
Waktu berlalu dengan cepat. Aep dan Mulyana sudah lulus SMA, saat ini mereka diterima di perguruan tinggi negeri di suatu kota tak jauh dari Ibu Kota, mereka berdua tetap tercatat sebagai anak kembar, bukan adik kakak, banyak dokumen dipalsukan oleh keluarganya, ibu mereka tidak percaya kalau dipisahkan, pasti ada yang celaka, sudah bersama saja masih celaka, hampir saja, kasus kemarin menjadi kasus besar bagi Mulyana, setelahnya dia menangani kasus-kasus sederhana yang mudah ditangani.
Mereka masuk perguruan tinggi dengan mudah, selain karena uang, mereka juga cerdas, jadi selain kecerdasan, koneksi juga tetep dibutuhkan pada tahun untuk masuk kuliah.
Diantar oleh ibunya dengan mobil, dua pemuda itu sebenarnya malu, karena masih tetap tak diizinkan mengemudi, seperti anak sekolah saja, masih diantar mama.
“Udah sih jangan sampe masuk! Malu tau!” Aep protes, Mulyana sudah ngambek sejak tadi, hari pertama kuliah harus diantar kata ibunya ini ritual, setiap hari pertama dalam hidup anak-anaknya, ibunyalah yang harus menjadi orang pertama mengantarkan, makanya ritual ini masih terus berjalan hingga ….
“Hati-hati ya anak-anakku yang tampan.” Ibunya hendak keluar dari mobil dan mencium kening mereka, seperti biasanya, tapi Aep langsung menahan pintu mobilnya agar ibu tak keluar, itu tidak sopan, membuat Mulyana tertawa lalu berlari, akibatnya Aep jadi tetepa dicium walau ibunya masih di dalam mobil.
“Ingat ya, jangan main-main, kalian harus lulus dengan baik dan jangan sampai bikin malu keluarga, jangan sampai kalian ….”
“Bu, udah jam berapa ini, udah ya, aku harus masuk kelas.” Mulyana dan Aep masuk jurusan kuliah yang sama, mereka masuk jurusan Ekonomi dan Bisnis atau biasa disebut Fakultas Ekonomi. Jurusan ini dipilih Drabya untuk dua anaknya, karena mereka perlu belajar Ekonomi dan Bisnis untuk membantu perusahaan ayahnya kelak, walau mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan urusan ghaib, tentu uang tetaplah hal yang harus diurus dengan baik, untuk keberlangsungan hidup banyak orang yang kelak mereka akan tolong. Terbukti, dari kemampuan Mulyanalah, akhirnya banyak uang yang kawanan keluarkan untuk para korban, bisa didapatkan dengan mudah karena perusahaan mereka.
“Aduh!” Mulyana jatuh, rupanya saat berlari menghindari dicium kening ibunya, dia tidak melihat dengan baik orang yang ada di depan, sehingga dia menubruk orang lalu terjatuh, sama dengan orang yang dia tubruk juga, terjatuh.
“Hei! hati-hati kau!” Lelaki itu marah, karena dia jatuh cukup keras karena tubrukan Mulyana.
“Maaf ya, aku tidak sengaja.” Mulyana meminta maaf, Aep melihat itu langsung berlari membantu orang yang ditubruk Mulyana untuk bangun, sengaja agar orang itu tak marah pada kecerobohan adiknya.
“Maaf ya, adikku rabun.” Aep mulai mengarang lagi.
“Adikmu bukan rabun, tapi dia tak hati-hati, kalau rabun pun, pasti aku masih terlihat dengan samar, tapi dia menubrukku karena tidak melihatku, hingga otaknya tak mengantisipasi apa yang dia tak lihat, sedang kalau rabun, masih terlihat samar, otaknya akan tetap memerintahkan untuk menghindar.”
“Iya, aku memang tak hati-hati, tapi aku takjub dengan analisamu. Namaku Mulyana, kau siapa?” Mulyana sudah bangun sendiri dan mengulurkan tangan, untuk kenalan, Aep merasa malu karena dia ketahuan berbohong, lelaki ini bukan tipe orang yang mudah ditipu.
“Aku Dirga, terima kasih sudah memujiku.” Lelaki itu memperkenalkan diri.
“Kau di fakultas apa?” Mulyana bertanya lagi, mereka masih tak meneruskan jalan, mengobrol di tempat mereka jatuh tadi.
“FE.”
“Loh sama dong, kita satu Fakultas.” Mulyana dan Aep terlihat senang.
__ADS_1
“Oh begitu, baguslah.” Ada raut tak bahagia dari diri Dirga saat mendengar dua orang itu bahagia punya teman baru di kampus itu.
“Yuk, kita masuk ke kelasnya, kau sudah tahu di mana kelas kita?” Mulyana menarik Dirga untuk ikut masuk, Aep mengikuti dari belakang.
“Duduk dekatku ya.” Mulyana jarang sekali mau dekat dengan orang lain, karena dia mengikuti kata hatinya, banyak orang yang tidak bisa dekat dengan Mulyana karena dia sangat pemilih jika berteman, mampu menilai orang membuat dia menjadi mampu memilih orang baik dan jahat secara instan.
Mata kuliah dimulai, mereka bertiga bersama banyak orang lainnya mengikuti mata kuliah dengan serius.
Mata kuliah bereakhir, Mulyana dan Aep keluar kelas, Dirga juga tapi tak pamit langsung berlari ke luar, tidak menyapa teman barunya.
“Hei, kau buru-buru sekali.” Mulyana berteriak, Dirga yang diteriaki berhenti dan hanya melambai, tanda kalau dia memang ada keperluan, bukannya bermaksud tak sopan.
“Besok datang lebih pagi ya, sarapan bareng di kantin!” Mulyana berteriak pada Dirga, Dirga hanya memberikan jempol tanda setuju, sedang dia masih tetap berlari.
“Kau suka pada Dirga?” Aep bertanya.
“Ya, kenapa? Kau cemburu yaaa?” Mulyana menunjuk hidung kakaknya, mereka sedang makan di kantin, menunggu ibunya jemput, karena ibunya ternyata belum sampai, mungkin macet, karena belum ada telepon genggam, jadi komunikasi jarak jauh masih terbatas.
“Tidak, aku hanya heran saja, kenapa kau tiba-tiba menjadi sangat ingin dekat pada seseorang?” Aep bingung.
Dari penglihatan itulah aku tahu, dia orang baik, tapi entah bagaimana caranya dia akan jadi Polisi.” Mulyana menjawab rasa penasaran Aep, apakah kalian ingat, siapa pemuda tampan yang dibantu Dirga di kuburan? Karena Mulyana saja tidak tahu siapa pemuda tampan itu, karena mampu melihat masa depan, bukan berarti tahu segalanya tentang masa depan.
“Jadi kau bisa melihat masa depannya yang baik, makanya kau ingin berdekatan dengannya?”
“Ya, dia itu memiliki wajah teduh dan hati yang murni, tapi tegas, lihat bagaimana dia menampik perkataanmu saat membelaku yang menabraknya karena tak hati-hati, dia punya cara berpikir yang sangat luas. Aku juga suka itu.”
“Wah, kau sudah dapat sahabat di hari pertama kuliah, tapi yang ini bisa kita lihat kok, jadi sudah pasti manusia, tidak seperti ….”
“Aku jadi rindu anak itu, ya, Dirga manusia tidak seperti Nando, semoga kami bisa bersahabat seperti aku dan Nando yang saling percaya.”
“Makan, takut ibu keburu dateng, kalau dia nggak lihat kita di luar, dia bakal masuk dan bikin kita malu, punya anak perjaka kok diperlakukan seperti anak kecil, malu aku!”
“Aku juga, ap akita protes aja ke ayah? Aku nggak mau kalau nanti orang menganggap kita anak mama.”
__ADS_1
“Ya, kita harus protes ke ayah.”
Dua kakak beradik yang sangat dekat itu setuju untuk mengkudeta ibunya Sang Ratu pada Rajanya. Dua pangeran itu memang agak menakutkan.
…
Malam tiba, mereka makan malam seperti biasa, ritual makan malam juga sebenarnya hendak kawanan singkirkan dari kebiasaan harian, tapi mereka tidak tahu, harus bagaimana bicaranya, apalagi ibu mereka yang sensitive selalu menangis jika saja dua kakak beradik itu mulai membantah.
“Yah, aku mau kita berangkat kuliah pakai bus saja lah, jangan selalu diantar.” Aep membuka obrolan.
“Memang kenapa kalau diantar ibu? Malu? Malu sama ibu?” Ibunya memulai pertengkaran.
“Ya kan hari pertama ok lah, tapi besok tidak perlu, Bu, kita nih udah bujang, malu dong, nanti disangka tak mandiri.” Mulyana membantu kakaknya untuk membujuk ibu.
“Kalian punya pacar makanya takut disangka manja?” Drabya bertanya.
"Tidak, bukan seperti itu Ayah! ini hanya soal bagaimana kami dipercaya untuk ...."
"Di bus itu tempat yang akan membuat Mulyana kelelahan sebelum sampai tempat kuliahnya, kalau kalian mau coba, ya sudah, silahkan saja." Drabya memotong perkataan anaknya, Aep.
"Tapi aku mau antar mereka, aku mau ...."
"Mau sampai kapan kau memanjakan anak-anak bujangmu? sudah biarkan mereka naik angkutan umum."
"Kasih mobil saja, Yah." Ibunya memberikan ide yang membuat Mulyana dan Aep berbinar.
"Tidak sebelum nilai kalian bagus."
"Ayah, baru juga masuk sehari, masa suruh setor nilai, ayolah, belikan kami mobil ya? hanya agar kami lebih tenang jalan ke kampus, ayah sendiri yang bilang kalau kami akan kesulitan naik bus, aku mohon ayah." Aep memohon atas nama dua orang, agar mereka diizinkan untuk punya mobil berdua.
"Tidak! kalian harus kasih aku sesuatu sebagai gantinya, barter, baru aku akan berlikan."
"Ah sudahlah, kita naik bus saja, Dek. Yuk kita ke kamar, kita belajar! permisi dua anak manja ini mau belajar." Aep menarik adiknya yang masih makan hidangan penutup untuk masuk ke kamar.
__ADS_1
Percobaan kali ini gagal, besok masih bisa dicoba lagi, tapi mereka sudah bertekad untuk naik bus saja besok, karena kalau diantar ibu sungguh memalukan, tapi kalian tahu kan, bus itu sesuatu yang mengerikan untuk anak-anak seperti Mulyana.
Kira-kira apa yang yang akan terjadi besok?