
"Kak, capek aku!" Hartino mengeluh.
"Lu pikir elu doang yang capek!" Ganding kesal karena Hartino selalu mengeluh.
"Bisa pada serius nggak! Tadi elu nyalahin angkot. Sekarang mau nyalahin apa lagi?!" Aditia ikutan kesal.
Aditia mengeluarkan keris mininya semua orang bersiap dengan senjatanya.
"Aku keluarin senjata juga ya!" Hartino memohon karena Alka paling marah kalau Hartino dan Ganding mengeluarkan senjata.
"Ya, tapi ingat, jangan asal bantai. Mereka kemungkinan ...."
Salah seorang Pasukan yang berdiri paling depan berteriak dengan bahasa yang Alka dan kawan-kawan tidak bisa mengerti karena sepertinya mereka menggunakan bahasa jepang.
Tapi teriakan itu membuat semua pasukan menyerang lima sekawan.
Pertarungan di kamar sempit itu semakin terasa sesak.
Alka harus menyabetkan cambuknya ke segala arah karena dia dikeroyol pasukan itu.
Aditia menghindari menusuk pasukan-pasukan itu karena akan fatal. Kalau salah menghabisi setan itu bisa-bisa sakit 'butanya' akan kambuh lagi karena sembarang menghabisi jin dengan senjatanya seperti dulu kejadian Marni.
Ganding dan Hartino terlihat kewalahan walau mereka sudah mengeluarkan senjata. Sementara Jarni terus melemparkan ular mininya.
Pertarungan terjadi berjam-jam. Hartino terlempar smapai ke atap, sementara Ganding terlempar ke jalanan.
Alka dan Aditia sementara istirahat setiap sepuluh menit sekali dalam lingkaran perlindungan yang Jarni buat. Alka dan Aditia bergantian istirahat dan melawan.
Pasukan ini masa hidupnya pasti sangat pandai berperang, hingga telah tiada pun masih saja mereka pandai strategi.
"Kak, mereka tuh kenapa ya masih bertahan di sini?" Jarni bertaya pada Alka.
"Kemungkinan hotel ini dulu adalah tempat dimana pasukan ini bertahan, entah markas entah basecamp atau sekedar tempat bersembunyi." Alka sedang masuk waktu istirahat, Aditia yang sedang melawan mereka sendirian.
Aditia juga lelah dan merasa pasukan ini kenapa tidak ada habisnya.
"Dit gantian." Alka keluar dari lingkaran perlindungan Jarni dan Adiria antian istirahat, begitu masuk lingkaran Aditia langsung tersungkur, dia benar-benar kelelahan.
Alka terpaksa berubah masuk ke dalam wujud jinnya, ini akan membuatnya mampu bertarung dengan lebih maksimal.
Hari ternyata telah pagi, Ganding dan Hartino ketiduran ketika terlempar baru bangun ketika ada ynag membangunkan. Lalu saat itulah Ganding kembali ke kamar bersama Teddy dan membuat pasukan-pasukan itu menghilang.
SAAT INI
"Kalian ... berharap saya percaya? Maksudnya, ok saya tahu memang tempat ini berhantu, tapi pasukan jepang, wanita yang menggoda, ayolah! Kaian sedang buat novel horor? Jangan melebih-lebihkan!" Teddy enggan percaya karena mengingat 713 ini sudah angker sekali, dia tidak mau percaya kalau seluruh hotel ini jauh lebih angker.
"Kami tidak akan memaksa, tapi jelas bahwa hotel ini tidak akan baik-baik saja." Ganding tetap menjadi juru bicara lima sekawan. Mengingat ilmu berdebatnya sangat baik jadi lima sekawan percaya Ganding selalu mampu menyampaikan maksud dari mereka.
"Apa maksudnya tidak baik-baik saja? Selama 713 tidak kami buka, hotel ini akan tenang."
"Baiklah, kalau Bapak tidak percaya. Kumpulkan semua data karyawan hotel ini, tarik dari tahun ke tahun tentang daftar kematian. Kau akan menemukan pola yang sama. Setelah menemukan polanya kami akan jelaskan maksud dari pola itu." Alka malas berdebat, dia ingin lima sekawan sarapan lalu mereka istirahat. Mengingat malam ini akan ada pertarungan lagi.
Teddy akhirnya setuju. Karena dia adalah penanggung jawab hotel, maka dia punya akses untuk membaca data pada server hotel.
Teddy melihat data karyawan dari tahun ke tahun, dimulai dari tahun 1950 hotel mulai di bangun. Pembangunan selesai selama tiga tahun. Lama sekali, padahal ketika itu hotel masih hanya terdiri dari dua lantai saja. Bukan hotel yang mewah. Tapi aneh, baru saja buka data pembangunan dia sudah merasa janggal.
Pada tahun itu, kenapa hotel ini mesti banget di bangun? Pada jaman itu bahkan sekitar hotel masih ladang dan perkebunan saja. Siapa yang mau menginap di tempat yang begitu sepi itu.
Tapi mungkin bukan itu pertanyaannya, pertanyaannya adalah, buat siapa hotel ini dibangun?
__ADS_1
Teddy terus mencari data karyawan, mulai daei tahun pertama diresmikan, lalu tahun-tahun berikutnya hotel berjalan.
Teddy gemetar begitu sampai pada tahun ini. Benar kata lima sekawan, polanya memang sama. Ada yang aneh dengan ....
Dari pagi hingga hampir malam Teddy baru bisa menemukan pola itu. Dia buru-buru berjalan ke kamar 713.
"Pak, mau kemana?" Selly yang shift dua bertanya. Dia sedang di lobby seperti biasa.
"Mau ke 713 Sel," Teddy yang tadinya berniat langsung naik akhirnya mengurungkan niatnya, "Sel! Kamu pucat sekali," Selly bertanya.
"Iya Pak, sedang tidak enak badan." Selly menjawab sembari menyela keningnya. Dia terlihat kepanasan padahal udara sangat dingin seharusnya.
"Istirahat aka dulu ya, biar Supri yang jaga lobby. Nanti kalau ada tamu Supri baru panggil kamu."
"Iya Pak, tapi kenapa hanya saya yang selalu standby ya Pak? Yang lain kemana?"
Teddy merahasiakan bahwa dua resepsionis lainnya sudah resign.
"Ya, mereka ijin. Saya naik ya."
"Iya Pak, hati-hati ya."
Teddy hanya mengangguk dan akhir masuk lift untuk naik.
"Pak Supri!" Selly memanggil dengan keras.
"Kenapa?" Supri bertanya pada Selly."
"Jaga lobby dulu ya, Selly mau istirahat. Nanti kalau ada tamu, panggil Selly ya." Supri mengangguk dia mengerti ini pasti atas perintah Teddy.
Selly masuk ke pantri lalu tidur di salah satu bangku di sana, dia menyandarkan kepala dan dadanya di meja pantry. Tidak ada sofa di sana. Selly juga lebih suka istirahat di pantry, dekay dengan lobby jadi kalau ada tamu bisa langsung ke lobby dengan cepat.
Tidak lama kemudian ... Selly terbangun.
Dia bangun dan membereskan riasan serta bajunya. Dia melihat jam tangannya, memastikan bahwa dia tertidur tidak terlalu lama.
"Yah, mati lagi!" Jam tangan Selly berhenti.
Selly akhirnya kekuar dari pantry menuju lobby, dia sudh rapih dan siap berjaga lagi di lobby.
Ada Supri di sana yang sedang duduk di balik meja front office, tempat biasa Selly duduk menunggu tamu datang.
"Pak, udah gantian yuk." Selly berada di samping Supri dan hendak bergantian berjaga lagi.
Supri terdiam.
"Pak, Selly yang gantian jaga ya." Selly mengeraskan suaranya lagi, dia khawatir Supri tidak mendengarnya.
Tapi Supri masih diam saja.
"Pak!" Selly berteriak lalu mencoba melihat telinga Supri. Selly berharap Supri tidak mendengar karena dia memakai headset di kupingnya. Tapi nihil, dia tidak memakainya untuk mendengar musik.
Tapi kenapa Supri tidak menggubris perkataan Selly?
Selly akhirnya mencoba mendorong Supri agar dia terusik akan keberadaan Selly.
Tapi malah Selly yang jatuh, tubuhnya ... tubuhnya tembus.
Selly gemetar, bagaimana mungkin tubuhnya menembus tubuh Supri.
__ADS_1
"Pak! Pak!!!" Selly berteriak, tapi Supri tidak mendengar sama sekali, dia seperti tidk menyadari, tidak melihat dan mendengar Selly.
Seolah, tidak ada Selly di sana. Seolah Selly tidak terlihat.
"Apakah aku sudah mati?" Selly berlari ke arah pantry untuk memastikan sesuatu.
Saat sampai pantry, Selly melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Bagaimana mungkin dia yang sedang berdiri itu, menatap tubuhnya sendiri yang terlihat masih tertidur di meja itu.
Selly perlahan mendekati tubuhnya. Dia ingin memastikan bahwa dirinya masih hidup. Nafasnya masih ada, selly melihat tubuhnya naik turun anda masih bernafas.
Seharusnya dia masih hidup, tapi kenapa dia bisa melihat dirinya yang masih tertidur itu?
Selly berpikir keras, apakah dia bermimpi? Tapi kalau mimpi bagaimana cara bangunny? Selly bingung.
Dia mendekati tubunya mencoba masuk ke tubuh itu, tapi tidak bisa, dia terpental.
"Apa ini yang namanya lepas raga?" Selly yang masih terduduk karena efek terpental tadi baru menyadarinya. Karena kalau mimpi dia hanya tinggal bangun, lalu kenapa sekarang dia malah tidak bisa masuk lagi ke tubuhnya.
"Ya Allah, seharusnya aku mendengar kata-kata suamiku. Maka aku tidak akan mengalami ini." Selly menangis. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dia tidak bisa kembali ke tubuhnya, sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa.
Selly berlari ke luar pantry.
Saat dia hendak kembali ke Supri, tiba-tiba gerombolan wanita yang berpakaian kebaya dan kain jarik terlihat hendak mendekatinya.
Selly bingung harus apa, tapi sepertinya hanya mereka yang bisa ditanyai. Entah kenapa Selly merasa dia dan mereka senasib.
Selly memberanikan diri mendekati gerombolan wanita itu.
Dia menyapa salah satunya.
"Mbak ... Bu ... eh maaf mau tanya."
Wanita itu yang menjadi salah satu gerombolan wanita berpakaian kebaya, berkain jarik dan bersanggul besar menolah padanya. Sementara yang lain masih melanjutkan berjalan kaki, entah menuju kemana.
"Kamu siapa?" Tanya wanita berpakaian kebaya itu, wajahnya cantik.
"Saya pegawai hotel ini, saya ... tubuh saya ... tubuh saya ada di pantry itu, lalu saya bangun dan sudah ... lepas raga." Sedikit ragu dia menceritakannya.
"Oh, kamu bagian dari kami. Ikut kami," jawab wanita itu.
"Ikut kemana?"
Tidak menjawab wanita itu melanjutkan jalannya bergabung bersama gerombolan. Selly tidak tahu harus apa, dia menuruti perkataan wanita itu dan mengikutinya dari belakang.
Dari posisi ini Selly bisa melihat, betapa pakaian mereka sama, sanggul mereka sama dan semua yang dikenakan sama.
Mau kemana mereka? Apakah tepat Selly mengikuti mereka?
__________________________
Catatan Penulis :
Yang mau nebak monggo, waktu dan tempat disediakan di kolom komentar.
Terima Kasih.
__ADS_1