
Akbar ditemani Pak Ari di ambulan, sementara lima sekawan dan juga istri Pak Ari ada di angkot Aditia.
Ganding dan Aditia ada di kursi depan, sedang sisanya di belakang.
Dalam perjalanan Alka mulai bertanya pada istri Pak Ari.
“Apa yang terjadi?”
Istri Pak Ari masih terisak memikirkan Akbar.
“Tadi saat aku menawarkan kalian untuk membuat kopi atau teh, apakah kalian melihat aku menuntun anakku ? kami ke dapur untuk memberinya minum, karena dia bilang padaku bahwa dia haus.”
“Lanjutkan dulu.”
“Lalu aku mengambilkan air, sementara dia menunggu di belakan tubuhku, tapi pada saat aku berbalik, Akbar yang lain tiba-tiba datang, aku melihatnya baru saja datang sementara Akbar yang kutuntun masih tepat di belakangku. Aku melihat Akbar yang baru saja datang itu berusaha menyakiti anakku, Akbar yang pergi bersamaku ke dapur. Karena takut Akbar yang baru datang itu menyakiti anakku, aku segera mengambil pisau, lalu … lalu … menusuk Akbar yang baru datang itu, karena aku yakin, dialah setannya, Akbar yang benar itu adalah yang pergi ke dapur bersamaku.” Dia terisak kembali, lalu melanjutkan.
“Setelah aku tusuk, Akbar yang baru datang itu berlari ke belakangku, aku mencoba menusuknya lagi, makanya aku berbalik, tapi saat aku hendak menusuknya lagi, kau menepuk pundakku dan aku tersadar, bahwa … bahwa yang aku tusuk adalah anakku sendiri.”
“Kenapa kau yakin bahwa Akbar yang kau tuntun ke belakang untuk mengambil air adalah anakmu?” Alka bertanya.
“Karena … Akbar yang tidur di sampingku minta air, aku lalu berdiri dan hendak mengambil air, saat aku sudah sampai pintu kamar, Akbar tiba-tiba menuntun tanganku, aku yakin dia Akbarku karena dia menuntun tanganku dan dia datang dari belakangku, berarti dia dari tempat tidur kami, jadi aku yakin dia adalah Akbarku.”
“Kau tidak menengok lagi ke tempat tidur untuk memastikan bahwa dia memang benar Akbar?” Alka terus mencoba merunut kejadian.
“Tidak! karena dia datang dari belakangku sudah pasti dia Akbar anakku, tidak mungkin setan itu, karena jelas Akbar yang meminta air dan saat aku hendak ke belakang dia datang dari belakangku dan menuntunku, aku … aku ….”
“Ka, baunya nggak kecium?” Hartino yang duduk di sebrang Alka bersama Jarni bertanya.
“Tidak, dia sengaja berada di balik tubuh Ibunya Akbar ini untuk menutupi baunya, setan licik!” Alka kesal.
“Aku tidak berniat menusuk anakku, demi Tuhan aku lebih baik mati daripada mencelakai anakku, aku hanya takut setan ini mengincar anakku, makanya aku ….”
“Dia memang mengincar anakmu, untuk membuat orang tuanya jauh dari Tuhan.” Alka menjelaskan.
“Ka, jelasin dari awal, biar kita tahu.” Hartino meminta penjelasan lengkap.
“Jadi, kemungkinannya seperti ini, yang meminta air benar Akbar anak Pak Ari, lalu yang lari dan menuntun ibunya Akbar, adalah si setan itu, dia sengaja mengalihkan perhatian ibunya Akbar dengan langsung menuntunnya, dia yakin ibunya Akbar tidak akan memeriksa lagi apakah Akbar masih di tempat tidur atau tidak, makanya dia menampakkan diri dan langsung meraih tangan ibunya Akbar.
Akbar masih di tempat tidur. Lalu saat ibunya Akbar ke belakang dan menawarkan kita buat teh atau kopi, setan itu berada di balik ibunya Akbar, aku sebenarnya sedikit mencium bau busuk, tapi dia menutupi baunya di balik tubuh ibunya Akbar, aku fikir dia masih di luar makanya baunya samar. Licik sekali!” Alka kesal.
__ADS_1
“Lalu?” Istri Pak Ari dan Hartino bertanya bersamaan.
“Kemungkinan Akbar melihat setan itu menuntun ibunya dan ibunya meraih tangan setan itu yang berpura-pura menjadi dirinya, makanya Akbar berlari mengejar ibunya, dia ingin memberitahu ibunya bahwa setan yang dituntun itu bukan dirinya, makanya kita melihat Akbar berlari, karena dia masih kecil, dia tidak mengerti hal yang seharusnya dia lakukan adalah meminta bantuan kita, karena Dalam fikirannya, dia tidak mau ibunya diambil setan, biasanya fikiran anak kecil begitu.”
Istri Pak Ari terisak mendengar itu.
“Lalu saat sudah berhasil menyusul ibunya, pasti si setan memprovokasi Akbar agar mencoba menyerang setan itu, seperti berkata, ‘ibumu kuambil’. Ketakutan terbesara seorang anak kecil adalah, ibunya diambil anak lain, benar tidak?” Alka bertanya pada semua orang dan semua mengangguk tanda setuju.
“Kejadian berikutnya adalah, Akbar asli mencoba menyerang setan, namun karena ibunya salah sangka, dia menyangka setan yang dia tuntun adalah anaknya, maka dia menyerang anaknya sendiri.”
Istri pak Ari histeris mendengar itu semua.
“Ini bukan salahmu, Bu. Setan itu penuh tipu daya, dari mengincar Akbar, maka dia bisa menguasai satu keluarga dan mungkin satu kampung.”
“Kok bisa?” Ganding yang di depan menemani Aditia menyetir bertanya ,
“Dengan mencelakakan Akbar melalui ibunya, maka keluarga Pak Ari terancam berantakan, lalu setelahnya akan tersiar kabar mengenai betapa menakutkannya rumah itu, maka satu kampung menjadi ketakutan, lalu untuk para pelaku pesugihan akan menganggap rumah itu sakral, lalu menjadikan rumah itu sebagai markas kemurtadan. Lengkap rencananya.”
“Untung tadi Ka Alka keburu curiga.” Ganding mengatakannya.
“Tapi tetap saja aku terlambat, seandainya aku memperhatikan bau busuk itu.”
“Setan itu mengelabui kita, Ka. Tidak ada yang berharap hal buruk terjadi kecuali setan itu, makanya sekarang fokus pada Akbar dulu.” Aditia menenangkan Alka.
“Tapi, aku telah berdosa menyerang anakku sendiri.” Istrinya Pak Ari menutup wajahnya dan merasa bersalah.
“Rupanya ini tujuan setan itu selalu menyamar menjadi Akbar, dia ingin menimbulkan keraguan pada hatimu, Bu. Dengan keragu-raguan itu makanya dia berhasil menipumu, sudah beberapa hari ini dia selalu muncul dengan wujud Akbar bukan?” Alka kembali geram.
“I-iya..”
“Jelas, dia merencanakan semua kesesatan ini, rencana setan memang penuh tipu daya.” Alka meremas tangan tanda hatinya marah.
“Tapi aku tidak bisa berbohong.” Istrinya Pak Ari berkata dengan penuh penyesalan.
“Kalau kau mengaku, Akbar akan kehilanganmu, kau harus memperbaiki hubungan ini, meluruskan ingatannya bahwa kau tidak bermaksud untuk menyakitinya, kalau kau di penjara, maka kau akan banyak kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungan, bijaklah.” Alka mencoba mempengaruhinya.
Semua orang setuju untuk menutupi kejadian ini, Alka yakin bahwa wanita ini sebenarnya hanya sedang salah sangka dan terpedaya tipu daya setan.
Begitu sampai di rumah sakit, semua turun, ambulan sudah sampai duluan, lalu rumah sakit langsung menangani Akbar, dia masuk ruang operasi.
__ADS_1
Mereka semua menunggu di dekat ruagn operasi, benar saja, tidak berapa lama Polisi datang, Alka melihat istrinya Pak Ari dan menatapnya dengan tajam, dia tertunduk.
“Apa yang terjadi?” Polisi itu menanyakan ke semua orang, Pak Ari, langsung maju dan dia mencoba menjelaskan pada Polisi. Untung Alka tadi sudah berbicara empat mata dengan Pak Ari. Pak Ari jauh lebih mudah diajak koordinasi ketimbang istrinya, mereka berdua orang baik.
“Kecelakaan, Pak. Malam tadi Akbar minta air, lalu istri saya mau ambilkan, tidak tau kenapa tiba-tiba Akbar ikut ke dapur, lalu bermain dengan pisau yang tidak sengaja di taruh istri saya di meja makan, kami habis pengajian, Pak Polisi jadi rumah masih berantakan, Bapak bisa berkunjung, kami bahkan belum menggulung karpet pengajian tadi. Lalu Akbar saat bermain pisau itu kaget karena istrinya saya berteriak, panik melihat Akbar memegang pisaunya, lalu Akbar secara tidak sengaja menusuk perutnya.”
Sempurna, Pak Ari mengatakannya tanpa berkedip seolah memang seperti itu kejadiannya, tidak salah Alka mengubah rencana tadi, Pak Ari jauh lebih tenang menghadapi ini, walau tadi dai terlihat sangat putus asa, tapi Alka memastikan Akbar akan baik-baik saja. Sepotong masa depan Alka lihat tentang Akbar yang tersenyum bahagia, makanya dia ngotot menutupi ini, karena masa depan itu dia melihat istrinya Pak Ari di penjara, dia mencoba menyelamatkannya dan penglihatannya bisa jadi pertolongan yang Tuhan kirimkan.
Polisi mencatat semua pernyataan Pak Ari, lalu dia mendekati istri Pak Ari. Alka terkejut, kok bisa dia masih mengorek dari istrinya.
“Anda ibunya Akbar?” Polisi bertanya.
Istrinya Pak Ari hanya terdiam dan menangis.
“Bu! Anda ibunya Akbar!” Polisi seperti mencurigai sesuatu.
“Saya salah Pak, saya salah.” Ibunya Akbar menangis tergugu, dia bersujud, bukan kepada Polisi tapi karena rasa bersalahnya telah menyelakai anak satu–satunya.
“Maksud Anda apa!” Polisi mulai mencecar.
“Pak, jangan bentak-bentak dong! istrin saya ini dalam keadaan depresi, dia bilang begitu karena dia merasa bersalah, makanya dia bilang begitu.” Pak Ari mencoba membela istrinya.
“Iya Pak, kami saksinya, sepanjang jalan tadi, ibu bilang salahnya kenapa dia berteriak bukan buru-buru ambil pisau itu, makanya Akbar kaget lalu menusuk perutnya. Bapak tidak diperbolehkan menekan saksi, apalagi dalam keadaan depresi begini.” Hartino mencoba ikut membela, Hartino memang cukup ahli soal hukum.
“Kamu siapa? kalian siapa?” Polisi itu bertanya.
“Saya adalah saudara dari pemilik Pabrik tempat Pak Ari kerja, saya ditugaskan om saya untuk ikut pengajian messnya Pak Ari sekalian besok kami ada audit bersama, ini teman-teman saya, kami dari Jakarta.” Hartino ternyata tidak mengarang, ternyata pemilik pabrik itu memang saudara jauhnya, berbeda nenek, tapi bisa dikatakan begitu.
“Baik, kalau begitu saya akan menunggu anaknya sadar dan menanyakan lebih lanjut.” Polisi masih mencoba mengorek.
“Pak, bukankah Akbar masih di bawah umur untuk dijadiakan saksi? Bukankah kesaksian seorang anak bisa saja diragukan, terlebih ini kejadian ayng berat untuk Akbar, bisa saja ini membuat keadaannya semakin parah? Kita saja belum tahu keadaannya saat ini. Apalagi, orang tuanya pasti tidak setuju anaknya dimintakan menjadi saksi.” Hartino berusaha dengan keras.
“Tapi, kalau memang Bapak memaksa, tidak masalah, silahkan bertanya pada Akbar, tapi jika ada muatan intimidasi di dalamnya dan membuat Akbar sakit, itu akan membuat jajaran kepolisian malu, karena kami akan perkarakan, Bapak mencoba mencari apa, pada kasus ini?” Alka membuat suasana menjadi panas, karena dia tahu, tujuan Polisi ini adalah kasus yang membuatnya mungkin bisa naik pangkat.
“Baik, saat ini saya akan catat pernyataan ayahnya dan soal pernyataan korban, kita akan bicarakan selanjutnya.” Pak Polisi lalu pergi setelah mengatakannya.
Istrinya Pak Ari kembali jatuh karena lemas dengan pertanyaan Polisi ini.
“Aku tidak ingin kau membicarakan kejadian malam ini pada siapapun, mengerti?! Kau akan membuat keluarga kita berantakan, aku tidak ingin kehilanganmu ataupun Akbar, aku melakukan semuanya untuk kalian, termasuk memboyongmu ke sini, aku yang salah, telah membawamu ke rumah terkutuk itu!” Pak Ari menyesal.
__ADS_1
“Tidak ada rumah terkutuk Pak, itu cuma tipu muslihat setan, kita akan buat ruma hitu menjadi tenang dan damai kembali.” Alka berkata.
Lima sekawan lalu berjalan meninggalkan rumah sakit, mereka akan kembali ke rumah itu untuk berburu.