
“Siapkan tempat, aku akan mengadakan ritual, aku sudah menusuk Alka dengan kerisku, aku menringankan efek Lanjonya yang sedang kambuh.”
Semua orang terdiam, mereka seperti melihat sosok lain yang tidak pernah Aditia tunjukan, sosok seorang pemimpin yang sebenarnya.
“Dit, Alka ….” Ganding hendak bertanya tapi perkataannya dipotong oleh Ganding.
“Kau pikir siapa yang paling khawatir padanya selain aku? Siapkan tempatnya, waktu kita tidak banyak.” Aditia meminta semua orang fokus pada permintaannya.
Lalu semua orang menyiapkan tempat seperti yang Aditia minta, kain kafan sebagai alas untuk Alka dibaringkan, kembang tujuh rupa untuk memandikannya, lalu darah Aditia. Darah dingin yang bisa jadi obat sekaligus penyakit.
“Semua udah siap, Dit.” Ganding memberit tahu Aditia yang masih menemani Alka yang dia tidurkan di kamarnya.
Aditia menggendong Alka kembali, dia membaringkannya di atas kain kafan putih. Setelah itu dia memandikan Alka dengan pakaian lengkap, kembang tujuh rupa selalu menjadi pilihan untuk membersihkan energi negatif, kembang tujuh rupa terdiri dari mawar, gading merah, gading putih, kenanga, melati, kantil dan sedap malam, setiap kembang mewakili kebaikannya masing-masing, maka selalu digunakan untuk banyak ritual, termasuk ritual yang akan Aditia lakukan, ritual yang bisa hanya bisa dilakukan oleh Kharisma Jagat dengan kelas paling tinggi.
“Kau akan menyembuhkan Lanjonya?” Ganding bertanya lagi.
“Kau pikir aku mampu? Perlu beberapa Tetua untuk melakukan itu, aku akan mengunci Lajonya untuk sementara waktu, tidak hilang tapi meringankan efeknya, tapi … ritual ini akan aku tambah dengan ritual tambahan, ritual ini akan membuat Alka lupa dengan kejadian hari ini.”
“Dit ….”
“Kalau salah satu dari kalian ada yang berani mengatakan pada Alka bahwa aku tahu tentang Lanjonya, maka aku pastikan, kalian akan kehilangan Alka, aku akan membawanya pergi dan menjauh dari kalian.” Aditia mengatakannya dengan dingin.
“Dit!” Hartino kesal, dia hendak mengeluarkan senjatanya, tanda menantang, Alisha buru-buru menahan tangan Hartino, dia tahu bahwa ketika Aditia telah merubah dirinya menjadi Kharisma Jagat sesungguhnya, maka siapapun di sini bukan tandingannya, karena dia tepat berada di bawah kelas Ayi Mahogra, pemimpin Kharisma Jagat, bisa dibilang dia adalah Panglima Kharisama Jagat.
“Dit, bisa dibicarakan dulu nggak!” Ganding ikut terpancing emosi, Jarni terlihat ketakutan karena dia sangat takut kehilangan Alka, dia hanya akan menurut pada Aditia.
“Tidak! Dia milikku.” Aditia menunjuk Alka.
Ganding mundur satu langkah, dia mengerti sekarang.
“Kau … kau terkena Lanjonya Alka?” Ganding maju dan memegang tangan Aditia.
Aditia menatap Ganding dan berkata, “Dia sudah memegang jantungku, aku ingat sekarang, dulu sekali, dia sudah memegang jantungku, aku terkena Lanjonya sejak saat itu.” Aditia mengatakannya masih dengan dingin.
“Tidak heran bapak memisahkan kalian, kalian berdua akan sangat berbahaya jika disatukan.” Ganding baru menyadarinya, bahwa ketika jadi Karuhun Aditia, Alka memegang jantung Aditia untuk meredakan Lanjonya dan itu membuat Aditia menderita penyakit yang sama.
“Kalian pasangan gila!” Lais kesal ketika tahu ini secara jelas.
“Lakukan apa yang aku katakan, aku memerintahkan kalian, bukan meminta, mengerti!” Aditia memperlihatkan sisi pemimpinnya yang paling keras, yang lain mengangguk dan akhirnya melakukan ritual itu, setelah memandikannya, dengan pakaian lengkap, Alka diminumkan darah Aditia, itu membuat Lanjonya akan terikat, selanjutnya adalah membaca mantra dengan kekuatan ghaib yang dimiliki Aditia dan Abah Wangsa dan tentu saja kawanan, walau mereka bukan tetua yang bisa membuat Lanjo Alka sembuh, tapi kekuatan mereka bersama membuat Lanjo terkunci untuk sementara waktu.
Semua ritual selesai dalam waktu tiga jam, kawanan lelah karena ritual ini memang berat, Lanjo Alka sangat dalam, penawarnya saja sulit ditemukan. Sementara Lanjo Aditia masih bisa ditahan, karena dia manusia istimewa.
“Dit, gimana soal sumur itu?” Ganding bertanya lagi, semua orang sedang beristirahat, sementara Alka ditidurkan dikasurnya.
“Kita akan tetap menyelidiki apa yang terjadi dengan sumur itu, aku sudah mencium bau air dari sumur itu, benar-benar anyir, makanan yang paling jin suka.”
__ADS_1
“Kau yakin itu jin? Bukan jiwa yang tersesat?” Hartino bertanya.
“Aku yakin dia jin, karena aku merasakan energi yang sering aku rasakan ketika berdekatan dengan Abah Wangsa dan juga Alka. Kalau itu jiwa, dia takkan memiliki aroma yang sama seperti yang aku cium.”
“Kalau begitu Dit, apa yang harus kita lakukan?” Hartino bertanya lagi.
“Apa yang kau dapat selama mengeililingi desa ini?” Aditia bertanya balik.
“Aku dan Lais menemukan bahwa, sumur itu sebenarnya adalah sumur yang sangat bersih dan jernih. Dari tahun delapan puluhan sumur itu selalu digunakan untuk mandi dan bahkan masak, hingga tahun sembilan puluhan, terdapat soal rumor.” Hartino berhenti mengatakan tentang rumor itu.
“Apa?” Semua orang bertanya karena tidak sabar dengan cerita Hartino.
“Rumor tentang Suminah yang dibunuh oleh orang terdekatnya, katanya Suminah inilah yang menjadi hantu penunggu sumur itu. Hanya sebatas itu informasi yang aku dapat dari warga sekitar, tidak ada yang benar-benar tahu kejadian aslinya."
...
Tahun 90an
“Neng Suminah, baru pulang?” Seorang pemuda bernama Deden bertanya, yang ditanya hanya hanya mengangguk dan tersenyum.
Biasa bagi pemuda di sana jika malam hari berkumpul untuk ronda, saat itu, wilayah desa memang tidak aman, tidak ada penerangan yang cukup, jarang yang punya telepon genggam untuk menjadi alat darurat menghubungi orang lain jika dijahati orang, walaupun ada, tapi telepon genggam hanya milik kaum elit.
“Den, masih aja elu suka ama si Suminah?”
“Tapi, dia bulan depan bakal nikah loh, Den.”
“Ya masih bulan depan kan? masih ada waktu, siapa tahu nggak jodoh.” Deden memaksa.
“Lu juga kenapa sih? nggak berani bilang kalau suka dia.” Seorang teman yang lain bertanya.
“Karena ibu dan ayahnya terlalu gula harta, aku tidak bisa berikan apapun yang mereka inginkan, aku hanya buruh lepas. Kau tahu itu kan?” Deden menunduk.
“Iya, kamu juga tahu, makanya jangan tunggu yang terlalu tinggi, coba kamu cari wanita lain. Suminah itu terlalu tinggi untuk kau gapai.” Teman itu membalas perkataan Deden.
“Aku juga bisa apa kalau hatiku seperti itu.” Deden berkata dengan pelan hingga tak ada yang mendengar.
“Den, kita kerjain calon suaminya aja, gimana? kita cari rumahnya, identitasnya, siapa tau kalau calon suaminya bukan perjaka, katanya dia kaya raya dan Suminah kerja di tempat calon suaminya. Jangan-jangan Suminah dijadiakan istri kesekian.” Teman yang lain menimpali.
“Aku sudah lakukan, tapi lelaki itu benar-benar baik, dia adalah orang kaya dengan bisnis keluarga yang sangat besar. Tidak heran kalau Suminah memilih lelaki itu.” Deden tertunduk lagi.
“Kau yang salah, tidak pernah mengatakannya pada Suminah kalau kau suka dia. Kau malah sibuk sapa-sapa pendek aja, nggak mau nganterin pulang.” Teman Deden kesal dengan kelakuan sahabatnya.
“Udah berisik lu pada, tuh ngudut ama gorengan, jangan lupa kopinya.”
Mereka lalu meneruskan obrolan sebelum Suminah datang. Bagi Deden, ini obrolan yang memalukan, karena semua warga kampung tahu, dia sangat menyukai Suminah, mungkin juga Suminah tahu Deden menyukainya, tapi Suminah diam dan hanya bersikap ramah, Deden tahu itu.
__ADS_1
Pagi datang, seperti biasa, Suminah berangkat kerja, Deden yang saat ini hendak berangkat kerja juga, tidak sengaja bertemu Suminah di jalan, lalu Deden menawari tumpangan.
“Makasih Den, aku dijemput di depan gang,” jawab Suminah.
Deden hanya mengangguk lalu pergi, tapi tidak benar-benar pergi, dia mengikuti Suminah dari jauh, benar saja di depan gang ternyata dia sudah dijemput, dengan sebuah mobil yang cukup bagus, tahun itu, dijemput mobil adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Pantas saja Deden ditolak, dia sudah kalah jauh dari segi kendaraan saja.
Sementara di dalam mobil Suminah sedang merapikan dandanannya.
“Sudah siap kamu?” tanya pria itu, wajahnya tampan dan sangat berkelas.
“Iya, Mas,” Suminah menjawab.
Mobil melaju ke sebuah gedung perkantoran yang sangat besar, rupanya mereka ada pertemuan dengan client.
Suminah dan lelaki itu lalu diantar ke tempat mereka meeting. Rupanya ada tender yang sedang mereka usahakan, yaitu lapangan golf yang cukup besar di kota itu. Lelaki yang menjemput Suminah bukan lelaki biasa, dia adalah lelaki yang sangat kaya raya, bisnisnya adalah kontraktor. Usaha turun temurun keluarganya, kalian pasti berpikir, betapa beruntungnya Suminah memiliki kekasih sehebat itu.
“Jadi bagaimana Pak, proposal kami?” Lelaki itu bertanya pada seorang lelaki gendut, tua, berkulit hitam, berwajah sangar dan terlihat sangat rakus.
“Sudah, ya, pada dasarnya semua proposal sama, tidak ada bedanya, harga yang kau tawarkan juga, mirip-mirip dengan yang lain.” Lelaki itu tampak tidak terlalu tertarik dengan tawaran dari rekan Suminah.
“Kalau begitu, saya ada tawaran yang lebih bagus, apakah bapak tertarik?” Lelaki itu tiba-tiba berkata dengan wajah penuh misteri.
“Apa?” Lelaki gendut itu bertanya, dia terlihat penasaran.
“Kali ini, Suminah yang akan jelaskan, Pak, saya tinggal dulu ya, nanti setelah Suminah selesai jelaskan, Bapak bisa hubungi saya kembali untuk membicarakan proposalnya lebih jauh.” Lelaki rekan Suminah itu meninggalkannya sendirian bersama lelaki gendut yang tampak sangat suka dengan tawaran itu.
Suminah ditinggalkan berdua saja dengan lelaki gendut itu, Setelah ruangan hanya mereka berdua, Suminah mendekati bos peruhaan dan memberikan semua kepuasan yang lelaki selalu inginkan, keistimewaan Suminah adalah, dia mampu melayani dalam setiap kondisi dan situasi. Parahnya, dia lakukan itu atas nama ... cinta.
Dua jam berlalu, Suminah sudah kembali ke mobil rekan lelakinya itu, Suminah terlihat kelelahan.
“Gimana sayang? Kamu capek?”
“Iya, lelaki itu berat sekali dan banyak maunya.” Suminah mengeluh, dia terlihat membaringkan tubuhnya di bangku mobil.
“Tapi, kita dapat proyeknya, katanya kau ingin segera menikah.” Lelaki itu membujuk agar Suminah mau tetap melayani semua pria hidung belang yang harus dia layani agar proyek kekasihnya bisa diterima.
“Iya, aku lakuin ini buat kita, kau bilang kita akan menikah tahun ini kan?” Suminah berkata dengan mendayu, seolah rayuan itu benar adanya.
Mobil melaju, Suminah dan pacarnya akan ke kantor mereka. Kalau di knator mereka dikenal sebagai bos dan sekertaris, bos itu tidak pernah memperkenalkan Suminah sebagai kekasihnya, wanita-wanita di kantor itu juga sangat tergila-gila dengan pria mapan, berumur belum genap tiga puluh tahun, pewaris perusahaan kontraktor orang tuanya.
Mereka merasa bahwa pria yang bernama Nicko itu sangat sempurna, kata-katanya lemah lembut, tidak pernah marah pada bawahan, kaya raya dan berwajah tampan.
Hanya Suminar yang tahu, pria seperti apa sebenanry Nicko ini, pria yang bisa melakukan segalanya agar bisnisnya lancar.
Pria yang menjanjikan pernikahan pada wanita yang telah dijualnya ke beberapa client, apakah pria seperti ini akan menikahi wanita yang jelas sudah kotor?
__ADS_1