudah cek latar belakang keluarga semua korban, tak ada kejadian di sini yang merupakan skandal hingga harus ditutupi, tidak ada kisah kebakaran di sekitar sini, kejadian salah tangkap maling, karena bisa aja tukang bubur itu dulunya di tuduh tapi tidak melakukan, tapi tidak ada kejadian itu.
Semuanya aman, cuma identitas tukang bubur belum Hartino temukan juga, iya kan Har?” Ganding bertanya.
“Iya Kak, aku belum menemukan latar belakang keluarga tukang bubur itu, hanya nama saja sulit ditemukan. Apalagi korban tidak bisa menjelaskan wajah asli si tukang bubur itu.”
Har menyeruput kopinya, ini mungkin sudah gelas ketiga.
“Tapi ya, soal tukang bubur ini, aku jadi ingat dulu pas kita sekolah, aku pernah berkelahi dengan kakak kelas, gara-gara dia bully tukang somaynya, dia hina-hina tukang somay gitu sampai tukang somayny akhirnay pindah jualan karen nggak kuat.
Celakanya, itu tuakng somay kesukaanku, aku marah lah, kupukul saja kakak kelas itu, akhirnya dia kapok dan tidak ingin lagi mengerjai tukang dagang, hanya karena dia merasa kaya dan bisa seenaknya, makanya aku hajar dia biar tahu diri.”
“Eh sebentar deh! Har, trus tukang somaynya gimana sekarang?” Alka tiba-tiba bertanya.
“Aku mana tahu, katanya pindah ke sekolah lain, aku mana tahu dia pindah ke sekolah mana. Kenapa emang Kak?”
“Bentar aku mau ke rumah majikan Surti, ada yang harus aku tanyakan lebih lanjut.”
“Aku ikut Ka.” Aditia ikut bangkit dan mereka hendak berlari, tapi tiba-tiba Aditia berhenti dan berkata.
__ADS_1
“Awas kalau ada tukang bubur setannya, jangan beli buburnya ya, atau kalian akan kehilangan suara.” Aditia tertawa mengatakan itu.
“Justru aku akan bantu dia mengembalikan suaranya, jadi nggak iri sama orang yang bisa ngomong ....”
“Har! Alka dan Aditia serempak berkata, mereka akhirnya mendapatkan cluenya.
Melanjutkan perjalanan ke rumah majikan Surti, Alka dan Aditia akhirnya sampai, yang ada hanya pembantunya saja, tuan rumah dan nyonya rumah benar-benar pergi ke hotel satu keluarga, sementara pembantunya ditinggalkan begitu saja, kalau ini masalahnya adalah bencana alam, aku pikir orang kaya ini akan menjadikan para pembantunya korban, sedang mereka selamat.
Orang-orang kaya memang kadang tak memiliki hati nurani, ketika memiliki uang, banyak orang lupa diri dan cenderung menjadi pribadi yang sangat sombong dan arogan, seolah hidup adalah milik mereka, sementar yang lain menumpang padanya.
Sungguh ironi.
“Ada apa Mbak Alka?” Pembantu yang ditinggal itu bertanya, karena khawatir, kok Alka kembali lagi.
“Mbak, boleh tahu nggak, apakah Mbak kenal sama Mbak Surti sudah lama?” Alka bertanya.
“Sudah lama, sejak sekolah,” jawab pembantu itu.
“Kalau begitu Mbak tahu dong gimana sifat Mbak Surti?” Alka melanjutkan.
“Ya tentu aja dong.”
“Apa Mbak Surti ini orang yang selalu menghina pedagang makanan?”
“Maksudnya?”
“Ya, maksudnya saat kecil, dia selalu menghina pedagang makanan.”
“Oh, kalau itu ... sebenarnya dari kecil hingga sekarang, dia memang suka menghina tukang makanan, dia suka ngatain gitu, misal kalau tukang makanannya ada koreng di tangan, Surti akan menghinanya dan bilang makanannya bau, trus kalau ada tukang makanan yang gerobaknya kotor, Surti bakal bilang kalau makanannya nggak enak, pas kecil sih, tukang dagangnya nggak marah, tapi ketika dia udah gede, SMP kalau nggak salah, ada abang yang ngusir dia karena dia emang kalau ngomong itu nggak dipikir dulu.”
“Kalau begitu, sekarang saya pamit, ingat, jangan bukakan pintu itu, apapun yang terjadi ya, Mbak santai aja, mumpung nggak ada majikan, makan yang banyak dan nonton atau main HP, dia nggak akan keluar kalau nggak dibukakan pintu, ingat itu ya.”Alka mengingatkan tentang wejangannya pada pembantu rumah itu.
“Aku sekarang mengerti Ka, kau sudah menemukan polanya.” Aditia berkata saat mereka menuju rumah Mira.
Begitu sampai rumah Mira, Alka minta bicara berdua saja dengan ibunya, ibu adalah orang yang paling tahu anaknya, tapi paling sulit dikorek, karena buat seorang ibu, anaknya adalah yang paling hebat, bertanya soal kelemahan anaknya pasti akan membuatnya tidak nyaman, makanya Alka meminta Aditiatunggu di halaman, dia ingin bicara berdua saja dengan ibunya Mira.
“Ada apa? apa kalian sudah menemukan cara untuk menyembuhkan anak kami?” Ibunya Mira bertanya.
“Belum, tapi jawaban jujur ibu, akan membawa kami lebih dekat dengan obatnya.” Alka membuka dengan perkataan yang jitu.
“Maksudnya?”
“Apakah anak ibu suka bicara sembarangan dengan pedagan gerobak atau asongan? Baik di rumah maupun di sekolah?” Alka langsung pada intinya.
“Kau bicara apa, mana mungkin anakku kurang ajar begitu!” Seperti yang Alka bayangkan, ibunya akan langsung menyangkal.
“Saya sedang mencari persamaan antar Surti, Ezy dan Mira, apa yang membuat mereka menjadi korban, kalau saya menemukan sebabnya, saya bisa segera menangkap setan tukang bubur itu, karena sekarang, dia tak mau muncul, dia sepertinya merasakan energi kami yang kuat, hingga takut memunculkan dirinya yang mengerikan itu. Makanya kami perlu tahu, sebabnya! Kalau sebabnya kami ketahui, kami bisa memancing si tukang bubur untuk datang dan akhirnya kami amankan.”
“Anakku anak baik, sangat manis, dia tak mungkin berbuat jahat seperti yang kau bilang.” Ibunya masih menyangkal.
“Saya tidak akan memaksa kalau ibu memang tidak bersedia jujur, tapi percayalah, Mira takkan pernah selamat kalau tidak menyesal dengan perbuatannya, karena ini terjadi dengan Surti juga.
Surti sudah semakin parah, karena benjolannya hampir naik ke kepala, dia akan kerasukan sempurna, sehingga akhirnya bisa jadi, dia akan mencelakai orang lain atau dirinya sendiri.
Apakah Ibu tidak mau anak ibu sembuh? Tidak mau melihat dia menikah? Terserah kalau begitu, saya pamit!” Alka memakai teknik tidak butuh untuk menarik seorang saksi, dia mengemukakan ketakutan milik saksi dulu agar dia merasa terjepit dan akhirnya mau bicara jujur.
“Sebentar, baiklah, akan saya ceritakan. Mira itu memang gadis yang sangat cantik dan aktif sejak kecil, dia pintar dan sangat kami kagumi, dia juga hangat pada semua orang, tapi ada satu sifat jeleknya, dia itu kalau melihat sesuatu yang terasa janggal, dia akan menanyakannya langsung dan cenderung ... menghina.”
“Seperi apa penghinaannya?”
“Misal ada tukang martabak mini di sekolah, lalu dia lihat abang penjualnya menjual makanan tidak bersih, maka Mira cenderung akan menegurnya lalu menghina. Mira paling tidak suka tukang makanan yang jorok, dia akan sangat marah dan kesal jika ada makanannya yang jorok dan kotor.
Awalnya aku pikir itu biasa, karena Mira cenderung anak yang baik, sopan dan ramah, tapi kalau makanan jorok, dia akan sangat berlebihan sikapnya.”
“Dugaanku tepat. Kalau begitu, terima kasih sudah jujur, saya bukan hakim yang akan memberi hukuman, tugas saya hanya menolong, jika memang akhirnya Mira bertobat setelah sembuh, itu akan lebih baik.”
Setelah itu Alka pamit, mereka akan ke rumah Ezy, seperti yang Alka duga, Ezy juga sama, dia walau ramah ke semua pedagang dan sering di beri gratisan, tapi dia beberapa kali kedapatan menghina makanan gratis yang diberikan, dia menghina pedangangnya dengan cara bercanda. Ezy masih terlalu kecil untuk dihukum sebenarnya.
Tapi kenyataannya mereka bertiga memiliki sifat yang sama.
Benang merah sudah diketemukan, sekarang tinggal merajut benang itu agar bisa menjadi obat bagi para korban.
____________________________
__ADS_1
Udah ada yang bisa nebak jawabannya belum?