
Rangda masuk tanpa pernah keluar lagi.
Di detik itu Aditia dan kawanan jatuh, keris tak lagi menancap di tanah, semua muntah darah, pertanda energi habis.
Alisha yang telah dirasuki khodam barunya, tiba-tiba memuka mata, mata itu tidak biasa, mata itu bersinar sangat menyilaukan, Alisha mulai menari khas kedatangan Rangda, darah di perutnya telah berhenti seutuhnya.
Karena tarian itu, akhirnya semua makhluk berlari terbirit-birit, tentu saja, Rangda adalah Ratunya para Leak, siapa yang berani meminjam panggung darinya?
Rangda itu juga menghajar semua jiwa parasit hingga tak bersisa satupun.
Anto terbangun dan melihat sepi ....
“Sha, istriku yang cantik, apa itu kau?” Hartino memaksakan diri untuk bangkit dan menghampiri Alisha yang terduduk dengan wajah menunduk tertutup rambut.
“Har, perutku tidak sakit lagi.” Alisha memegang perutnya, lukanya masih ada, tapi tidak sakit.
“Rangda masuk ke dalam tubuhmu.”
“Rangda! Aku memiliki khodam Rangda?” Alisha terkejut.
“Iya sayang.”
“Lalu apakah Alka setuju?”
“Kakak yang memanggil Rangda untukmu, karena tubuhmu menolak khodam yang tidak terlalu tinggi ilmunya.”
“Tentu saja, Esash telah mengambil alih tubuhku dengan sempurna, bahkan rusukku beberapa kali patah karenanya, tidak mungkin khodam biasa diterima tubuh yang sudah babak belur ini.”
“Kakak tahu kalau hanya Rangda yang bisa masuk ke sana, dia tadi ....”
“Mencoba memancing Rangda datang dengan menghadirkan energinya?” Alisha tahu itu, karena teman sejatinya itu kurang memikirkan dirinya sendiri, lain waktu Alisha akan memarahinya, karena dai membuat dirinya hampir celaka, kalau Alka kenapa-kenapa, bisa-bisa Alisha yang dihabisi oleh Aditia. Hubungan kawanan memang sedikit aneh, mereka saling sayang, tapi tetap saja ada manusia favorit yang lebih disayang.
“Iya kau benar.”
“Sekarang bagaimana yang lain?”
“Kita semua kelelahan, tapi tadi kau sudah habisi semua makhluk di sini, kau sudah habisi mereka. Bahkan jiwa parasit itu juga kau habisi. Seperti Lais yang aku kenal.”
Mereka tertawa karena ingat identitas itu.
“Bangun lu!” Ganding menyeret Anto untuk masuk ke dalam vila, sedang semua pengawal dilepaskan, mereka tidak butuh pengawal rendahan yang hanya bekerja karena uang.
“Ampun, ampun!” Anto memohon.
Istrinya Gea menangis di sana. Jiwa aslinya telah kembali, Alisha sudah menjemput jiwa itu dari penyekapan oleh jiwa parasitnya, tentu saja mimpinya dulu yang dia ceritakan pada almarhum adiknya Gea benar, tapi yang dia lihat adalah dirinya sendiri, jiwa parasit yang dia ciptakan sendiri untuk istrinya, agar istrinya bisa dikendalikan sesuai keinginan dia.
“Bagaimana cara kau berkomunikasi dengan Sak Gede?” Aditia memulai pertanyaan, sekarang tangan dan kakinya yang diikat, walau tidak perlu, karena sulit lepas dari kawanan sekarang ini, baik manusia maupun setan.
Tapi kawanan sengaja ikat, masih sakit hati mereka karena berani-beraninya dia mengikat kawanan sebelumnya.
“Aku tidak pernah pernah bertemu dengannya!” Anto berteriak.
“Lalu darimana tubuh-tubuh itu diciptakan, tubuh yang jiwa parasit itu pakai untuk cangkangnya tubuh yang sangat mirip dengan kami?”
“Aku tidak tahu, begitu jiwa itu keluar, maka cangkang juga siap, mana aku tahu darimana itu berasal.”
“Anto kau jangan main-main!” Aditia kesal.
“Anto mana adikku!” Gea berteriak mendekati suaminya dan bertanya dengan berteriak pada wajahnya.
“Sudah mati, aku tumbalkan!” Anto berkata tanpa sedikitpun rasa bersalah.
“Kau jahat, apa kau tahu, adikku itu sangat mengagumimu, dia bahkan di sini untuk menemani kita bukan?!” Gea berteriak sambil menangis lagi.
“Salahnya begitu bodoh hingga tidak mampu berdiri di kaki sendiri, selama di sini dia hanya menumpang padaku, makan dan penginapan, dia tidak mampu bayar, jadi dia di sini bukan untuk kita, tapi untuk dirinya sendiri, yang parasit sebenarnya adalah adikmu itu!”
Plak!
Anto ditampar oleh istrinya.
“Kau memang benar-benar manusia laknat!” Gea marah dan akhirnya duduk di sofa sambil menangis, Jarni mencoba menenangkannya.
“Kau pasti berkomunikasi dengannya bukan?” Aditia melanjutkan pertanyaannya seputar Sak Gede.
“Tidak! aku hanya memanfaatkan kemampuannya, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, itu saja!”
“Apa dia jujur Ka?” Aditia bertanya pada Alka, Alka paham harus apa.
__ADS_1
Alka terpaksa mendekat dan memegang tangan manusia bedebah ini. Alka melihat kejujuran hatinya melalui apa yang pernah dilalui.
“Dia jujur, dia belum pernah bertemu Sak Gede.” Alka akhirnya memberikan jawaban.
“Sudah kubilang!” Anto kesal.
“Aku ingin manusia ini musnah, bolehkah!” Hartino kesal dan hendak membunuhnya.
“Sayang tenang dong.”
“Dia menusukmu, kalau kau celaka, sumpah, akan kucabik-cabik tubuhnya hingga tak dikenali.”
“Tapi aku selamat kan?” Alisha mengingatkan.
“Kita masih belum menemukan objek utama dari vila ini, bagaimana ini?” Aditia gusar.
“Kita kirim Anto ke kantor Polisi saja dulu, untuk mengadukan pembunuhan terhadap adik Gea dan mencelakai Gea dengan sihir, pasti di sini hukuman adat untuk orang dengan ilmu hitam akan sangat berat. Kita pakai hukum Bali saja, biar sekalian dihabisi orang ini.” Hartino, sudah sangat geram dan ingin dia mati saja.
“Nding kau saja yang bawa, kalau Hartino aku takut Anto tidak sampai ke kantor Polisi malah ke alam baka.” Aditia meminta Ganding mengirim Anto ke kantor Polisi.
“Kau pikir aku bisa menahan diri untuk tidak menghabisinya!” Ganding juga kesal.
“Bagaimana kalai begitu, aku saja yang antar.” Alisha menawarkan diri.
“Jangan!” Semua orang tidak setuju, karena bisa jadi Anto terbelah-belah menjadi beberapa bagian.
“Sudah aku saja yang ke kantor Polisi.” Ganding mengalah.
Lalu dia dan Jarni mengantar Anto, Gea sementara waktu di vila itu untuk istirahat.
“Kita akan bahas semuanya setelah Ganding dan Jarni pulang.” Aditia meminta kawanan bersabar, dia juga memesan makanan dari luar, dia takut kalau saja mereka diracuni lagi.
Makanan datang bertepatan dengan Ganding dan Jarni yang sudah pulang dari kantor Polisi terdekat.
“Sudah dipenjara orang itu?” Hartino bertanya.
“Ya, tentu saja.” Ganding berkata.
“Kau pukuli dulu nggak?’
“Iyalah, wajahnya babak belur.” Semua orang puas mendengar itu, karena kalau boleh pilih, mereka akan memilih memusnahkan orang seperti itu dari dunia ini.
“Aku tidak tahu bahwa kau bisa saja berpikir secepat itu Dit, karena kau itu biasanya adalah seorang yang kurang bisa diandalkan di saat-saat terjepit.” Maksud Ganding adalah waktu di mana mereka digiring ke luar vila dan hendak dibakar oleh Anto dan para pengawalnya beberapa saat lalu.
“Kau mau aku hajar!” Aditia kesal pada Ganding yang mengoloknya, dia lalu melanjutkan, “dari otak yang kau anggap bodoh inilah kalian bisa selamat dari kobaran api itu.” Aditia membela diri.
“Aku pikir itu ide gila, Aditia meminta Alka menjadi pemanggil jiwa parasit dalam tubuhnya, Adit ingat bahwa mereka telah melewati vila saat keluar, pasti penyakit jiwa parasit itu sudah menginfeksi mereka, maka tinggal kekasih hatilah yang memanggil jiwa itu keluar dari tubuh Aditia, berhasil, begitu jiwa parasit Aditia keluar, lalu tubuh sebagai cangkangnya juga muncul tiba-tiba , jiwa itu masuk ke dalam tubuh yang sangat mirip Aditia.
Sosok tiruan Aditia ini, langsung diperitahkan Alka untuk membuka ikatannya, jiwa parasit ini menurut karena jiwa yang terbelah itu masih menyimpan rasa cinta yang hebat pada Alka.
Hal yang sama dilakukan oleh semua orang, hingga jiwa-jiwa parasti mereka keluar, memasuki tubuh ciptaan Sak Gede.
Pada saat proses ini terjadi, mereka masih dalam kobaran api yang sangat besar yang dibuat oleh Anto bedebah itu.
Setelah semua lepas, Aditia dan kawanan memukul jiwa parasit itu, jiwa dengan tubuh yang sempurna, seperti yang Anto bilang bahwa dia membuat para jiwa parasit ini memiliki tubuh sempurna, yang tidak hancur saat berdekatan dengan pemilik jiwa asli, atau tuan dari belahan jiwa yang terpisah karena Sak Gede itu.
Keenam jiwa parasit itu selanjutnya terbakar oleh api yang dibuat oleh Anto. Kelak keenam orang ini dianggap kawanan, karena buktiya tubuh terbakar itu sangat mirip dengan kawanan.
Anto sangat senang ketika melihat api mati dan 6 tubuh gosong itu tidak bergerak.
Padahal kawanan asli telah menyelinap masuk ke dalam vila lagi, tapi sebelumnya jiwa mereka telah mereka pagari, agar tidak lagi terbelah dan menjadi duplikasi dari diri mereka sendiri, pagar ghaib ini mantra dari Alka dan ramuan yang Alka bawa dari markas ghaib, mantra dan ramuan itu sungguh manjur, jiwa mereka takkan lagi bisa dibelah oleh penyakit yang dibuat Sak Gede itu.
Setelah berhasil masuk, mereka kembali menyelinap pada barisan diri mereka sendiri yang berbasir layaknya boneka tanpa emosi.
Kawanan berusaha terlihat sangat mirip sikapnya dengan jiwa-jiwa parasit itu agar tak dicurigai Anto.
Maka kejadian selanjutnya kalian semua tahu.
“Kak, apakah Rangda ini aman di dalam tubuh Alisha?” Hartino bertanya, mereka baru saja selesai makan, makan yang tidak diracun.
“Minum dulu ramuan bermantra ini, agar energi kita kembali, tadi sudah terkuras saat pemilihan khodam Alisha.”
Semua orang meminum ramuan kecuali Alisha.
“Kenapa aku tidak dikasih?” Alisha protes.
“Kau tidak butuh, kau dalam keadaan sangat fit bukan?” Alka memberi alasan.
__ADS_1
“Ya, aku hanya merasa seperti ... saat Esash ada di sini.” Alisha menunjuk dadanya.
“Karena Rangda memiliki energi yang sama besarnya seperti Esash. Tidak heran, akan seperti itu rasanya.” Alka menjelaskan.
“Kak, pertanyaanku belum di jawab.”
“Dulu waktu Esash kau bawa dari negara lain, apakah kau ada masalah di bagian imigrasi Bandara?” Alka bertanya, dia dan Alisha tertawa.
“Tentu saja, aku harus membayar pajak, apa namanya Nding? PPN?”
“PPN dan PPh.” Ganding menimpali dan ikut tertawa.
“Memang Esash barang mewah yang dilarang keluar tanpa membayar denda!” Hartino kesal.
“Rangda akan menjadi masalah di tempat dengan adat yang berbeda mirip Bali, Rangda akan menjadi pendatang jika saja penunggu kota itu seperti Bali, tidak menerima setan, jin, demit dan lainya masuk ke wilayah mereka, maka akan jadi masalah.
Tapi kalau kita kembali ke rumah, di mana setan, jin dan ruh semuanya berasal dari banyak daerah, artinya tidak berlaku daerah kekuasaan, maka Rangda aman kembali ke rumah kita.
Karena itu prisipnya adalah, daerah kekuasaan, Bali dikuasai dengan adat dan ilmu ghaib yang berbeda, sehingga semua makhluk ghaibnya merasa kota mereka adalah daerah kekuasaan yang tidak boleh diinjak oleh makhluk ghaib pendatang, sekali injak tanpa izin dan takkan diizinkan, maka kita dianggap menabuh genderang perang.
Tapi kota kita? Apakah ada adat dan budaya seperti itu? ada khodam dari tanah Pasundan, Karuhun dan juga Khodam dari kota-kota lain yang tinggal di kota rumah kita berada, maka tidak akan ada pergesekan yang cukup signifikan atau mengancam untuk Alisha dan Rangda kembali.
Aku justru malah takut satu Hal ....” Alka memotong ucapannya.
“Apa itu Kak?” Hartino bertanya dengan khawatir.
“Justru Rangda yang tidak biasa dengan semua makhluk-makhluk di tempat tinggal kita, aku takut dia malah akan menantang jin-jin lain di kota kita, itu yang harus kita jaga.”
“Bukankah dia memang preman sejak sebelum Rangda masuk?” Ganding mengejek.
“Jadi potensi keluar kita mungkin mudah, potensi masuk juga sama, malah justru istriku yang jadi ancaman bagi jin di kota kita gitu?” Hartino mengambil kesimpulan.
“Makanya kita perlu ekstra hati-hati menjaga Alisha.” Alka mengingatkan.
“Lalu bagaimana dengan Sak Gede? Apakah kita harus menghancurkan rumah ini sampai Sak Gede mau keluar?” Aditia kembali pada pembahasan.
“Dit, mimpimu?”
“Ibu Penari itu?”
“Iya.”
“Apa kita tidak lebih mendalami, apa hubungan mimpi itu dengan Sak Gede?”
“Apakah vila ini adalah tempat persembunyiannya?” Aditia bertanya.
“Tapi tak ada sanggar atau ruangan untuk menari di sini, bekasnya pun tak ada.” Ganding menjelaskan.
“Tapi tidak mungkin Sak Gede tidak di sini, karena semua kekacauan ini dia yang buat bukan?” Hartino berasumsi.
“Apa kau ingat Dit, tarian yang dia lakukan, itu tarian apa? musik yang kau dengar seperti apa?” Ganding bertanya pada Aditia.
“Mana aku tahu, budaya Bali kan bukan budayaku, kalau tarian Sunda dan lagu Sunda mungkin aku paham, mana aku tahu.”
“Kalau begitu kita akan dengar satu persatu lagu tarian Bali dan juga tarian Bali, satu persatu.”
“Tapi Nding, bukankah itu jumlahnya banyak sekali?” Aditia bertanya.
“Banyak, mungkin puluhan atau ratusan, entahlah, tapi harus kita cek satu persatu.”
“Nding!” Aditia paling benci dengan pekerjaan seperti ini, memeriksa satu persatu.
“Kita tidak punya cara lain, sekarang atau kita lupakan soal Sak Gede? Toh Gea udah selamat, Anto akan dipenjara, sudah selesai tugas kita, lalu kita pagari vilanya agar tidak bisa dilihat lagi, kamu bisa kan Dit?” Ganding memberi solusi yang takkan pernah diambil oleh mereka. Karena itu artinya mereka menyerah.
“Mana bisa kita pergi begitu saja, Nding.”
“Makanya aku memintamu pagari, agar tidak terlihat seperti sebelumnya.”
“Tapi bagaimana jika pagarnya jebol lagi kayak sekarang, tiba-tiba vila ini muncul setelah berapa lama terpagari dan tidak bisa dilihat siapapun?” Aditia bertanya pada Ganding.
“Kalau begitu kau dan Jarni bisa berkolaborasi membuat pagar itu agar jadi lebih kuat dan tidak terlihat lagi, jadinya ....”
“Nding ... apa katamu tadi?”
“Yang mana? Kan kata-katakku banyak.”
“Pagari lagi vila ini agar tidak terlihat?”
__ADS_1
“ASTAGA, PAGAR!” Semua orang baru sadar dan mereka semua mulai paham benang merahnya.