Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 429 : Bulan Madu 27)


__ADS_3

"Baiklah akan aku berikan." Aditia berkata dengan lemas.


"Dit, kita sudah mengambil keputusan, Sak Gede bukan urusan kita lagi! Toh para Balian akan kacau setelah kita tinggal karena kalau pagar yang kita buat hancur, mungkin para Balian akan sadar kalau mereka yang butuh kita."


"Artinya kita tidak menyelesaikan kasus Alka. Artinya kita gagal, artinya kita mungkin akan dianggap remeh oleh mereka, mungkin juga Sak Gede akan mencari cara untuk mengumpulkan kekuatan.


Bukankah ayahku selalu mengajarkan kalian untuk menyelesaikan kasus? Lalu mengapa kita menyerah sekarang?" Aditia kekeh akan memberikan kerisnya.


"Bapak juga tak menyelesaikan kasus Balian."


"Bukan tidak, tapi belum. Dia tidak sempat."


Kawanan terdiam.


"Kalau kita sempat bukan? Kita bisa. Ini hanya keris, memang dari ayahku, memang sangat berharga. Tapi ... kekuatan sesungguhnya ada di dalam diriku, maka pemilik keris ini selanjutnya takkan mungkin sama sepertiku."


"Dit, aku mohon maaf, karena harus jadi perantara permintaan itu." Hartino kecewa pada dirinya sendiri.


"Hubungi Jajat, kita akan adakan ritual pelepasan benda pusaka."


"Kau tidak ingin berdiskusi dulu dengan Abah? Bukankah Abah juga punya hak dalam keputusan ini, mengingat kekuatannya saling terikat?" Alka mengingatkan Aditia.


"Aku akan bicara padanya. Hubungi Jajat, siapkan ritual, kita akan lakukan ritual pelepasan malam ini. Besok siang para Balian harus sudah membantu kita menangkap Sak Gede." Aditia lalu melipir ke kamar utama untuk berbicara dengan Abah Wangsa.


"Aku sudah mendengarnya." Abah begitu keluar dari tubuh Aditia langsung berkata dengan dingin.


"Aku akan melepasnya."


"Kau tuanku, tuan kami. Aku dan keris itu. Semua keputusan itu ada di tanganmu. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa kau mudah sekali memberikannya? apabila mereka memintaku, apakah akan semudah ini juga?" Abah bertanya dengan tajam.


"Tentu saja kalau kau tidak akan aku berikan, Bah."


"Tapi keris itu kau berikan juga kan?"


"Aku terpaksa, kalau ayahku di sini, apa yang akan dia lakukan?"


"Dia akan cari cara untuk tidak melepas keris itu u, kau pikir kenapa dia tidak menyelesaikannya dulu? Karena dia ingin memberikan keris itu padamu. Para Balian telah mengejar keris itu sejak dulu, aku kira mereka sudah tidak ingin ketika kau setuju datang.


Tapi aku salah, ternyata para Balian masih sangat ingin. Seharusnya dari awal Ayi tak pernah memintamu ke sini."


"Abah aku ...."

__ADS_1


"Keputusan sudah kau ambil tanpa bertanya padaku, aku hanya akan patuh. Tapi bertarung tanpa senjata itu akan membuatmu seperti orang yang berjalan pincang."


"Maafkan aku, Bah."


"Aku hanya berharap kalau kelak tidak ada yang menginginkanku, kalau ada, pasti kau akan memberikanku juga." Abah lalu menghilang setelah mengatakannya.


Aditia keluar dari kamar utama.


"Aku sudah menghubungi Jajat, dia akan siapkan ritual malam ini, tapi dia takut datang ke sini, makanya oara Balian perwakilan yang akan datang nanti malam. Mungkin 10 orang Balian yang akan datang untuk ritual." Hartino berkata, mereka ada di ruang tamu.


"Baiklah."


"Dit! Abah setuju?"


"Dia marah, aku tidak heran, seperti yang kau bilang, keterikatannya dengan keris itu memang dalam. Dia sekarang tidak di dalam tubuhku, dia pergi. Aku tahu dia butuh waktu menenangkan diri.


Keris itu memang mutlak bukan milikku walau Abah bilang aku bebas mengambil keputusan."


"Kalau begitu kau yakin Dit?" Alka mengulang lagi, memastikan kalau keputusan itu tidak berubah.


"Ya, aku tetap pada keputusanku."


"Dit, maafkan aku ya. Maaf aku harus memaksamu untuk melakukan itu."


Aditia lalu mempersiapkan untuk memandikan kerisnya, hal yang tidak pernah dia lakukan dulu. Karena memang tidak dinisbatkan untuk dijalani. Bagi Kharisma Jagat, memandikan keris itu bukan hal wajib, tapi dia ingin memberikan penghormatan pada kerisnya.


Karena keris itu sudah menemaninya sejak dahulu. Sejak pertama kali melakukan penjemputan dan pengantaran.


Aditia mengambil baskom yang sudah tersedia di dapur. Dia mengambil air dari dispenser vila, merendam keris tanpa saring itu. Keris yang begitu mini.


Dia lalu bersiap untuk membeli kembang tujuh rupa sementara keris itu masih direndam.


Alka memberikan mantra pada kerisnya, mantra agar tidak terasa energinya.


Aditia pergi mencari kembang tujuh rupa sendirian, dia bersikukuh tidak ingin ditemani.


Alka tahu, dia sedang sedih, tidak ingin diganggu sama sekali.


Aditia mengelilingi Bali dengan motor sewaan, mencari di pasar kembang tujuh rupa.


Begitu dapat dia lalu bergegas pulang. Tapi sebelum itu dia melihat pernak-pernik yang ada di pasar. Dia ingat, kalau selama ini mereka bahkan belum ke mana-mana selain vila itu.

__ADS_1


Menyedihkan sekali menjadi penjemput jiwa tersesat. Bahkan Bali yang indah saja begitu menyakitkan.


Setelah membeli pernak-pernih untuk kawanan, Aditia pulang.


Sampai vila dia melihat kawanan masih sibuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk tirual pelepasan.


Aditia berjalan masuk ke dalam vila tanpa menyapa dan langsung ke tempat di mana keris itu direndam.


Aditia melepas mantranya, mantra yang Alka berikan. Dia ingin merasakan energi keris itu sebelum berpisah.


Aditia menuang kembang tujuh rupa hanya agar kerisnya jadi wangi.


Saat memandikannya Aditia menangis, rasanya seperti akan melepas kekasih hati yang begitu lama menemani dalam keadaan sulit.


Aditia pindah ke belakang vila, dia ingin menangis dengan puas.


Alka mengikutinya tapi tidak mendekati. Dia hanya ingin memastikan bahwa Aditia akan baik-baik saja dan masih ingin memberikan ruang bagi Aditia untuk melepas rasa sedihnya.


Aditia begitu sedih, dia meraung-raung menatap keris itu.


Bahkan untuk Kharisma Jagat saja, keris pusaka masih harus direlakan. Sungguh hidupnya begitu memilukan. Kehilangan banyak hal untuk menolong umat manusia. Yang kadang sangat kejam pada orang-orang baik.


Aditia memandikan keris itu dengan lembut dna berkata.


"Aku tahu bahwa kami tidak diizinkan mencintai benda dengan berlebihan, tapi aku memang sangat berterima kasih padamu.


Karena kau, kami bisa banyak mennolong orang. Kami tidak membuangmu, tapi kami menjaga benda yang keistimewaannya melampaui yang kami kira.


Kau akan dijaga oleh para Balian dengan baik. Mereka tahu cara menggunakan benda pusaka dengan baik.


Mungkin juga kau akan lebih diistimewakan eh mereka melebihi aku.


Aku harap kau akan menjadi benda pusaka yang tetap bermanfaat bagi banyak orang, seperti selama ini kita selalu berjuang.


Walau kau kelak bukan milikku lagi. Tapi percayalah, aku tetap akan mengenangku di hatiku.


Kau itu bukan hanya benda pusakaku. Tapi kau adalah diriku.


Kehilanganmu itu, seperti kehilangan separuh diriku.


Aditia menangis lagi.

__ADS_1


Alka yang mendengarnya ikut menangis.


__ADS_2