Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 192 : Sesat 7


__ADS_3

SATU HARI SEBELUM PERNIKAHAN


“Jadi benar bahwa dia datang ke sana?” Pejabat itu bertanya pada ajudannya.


“Betul Pak, dia datang satu tahun yang lalu.”


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya pejabat itu.


“Keputusan ada di tanganmu, kau ingin anakmu hidup dalam kebohongan selamanya, kebahagiaan bohong atau sakit yang dalam sehari saja.”


“Aku juga merasa aneh awalnya, tapi aku melihatnya bahagia, makanya aku biarkan,” pejabat itu menyesal.


“Aku akan menerima perintah apapun itu, kalau kau menyuruhku untuk diam, aku akan diam, tapi kalau kau menyuruhku untuk bergerak, aku akan melakukannya juga.” Ajudan itu memang orang yang setia.


“Beri aku waktu sampai besok, aku akan mempertimbangkannya dulu.”


“Baik Pak. Kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat malam.” Ajudan itu pamit pulang, meninggalkan pejabat yang sedang bingung.


Dia akhirnya naik ke kamar putri kesayangnnya yang besok akan menikah, saat dia membuka pintu, putri kesayangannya sedang menyisir rambut dan terlihat bersenandung, dia terlihat sangat bahagia.


Dalam hatinya, dia tidak akan melakukan apapun, dia akan membiarkan pernikahan itu terjadi, karena kebahagiaan itu terasa nyata sekali.


Dia kembali ke kamar dan hendak menyambut besok, seperti tidak pernah terjadi apapun dan dia tidak tahu apapun.


“Untuk keluarga, dirias di ruangan ini, kalau untuk pengantin ke sana ya.” Seorang penitia pernikahan berkata, dua keluarga datang bersamaan, Rido menggandeng Karina dengan wajah sumringah.


Karina senang sekali, dalam hitungan jam, dia akan menjadi Nyonya Rido.


“Kita ke sana sayang.” Rido menuntun Karina untuk ke ruang rias khusus pengantin.


Karina dan Rido masuk ke ruangan yang sudah ada empat orang untuk membantu mereka menggunakan baju adat pernikahan.


Mereka memutuskan untuk memakai baju adat sunda berwarna putih di akad nikah. Baju pengantin lelaki dan perempuan berwarna putih. Pertama keduanya dirias dulu, setelah itu baru akan dipakaikan baju adat.


Untuk riasan lelaki selesai lebih dulu, jadi sudah waktunay bagi Rido untuk memakai baju adatnya, pertama Rido dipakaikan celana bahan dulu, tentu berwarna putih, setelah itu dililitkanlah kain jarik sebatas lutus setelah celana bahan itu digunakan. Baru setelahnya Rido dipakaikan rompi dan jas adat. Sekarang dia telah berpakaian lengkap. Terhitung sudah satu jam mereka berias, sebentar lagi, riasan pengantin perempuan akan selesai dan siap dipakaikan baju akadnya, kebaya berwarna putih dengan kain jarik berwarna putih berkilauan.


Perias pengantin perempuan bersiap untuk membantu memakaian pakaian akad pada Karina. Setelah setengah jam memakaikan pakaian pengantin wanita, tiba-tiba ajudan itu masuk ke ruangan. Karina sebenarnya masih harus memakai mahkota khas perempuan Sunda dalam setiap pernikahan, mereka menamakannya siger. Karena tadi perias memutuskan memakaikan kebaya akad dulu baru mahkota, meminimalisir waktu karea berat dan ketatnya siger yang akan dipakai dari akad hingga resepsi nanti.


“Semua keluar dari sini kecuali Karina dan Rido,” ajudan itu berkata.


“Ada apa ini?!” Rido yang sedang duduk menunggu Karina selesai dirias dia terlihat marah, karena ajudan itu menginterupsi pengantin yang sedang dirias.


“Keluar semua!” Ajudan itu masih memerintahkan.


“Tidak! jangan ada yang keluar, teruskan mendandani Karina!” Rido memaksa.


Ajudan itu mendekati Karina dan berbisik, “Ini perintah ayahmu Karina, kau mau aku mengatakan perintahnya di depan orang lain? Kau akan malu.” Tidak ada yang bisa mendengar dia berkata apa, Karina akhirnya mengangguk.


Ajudan meminta semua orang keluar kecuali Rido dan Karina serta ajudan itu sendiri.


“Apa yang kau mau!” Rido mendekati ajudan itu dan membentaknya.


Ajudan tanpa peringatn langsung memukul perut Rido dengan kencang, hingga Rido jatuh tersungkur dan sulit bangkit, memanfaatkan keadaan itu, ajudan tersebut mendekati Karina yang terkejut, membaca mantra dan meniupkan debu yang dia tuangkan dari sebuah cawan mini yang dia ambil dari kantung celana.

__ADS_1


Karina berkedip, debu itu masuk ke mata dan terhidup hidungnya, dalam hitungan detik Karina merasa matanya sakit, dadanya sesak, setelah itu dia merasa mual. Ajudan itu lalu mengambil kantung plastik yang dia bawa dan membuka kantung itu agar menjadi wadah bagi Karina yang akan muntah. Karina muntah dan setelah itu dia duduk karena lemas.


Rido mendekati Karina dan merangkulnya smebari berkata, “Kau kenapa sayang, kau baik-baik saja?” Rido mencoba melihat wajah Karina.


Karina menepis tangan Rido dan mendorongnya dengan kencang.


“Jangan dekat-dekat! Kau tidak sopan!” Karina berkata dengan begitu keras. Ajudan itu tersenyum, rencananya berhasil.


“Kau kenapa, ini aku Rido, calon suamimu!”


“Calon suami? Kau gila! pria gila sepertimu mau menikah denganku? Mimpi!” karina berdiri dan baru sadar kalau dia memakai baju pengantin dan berdandan seperti hendak menikah.


“Aku kenapa pakai ini?” Karina bertanya pada ajudan ayahnya.


“Kau memang akan menikah dengannya, apa kau mau melanjutkan pernikahan ini?” ajudan itu bertanya.


“Kau gila! ayah menjodohkanku dengannya? Bagaimana aku tidak tahu itu? kenapa aku seperti orang linglung dan menerima pernikahan ini? dengan dia lagi! lelaki menjijikan itu!” Karina marah mendengar itu.


“Bukan, kau yang meminta menikah dengannya, kau telah berpacaran dengannya selama satu tahun.”


“Apa! apa kalian gila, bagaimana mungkin aku berpacaran dengan lelaki rendah seperti dia, dia bukan dari kalangan kita walau kaya, tapi keluarganya tidak berpendidikan. Aku tidak suka! Aku ingin pernikahan ini batal.” Karina berteriak, dia merusak riasan wajahnya.


“Karina dengar aku sayang, dengar, akad kita akan berlangsung satu jam lagi, aku mohon, jangan buat malu kedua keluarga kita, aku mohon, mari kita lanjutkan pernikahan ini.” Rido menggenggam tangan Karina dan memohon. Karina menepisnya.


“Apa ayah akan malu jika pernikahan aku batalkan?” Karina bertanya.


“Tidak, dia yang mengizinkanku untuk masuk ke sini dan menyadarkanmu.”


“Menyadarkanku?” tanya Karina.


“Aku mohon Karina, kita telah menghabiskan waktu selama setahun ini bersama, kau pasti sudah memiliki rasa padaku bukan?” Rido mengatakannya dengan masih dalam keadaan bersujud.


“Diam kau! jelaskan lagi padaku.” Karina meminta ajudan menjelaskan padanya lagi.


“Dia telah memnbayar Birmo untuk memelet dan menggedammu, pertama kau digendam dulu oleh dukun itu, hingga kau akan lupa apapun yang terjadi kelak, tubuhmu akan dikendalikan oleh si tuan yang membayar dukun, lalu setelah itu kau akan dipelet, tubuhmu yang dikendalikan itu hanya akan mencintai satu orang dengan buta.”


“Menjijikan sekali! Pantas aku tidak ingat apapun tentang kejadian setahun belakangan! Rido brengsek! Kau memang lelaki biadab, kau menyianyiakan waktuku selama satu tahun ini!” Karina sangat kesal.


“Sekarang tubuh dan jiwamu telah berhasil dibebaskan, karena Birmo telah aku berikan sejumlah uang dari ayahmu agar dia mau melepas gendam dan pelet itu.


“Birmo memberikan debu itu padaku untuk kutiup dihadapanmu, debu itu akan masuk melalui mata dan hidungmu. Setelah itu akan masuk ke pembuluh darahmu, membuat semua jin yang dikirim Birmo untuk menggendam dan memeletmu berlomba-lomba keluar karena kepanasan, debu itu memang seperti bara api bagi jin kiriman Birmo, karena jin itu sudah dilatih ketika diperintahkan keluar, mereka harus dikeluarkan dengan cara kasar, yaitu melalui debu itu, debu yang terasa seperti bara api.


Makanya kau muntah, itu adalah efek dari seluruh jin yang berlomba keluar dari tubuhmu. Setelah semua jin keluar, kau jadi sadar dan tidak lagi dikendalikan.


Semalam ayahmu menimbang apa yang perlu dilakukan, tapi sepertinya dia akan membiarkan pernikahan ini terjadi jika kau memang bahagia, tapi tadi pagi aku memberitahu padanya, bagaimana kalau kita hilangkan dulu efek gendam dan peletnya padamu, jika memang kau masih ingin menikah setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya pada dirimu, ayahmu akan tetap merestui pernikahan kalian, tapi ternyata aku benar, kau tidak akan meneruskan pernikahan ini bukan?”


“Karina aku mohon, aku mencintaimu makanya aku melakukan itu, tidak ada satupun wanita yang aku inginkan seperti aku menginginkamu, aku mohon, kasihani aku, orang tuaku sangat bahagia kita kan menikah, ayahmu juga tidak keberatan.” Rido memeluk kaki Karina yang sedang berdiri.


Kirana menendang tubuh Rido dan dia hendak keluar bersama ajudannya.


“Aku akan bunuh diri jika kau keluar dari ruangan ini!” Rido mengancam, Karina mendengar itu mendekati Rido lagi, Rido tersenyum merasa dia berhasil mengancam Karina.


Karina lalu berjongkok agar bisa berbicara dengan Rido yang tetap terduduk karena tadi di tendang oleh Karina saat sedang memeluk kaki Karina.

__ADS_1


Karina berbisik, “Mati saja kau.” Rido mendengar itu langsung merasa pusing, sebagian dari dirinya terasa hilang, matanya menjadi kosong. Dia berdiri dan keluar dari ruangan perias pengantin itu setelah ajudan keluar duluan meninggalkan Karina sendirian di sana.


Semua yang sedang menunggu dan ingin melihat apa yang terjadi, akhirnya menjadi tenang saat Rido keluar dan masuk ke ruang perias keluarga.


Lalu kejadian itu terjadi.


...


“Jadi dia memelet dan menggendam Karina?” Aditia terlihat kecewa, dia pikir kasus ini akan berpihak pada Rido, karena kunti itu menyesatkan sekali informasinya. Tentu saja muka Rido tidak bahagia karena apa yang dia lakukan pada Karina telah hilang.


Alka melepas ajudan itu.


“Rido bunuh diri karena tidak mampu menahan rasa malu dan setelah itu, efek dari lemahnya mental dia yang sudah beberapa kali menoba bunuh diri, dia akhirnya melakukan apa yang Karina katakan. Karina tidak bisa disalahkan, dia juga korban.” Ajudan itu mencoba membela anak bosnya.


“Kami akan melepasmu, jangan bicarakan kami setelah ini pada siapapun.” Alka akan mengantar ajudan ini sampai tujuannya.


“Kalian siapa?” tanya ajudan itu.


“Kami hanya orang yang tidak terlalu penting, lupakan kami. Maafkan karena kami melakukan ini padamu, tapi percayalah, seperti kau percaya saat menyelamatkan Karina dulu, kami juga menangani hal yang sama, perkara ghaib. Apapun yang kami lakukan karena Tuhan kami yang memberikan berkah. Jadi, yang kamu lakukan pada Karina sudah benar. Maafkan kami karena menahanmu seperti ini.” Alka berkata sebagai penutup pertemuan mereka.


Aditia, Alka dan Jarni setelah mengantar ajudan itu mereka akan balik ke gua diantar angkot Aditia.


“Aku kesal sekali dengan kasus kali ini.”


“Ya, aku juga,” Alka berkata.


“Bagaimana mungkin cinta dipaksakan seperti itu. Pelet dalam bentuk apapun, merusak esensi cinta kan? cinta itu kan datang karena perasan tulus, terus kalau dilakukan pelet atau gendam, esensi tulus itu hilang! Cinta macam apa yang terpaksa dirasakan itu, palsu!” Aditia berkata dengan bersemangat.


Alka mendengar itu menyembunyikan rasa sakitnya, sakit akan Lanjo yang masih terasa. Cinta yang pasti kelak jika Aditia tahu, dia akan mengatakan hal yang sama. Cinta yang palsu.


Malam semakin kelam, angkot jemputan Aditia melaju di tengah malam dengan suasana hati yang kelam pula.


Setelah mengetahui yang terjadi, saat ini mereka harus mengetahui keberadaan Rido dulu, karena kalau lima sekawan yang datang ke gedung itu, Rido takkan muncul karena merasakan energi besar dari lima sekawan.


Sekarang PRnya adalah membujuk Rido untuk pulang, dia harus disadarkan bahwa sudah tidak ada gunanya menunggu di gedung itu, karena waktu telah meninggalkan dia.


...


“Mereka sudah menemukan jawaban atas kasus ini, cukup cepat dan terstruktur, kita lihat apakah mereka akan menemukan Rido. Pastikan mereka tidak mengendus jejak kita.” Wanita yang pernah bertemu Alka dengan pakaian kasual di perpustakaan itu berkata di sebuah ruangan yang cukup tertutup di dalam apartemennya, sementara di apartemen itu ada beberapa botol beling transparan yang berbentuk unik dan tertutup dengan sebuah kayu berbentuk bulat.


Dalam botol itu selalu ada sebuah asap yang kadang membuat botol itu bergerak.


Kalau dihitung-hitung ada sekitar dua puluh botol di rak dalam ruangan gelap di apartemen itu.


Seorang wanita yang berpakaian rapih bersama wanita itu, dia sepertinya adalah asisten pribadi wanita itu.


“Ya baik Nona Alisha, saya akan pastikan Rido aman di sini. Sampai kapan di sini?” Asisten pribadi itu bertanya.


“Sampai aku puas mempermainkan lima orang itu.” Alisha tertawa.


“Baik.”


“Satu lagi, ingat ini dengan baik, kau lain kali harus lebih cepat dari mereka, aku ingin membuat mereka gagal, satu kali saja dengan sebuah kasus, karena itu menyenangkan.” Alisha tertawa lagi.

__ADS_1


“Saya akan pastikan, untuk kasus berikutnya, mereka akan sering tersesat.”


Alisha dan asisten itu akhirnya keluar dari ruangan gelap itu.


__ADS_2