
Alka membisiki ibunya Ani sebelum dibawa masuk ke dunia yang Ani ciptakan, setelah itu mereka semua masuk dalam posisi masih jadi patung, Ani tertipu ternyata, dia masih dalam keadaan siap.
“Ani … ini ibu, Nak.” Ibunya memanggil Ani dengan lembut.
Ani yang saat meninggal berusia lima belas tahun, menjadi seperti remaja yang menyebalkan, dunianya adalah apa yang dia yakini, hingga apa yang orang pikirkan tidak ada di dalam rencana hidupnya.
Ani melihat ke arah ibunya, dia terlihat menjadi jauh lebih lembut, Ani berdiri dan mendekati ibunya, saat itu Alka ada di samping ibunya Ani.
“Nak, kita pulang dulu yuk, kakak-kakaknya capek tuh.” Ibunya membujuk, Ani terlihat patuh. Tapi sebelum dia ikut ibunya untuk kembali ke dunia manusia dan tidak menyiksa kawanan lagi, dia lalu bertanya.
“Ayah udah pulang kerja?” Alka terlihat menutup matanya, kehilangan kasih sayang ayah adalah yang terburuk dialami, begitu mendengar Ani bertanya itu, membawa kenangan tentang Alka yang ditinggalkan ayah dan ibunya.
“Udah, udah ada di kamar, katanya rindu sama Ani.” Ibunya berkata dengan tenang.
“Ayah udah tahu kalau Ani udah rajin belajar?” Ani bertanya lagi.
“Udah kok, ayo pulang.” Ibunya kembali menarik tangan Ani.
“Tapi Ani nggak bisa pulang, ade mau ikut.”
Lima sekawan saling menatap, mereka masih jadi patung, ade? Siapa ade?
Tiba-tiba muncul seorang anak yang entah datang darimana, tubuhnya jauh lebih hitam dibanding Ani, anak itu berlari dan menarik Ani.
Ibunya Ani berteriak, walau sukmanya telah dikendalikan Alka, tapi insting ibu tidak pernah salah, Ani telah dicelakai.
Ibunya berusaha menarik Ani, tapi kekuatan anak kecil yang dipanggil Ade itu sangat besar, membuat Ani menghilang, lenyap ditarik anak itu.
Lima sekawan mengakhiri sesi menjadi patung dan terdiam.
“Siapa anak itu?” Aditia bertanya duluan, pertanyaan yang sama ada dibenak lainnya.
“Aku mencium bau busuk dan juga aroma pandan sekaligus, jin atau jiwa tersesat ya?” Ganding tidak bisa melihat perbedaannya.
__ADS_1
“Kalau jiwa tersesat, kemungkinan tersesatnya sudah lama, karena kita bahkan bingung.”Alka menjawab pertanyaan Ganding.
“Kenapa Ani seperti takut padanya sekaligus patuh?” Ganding bertanya lagi.
“Kita harus bicara pada orang tuanya, ada yang mereka belum kasih tahu ke kita.” Alka dan yang lain akhirnya kembali ke dunia manusia, tentu pintu hanya dibuka oleh Aditia, bukan ditarik dengan mantra seperti sebelumnya dengan bantuan Alisha.
Alka dan yang lain duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya Ani.
“Kami sudah memastikan kalau Ani tidak sedang ada di sini, apapun anak itu, yang Ani sebut ade, dia bukan makhluk baik, apa yang kalian belum beritahu kami?” Aditia bertanya, yang lain menyimak.
“Kami tidak mengerti apa yang kalian maksud dan siapa kalian?” Ayahnya Ani bertanya.
“Kalian tahu dengan jelas bahwa Ani sudah tiada dan ketika jiwanya masih tertinggal di sini, kalian membiarkannya, merawat anak itu, seolah masih hidup di rumah ini.
Kalian tahu bahwa energi kalian diserap perlahan oleh anak itu, karena untuk bisa tetap hidup sebagai jiwa yang tersesat, Ani menyerap energi kalian, kau terutama, makanya sekarang kau tidak bisa jalan, cepat atau lambat, kau akan sekarat, apa kalian memang bermaksud bunuh diri?” Ganding kesal, dia sudah pada posisi untuk menyerang, bukan bernegosiasi.
“Tidak bisakah kalian pergi saja, biarkan kami hidup seperti ini.” Ayahnya Ani malah mengusir.
“Rumahnya di sini, ke mana lagi dia harus pulang? Lagian kalian ini siapa? Kalian bukan dari lembaga itu kan? Kalian berbohong tentang jati diri kalian sendiri kan?” Ayahnya terlihat semakin menjadi.
“Pak saya mengerti, mungkin Bapak merasa sangat bersalah, tapi kematian itu takdir, bisa jadi pelajaran agar kita bisa hidup berserah, kita tak punya daya dan upaya tanpa bantuan Tuhan.” Jarni berbicara, biasanya dia tidak terlalu peduli.
“Tuhan tak menolong kami saat Ani sakit, Dia membiarkan Ani meninggal dengan mudah!” Sepertinya tahap merasa bersalah ayahnya sudah terlalu tinggi, hingga dia akhirnya menyalahkan Tuhan karena membuat anaknya meninggal, keimanannya sungguh sedang berada di titik terendah.
“Saya yang salah Pak, saya yang salah!” Ibunya menangis sejadinya.
“Apa maksud Ibu?” Aditia bertanya dengan serius.
“Karena saat itu saya merasa tidak punya jalan lain, saya sendirian, sedang kenakalan Ani semakin menjadi, saya berharap Ani bisa seperti anak perempuan lain, suka belajar dan akhirnya bisa jadi kebanggaan ayahnya, makanya saya pergi ke … dukun itu.” Ibunya Ani tersedu-sedu lagi.
“Dukun, siapa namanya?” Aditia geram, ingin sekali rasanya mengirim bola api ke rumah dukun itu, bisa-bisanya anak kecil dipermainkan.
“Namanya Mbah Endi. Aku diperkenalkan oleh salah satu tetanggaku, dia bilang bisa bantu anak-anak yang nakal, cukup dikasih kopi susu ramuan Mbah Endi, maka anak itu akan nurut dan jadi anak kebanggaan orang tua. Aku percaya makanya aku datang ke Mbah Endi bersama tetanggaku itu, aku ke sana dan membeli bahannya, dia mengemas bahan kopi susu itu dengan plastik, katanya itu adalah bubuk kopi yang dicampur susu, sudah dimantrai agar anak jadi nurut dan mengikuti maunya orang tua.
__ADS_1
Aku mengikuti semua petunjuknya, memberikan anakku minum kopi susu itu agar dia jadi penurut. Ternyata benar, Ani jadi sangat menurut, disuruh belajar, langsung belajar, disuruh makan langsung makan, disuruh pulang sekolah langsung pulang, dia tepati. Semua perkataanku selalu Ani ikuti dengan baik.
Tapi ... aku baru sadar setelah Ani tiada, bahwa kepatuhannya sangat aneh, ketika aku bilang belajar, dia akan belajar tanpa henti, hingga larut malam, bahkan sebelum dia jatuh sakit, Ani pernah mimisan karena dua hari tidak tidur untuk belajar, menghadapi ulangan dari guru katanya.
Saat itu, aku pikir tak mengapa dia bekerja keras, toh nanti dia akan merasakan dampaknya, bahwa kerja keras adalah hal yang baik untuknya.
Tapi makin ke sini makin parah, makannya sedikit dan dia terlihat tidak bahagia. Puncaknya adalah, ketika Ani mengeluh setiap kali dia ingin tidur, ada yang membisikinya, seseorang, katanya anak kecil, anak itu tidak membiarkan dia tidur, dia selalu memaksa Ani untuk belajar, Ani tidak bisa tidak menghiraukannya, saat malam anak itu akan datang dengan wujud yang mengerikan, hingga membuat Ani ketakutan dan akhirnya menuruti maunya anak itu, belajar dan belajar.
Aku tidak percaya pada anakku saat itu, aku pikir ... mungkin dia kelelahan makanya berhalusinasi, tapi aku salah, aku juga pernah melihat anak itu, tapi sekelebatan, aku melihatnya ada di punggung Ani melalui kaca di kamarnya, tapi aku tepis penglihatanku itu, aku pikir, aku juga hanya salah lihat."
"Bu! jadi kau yang membunuh anak kita!" Ayahnya terlihat sangat marah.
"Kalau kamu mau salahkan aku, silahkan, tapi! ingat ini baik-baik ya, kami melakukan itu karena kami berharap kau pulang, aku butuh kamu sebagai pasangan yang mampu mendidik anak bersamaku, Ani butuh ayah yang mampu membuatnya merasa aman dan tenang. Tapi kamu di mana saat kami butuh? hingga aku harus mengambil keputusan yang salah!" Ibunya Ani ikut marah pada suaminya
"Kami memang salah, kami memang bukan orang tua yang baik." Ayahnya sadar, bahwa ada andil dirinya dalam kematian anaknya.
"Kasih tahu saya rumahnya dukun itu." Aditia kali ini yang geram dan ingin sekali mendatangi dukun itu, dia berharap dukun itu tidak lagi membujuk siapapun untuk meminum kopi susu seperti Ani.
"Itulah, anehnya, tetangga kami yang menunjukkan jalan ke rumah dukun itu, telah pindah entah ke mana, saya juga tidak hapal, karena beberapa kali saya coba ikuti jalan yang pernah membawa saya ke rumah dukun itu, tapi tetap tidak ketemu. Sepertinya hanya dia yang bisa menunjukkan jalannya ke rumah dukun itu."
"Lagi-lagi dukun!" Hartino kesal.
"Kita cari dulu di dark web ya, siapa tahu ada kisah tentang ini, aku harap kita bisa menemukan dukun itu sebelum banyak korbannya." Ganding menawari ide, Hartino yang akan bertanggung jawab tanpa diperintah.
Lima sekawan lalu pamit setelah mewanti-wanti agar orang tua Ani tidak lagi terlalu banyak berinteraksi dengan Ani dulu, karena kondisi ayahnya Ani sudah parah. Bisa sangat bahaya kalau dia masih berinteraksi dengan ruh anaknya, dia bisa sekarat karena energinya diserap.
______________________________________________
Catatan Penulis :
Untuk teman-teman yang udah baik banget, kirim koin ke grup chat supaya aku up dan double up, aku mau ucapin makasih yaaaa, kalian udah buat aku terharu. Bukan nilainya, tapi kebaikan kalian yang buat aku ngerasa, tulisanku dihargai dengan baik dan aku bertemu orang-orang yang tepat sebagai reader dari novel ini.
Makasih banyak ya, tetap dukung aku di sini walau aku kadang suka keras kepala sama alurnya, kalian tetap stay. Makasih sekali lagi.
__ADS_1