Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 394 : Toko Emas 24


__ADS_3

Aditia dan kawanan menemui papi dan kakak, mereka di apartemen tempat yang sudah dijaga oleh Babah agar anak ambar tidak datang untuk mengganggu.


Tujuan mereka adalah untuk membawa kakak, karena mereka butuh kakak untuk memanggil adik, mereka tidak tahu di mana adik berada saat ini, karena adik tidak lagi di kamarnya, dia bisa saja membuat siapapun menjadi sapi perah energinya, makanya cara tercepat untuk memanggil adik datang adalah orang yang paling dia benci.


“Kenapa harus aku? kenapa harus aku yang memanggilnya? Aku tidak mau karena aku tidak ingin melihatnya lagi, dia sangat mengerikan.” Kakak menolak.


“Harus kau.” Alisha terlihat tegas.


“Kenapa harus aku?”


“Kau benar-benar tidak tahu atau bodoh?” Alisha kesal, papi diam saja tidak mencoba untuk membela karena tahu apa yang terjadi selama ini. Dia sudah lelah, kehilangan adik dan mami.


“Apa maksudmu!”


“Karena kau menaruh dupa yang salah di kamar anak ambar itu, kau membuat 2 orang meninggal dunia dan satu hampir celaka.”


“Aku tidak mengerti!” Kakak berteriak dan menangis.


“Pertama ibunya Amanda, dia meninggal karena adikmu keluar dari kamar itu dan melihat energi yang membuatnya kelaparan. Padahal mami dan papimu berusaha sedemikian rupa untuk menjaga agar anak ambarnya tetap di kamar, tidak membuat onar. Tapi kau anak manusia malah melakukan hal yang merugikan banyak orang!” Alisha masih terus mencecarnya.


“Aku ... aku ... aku tidak bermaksud.”


“Kedua kau membuat mamimu meninggal dan terakhir anak Sum yang tidak tahu kalau gelang itu sudah ditandai anak ambar, mami pun tidak tahu sama sekali kalau anak ambarnya sedang berburu. Kau itu yang sebenarnya pembuat onar, tak tahu kah kau! masih tidak tahu!”


“Kau ikutlah, bantu mereka, kau harus membantu karena kau yang membuat semuanya jadi begini, kau ini sudah cukup besar untuk tahu bahwa semua yang kau lakukan itu salah! Rasa irimu masih aku maklumi karena dulu kau anak kecil. Kami pun salah, memilih untuk mengeluarkanmu dari rumah agar kalian berdua selamat tak saling mencelakai, ketika akhirnya kau kembali dan masih tidak mengenal kata mengalah, kami mencoba terus menerima, karena rasa bersalah kami, pun ketika adikmu meninggal, adakah satu saja omongan kami yang mengatakan bahwa kau membunuh adikmu?


Kami tahu kalau itu kecelakaan, tapi itu terjadi karena keegoisanmu, seandainya perkara kaos itu kau berikan, kalian masih bersama kami, tapi kau yang sudah dewasa, masih tidak bisa juga melupakan sakit masa kecilmu.


Kau tidak mampu melupakan sakit yang sudah lama terjadi itu dan juga tidak bisa menerima hal baru  baik yang coba kami berikan, karena kedua tanganmu masih menggenggam rasa sakit itu, maka jelas kau tidak mampu menerima kebaikan baru dari kami termasuk adikmu yang sangat mendambakan kasih sayang kakaknya.” Papi untuk pertama kalinya mengutarakan isi hati yang selalu dia pendam selama ini.


“Kalian yang memanggilnya! Bukan aku!”


“Kami akan mati!!!” Papi berteriak juga, “kami akan mati jika tak memanggilnya, kami menyayangi adikmu sebanyak kami menyayangimu, jika saja kau yang kecelakaan, kami tetap akan mencari cara untuk memanggilmu, tidak anak ambar, kami bisa memelihat setan sekalipun. Itulah kasih sayang orang tua! Dia masih kecil, tapi tengkorak kepalanya harus terbelah, dia masih kecil tapi harus menahan sakit yang luar biasa hanya karena sebuah kaos putih brengsek itu, dia masih kecil tapi kau membuatnya harus masuk ke kolong truk itu!” Papinya sudah tidak sabar lagi.


“Papi mau aku mati juga.”


“Kalau itu bisa, mari kita mati bersama saja!” Papinya berlari ke dapur apartemen, mengambil pisau dan hendak menggorok lehernya, tapi Aditia lalu memukul tengkuknya, lalu Papi pingsan, sedang semua orang, hanya melihatnya saja.


Kakak terdiam duduk di sofa.


“Apa aku harus mati juga untuk membuatnya tenang?” Kakak bertanya.

__ADS_1


“Tidak akan ada yang mati tanpa seizin Tuhan, agama kita berbeda, tapi untuk yang ini seharusnya sama kan? Tuhanlah pemilik hidup dan mati manusia. Kami hanya ingin kau memancing adikmu datang, kami hanya ingin kau membuatnya menemui kami, sisanya kami akan atur.”


“Apa kalian mampu, bukankah kita seumuran? Kenapa kalian terdengar seperti yang biasa menangani hal seperti ini?” Cici masih tidak percaya.


“Kami tidak perlu membuktikannya, karena tidak ada waktu, kau hanya perlu percaya, kami akan memastikan kau akan baik-baik saja.” Ganding membujuk.


“Apa jaminannya?”


“Kau mau apa yang sepadan ditukar nyawamu?” Alisha si galak yang nekat itu bertanya.


“Aku ingin nyawa salah satu dari kalian, jika saja aku terluka.”


“Kau ini!” Alisha hendak memukulnya, tapi ditahan oleh Alka, Hartino tidak menahan karena dia memang ingin wanita ini dipukul oleh istrinya.


“Air mata dibalas air mata, luka dibalas luka pun begitu dengan nyawa, jika nyawamu melayang, maka aku akan ikut mati bersamamu, bagaimana?” Alka berkata dengan sungguh-sungguh dan menatap mata kakak, kakak merasa ada aura magis dari mata Alka, dia hanya bisa mengangguk, Alka tidak sedang mempengaruhinya dengan gendam, tapi Alka mencoba mendapatkan kepercayaannya.


“Baiklah, sekarang kita harus apa?” Kakak bertanya.


“Kita kembali ke rumah, aku sudah membawa dupa yang disukai adikmu, kita akan berada di kamar itu untuk melakukan ritual, karena tidak ada yang lebih menyenangkan, dibanding menyantap energi musuhmu sendiri.


Kami butuh energimu untuk disalurkan di gelang itu, gelang yang biasa papi dan mamimu gunakan untuk menyimpan energi mereka lalu diberikan pada adikmu sebagari ritual menenangkannya. Ritual itu hanya dilakukan saat adikmu gusar saja, tidak boleh dilakukan terlalu sering, karena nanti adikmu menjadi kecanduan energi yang menyenangkan itu, dari rasa bahagia dan sayang.


Kita bisa lihat efek itu pada ibunya Amanda, dia meninggal dunia karena adikmu yang serakah.


Mamimu juga meninggal dunia karena itu, adikmu menjadi serakah dan merengkuhnya untuk bisa terus bersama di rumah sakit itu.


Kau mamu papimu meninggal juga?” Alka kali ini sabar menjelaskan, karena kakak sudah mulai bisa tenang dan menerima.


“Tidak! tentu saja tidak.”


“Maka pilihannya hanya  tinggal dirimu saja. Kau ikut atau tidak? atau kau mau ada yang mati lagi?” Alka bertanya.


“Aku akan ikut, aku akan ikut.”


Kakak akhirnya menyerah dan ikut, sedang apartemen tetap dikunci dan papi masih tertidur, kawanan dan kakak pergi ke rumah mereka, hendak mengadakan ritual di kamar tertutup itu.


...


Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke rumah itu, rumah begitu sepi, kakak terlihat menangis, teringat dulu rumah itu selalu bising baginya, mulai dari tangis bayi, lalu dia pergi sebentar diurus kerabat, lalu akhirnya dia kembali dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk bertengkar dengan adiknya.


Sungguh bising, tapi ... ada rindu yang tidak dapat disembunyikannya, dia rindu keramaian itu saat adik masih ada, saat mami masih ada, sekarang hanya tinggal dia dan papi.

__ADS_1


Mereka masuk kamar dan pintunya dikunci dari dalam, pintu depan dan gerbang dikunci.


Altar disiapkan lagi, tikar di gelar, Ganding dan Jarni sudah menyiapkan semuanya sebelum mereka pergi ke apartemen tadi.


Ada gelang khusus yang sangat tebal di altar pemujaan, Alka memakaikan gelangnya, sementara Aditia dan yang lain bersiap untuk mengumpulkan energi dari belakang tubuh kakak.


Gelang sudah dipakai, mantra dibaca oleh kakak, mantra itu sudah di tulis oleh Babah. Alka ke posisi di mana dia harus ikut menyalurkan energi pada Aditia dengan posisi seperti biasa.


Alisha di luar kamar, dia diberi penjagaan oleh Jarni, karena takut ada yang melukainya selama proses pemanggilan anak ambar itu.


Harusnya Alisha diberi khodam tapi mereka belum punya waktu, terlalu banyak kasus yang dialami, jadi Alisha terlihat lemah, padahal sifat beraninya sungguh berguna di kawanan.


Kakak membaca mantra, gelang itu mulai mengikat tangannya, lalu perlahan terasa panas, itu tanda bahwa energinya sudah tersalur pada gelang itu dari tubuh kakak, sedang Aditi dan kawanan bersiap, karena kedatangan adik pasti akan menimbulkan huru hara.


Dupa kesukaan Adik sudah dinyalakan, dupa yang tidak pernah keluar kamar, sedang dupa yang dipakai mami untuk mengusirnya dulu itu dupa yang berbeda, dupa yang dipakai kakak untuk membuat adik murka juga.


Mantra terus dibaca oleh kakak, hingga akhirnya ... terdengar suara.


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)

__ADS_1


Kakak gemetaran, dia takut tapi dia tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk lari, sesosok gadis yang umurnya bahkan terlihat lebih tua dari kakak, dengan kepala terbelah pada bagian tengah itu duduk dihadapannya, dia tidak terlihat seperti adik karena bertumbuh lebih cepat, tapi kakak tahu, itu adiknya.


“Cici ....”


__ADS_2