Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 197 : Tinung


__ADS_3

“Har, Kakak nggak akan maksa kalau Har memang mau pisah sama kita, tapi satu hal yang Har harus ingat, Kakak nggak pernah lepasin Har, apapun yang terjadi, karena Har itu keluarga, adiknya Kaka.” Alka menyelinap masuk kamar Har saat dia tertidur, Alisha memberitahu cara yang jitu menutup afirmasi yang sudah dia berikan pada Hartino, sebuah penerimaan dan penolakan yang membuat seseorang merasa tidak memiliki kesempatan dan mulai takut kehilangan. Ilmu Psikologi yang Alisha miliki mungkin akan membantu.


Alka hendak pergi melalui jendela lagi, tempat dia masuk. Saat Alka hendak melompat, Hartino menarik tangan Alka.


“Kak, maafin Har ya.” Hartino memelas, wajahnya tidak sekerasa sebelumnya.


“Har, nggak ada yang salah di sini, Kamu melakukan yang terbaik kami dan Aditia juga berharap yang terbaik dari kita. Makanya kita harus saling memaafkan Har, kamu mau kan, kembali lagi?” Alka bertanya.


“Ya, aku mau.” Hartino menyerah, dia memang tidak pernah berniar pergi selamanya, dia hanya marah kemarin, walau sempat teralihkan dengan jalan bersama Alisha, tapi jelas, saat-saat tertentu, bahkan Alisha tidak mampu mengalihkan pikiran Hartino tentang kawanan yang tidak bisa menyelesaikan kasus.


“Yaudah, yuk ikut.”


“Kemana? Sudah malam.”


“Ke gua, kamu boleh menginap malam ini.”


“Serius Kak?!” Hartino senang, mereka dari kecil memang paling senang menginap di gua, tapi biasanya hanya Jarni yang boleh sering melakukannya.


“Ya, ayuk.” Alka mengulurkan tangan, Hartino menyambutnya lalu mereka ke gua.


Ini puluk sembilang malam, mereka sampai gua jam setengah sepuluh. Semua sudah berkumpul.


“Har!!!” Ganding memeluk Hartino, Jarni juga ikut dibelakangnya, mereka berpelukan.


Aditia hanya terdiam.


“Kamu nggak suka aku balik lagi?” Hartino menegur Aditia yang terlihat menunduk.


“Tentu saja aku suka,” Aditia menjawab.


“Kalau begitu, kenapa tidak ingin memelukku?”


“Memang boleh?”


“Boleh, tapi setengah saham perusahaanmu, jadi milikku ya?” Hartino tertawa.


“Semua saja juga boleh, itu tidak terlalu penting.” Aditia berlari lalu memeluk sahabatnya.


“Maafin aku ya Har, udah berkata keterlaluan.”


“Ya, aku maafin, aku juga minta maaf karena kemarin udah mengabaikan kalian.” Hartino meminta maaf pada Ganding dan Aditia.


“Kak, jadi kita ngumpul hari ini buat Hartino ya? wah, seharusnya Kakak yang maju pas kemarin kita membujuk Har, jadinya nggak mubazir ya Dit, usaha kita.”


“Iya Nding.” Hartino memukul mereka, karena menyesal telah datang membujuk dirinya.


“Selain Hartino, ada juga yang ingin Kakak omongin.” Alka bersiap.


“Apa tuh Kak?” Ganding bertanya.


“Aku ngumpulin kali semua di sini hari ini, karena ada yang ingin aku perkenalkan. Masuk Lais.” Alka mempersilahkan seseorang masuk dari pintu belakang, kawanan bingung.


“Halo semua, namaku Laisha, panggil Lais aja.” Alisha yang menyamar menjadi Laisha masuk dengan percaya diri.


“Loh siapa ini?” Ganding bingung, Jarni menatap Alka dengan curiga. Karena tidak ada orang yang Jarni tidak kenal dalam kehidupan Alka.


“Dia ini adalah sepupuku, kami tidak saling mengenal dulu, tapi kemarin aku bertemu dengannya melalui mimpi, kami berdua mendapat mimpi yang sama. Aku membawanya karena dia sedang butuh perlindungan.”


“Kau punya musuh?” tanya Hartino.


“Ya, aku butuh perlindungan karena ayahku mau menjualku, jadi aku bersembunyi di sini, bolehkah?” Alisha berkata dengan wajah penuh permohonan.


Alka menatap kesal pada Alisha, karena omongannya berlebihan, masa ayahnya mau menjual dia, jelas itu fitnah, karena setahu Alka dia anak yang dipenuhi kebutuhan hidupnya. Salahnya karena tidak berdiskusi dulu soal alasan dia gabung bersama lima sekawan.


Alka dan Alisha memang terlalu sibuk ritual makanya lupa membahas alasan dia ikut gabung.

__ADS_1


“Tentu saja, kau boleh bergabung.” Aditia berkata dan tersenyum sangat manis, Alka menatapnya tajam.


“Baiklah, sudah cukup perkenalannya, sekarang kita bahas kasus berikutnya, karena gedung terbengkalai itu sekarang aman dan aku mendengar bahwa gedung itu telah siap di renovasi. Misi kita berhasil.”


“Hah? Jadi ruh lelaki yang bunuh diri itu sudah ‘dipulangkan’?” Hartino kaget.


“Ya, sudah.”


“Kalian menyelesaikan kasus tanpaku!” Hartino kesal.


“Makanya jangan ngambek-ngambek kayak Jarni, cukup Jarni aja yang malas ngomong, kau tidak perlu, karena bukan gayamu, rugi kan kau, tidak menyelesaikan kasus yang kita mulai kemarin.” Aditia meledek lagi.


“Dit, kali ini aku loh yang bisa ngambek.” Ganding kesal, kekasihnya dikatai oleh Aditia.


“Ok, ok, maaf.” Jarni tertawa karena Aditia jadi lebih penakut. Memang kadang, setelah pertengkaran, orang baru sadar, kalau kata-katanya sudah melewati batas.


“Jadi, di mana ruh itu ditemukan?” Hartino bertanya.


Alka dan Alisha saling menatap.


“Jadi tuh, Kak Alka melakukan ritual lihat masa lalu Har, kami tahu dia diculik gitu sama wanita dukun gitu, tinggalnya di apartemen, apartemen itu mewah. Udah kaya aja, masih mau jadi dukun. Uang memang bikin orang mabuk dan lupa diri.” Ganding masih kesal dengan penculikan ruh itu.


Alka dan Alisha lagi-lagi saling tatap-tatapan. Alka memegang tangan Alisha agar dia tidak merespon secara tiba-tiba omongan Ganding yang menghinanya, walau Ganding tidak tahu, bahwa dia sedang menghina Alisha.


“Hah? dukun punya apartemen mewah? Luar biasa sekali, pantas saja, dia pasti suka mengoleksi jin ya, pasti buat pesugihan tuh.” Hartino kesal, dia mengeluarkan laptopnya.


“Kamu mau apa?” Alka bertanya dengan tiba-tiba.


“Kasih tahu aku unit apartemennya, aku mau kasih pelajaran dia,”


“Har, nggak usah! Udah aku beresin kok, lagian ilmunya terlalu tinggi.” Alka berusaha menghentikan Hartino yang berusaha untuk mencari tahu pemiliki apartemen itu.


“Kalau nggak bisa pake jalur fisik, gimana kalau jalur pajak?” Hartino masih tidak mau melepasnya, Alisha mulai berdebar, takut ketahuan.


“Ya, dukun itu pasti menyelewengkan dana, tidak mungkin dia taat pajak, pasti dia menyembunyikan semua uang pesugihan itu, karena orang yang tiba-tiba kaya, biasanya jadi mangsa Petugas Pajak, kita bisa mengerjainya dari jalur situ.” Hartino bersemangat untuk mencari informasi.


“Har, nggak usah ya, kasusnya udah kita tutup, kalian nggak percaya padaku?” Alka menggunakan cara paling jitu untuk menghentikan kawanan.


Walau Hartino tidak tahu kalau Alisha tinggal di apartemen, dia tahunya Alisha tinggal bersama keluarganya di rumah, tapi, kepemilikan apartemen itu, tetap atas nama ibunya Alisha. Jadi Hartino akhirnya tahu, siapa wanita yang merek sebut wanita dukun itu.


Alisha berkeringat, walau dia tidak memperlihatkannya pada yang lain, dia duduk berhadapan dengan Hartino di meja makan Alka.


“Yaudah Kak, tapi aneh deh, kenapa sih kita nggak boleh hajar wanita dukun itu? rasanya aku ingin menguliti dia, karena berani mempermainkan misi kita yang niatnya baik ini.” Alisha mendengar Hartino berkata seperti ini semakin berkeringat, kakinya mulai tidak tidak tenang, dia melakukan gerakan seperti orang menjahit dengan mesin jahit lama pada kakinya.


Alka memegang lutut Alisha, tanda agar dia menguasai dirinya. Memang benar ya, Psikolog dan dukun handal macam Alisha saja bisa menjadi bodoh dan panik jika berhadapan dengan yang dia cintai.


Alisha sedari awal perkenalan memang sudah sangat panik, dia pertama kalinya di depan Hartino memakai pakaian kasual yang mirip seperti Alka, hanya atasan kaus dengan ukuran yang besar dan celana jeans dilengkapi sepatu kets, mirip sekali dengan Alka. Tapi dia baru ingat, bahwa ritual itu berhasil, makanya dia tetap terlihat tenang.


“Kita nggak punya waktu untuk mengurus yang lain Nding, ingat? Kasus bapak masih banyak banget, satu kasus saja bisa kita selesaikan sampai beberapa minggu atau bahkan sampai hampir sebulan. Makanya, bisa kah aku menjelaskan tentang kasus kita selanjutnya?” Alka mendapat ide bagus untuk menghidari kecurigaan kawanan.


“Oh iya, nggak ada kerjaan lu, sampai harus nyariin tuh wanita busuk? Udah, jangan di perduliin lagi lah.” Ganding berkata dengan lantang, Alisha menatap Ganding dengan sangat marah, wanita busuk! Dia dikatai, wanita busuk.


Alka kembali menepuk bahu Alisha, mengendalikannya agar tetap tabah dihina dina oleh lima sekawan.


“Yaudah aku masuk ke kronologi kasus baru ya.” Alka membuka buku catatan Mulyana yang di simpan di tengah meja.


“Di kampung ini, setiap anak perempuan yang lahir, pasti memiliki tanda lahir di wajahnya.” Alka memulai kronologi kasus.


“Tahi lalat?” Aditia bertanya.


“Dit, kalau tahi lalat, Kakak bakal bilang tahi lalat, bukan tanda lahir!” perolokan antara lelaki itu dimulai lagi.


“Ya kan aku cuma tanya.”


“Boleh lanjut apa mau berantem dulu nih?” Alka kesal.

__ADS_1


“Sorry Kak.” Hartino meminta maaf, Alisha tersenyum melihat ini, pemandangan yang sangat ingin dia lihat, berkumpul bersama apa yang Hartino anggap penting.


“Tanda lahir itu, ada di sepanjang wajah, dImulai dari dahi turun kebawah hingga ke pipi. Baik pada sisi kanan wajah, hingga sisi kiri wajah.


Tanda lahir itu tidak akan menjadi masalah, jika ... tidak ada kelanjutannya.”


“Apa kelanjutannya Kak?” Ganding bertanya.


“Bayi perempuan yang lahir dengan tanda lahir tersebut, hanya akan bertahan hidup selama 6 bulan, setelah itu, bayi itu akan meninggal dunia.”


“Innalilahi!” Aditia kesal mendengarnya.


“Apa penyebabnya Kak?” Tanya Ganding dia bersemangat sekali.


“Kau tahu mitos tentang anak-anak yang terlahir dengan tanda di wajah yang menghitam?” Alka bertanya lagi.


“Ya tentu saja, katanya mereka lahir saat gerhana lalu orang tuanya tidak menaruhnya di kolong tempat tidur, makanya wajahnya tersentuh oleh kutukan gerhana. Karena gerhana adalah simbol keserakahan ketika seharusnya matahari atau bulan yang bertugas, tapi hari itu, saat gerhana, salah satunya menguasai yang lain, bulan terhadap matahari dan matahari terhadap bulan, walau terjadi beberapa detik saja.” Aditia menguraikannya dengan panjang lebar.


“Ya, itu adalah mitos, karena sebenarnya ada penjelasan medis, anak yang lahir dengan tanda lahir tersebut, tidak semuanya adalah karya dari kutukan, bisa jadi itu masalah medis. Tapi yang ini berbeda, bukan mitos yang terjadi, tak ada kutukan di sana karena anak-anak yang lahir bukan saat gerhana. Bukan juga masalah medis. Karena lagi-lagi anak-anak yang lahir itu sehat hingga mereka meninggal tepat di umur 6 bulan tanpa gejala, tanpa peringatan, hanya tidur, lalu meninggal.”


“Mengerikan sekali.” Ganding bergumam.


“Jadi apa yang ayah tulis di bukunya?” Aditia bertanya.


“Bapak bilang, kalau kemungkinan ini ulang Tinung.”


Tiba-tiba hawa dingin menyeruak ketika nama Tinung diucapkan.


Tinung, adalah sesembahan yang dijadikan patung oleh warga desa jaman dahulu kala. Patungnya berbentuk wanita yang sedang memegang kendi air. Dia dulu dianggap sebagai dewi, dewi rejeki yang memberikan harta dan kekuasaan, terefleksi dari kendi berisi air yang selalu dia bawa. Dipercaya bahwa kendi itu adalah simbol wadah rejeki yang hendak Tinung berikan pada para penyembahnya.


Para penyembahnya selalu memberikan sesajen berupa makanan, kopi dan juga wewangian setiap hari. Tinung punya tempat sendiri dalam setiap desa ketika itu.


Tinung bukanlah patung sesembahan yang kosong, Tinung adalah ....


“Kapan kita ke sana?” Aditia bertanya, sepertinya sudah tidak sabar.


“Tenang, kita perlu waktu dua hari untuk mempersiapkan semuanya. Kalau sekarang, kita makan-makan dulu ya, Lais udah bawa makanan ya?” Alka bertanya, Alisha mengangguk lalu mereka makan malam bersama, dilanjutkan dengan begadang, bercerita, mungkin sampai pagi.


“Hartino ya?” Alisha pura-pura tidak kenal.


“Ya, kau Lais kan?”


“Ya, terima kasih sudah mau membantu cuci piring.”


“Ya, kami terbiasa mengerjakan semua bersama di sini.”


“Padahal kata Alka kau orang kaya ya, tapi mau mengerjakan hal seperti ini.”


“Di sini kami semua orang kaya, jadi bagaimana bisa mau sombong satu sama lain.” Hartino tertawa.


Alisha tersenyum, ini pertama kalinya Alisha menunjukan dirinya yang sebenarnya pada Hartino, gaya berpakaian, gaya bicara, cara makan, dia tidak menjaga sama sekali etika yang biasanya dia jaga di depan Hartino, Alisha menjadi dirinya dalam wujud Lais.


...


DUA HARI SEBELUMNYA


“Kau tahu kan, Alisha? Kalau ritual ini berat, kau mungkin akan kesakitan.” Alka berkata dengan serius.


Sementara Alisha sedang berbaring dan tangan serta kakinya diikat, ada Rania di sana, memastikan nonanya baik-baik saja.


“Aku siap, aku menunggu ini selama belasan tahu, lakukanlah, jangan terlalu lama ok.” Alisha menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


Alka mulai mengiris pergelangan tangannya di bagian yang tidak berbahaya, perlu darah bagian terpenting untuk melakukan ritual ini.


Ritual ....

__ADS_1


__ADS_2