Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 87 : Borok 4


__ADS_3

Setelah semua orang datang, Ganding, Jarni dan Hartino, mereka semua langsung ke hutan itu, pertama mereka melewati rumah neneknya Ami, lalu mereka ke rumah teman Ami dulu untuk meminta lokasi pasti pohon itu dan menyebut ciri-cirinya agar mereka bisa dengan tepat memeriksa pohon itu, sekalian minta nomor telepon genggamnya juga, jadi bisa memastikan pohonnya melalui foto yang dikirim nanti.


Setelah mendapatkan rinian, mereka berlima masuk ke hutan itu, saat memasuki hutan itu, tidak terasa aura apapun yang membuat mereka terganggu.


Mereka berjalan terus ke dalam hutan, hutan itu memang rapat, tapi masih ada sedikit cahaya yang masuk, ada beberapa orang lalu lalang, sepertinya mereka dalah pengrajin batu-bata, karena jauh ke dalam ada gubuk tempat batu bata.


Jadi bukan hutan yang mereka fikir seram dan angket, tiba di pertigaan, mereka menemukan pohon itu, berdiri tegak cukup besar, dengan daun yang begitu rindang, batang pohon terlihat menghitam, ada sedikit getah yang terlihat ke luar.


“Ini mah pohon biasa kali Kak, lihat aja ada getahnya, itu getahnya beracun kali, jadi bikin alergi terus borokan.” Hartino berkata.


“Iya deh kayaknya Kak, aku nggak ngerasain apapun loh, nggak ada energi apapun.” Ganding ikut berpendapat.


“Dit?” Alka bertanya, karena Aditia belum berpendapat.


“Hmm, aku juga nggak ngerasain apapun, satu-satunya cara, ya … dibuktiin.”


“Maksudnya dengan melanggar mitos itu Dit?” Ganding kaget, karena dia dan yang lain sudah diceritakan soal mitos pohon itu sebelumnya.


“Ya iyalah, masa ke sini liat-liat doang, ini bukan museum.” Aditia lalu mengarahkan tangannya sambil berkata begitu, tepat sedetik kemudian dia terhempas, seperti ada dorongan yang kuat saat hendak menyentuh pohon itu, Aditia jatuh terlempar cukup jauh.


Ganding membantu Aditia berdiri, Alka dan yang lain bersiap, mungkin akan ada serangan.


Setelah ditunggu beberapa saat, tidak ada yang keluar dari pohon itu, aneh, mereka juga tidak merasakan apapun sama sekali, tidak ada energi yang mereka rasakan di sana, tidak energi baik ataupun jahat, seperti layaknya tempat kosong saja, tanpa ada Penunggu.


“Kita nggak akan bisa sentuh pohon ini, dia menolak, sampai sekarang kita tidak merasakan apapun, juga tidak mungkin meminta manusia biasa untuk berkorban dengan memegang pohon ini dan melihat reaksi pohon pada tubuh manusia biasa, apakah mitos itu benar atau bisa dijelaskan secara medis, tidak ada yang berani mendekati pohon ini.” Alka berkata.


“Jadi, kita harus bertanya pada orang yang paling dituakan mengenai pohon ini, karena pohon ini tidak memilik Penunggu ataupun Jin yang tinggal di dalamnya, kalaupun ada tapi tidak terdeteksi oleh kita, itu sangat tipis, kak Alka setengah Bangsa Jin, dia pasti bisa merasakan kehadiran bangsanya jikalau kita luput, jadi kita harus tahu sejarahnya dulu agar ketemu cara untuk berkomunikasi dengan pohon ini dan melepaskan kutukannya.” Ganding si paling bijaksana menambahkan.


“Ya, tapi satu hal yang pasti, Ami sakit karena pohon ini, karena pohon biasa tidak akan menolak dipegang oleh Kharisma Jagat seperti Aditia, pohon ini menolak mengutuk Kharisma Jagat, dia malah mencegah Aditia terkena kutukan itu, artinya ….” Alka berkata lagi.


“Pohon ini berhubungan dengan Kharisma Jagat, karena sesame Kharisma Jagat saling melindungi, Dit, elu beruntung banget ya jadi Kharisma Jagat, kita semua juga pengen banget jadi bagiannya, tapi sayang, kita bukan.” Ganding kembali menambahkan.


“Semua orang punya kemampuannya masing-masing, kalian tidak perlu jadi Kharisma Jagat untuk bisa membantu orang, aku banyak belajar dari kalian.” Aditia merendah.


“Oh yang itu pasti! Makanya banyak belajar ya De.” Hartino meledek.


“Yaudah, sekarang split tim, cari orang yang memiliki energy mirip seperti Aditia, kita mulai dari yang paling dituakan, daerah cakupannya dibuat selebar mungkin supaya cepat ketemu, ingat, Ami sedang menunggu kita.” Alka lalu membagi tim seperti biasa.


Jarni dan Ganding pergi ke rumah Pak RT setempat, mereka menanyakan tentang orang yang paling dituakan di sana, dengan alasan ingin riset kegiatan kampus, karena wajah Alka dan Aditia sudah dikenali di desa ini, makanya Jarni dan Ganding yang bertanya di daerah ini.


Seperti biasa membuat surat riset palsu dari sebuah kampus, toh kampus itu milik keluarga Jarni.


Setelah mendapatkan alamat yang dituakan di desa di mana pohon itu berada, Jarni dan Ganding pergi ke rumah oran gitu, mereka melihat rumah yang besar dan Asri, rumah yang sangat nyaman, tapi saat akan masuk, Jarni dan Ganding sesak nafas, mereka hanya bisa masuk sampai depan pagar kayu saja, rumah ini tidak ada gerbang, hanya pagar kayu sebagai pintu tanpa daun pintu, jadi siapa saja bisa langsung masuk. Tapi tidak berlaku bagi Jarni dan Ganding, mereka terus berusaha masuk dan sesak nafas lagi lalu terpaksa keluar, terus begitu.


“Assalamualaikum, assalamualaikum.” Ganding akhirnya berteriak dari luar.

__ADS_1


“Waalaikum salam, kalau mau masuk, letakkan dulu khodam kalian, karena pagar ghaibnya tidak tidak mengizinkan khodam siapapun masuk.” Tiba-tiba ada seorang kakek tua yang memakai baju koko putih berdiri di belakang mereka.


“I-iya Ki.” Ganding menurutinya, Jarni juga, mereka meminta khodam yang mereka miliki menunggu di luar, ketika itu mereka baru bisa masuk.


“Kalian siapa, apa tujuan ke sini?” Kakek itu yang berbaju koko putih dengan tampilan begitu arif dan berenergi tinggi itu bertanya.


“Kedatangan kami ini untuk riset Ki, jadi kami ada tugas ....” Kakek itu memotong omongan Ganding.


“Yang jujur, nggak usah pake-pake alesan omong kosong begitu.” Walau dia kasar, tapi dia tetap menyuguhkan kopi pada Ganding dan Jarni.


“Hmm, kami ... kami punya teman bernama Ami, dia saat ini sedang sakit, sakitnya itu aneh, sekujur tubuhnya penuh borok yang bernanas sangat bau, baunya busuk sekali, kami menebak bahwa dia terkena kutukan.” Ganding akhirnya jujur, karena sepertinya kakek ini bukan orang biasa.


“Kenapa kalian bisa berkata bahwa dia kena kutukan, bisa saja sakitnya biasa, tidak dibawa ke dokter saja?”


“Bagaimana bisa seseorang yang sakit saja bertingkah seperti orang hilan akal Ki, dia memanjat sana–sini, berteriak-teriak seperti orang gila, lalu akhirnya pingsan, ditambah borok itu muncul hanya beberapa hari saja kena ke sekujur tubuhnya, itu terlalu naïf mengatakan bahwa dia sakit biasa.”


“Lalu kenapa kalian mencari obatnya ke sini?” Kakek itu bertanya lagi.


“Kami dapat kabar dari orang tua Ami bahwa mereka baru saja ke sini, sejak pulang dari desa ini Ami sakit, saat kami memeriksa Ami, tidak ada jin lain yang merasukinya ataupun indikasi santet dari orang yang tidak suka dia ataupun pelet dari orang yang suka dia, lalu kami menemukan sebuah informasi tentang pohon borok itu.”


“Pohon borok?”


“Pohon yang ada di hutan bata dekat rumah nenek dan temannya Ami, walau kami tidak yakin Ami ke sana, tapi mitosnya benar-benar terkena pada Ami, makanya kami berusaha mencari tahu agar bisa menolongnya.”


“Berapa tarif kalian?” Kakek itu bertanya.


“Biaya yang kalian minta ke orang tuanya.”


“Kami tidak meminta hal semacam itu.”


“Kalian hanya membantu saja?” Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal seolah itu hanya lelucon.


“Serius Ki, kami tidak pernah sekalipun meminta bayaran pada pertolongan kami, karena kami memang mengabdikan berkah yang kami dapatkan dari Tuhan dengan cara banyak membantu orang,, agar berkah itu menjadi bermanfaat.”


“Hmm, jarang sekali pemuda-pemudi seperti kalian.”


“Jadi Ki, apakah bisa bantu? Kira-kira apakah ada informasi yang bisa kami gunakan untuk menolong Ami?”  Tanya Ganding lagi.


“Tidak ada, saya tidak pernah mendengar hal semacam itu di desa ini, jadi setelah kalian habiskan kopinya silahkan keluar dari rumah ini dan juga desa ini.” Kakek ini mengusir dengan sangat kasar.


Jarni dan Ganding akhirnya keluar, tapi sebelum ke luar Ganding berbicara, “Kalau memang tidak ada apa-apa di desa ini, lalu kenapa Aki memasang pagar ghaib setinggi ini?” Ganding tersenyum saat mengatakannya lalu pergi berlalu dengan Jarni.


Ganding menghubungi Alka dan Aditia bertemu di salah satu rumah makan di desa ini, mereka janjian ketemu.


“Jadi kau curiga padanya?” Alka bertanya saat mereka semua sudah berkumpul, kecuali Hartino, dia memang tidak terlalu sering bertugas lapangan, dia selalu mencari informasi melalui mesin pencari kebanggaannya.

__ADS_1


“Iya, karena terlalu aneh, kau memasang pagar ghaib dengan ilmu setinggi itu, berarti kau takut ada orang dengan kemampuan yang sama tingginya mungkin akan datang dan mencelakaimu, benar kan?”


“Hubungannya dengan kasus Ami?” Aditia kali ini yang bertanya.


“Hanya orang dengan kemampuan tinggi bisa menjadikan suatu benda memiliki wewenang untuk mengutuk.”


“Tapi Nding, dia melakukannya untuk apa?”


“Mana gue tahu Dit! Gue baru observasi awal, elu udah pernah kesedak ceker belum? Ntar gue kasih tahu rasanya, kesel banget gue!” Ganding kesal karena Aditia bertanya seolah Ganding adalah cenayang, padahal yang cenanyang kan Alka.


“Kita intai gimana?”


“Bakal ketahuan, aku sama Jarni datang aja kami nggak bisa masuk sebelum meletakkan khodam di luar.”


“Wah berat dong, trus gimana kita nyelidikinnya?”


“Sebentar dulu, apakah memang sepadan memeriksa dirinya? Apakah ini tidak terlalu mengulur waktu?” Alka bertanya.


“Aku yakin Kak, dia ada hubungannya dengan penyakit Alka, kamu juga kan, Jarni?” Ganding meminta dukungan, Jarni mengangguk.


“Kalau begitu, tidak ada cara lain, selain mendatanginya lagi dan membujuk, mungkin akan berat, semoga ini tidak mengulur waktu sehingga Ami semakin lama sakitnya.”


“Semoga Kak, amin.”


Tidak lama kemudian Hartino datang, saat datang dia langsung duduk di antara Alka dan Aditia, sedang Ganding dan Jarni di depannya terpisah meja untuk makan.


“Lihat ini.” Ganding memperlihatkan gambar di tablet yang dia bawa.


“Apa ini?”


“Pohon Borok itu pernah muncul di berita pada tahun 1985, anak lelaki yang sakit terkena borok itu juga ada ternyata, gue udah lacak anak ini, sekarang umurnya sekitar 40 tahunan saat ini, masih tinggal di desa ini, kita bisa coba tanya dia, mana tahu dia ada informasi siapa orang pintar yang bantu dia untuk sembuh, kita bisa meminta orang pintarnya untuk membantu Ami.”


“Har, kita kurang pintar apa sih?” Ganding tertawa, kau percaya saja sama artikel.


“Tapi nggak ada salahnya bertanya kan, Kak? Gimana?” Hartino kekeh.


“Kita coba temui saja orang itu besok, benar kata Hartino Nding, nggak ada salahnya nanya.”


“Soal Aki gimana?”


“Kita tanya selanjutnya.”


“Kak, kita split tim aja, kayak hari ini.”


“Nggak, kamu udah diusir sama dia, pasti kali ini dia akan lebih keras, kita temui orang itu dulu, orang yang sembuh dari sakit boroknya, lalu abis itu baru ke rumah Aki itu.”

__ADS_1


“Yasudah.” Ganding patuh.


Setelahnya mereka makan dan istirahat di penginapan.


__ADS_2