
“Serius Om, kita boleh punya rumah di sini?” Tanya Anto keponakan yang cukup dipercaya itu.
“Bisa,” Nanto menjawab dengan muka yang aneh, lalu setelahnya dia tidak dapat menahan ketawa, “bisa kalau Om udah punya helikopter, jadi kita besok-besok ke puncaknya naik helikopter.” Nanto ketawa dengan kencang sekali, dia memang bermaksud mengerjai keponakannya yang gampang percaya orang ini.
“Om bercanda ya! Anto kira benar loh!” Anto kesal karena ternyata dia dikerjai Nanto.
“Ya bercandalah To, ini tuh puncak, angin dan suhunya tidak cocok untuk tubuh kita yang terbiasa dengan cuaca bersuhu tinggi seperti ini, tapi boleh juga mimpimu tinggi, supaya kamu punya landasan untuk berjuang, misal punya rumah di daerah puncak untuk kita liburan nanti.”
“Ah Om nih, ada-ada saja, Anto gimana mau sukses, kuliah saja nggak.”
“Tuh kan, makanya kalau Om suruh kuliah, kamu mau, seperti Ardin, malah dia yang ngajuin kuliah, kamu malah minta kerja sama, Om."
“Anto nggak suka kuliah Om, mau belajar bisnis aja sama Om, kalau kuliah paling akhirnya jadi pegawai saja.”
“Loh enggak dong, kalau kuliahnya bisnis, jadinya pengusaha loh, To. Apa nanti mau Om daftarkan setelah kita turun? Ada loh kuliah malam, jadi setelah Anto tutup agennya Om, bisa pergi kuliah, gimana?”
“Nggak Om, makasih, kuliah mah bikin lama kaya, Anto pengen cepet kaya, jadi Anto kerja aja dulu, belajar bisnis sama Om.”
“Yaudah, terserah kamu, pokoknya kalau sudah siap untuk kuliah, kamu tinggal bilang ya, Om bakal biayain, yang penting kamu harus belajar bener dan rajin, Om nggak akan keberatan kuliahin semua keponakan Om.”
“Kenapa gitu sih Om? Nggak sayang uangnya, trus nanti anak-anak Om, gimana?”
“Roda itu berputar Anto, sekarang Om banyak bantu orang, biar nanti kalau Om lagi susah, banyak yang mau bantu Om, walau mungkin bukan dari orang-orang yang Om bantu, tapi pasti Allah kasih jalan.”
“Iya Om, semoga aku bisa kayak Om, ya.”
Nanto melihat semua orang sedang bahagia, senang karena bisa sampai puncak tepat waktu, hari ini rencananya mereka akan turun, jadi total naik hanya dua hari saja, kalaupun mereka kelelahan, bisa menginap semalam lagi, baru besok paginya turun, karena persediaan makan masih banyak, Nanto memang mencadangkan makanan untuk lima hari, untuk jaga-jaga saja, jika ada orang yang papasan dan membutuhkan makanan, Nanto bisa bantu.
Maklum terkadang orang naik gunung itu, tidak selalu mempersiapkan semua dengan baik, ada saja yang akhirnya kekurangan makanan karena naik dan turun tidak sesuai target.
Setelah satu jam lebih mereka di atas, Nanto menginstruksikan supaya semua orang bersiap turun, semua patuh, berkumpul dan mulai bersiap berbaris lagi, Anto tetap paling depan dan Nanto paling belakang.
“Yuk, mulai jalan ya!” saat Anto berteriak seperti itu, tiba-tiba salah satu keponakan Nanto batuk, awalnya hanya batuk ringan, lalu makin lama batuknya intens dan semakin kencang, hanya butuh waktu satu menit, tiba-tiba keponakannya itu memuntahkan darah yang banyak saat batuk.
Semua orang yang melihat itu langsung berteriak, mereka kaget dan takut, tapi di antara teriakan itu, ada satu orang lagi yang mengalami hal yang sama, batuk-batuk dan akhirnya muntah darah.
Suasana semakin ricuh, Nanto yang melihat itu mencoba menolong semua orang, dia mendekati keponakannya yang pertama batuk darah, keponakannya itu pingsan, lalu dia berlari ke keponakan yang kedua muntah darah, sama, kondisinya keponakan yang kedua itu juga pingsan.
Tiba-tiba istrinya Nanto juga ikut batuk darah, lalu anaknya yang paling kecil, disusul anaknya yang pertama, mereka juga ikut batuk darah.
Satu persatu tumbang, semua orang batuk darah dan pingsan, suasana menjadi mencekam, aura kebahagiaan karena berhasil ke puncak menjadi aura ketakutan.
Yang tersisa hanya Nanto, Ardin, Anto, dua keponakan laki-laki dan satu keponakan perempuan, sisanya tumbang.
Nanto yang tadinya masih mencoba tenang, melihat anak dan istrinya ikut terkapar, dia tidak mampu lagi menyembunyikan ketakutannya.
“Angkat satu-satu, kita kepinggirkan dulu yang pingsan. Ada yang bawa flysheet? Kita bentangkan flysheet dulu supaya mereka bisa kita tidurkan di atas flysheet.” Perintah Nanto.
“Ada Om.” Ardin menjawab, dia dan satu keponakan laki-laki menmbentangkan tiga flysheet, mereka ternyata membawa beberapa flysheet, rencananya apabila di puncak hujan mereka bisa berlindung di bawah flysheet karena tenda masih di pos empat semua. Tapi, ternyata flysheet sudah berubah fungsi menjadi terpal untuk mereka yang pingsan.
“Sini Om.” Ardin meminta Nanto dan semua orang yang masih sehat untuk membaringkan semua orang di atas flysheet.
Satu persatu dibaringkan, setelah selesai semua, tiba-tiba satu orang yang membantu, mulai menunjukan gejala yang sama dan berakhir di atas flysheet, hanya sisa beberapa orang saja yang tidak tumbang.
“Ada apa ini?” Nanto menangis, dia bingung, karena tidak ada satupun pendaki yang bisa dimintai tolong, apalagi ini ada begitu banyak orang yang pingsan, bahkan tadi saat Nanto memeriksa kembali keponakannya yang pertama pingsan itu, dia sudah tidak bernafas dan nadinya sudah tidak terasa, Nanto semakin panik.
Di tengah kepanikannya, Nanto melihat kabut di puncak gunung mulai keluar, Tuhan ada apa lagi ini, Nanto bergumam dengan wajah ketakutan.
“Om, ada kabut, gimana ini?” Ardin memperlihatkan wajah ketakutan yang sama, sementara Anto yang masih selamat buru-buru mendekati Nanto.
Yang tersisa saat ini hanya, Nanto, Ardin, Anto dan dua keponakan laki-laki, total lima orang yang masih selamat.
__ADS_1
Tapi tidak butuh lama, dua orang keponakan yang lain ikut tumbang, sekarat mirip yang lain, Nanto semakin menjadi takut, anak istrinya juga sudah terkapar, apakah menunggu waktu saat Nanto dan dua keponakan lainnya ikut tumbang.
Kabut semakin tebal, kabut itu membawa hawa dingin yang menusuk daging seperti duri, ketakutan karena semua orang tumbang dan ketakutan dengan rasa dingin, membuat Nanto akhirnya berbicara kepada dua keponakan yang masih tersisa, yaitu Anto dan Ardin.
“Hanya tinggal kita, kalian berdua turun, aku akan menjaga mereka, tolong Om, kalian cari bantuan, mumpung kabut belum terlalu tebal, ikuti jalur yang tadi kalian lewati, Anto sudah mahir naik gunung dalam cuaca buruk begini, bimbing Ardin turun, begitu kalian bertemu dengan Ranger, kalian harus segera meminta mereka membawa Tim SAR sebanyak mungkin, karena ada delapan belas orang yang harus mereka angkut ke bawah … hidup ataupun mati.”
“Tapi Om, bagaimana dengan Om? Ini dingin banget cuacanya, apa tidak lebih baik kita turun bertiga” Anto bertanya.
“Tidak, harus ada yang menjaga tubuh-tubuh ini, lagian, di sini ada istri dan anak Om, mana mungkin Om tingalkan.”
“Kita bukan tinggalkan tapi mencari bantuan, Om.” Anto masih mencoba membujuk.
“Om mohon, pergilah, bukankah Om tidak pernah meminta bantuan apapun sebelum ini? Kalau begitu kalian kembali dengan Ranger, Om tidak selamat, bantu Om menguburkan semuanya ya, bantu Om mengurus wasiat yang sudah Om siapkan sebelumnya, kalian berdua sudah tahu kan, Pengacara yang harus kalian hubungi? Jadilah Wali dari warisan tersebut, salurkan kepada yang tepat, mengerti?” Rupanya Nanto sudah mempersiapkan jika tiba-tiba dia harus meninggalkan dunia ini, dia sudah mengkuasakan dua keponakannya ini untuk mengatur warisannya, agar anak dan istrinya tidak terlantar, tapi sekarang anak dan istrinya saja kemungkinan sudah tiada dan dia hanya tinggal menunggu waktu, kabut ini pasti cepat lambat membuatnya kena Hypothermia, karena tanpa tenda dan baju seadanya, tubuh manusia tidak akan bertahan lama dalam dinginnya puncak gunung yang berkabut tebal.
“Om, kita harus tetap bersama, ayolah Om.” Anto tetap membujuk.
“Tidak, cepat pergi sekarang atau kalian tidak akan pernah bisa membawa seluruh tubuh kami sampai ke bawah!” Nanto berteriak, dua keponakan memperlihatkan wajah sedih begitu mereka berjalan turun ke bawah, sementara kabut mulai menghampiri tubuh-tubuh yang terbujur kaku itu, termasuk tubuh yang masih hidup, tubuh Nanto.
“Apa yang harus kita lakukan?” Ardin bertanya pada Anto.
“Nggak tahu, kita turun aja dulu ke tenda di bawah, berjaga-jaga kalau kabut semakin tebal, kita bawa satu tenda untuk berjaga-jaga, aku takut kalau kabutnya terlalu tebal, kita tersesat, tapi kita tidak punya tenda untuk berlindung. Makanya kita harus bawa satu tenda untuk pencegahan saja.”
“Bagaimana kalau kita membawa salah satu tenda juga untuk Om Nanto? Setelah itu kita baru turun?” Ardin memberi usul.
“Tidak bisa, kita tidak akan berhasil, untuk turun kita mungkin butuh waktu dua jam, lalu saat kita naik lagi, ada kemungkinan kita tersesat, karena kabut akan tebal, kalau kita turun dan membawa salah satu tenda untuk berjaga, kita bisa memanfaatkan waktu untuk sampai ke pos pendaftaran dan memanggil Ranger dalam waktu lima sampai enam jam, kalau kita beruntung akan lebih cepat dari itu, kabut masih di atas, jadi masih aman untuk turun,” Ucap Anto, Ardin cukup heran karena tadi Anto terlihat tidak ingin meninggalkan Om Nanto, tapi sekarang dia malah ingin buru-buru turun.
“Apa kita benar-benar akan meninggalkan mereka semua?” Ardin bertanya lagi.
“Seperti yang aku katakan pada Om Nanto, kita tidak meninggalkan mereka, kita mencari bantuan, makanya kita harus bergegas, Anto yang memiliki kemampuan survival tentu menghadapi kejadian semacam ini mungkin saja dia bisa lewati.
“Tapi aku takut, aku tidak bisa meninggalkan Om, sendirian!” Ardin bersikeras, dia sungguh sangat perduli kepada keluarganya, di sana ada adiknya Erdin yang juga ikut terkapar.
“Kau mau ikut, atau tunggu di pos ini?! kalau kau mau menunggu, kita bagi dua perbekalan makan, kita berpisah, aku akan membawa bantuan segera ke sini.” Anto bersiap, setelah mereka sampai di pos empat tempat di mana tenda berada, dia melipat tenda dengan cepat, tidak mengulungnya rapih, dia memilih tenda yang paling tipis dan paling kecil, agar mudah dibawa.
“Aku … aku tidak tega meninggalkan mereka."
"Makanya kau harus cepat! Semakin kau cepat, kemungkinan menyelamatkan sisanya akan lebih besar!” Anto kesal Ardin terlalu lama membuat keputusan.
“Baiklah aku ikut.” Anto tersenyum, akhirnya Ardin mau ikut, mereka mulai jalan dengan cepat berdampingan.
setelah berjalan satu setengah jam, sebentar lagi sampai di pos tiga, ternyata tanpa rombongan, mereka jalan lebih cepat, satu setengah jam sampai di pos ketiga, seharusnya dua sampai tiga jam, mungkin karena mereka berjalan dengan cepat.
“Kita istirahat dulu ya?” Ucap salah satunya.
“Iya boleh.” Mereka berdua istirahat, udara dingin mulai menyeruak, kabut terlihat begitu gelap di atas sana.
“Apakah mereka baik-baik saja?” Tanya salah satunya.
“Mungkin, semoga kita bisa menyelamatkan mereka.” Jawab salah satunya.
Lalu setelah beristirahat selama lima belas menit, mereka berjalan kembali, jalanan tidak begitu terjal, tapi cukup berat karena kabut tipis mulai mengikuti mereka.
“Hati-hati, licin.”
“Iya, kau juga.”
Pada satu titik, tiba-tiba salah satunya menunduk, mengambil sebongkah batu, menyembunyikan batu tersebut di punggungnya, lalu saat waktunya tepat, dia memukul kepala saudaranya tersebut dengan sangat kencang.
Tubuh sepupunya itu ambruk, melihat sepupunya jatuh, dia lalu melihat bagian kepalanya yang sudah ada di tanah, kepala itu mengeluarkan cairan segar berwarna merah, untuk memastikan bahwa sepupunya itu sudah mati, dia kembali memukul batu yang dipegangnya ke kepala sepupunya beberapa kali dengan kekuatan tumbukan yang cukup hebat, sepupunya yang tumbuh bersama, sepupu yang saling menjaga kala orang tua tidak ada.
Karena pukulan batu yang kencang itu dilakukan berkali-kali, maka tengkorak sepupunya terlihat patah dan keluar dari kulit penjaganya, yaitu kulit kepala .Lelaki yang memukul saudaranya dengan kejam itu, lalu membungkus tubuh saudaranya dengan tenda yang mereka bawa, setelah membuat seluruh tubuh itu terlilit tenda, dia menggotong mayat sepupunya, lalu melempar mayat itu ke tepi jurang, saat melemparnya, dia mendengar suara tumbukan beberapa kali, menandakan bahwa tubuh sepupunya itu mendarat berkali-kali di tebing yang keras.
__ADS_1
Dia tertawa, karena sekarang sudah beres semua, dia juga tahu, Nanto pun, sekarang pasti sudah mulai lemas, dia sengaja membubuhkan racun pada dosis yang lebih sedikit di peralatan makan Nanto, dia ingin Nanto melihat kalau dialah yang membunuh seluruh keluarga dan saudaranya.
Sayang saudara sepupunya harus meninggal secara tragis barusan, dia seharusnya tadi ikut makan dengan peralatan makan yang telah dibubuhi racun, orang itu ternyata tidak makan dengan peralatan yang sudah dibubuhi racun, dia membawa alat makannya sendiri, maka dari itu, si pembunuh harus mengotori tangannya dengan darah, karena racun tidak masuk ke tubuh sepupunya yang itu.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, si pembunuh naik dengan kecepatan yang sangat di luar nalar manusia, dia bisa naik bahkan ketika kabut semakin tebal dan udara semakin dingin.
Dalam waktu satu jam dia sudah di pos empat, lalu satu jam berikutnya, dia sudah kembali ke puncak, udara di puncak semakin ekstrim, benar dugaan pembunuh itu, Nanto terlihat lemas, dia tidur meringkuk karena kedinginan.
Sebelum menghampiri Nanto, si pembunuh mengambil tas yang sudah dia sembunyikan di semak-semak tadi pagi, tas peralatan yang akan membantunya menjalankan rencana.
“Om.” Panggilnya.
“Loh kok kamu balik lagi, mana ….” Nanto berkata dengan lemah sambil masih meringkuk.
“Dia sudah mati.”
“Kau!”
“Ya, aku Om, memang Om fikir mereka semua batuk dan muntah darah begitu kenapa? kedinginan? Om ini kan anak gunung, seharusnya tahu, hypothermia tidak menyebabkan muntah darah Om, racun yang menyebabkan mereka semua batuk dan muntah darah, Om.” Dia tertawa cengengesan.
Si Pembunuh lalu mulai mengikat tali pada suatu pohon dan menggotong mayat salah satu saudaranya ke arah bibir puncak dengan cara menggendongnya di belakang. Rupanya sekitar lima meter ke bawah dari bibir puncak arah dalam, ada gua, lalu di gua itulah dia menyembunyikan mayat pertama, pantas Tim SAR tidak bisa menemukan mayat-mayat itu, karena memang sengaja disembunyikan di tempat yang tidak terduga, padahal tidak jauh dari bibir puncak, tapi siapa yang sangka ada gua di bibir puncak bagian dalam itu, hanya lima meter dari atas puncaknya, tidak terlalu sulit untuk turun, makanya Si Pembunuh bisa dengan santai menaruh mayat-mayat itu.
Setelah menaruh mayat di gua itu, dia lalu naik kembali, berencana mengambil mayat-mayat lain.
“Mau kau bawa kemana istriku, anak-anakku dan saudara-saudaramu itu?”
“Kita rekreasi Om, di bawah ada gua, kalian aku bawa ke sana lalu kalian bisa tidur nyenyak di sana, selamanya!” Si Pembunuh tertawa dengan sangat puas.
“Kenapa kau melakukan ini?” Nanto semakin lemas dan suaranya semakin sulit didengar.
“Aku antar dulu anakmu ke gua ya, Om.” Jawab Si Pembunuh kejam itu.
“Aku mohon, jangan lakukan ini.” Nanto memohon.
“Mereka sudah tidak bernafas lagi, Om.” Jawabnya, lalu dia mulai turun lagi menggendong anaknya Nanto yang pertama.
Tidak berapa lama dia naik lagi.
“Kenapa kau melakukan ini?” Nanto kembali bertanya.
“Apalagi, Om? Ya uang, lah!” Si Pembunuh masih berusaha menggendong mayat lain lagi.
“Apa uang bisa membuatmu sebuta ini?” Nanto hampir kehilangan kesadaran, sedang Si Pembunuh sudah bolak-balik ambil mayat, total sudah delapan orang yang sudah diturunkan, dia lalu beristirahat.
“Kau biadab.” Nanto masih mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.
“Aku? Memang, makanya jangan terlalu baik, ini semua salahmu Om, kau memberiku kesempatan untuk melakukan ini, kau baik atau sekedar pamer bahwa hartamu banyak, bergaya dengan membawa kami semua naik gunung.” Si Pembunuh rupanya merasakan iri yang sangat dalam pada kehidupan omnya.
“Tuhan tidak tidur, Dia akan menghukummu!” setelah mengatakan itu, Nanto akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
“Tuhan? Tuhan tidak terlalu perduli pada kita Om, buktinya hidupku miskin saja, padahal aku sudah berdoa meminta harta, tapi tidak juga dikabulkan, Dia tidak terlalu memperhatikanku, Om.” Walau tahu Nanto sudah mati, Si Pembunuh masih terus mengoceh.
“Setelah ini, semua harta kekayaan Om, akan menjadi milikku, karena surat kuasa itu jelas ada namaku dan dia, tapi dia sudah aku habisi juga, jadi tinggal aku, aku akan kaya raya, tenang Om, aku akan mengurus kekayaanmu jauh lebih baik, tidak sepertimu, dibagi-bagikan dan dihambur-hamburkan untuk orang-orang tidak berguna itu!”
Si pembunuh kelelahan, dia lalu istirahat di dalam tenda yang sudah dia sembunyikan tadi dan tentu saja baju hangat ditambah segelas kopi dan makanan, rencananya dia akan menaruh kembali mayat-mayat yang tersisa sebelas orang itu, setelah istirahat dan tidur beberapa jam, karena waktunya hanya akan sampai besok, setelah besok, pasti orang-orang akan mulai mencari, karena batas orang naik gunung ini hanya tiga hari, setelah hari ketiga tidak melapor telah turun, maka akan diadakan pencarian.
"Gunung memang tempat yang tepat untuk membunuh orang." Ucap Si Pembunuh.
__________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Ada yang sadar nggak, di paragraph-paragraf terakhir aku tidak mencantumkan nama pada setiap perbincangan antara pembunuh dan korban?
Kalau sadar, berarti kalian bisa mulai menebak, sudah aku kerucutkan ya, ada dua suspect, pertama Anto, kedua Ardin, menurut kalian, siapa pembunuhnya di antara kedua orang ini?