
Alka dan Aditia pergi ke rumah temannya Ami diantar oleh ibu asisten rumah tangganya Nek Enin, dia mengetuk pintu rumah itu dan keluarlah seorang wanita yang bisa dibilang masih muda, tapi sepertinya dia berumur lebih tua dari Ami, sedang menggendong anak.
“Iya kenapa Bi?” wanita itu bertanya.
“Ini teman-temannya Neng Ami, mereka mau tanya-tanya, bisa masuk dulu nggak ya?” ibu itu bertanya, lalu mereka dipersilahkan masuk oleh wanita itu yang ternyata temannya Ami, walau wajahnya terlihat lebih tua dari Ami, ternyata mereka seumuran, mungkin karena dia sudah menikah dan punya anak, jadi mengurus wajah bukan menjadi prioritasnya.
“Ada apa ya?” temannya Ami itu bertanya.
“Begini Teh, kami teman kuliah Ami, kami ke sini mau tanya soal kedatangan Ami sebelumnya ke rumah ini, apakah dia ada melakukan hal yang kurang pantas?” Aditia langsung pada pertanyaannya.
“Kurang pantas seperti apa ya?” temannya Ami tidak mengerti, berarti Ami memang tidak kurang ajar pada benda orang, tapi Aditia tetap bertanya.
“Seperti memegang benda yang dianggap keramat di rumah ini, mengejek benda atau sesuatu yang dianggap pantang di rumah ini.”
“Hah? Di sini sih ada beberapa barang yang cukup kami jaga, kayak keris, guci dan beberapa barang lain, tapi Ami tidak pernah suka barang-barang seperti itu, kemarin sempat lihat dan tanya saja.”
“Boleh lihat barang-barangnya?” Alka bertanya.
“Boleh, tapi kasih tahu dulu, kenapa kalian bertanya begitu, apa Ami, baik-baik saja?” Temannya bertanya.
“Ami sedang tidak sehat, dia terkena suatu penyakit yang aneh, kami menyimpulkan bahwa dia mungkin saja terkena kutukan suatu barang yang dia langgar kesakralannya.” Aditia menjawab.
“Oh begitu, kasihan sekali Ami, kami sudah berteman cukup lama, dia dan orang tuanya jarang ke sini, Ami anak yang sopan dari dulu juga dia nggak pernah suka sembarangan sama barang orang, dia itu cenderung pendiam, dulu kami sangat akrab, bisa dibilang aku satu-satunya temen dia, sahabat mungkin, setelahnya dia tidak punya teman lagi.
Mungkin karena pekerjaan orang tuanya yang pindah-pindah dia jadi malas berteman dengan siapapun, yuk ikut saya, ke belakang, benda-benda itu ada di gudang.” Temannya Ami itu lalu membawa Alka dan Aditia untuk ikut dia ke gudang.”
Gudang itu berada di belakang rumah, terpisah tidak jauh dari rumahnya.
“Masuk sini, nih liat-liat aja, pegang juga boleh, foto juga nggak apa-apa, karena saya juga nggak begitu percaya kalau benda-benda ini sakral atau ada penunggunya.
“Alka dan Aditia melihat sekeliling, banyak sekali penghuninya, untung wanita ini tidak lihat, sepertinya suami dari wanita ini pengumpul jin yang dibuang majikan.
Alka melihat-lihat benda itu sembari memperhatikan mereka, walau Alka sedang tersegel, tentu melihat jin tidak perlu kekuatan khusus karena dia setengahnya adalah bangsa mereka.
Alka menatap salah satu yang paling hitam, dia melihatnya dengan tatapan tajam, sepertinya dia yang paling kuat di sini, tapi tidak cukup kuat bahkan untuk seorang Aditia, dia juga tidak berani mendekati Alka dan Aditia.
“Duh sebentar saya tinggal ya, liat-liat aja dulu, anak saya nggak tahan debu, kasihan nih.” Temannya Ami itu memang sedang menggendong anaknya.
“Apakah ada salah satu dari kalian melihat wanita yang dikutuk?” Alka bertanya pada beberapa jin yang berdesakan di gudang ini. Mereka diam saja.
“Jawab kalau ditanya.” Kata Aditia, dia mengeluarkan keris mininya, seketika semua jin ketakutan dan menutup matanya karena silau.
“Kami tidak tahu apa yang kau maksud, kami tidak mengganggu, kami hanya numpang tinggal karen diizinkan pemilik rumah, kami pun dirantai, lihat ini, mana kami punya kemampuan untuk mengutuk.” Jawab salah satu jin yang terlihat cukup memiliki ilmu.
Pemilik barunya yang suami teman Ami ini bertanggung jawab, dia membawa jinnya tapi ditantai, sehingga tidak mengganggu orang, tapi memelihara banyak jin begini tidak baik.
“Atau kalian pernang mendengar sesuatu tentang Pengutuk?” Alka bertanya.
“Kami penghuni baru, belum kenal begituan, apalagi kami dirantai, gimana sih?” Jin itu menjawab lagi.
__ADS_1
“Yuk Dit, keluar, nggak ada yang berguna di sini.” Alka meminta Aditia ikut keluar bersamanya, lalu di luar ternyata temannya Ami baru saja hendak ke gudang lagi.
“Sudah saya kunci lagi bu, gudangnya, ini kuncinya, jangan sering –sering bawa anaknya ke sana, dia tidak alergi debu, dia sakit setiap dari gudang karena sawan.” Alka memperingatkan.
“Jadi beneran benda-benda itu ada penunggunya Teh?”
“Banyak.” Alka menjawab singkat, dia memang tidak bercanda, dia hanya ingin anak dari temannya Ami tidak sakit terus, karena kalau bertemu makhluk tak kasat mata, anak-anak yang jiwanya tidak siap, akan cenderung sakit, sedang anak-anak yang diberi kerberkahan lebih, akan takut tapi tidak sampai sakit, anak ini termasuk yang tidak siap, baik mental ataupun fisik.
“Yah, pantes kadang saya suka denger suara berisik dari dalam gudang, saya fikir cuma perasaan aja, duh, kalau gini, nggak cuma hutan bata aja dong yang angker, selama ini saya takut banget sama hutan itu, eh sekarang malah gudang saya yang ikut angker.”
“Sebentar Teh, hutan bata?” Alka bertanya.
“Iya, hutan yang ada di belakang itu.” Temannya Ami menunjuk hutan yang ada di belakang rumahnya, cukup jauh jika terlihat dari sini, karena terpisah dengan perkebunan warga, makanya Aditia dan Alka tidak melihat hutan itu karena tertutup perkebunan.
“Hutan itu angker?” Alka bertanya lagi.
“Iya, angker banget. Dari jaman saya sekolah bareng Ami, kami selalu dilarang ke sana karena katanya tempat itu tuh angker banget, tapi dulu, saya sama Ami sering main ke sana, kami soalnya suka melihat orang membuat bata, di sana itu ada gubuk tempat bata, ada beberapa gubuk di sana yang sering kami datangi saat orang-orang itu membuat bata.
Tapi itu dulu, setelahnya kami tidak pernah datang lagi karena Ami pindah dan saya tidak berani ke hutan bata sendirian, walau ada orang di sana untuk bekerja membuat bata, tapi untuk ke sana gelap sekali, pohon masih rapat-rapat.”
“Apakah ada mitos tentang hutan itu?” Alka mulai curiga.
“Mitos? Kalau tentang hutan tidak ada Teh, karena hutan itu gelap pohonnya rapat, jadinya terkesan angker, hmm, tau deh ini berhubungan atau tidak ya, jadi di dalam hutan itu ada pohon gede banget, pohon itu pasti kita lewati kalau mau ke hutan itu, kita semua kalau ke hutan haram pegang pohon itu, karena nanti … akan borokan.” Alka dan Aditia kaget mendengar itu.
“Borokan? Hanya dengan memegang pohon itu?” Alka bertanya lagi.
“Ami itu sekujur tubuhnya borokan Teh, semua bagian tubuhnya kecuali wajah, dari borok itu keluar nanah yang berbau busuk.” Aditia akhirnya memberitahu tentang yang terjadi pada Ami, karena kondisi Ami cukup memalukan, Aditia tadi tidak menjelaskan keadaan Ami secara detail, untung saja Alka tanya tentang mistos di daerah sini.
“Lah, jangan-jangan Ami nggak sengaja pegang pohon itu, mkanya borokan, kemarin saat ke sini sih dia bilang mau sebentar main ke gubuk yang bikin bata, sampai sekarang memang masih ada gubuk-gubuk itu, tapi sebelum dia pulang ke Jakarta, dia terlihat baik-baik saja kok.”
“Coba ceritakan Teh, cerita tentang pohon dan borok itu.” Alka bertanya.
“Iya, jadi dulu ibu saya pernah cerita begini, kalau pohon itu memang tidak boleh ada yang pegang, kalau kita pegang, kita akan borokan.”
“Borokan pada bagian tubuh dia memegang pohon itu?” Tanya Alka lagi.
“Bukan, kata ibu saya dulu, borok itu akan dimulai dari perut, lalu setelahnya borok itu akan sangat gatal, orang yang terkena borok itu akhirnya akan menggaruk dan borok yang menempel di tangan bekas garukan itu akan membuat tubuh-tubuh yang dia pegang tertular boroknya.” Jelas temannya Ami itu.
“Lalu?”
“Ya kata ibu saya lagi, dulu pernah ada seorang anak lelaki yang kena, karena dia bermain di balik pohon itu, main petak umpet kayaknya, trus dia pegang pohonnya, padahal udah di kasih tahu jangan pegang, eh taunya dia borokan malamnya, dimulai dari perut, lalu akhirnya ke kaki, muka dan seluruh tubuhnya, orang tuanya udah ke Dokter, kata Dokter mah alergi, dikasih aja obat, tapi nggak sembuh-sembuh sampai berbulan-bulan, orang tuanya akhirnya pergi ke orang pintar, mereka ngadain ritual deh tuh, di pohon itu, kalau nggak salah ibu saya bilang, semingu setelah ritual anak laki-laki itu sembuh.
Makanya setelah kejadian anak laki-laki itu, tidak ada yang berani memegang pohon itu, mereka ketakutan bakal kayak anak lelaki itu.
Ami itu tau loh soal itu, masa iya dia megang pohonnya, dulu aja setiap kita ke hutan bata, kita selalu jalan hati-hati kalau melewati pohon itu, saking takutnya, kami bahkan membawa selendang dan menutup wajah agar tidak terkena hawa pohon itu yang dibawa angin, saking takutnya.”
Aditia dan Alka lalu pamit, ini sudah sore, mereka ingin segera ke hutan, tapi hutan punya energi yang lebih tinggi saat malam hari, mereka hanya berdua, Alka sedang disegel, terlalu beresiko kalau ke sana berdua saja, akhirnya Aditia dan Alka menginap di penginapan beda kamar, saat ini mereka berdua sedang makan malam di tempat makan dekat penginapan dan membahas tentang hutan bata itu.
“Ka, apa mungkin Ami pegang pohon itu?”
__ADS_1
“Yang aku curiga adalah, itu hanya mitos atau nyata, karena bisa saja kan sebenarnya pohon itu hanya bergetah racun saja, lalu anak lelaki yang memegang getahnya, memegang perut, lalu jadi borok karena kena getah racun dari pohon, lalu muncul rumor itu.”
“Tapi Ka, terlalu kebetulan kalau boroknya Ami dan pohon itu tidak ada hubungannya.”
“Kita besok ke sana, ke hutan bata itu, kita lihat pohonnya seperti apa, baru kita bisa ambil tindakan.” Alka memberi keputusan.
“Ka, kata anak-anak, teman dan pacara Ami tidak punya, dia terkenal pendiam dan tidak suka bergaul, orang yang tidak suka ada, tapi karena kependiemannya itu, bukan orang yang membencinya, jadi kemungkinan dia dikerjai orang itu sangat tipis.”
“Suruh mereka ke sini, aku mau mereka temani kita melihat pohon itu.”
“Kelamaan nggak kalau nungguin mereka? Kok tumben kamu takut gini Ka?”
“Bukan takut, lebih ke persiapan aja, kita cuma berdua, terlalu riskan.”
“Kamu nggak percaya sama aku? Karena saat ini kita berdua tapi cuma aku yang memiliki ilmu, kau benar-benar tidak percaya padaku!” Aditia terlihat kesal.
“Bukan tidak percaya, tapi aku khawatir, aku kan nggak bisa bantu kamu kalau ternyata benar, pohon ini adalah si Pengutuknya.” Alka lalu beranjak karena telah selesai makan dan membayar untuk mereka berdua.
“Jadi kau khawatir padaku?” Aditia tersenyum dan mengejar Alka, sementara Alka buru-buru jalan ke arah penginapan.
Dari jauh, ada seorang perempuan melihat mereka berdua, perempuan itu telihat sangat sedih dia lalu memanggil nama Aditia.
“Adit … Adit ….”
Aditia menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apapun, dia merasa mendengar seseorang memanggilnya, ini sudah kejadian kedua kali, tapi Aditia tidak bisa melihat dan merasakan siapa atau apa yang memanggilnya ini.
“Kenapa?” Alka bertanya.
“Kayak ada yang manggil, tapi perasaan aja kali ya.” Aditia lalu kembali berjalan berdua dengan Alka.
Setelah mereka berdua agak jauh, seorang wanita yang tadi tidak terlihat, menampakkan wajahnya dan melihat Aditia dengan sedih lagi.
___________________________________
Catatan Penulis :
Mau kasih tau kalian, kalau ini cerita best on true story ya, pohonnya ada loh di Bandung, hutannya juga ada, pohon itu dulu dekat sekali dengan rumahku di Bandung, aku empat tahun tinggal di Bandung lalu pindah ke Jakarta.
Mitos tentang pohon itu sangat membekas dan aku tuangkan dalam part BOROK ini, tapi aku tidak tahu apakah pohon itu masih ada, kalau mau tebang orang juga takut, karena mitosnya persis seperti yang aku ceritakan di atas ya.
Semoga kalian suka part ini, kalau suka, yang belum follow aku, follow ya, yang belum kasih vote dan punya stock, jangan lupa untuk dukung aku melalui vote, yang mau kasih hadiah juga boleh banget.
Yang sudah selalu kasih aku tips, makasih banget ya.
Terima kasih buat kalian yang selalu dukung aku.
__ADS_1