Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 451 : Kamboja 13


__ADS_3

Abah memapah Alka dan mengeluarkannya dari ruangan itu, Aditia melihat Abah keluar dari ruangan ICU, dia pamit ke Zubaedah, Aditia bilang akan mencari Alka, padahal dia sudah melihat Alka yang sedang dipapah menjauh dari ruangan ICU oleh Abah, Aditia mengejar mereka dan memilih tempat lebih sepi untuk menanyakan pada Alka apa yang terjadi di dalam tadi.


“Apa yang terjadi?” Aditia bertanya, dia dan Abah sudah berada di tempat yang lebih sepi, hingga tak ada yang bisa melihat dan mendengar apa yang mereka katakan.


“Itu jiwanya atau bukan?” Aditia bertanya pada Alka yang masih lemas.


“Jiwanya.” Alka menjawab dengan yakin.


“Lalu kenapa kau jatuh lemas?”


“Aku tidak tahu, aku memegang bahunya karena dia tak menggubrisku, aku heran kenapa dia tak masuk ke dalam tubuhnya yang sedang sekarat dan memilih untuk melihat saja, apa dia benar ingin mati?” Alka bingung.


“Bah, ini apa? apa kau paham dengan situasi ini?”


“Sepenjang pengalamanku berhubungan dengan manusia, semuar manusia begitu takut mati, semua manusia rela melakukan apapun agar tetap bisa hidup, bahkan ada yang bersekutu dengan jin agar bisa tetap hidup abadi, walau mereka selalu saja akhirnya kecewa, karena yang hidup hakikatnya pasti mati, kecuali Tuhan Yang Maha Esa.


Bahkan malaikat ciptaannya yang paling tak berdosa pun, akan mati, apalagi kita. Maka jika saja ada jiwa manusia yang ingin mati, itu artinya ... kematian lebih membuatnya bahagia bukan?” Abah Wangsa hanya menebak saja, ini termasuk bagian dari pemikiran dengan akal sehat.


“Lalu apa yang membuatnya bahagia dengan kematian? Dia jauh dari istri dan anaknya.” Aditia bertanya.


“Mungkin dia pikir, mati pun tak akan membuatnya jauh dari anak dan istrinya.”


“Pemikiran gila macam apa itu?” Aditia kesal.


“Dit, kau ingat tidak, perkataan istrinya supir taksi, kalau saat dia melihat ruh suaminya yang sedang koma itu, suaminya hanya berkata satu kalimat ... aku akan kembali, kenapa aku merasa ada relasi antara dua kejadian ini, kita harus memastikan pada istrinya Dino, apakah dia juga bertemu jiwa suaminya dan berkata hal yang sama?” Alka mengingatkan kejadian istri supir taksinya itu.


“Baiklah, tapi aku mau kau kembali ke markas ghaib, jangan kembali dengan tubuh manusiamu, kau lemah. Alka, semenjak ke Bali dan energimu diserap oleh Dewi Iblis itu, aku merasa kau sering kehabisan energi, apakah kita perlu untuk ....”


“Tidak Dit, jangan berlebihan, kau ingat, terowongan juga membuat kita semua lemas, bukan hanya aku saja, kau dan yang lain juga, mungkin karena jiwa ini datang dari tempat itu, makanya memiliki energi yang sama dengan tempat itu, melemahkan kita, jadi tidak ada hubungannya dengan kondisiku. Oh ya, kalau dengan aku kembali ke markas ghaib kau lebih tenang, aku akan kembali, tapi aku mohon, cari informasi sebanyak mungkin, karena tidak ada yang lebih menakutkan dari, keyakinan tentang kematian yang lebih indah dari hidup, memancing setiap orang untuk lebih memilih mati ketimbang hidup dan berusaha lagi.”


“Iya Alkaku yang baik hatinya, aku akan berusaha lebih keras lagi.” Aditia senang Alka mengerti kekhawatirannya, makanya dia juga akan berusaha lebih keras lagi.


Alka pergi dengan tubuh jinnya ke markas ghaib agar lebih cepat dan Abah serta Aditia masih di tempat yang sama.


“Alka berbohong, energinya jelas sangat tipis, dia kehilangan banyak energi saat diserap oleh Dewi iblis itu, kau harus cari cara agar kondisinya pulih, ingat, jika dipaksakan, dia akan kehilangan salah satu jati dirinya, kau tahu kan, kalau dia menjadi manusia sepenuhnya, artinya dia akan kehilangan kemampuan untuk membantu kalian lagi menyelesaikan berbagai kasus, lalu kalau dia kehilangan wujud jinnya, maka kau dan Alka tidak akan pernah bersatu, karena hukumnya haram bagi seorang manusia apalagi Kharisma Jagat menikah dengan seorang jin.”


“Abah, aku tahu itu, aku tahu dia berbohong, aku akan bertanya pada Ayi, apa yang harus aku lakukan dengan tubuh itu, aku tahu energinya yang diserap oleh Dewi Iblis itu cukup banyak, karena untuk mengelabui banyak setan di tempat itu, tapi aku tidak tahu bahwa energi itu menjadi lubang atas kemampuannya, tidak bisa kembali lagi seperti semula.”


“Kau dan kawanan harus semakin berhati-hati, semakin lama, musuh kalian semakin tidak mudah diatasi, aku saja lelah mengikuti kalian menyelesaikan kasus, apalagi kalian, makanya kalian harus lebih bijak dan hati-hati, terkadang tidak semua kasus harus kalian selesaikan.”


“Baik Bah, untuk kasus ini, mari kita ke dalam dan bertanya dengan istrinya tukang ojek ini.”


Setuju dengan pendapat Aditia, Abah masuk ke dalam tubuh Aditia dan mereka berdua dalam tubuh yang sama kembali ke ruang ICU dan menemui istrinya Sardino.


“Bagaimana keadaan Pak Dino, Bu?” Aditia bertanya, mereka terlihat lebih tenang dan sedang duduk di depan ruang tunggu ICU.


“Alhamdulillah Pak, suami saya sudah stabil lagi walau tadi sempat kritis, doakan kami ya Pak, semoga suami saya lekas bangun dan sembuh hingga bisa bekerja lagi.”


“Iya Bu, maaf saya mau tanya satu hal lagi, karena kebetulan saya juga baru saja mewawancarai istrinya supir taksi yang juga menjadi korban kecelakaan di lokasi yang mirip dengan kecelakaan suami ibu, bahwa dia melihat suaminya sebelum meninggal dunia, karena suaminya juga koma. Kata istrinya supir taksi itu, dia melihat suaminya di luar ruangan ICU, sesaat sebelum suaminya meninggal dunia, saat melihatnya, istrinya berkata, kalau suaminya mengatakan satu kalimat, kalimat itu adalah ....”


“Aku akan kembali,” istrinya menangis mengatakan itu, “apakah suami saya juga akan meninggal dunia, Pak?” Istrinya tersadar apa yang coba ingin disampaikan oleh Aditia.


“Jadi benar, Pak Dino juga mendatangi Ibu? Dia juga mengatakan akan kembali seperti bapak supir taksi itu?” Aditia memastikan sekali lagi.


“Iya Pak, apakah suami saya akan bernasib sama?” Edah sangat takut.


“Takdir orang beda-beda, Bu. Saya sering melihat banyak kecelakaan atau maut di tempat yang sama, tapi takdir orang itu tidaklah sama, belum tentu suami ibu akan memiliki takdir yang persis seperti bapak supir taksi itu.”

__ADS_1


“Semoga omongan Bapak menjadi doa untuk kami, amin.” Zubaedah setelah mengatakannya dia kembali bergabung dengan keluarga suaminya dan Aditia pamit kepada mereka semua.


Setelah pamit dia kembali ke markas ghaib untuk melihat kekasihnya yang sedang lemah, dari semua yang dia takutkan, hanya satu yang mungkin akan membuatnya hancur dan tak mampu bertahan, jika kekasihnya terluka, dia takkan bisa hidup dengan baik lagi.


...


“Apa kita tak terlalu jauh, Nding?” Jarni bertanya, mereka sedang di dekat terowongan itu.


“Jangan terlalu dekat, kita akan terdeteksi olehnya, di sini cukup.”


“Kalau sampai ada korban dan kita tak bisa menyelamatkannya karena kejauhan gimana?” Jarni bertanya lagi.


“Kita berdoa saja, kalau korban takkan ada lagi, aku lebih suka kalau menjaga dengan sia-sia karena tak ada korban.”


“Baiklah.” Jarni akhirnya setuju.


Mobil mereka telah di pagari Jarni agar energi mereka tak terasa dan terlihat oleh siapapun yang memiliki sosok ghaib di dalam terowongan itu, pagar Jarni terkenal tebal dan sulit tembus.


Walau hanya Aditia yang mampu menyamai pagarnya, tapi menyerupai bukan berarti terbaik.


Malam semakin larut, Ganding agak mengantuk, istirahat selalu jadi hal yang mewah untuk kawanan, mereka punya uang banyak tapi tidak punya waktu yang cukup untuk menikmati itu semua.


Jarni stanby, dia memang cukup mampu begadang, karena dulu dia sering sekali begadang hanya agar tidak melihat ular-ular mininya dalam mimpi, dulu saat kecil dia bahkan biasa tidak tidur berhari-hari.


Makanya begadang adalah hal biasa baginya, tidak seperti Ganding yang suka sekali tidur.


Saat dia sedang memperhatikan terowongan itu, tiba-tiba dari dalam terowongan, keluarlah seorang wanita dengan rambut panjang tergerai, tapi ditutup kerudung hitam, semua pakaiannya serba hitam, wanita itu berjalan dengan anggun ke luar dari terowongan itu.


Jarni memperhatikannya dengan perasaan berdebar yang aneh, dia terlihat sangat cantik dan menakutkan, bahkan bagi Jarni sekali pun, yang terbiasa melihat sosok yang sangat mengerikan, tapi sosok ini punya daya tarik yang jauh lebih gelap, dia berjalan dengan anggun, sebentar, bukan berjalan, Jarni melihat dari kejauhan makanya dia pikir wanita itu berjalan, tapi dia salah, wanita itu tidak berjalan tapi melayang.


Jarni terdiam dengan nafas yang terasa berat, dia takut dan mencoba membangunkan Ganding, aneh, Ganding tak bangun sama sekali.


BRUK!!! GEDEBUM!!!


Wanita itu loncat-loncatan di atas mobil mereka, Jarni berusaha membangunkan Ganding tapi tak juga bangun, mobil mereka bahkan bergelombang bagian atasnya, karena injakan dan loncatan sosok wanita itu membuat atap mobil mereka membentuk penyokan yang tajam.


“Nding! Bangung!” Jarni terus berteriak memanggil kekasihnya agar bangun.


Sosok wanita itu terus berusaha merusak mobilnya, Jarni tidak berani keluar, dia ketakutan, sangat ketakutan hingga tak mau keluar, dia tahu energinya begitu besar, bahkan pagar tebalnya tidak mempan di hadapan wanita ini, dia melihat mereka dan energinya tembus masuk ke dalam mobil yang sudah dipagari, Jarni menangis, dia menelpon dengan gemetar, dia menelpon Aditia, Aditia mengangkat teleponnya.


[Dit, tolong!] Jarni berteriak, karena Ganding masih tertidur sedang Jarni masih di dalam mobil.


Hening, tak ada lagi sosok itu di atas mobil mereka. Jarni kembali hendak bicara di telepon dengan Aditia, tapi urung karena telepon genggamnya mati, entah kenapa karena baterainya penuh tadi.


Jarni masih was-was, dia melihat keadaan sekitar,  dia ingin memastikan bahwa wanita itu telah pergi. Jarni akan mengemudi dan menjauh dari terowongan itu.


Tapi saat dia sedang berusaha memindahkan tubuh Ganding dari kursi pengemudi, tiba-tiba dia melihat wanita itu telah berada di depan mobilnya, wanita itu tertawa menyeringai dengan wajah cantik yang mengerikan.


Setelah tersenyum pada Jarni, dia menarik bagian bawah mobil, yang berada di antara ban mobil, dan menyeret mobil itu seolah mobil itu sangatlah ringan.


Jarni menangis dan hendak ke luar dari mobil, tapi semakin dekat dengan terowongan, semakin lemaslah dia.


Mobil itu diseret masuk terowongan, mereka bisa masuk sana, Jarni pingsan bersama dengan Ganding, sebelum pingsan dia melihat ke dalam terowongan, di mana mobilnya diseret masuk dengan tangan wanita itu, di dalam terowongan itu banyak sekali orang, bukan orang, tapi jiwa, sesak sekali, Jarni tahu kalau dia dan Ganding akan menjadi korban berikutnya.


...


[Har! Jarni menelponku, dia minta tolong, kau lacak keberadaan mereka! apakah Alka di markas?] Aditia menelpon Hartino, karena dia masih di jalan, hendak pulang ke markas ghaib.

__ADS_1


[Aku akan cek keberadaan mereka, terakhir mereka ke terowongan itu, Kakak udah di sini.] Hartino menjawab.


[Jangan sampai Alka tahu kalau Jarni meminta bantuan, dengar aku baik-baik, Alka sedang lemah, kau pastikan dia tidur, lalu setelah itu aku butuh Alisha untuk ke sini, kau temani Alka di markas, buat alasan apapun agar dia tak keluar dari markas, mengerti?] pemimpin kawanan mengeluarkan sifat alphanya untuk memberi perintah.


[Baiklah.] Hartino patuh, dia tahu kenapa Alisha yang Aditia inginkan untuk mendampinginya, karena tak dapat dipungkiri kalau Alisha jauh lebih kuat dari siapapun di kawanan, kekuatannya sebanding dengan Aditia.


Alisha langsung berkendara ke arah terowongan setelah memastikan posisi Jarni dan Ganding masih di terowongan itu, Aditia sudah tahu, dia juga putar balik dan pergi ke terowongan itu.


Tak lama kemudian mereka sampai.


“Ganding dan Jarni tak ada di sini.” Aditia dan Alisha berada di dekat terowongan tapi cukup aman dan tak merasa lemas.


“Kau yakin mereka tak ada di sini?” Alisha melihat keadaan sekitar.


“Tidak ada sejauh mata memandang, tapi ....”


“Aku juga merasakan energi mereka walau tipis, itu kan maksudmu?” Alisha melanjutkan perkataan Aditia.


“Ya, aku masih merasakan sisa energi mereka yang tipis.”


“Maka mungkin ... mereka ada di dalam sana.” Alisha menunjuk terowongan itu.


“Aku akan coba telepon Jarni.” Aditia kembali mencoba menghubungi Jarni, tapi sayang, teleponnya mati.


“Tidak bisa dihubungi.” Aditia berkata dengan sangat cemas.


“Ganding! Coba hubungi dia.”


“Iya.” Aditia mencoba hubungi Ganding, teleponnya berdering, tapi tidak diangkat setelah beberapa kali Aditia mencoba menelpon.


“Bagaimana?”


“Tidak diangkat.” Aditia menjawab.


“Aku akan paksa diriku masuk ke sana, hanya memastikan bahwa mereka tidak ada di sana.”


“Jangan paksakan, aku sudah kehilangan dua orang saat ini, aku tak mau mempertanggung  jawabkannya jika kelak kau juga hilang pada Hartino, dia bisa membunuhku!”


“Aku juga tak mau kehilangan orang yang aku sayang lagi, kalau mereka kenapa-kenapa dan Alka tahu, kita semua yang akan dibunuh dia, kau tahu kan, bagi Alka Jarni adalah adik kecil yang sangat dia sayangi.”


Alisha lalu berlari ke arah terowongan, siapa tahu dia bisa masuk ke sana dengan cara itu, tapi semakin dekat, semakin lemaslah dia, tidak sampai pintu masuk Alisha jatuh tersungkur, Aditia langsung menariknya menjauh.


“Tidak bisa Alisha! Tidak bisa!” Aditia tidak mampu menahan air matanya, dia sungguh takut kalau Ganding dan Jarni sungguh di dalam dan akan menjadi korban berikutnya.


__________________________________________


Catatang Penulis :


Aku kaget ada 1 komentar yang bisa menebak dengan benar, tapi takkan aku kasih tahu yang mana, nanti kalau udah aku part jawaban, yang komentar benar pasti ngeh kalau dia sudah bisa menebak.


Alur takkan aku ubah kok, walau sudah ada yang menebak benar. Jadi, selamat penasaran.


Selamat malam, terima kasih untuk kalian semua yang selalu nungguin aku up.


Komentar kalian selalu jadi pelipur laraku.


BTW maaf agak slow upnya, aku dan anakku baru sembuh dari sakit.

__ADS_1


Terima kasih buat yang selalu doain sehat ya. Semoga kita semua selalu sehat.


__ADS_2