Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 186 : Sesat)


__ADS_3

“Kok cemberut?” mamanya Har bertanya, mereka sedang makan malam bertiga, hasil masakan Alisha.


“Nggak, Har cuma capek aja.” Hartino lalu melanjutkan makannya. Dia sebenarnya kesal dengan kedatangan Alisha yang tiba-tiba.


“Kesel ya Icha datengnya cepet?” Alisha berbeda sekali, ketika berhadapan dengan jin yang menyamar sebagai Hartino tadi, dia terlihat ganas dan menakutkan. Tapi begitu melihat Hartino, langsung berubah menjadi manja dan sok manis.


“Nggak kok.” Hartino menjawab dengan ketus.


“Yaudah, Icha nggak bakal ganggu Har lagi deh.” Icha terlihat akan pergi.


“Nggak gitu, Cha.” Hartino berdiri, tatapannya menjadi begitu lembut.


“Jadi Icha boleh ke sini terus?” Bagaimana mungkin Hartino tertipu, Alisha yang dipanggil Icha itu menipunya dengan mudah.


“Terserah kau saja.” Har berkata dengan malas, dia melanjutkan makan. Mamanya Har melihat itu hanya tersenyum.


Alisha datang dari keluarga yang sangat baik untuk Hartino. Ayahnya adalah Ketua Asosiasi Pengacara, sedang ibunya Hartino adalah bagian dari asosiasi tersebut. Memiliki Alisha sebagai menantu akan membuat perusahaan advokatnya semakin besar.


Alisha juga bukan gadis yang tidak baik. Sebagai pengacara, mamanya Har menyeleksi semua perempuan yang akan dijadikan pacar oleh Hartino. Latar belakang keluarganya, sifat dan sikapnya jauh di hadapan muka umum dan bagaimana perangainya. Mamanya Hartino terbiasa memeriksa latar belakang wanita-wanita yang ada kemungkinan Hartino sukai. Walau sedikit sekali wanita yang pernah Hartino dekati.


Kalau dihitung-hitung, cuma Alisha yang bertahan. Dia gadis baik, gadis dari keluarga terpandang dan perangainya sangatlah lembut. Setidaknya itu informasi yang mamanya Hartino dapatkan dari mata-mata yang dia sebar.


Alisha memang hebat menutupi sifat, sikap dan perangai dari orang-orang yang dia temui.


Apa yang orang lihat di luar tentang Alisha, tidak sama dengan Alisha yang asli.


Dia adalah anak yang sangat keras kepala, berpendirian teguh, jika ingin satu, maka dia akan dapatkan.


Dia cenderung mengupayakan apapun agar mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk mencelakai orang. Walau tidak sampai membunuh, tapi banyak kejahatan yang dia lakukan yang berhasil ditutupi oleh dirinya sendiri dengan ilmu manipulatif yang dia miliki.


Alisha gadis cantik yang menyimpan banyak misteri, apakah dia cocok dengan Hartino, apakah dia akan menjadi seperti istri Mulyana yang dibohongi seumur hidup? Atau seperti Jarni yang berjuang bersama dengan Ganding? Atau malah menjadi seperti Alya yang menyebabkan kerusakan pada Aditia.


Mari kita ulas kisahnya.


ALISHA 10 TAHUN


“Har, jangan diambil dong mainanku, itu kan boneka!” Alisha kesal. Orang tua mereka terlihat sedang berbincang bisnis, mamanya Hartino perlu untuk membangun relasi dengan keluarga Alisha, karena bisnisnya baru saja dibangun. Perusahaan Advokat.


“Kau tahu, kalau boneka itu menakutkan?” Hartino berkata, mereka sedang di taman, bermain piknik-piknikan. Ditemani beberapa pelayan tentunya.


“Kenapa boneka menakutkan?” Alisha bertanya. Wajahnya begitu mungil, rambut panjang tebal, baju terusan panjang yang mewah dan sepatu seperti putri raja. Hartino senang mengejeknya.


“Karena boneka itu kosong, jadi bisa saja dimasuki ruh.” Hartino menakuti Alisha.


“Maksudmu setan?” Alisha yang tadinya duduk bersebrangan langsung mendekati Hartino dan memegang tangannya, dia memang penakut.


“Iya, setan. Hiiiii ....“ Hartino menakuti Alisha dengan mimik wajah menyeramkan.


Alisha menangis melihat Hartino, dia takut. Walau dia kesal, tapi tetap tidak melepaskan tangannya dari Hartino.


“Maaf Icha, maaf ya ....” Hartino mengelus kepala Icha, dia menyesal telah menakutinya.


“Kok Icha?” Alisha bertanya. Tidak ada yang memanggilnya seperti itu.


“Iya, itu panggilanku padamu. Jangan beritahu yang lain ya, itu kode dariku, jika kau takut, atau merasa sedih, marah dan kecewa. Kau ingat aku, aku akan datang dan memanggilmu Icha. Mengerti?” Hartino membujuknya, Icha sebenarnya gadis yang tidak cengeng, tapi tadi Hartino sudah keterlaluan.


“Baiklah, tapi Har jangan takuti Icha lagi ya dan aku suka panggilan itu.”


“Iya, kita makan dulu yuk. Katanya Om, kamu akhir-akhir ini susah makannya.” Hartino menarik tangan Alisha dan membawanya ke meja makan, sedang yang lain masih sibuk berbincang. Walau bukan pertemuan bisnis, tapi mamanya Hartino dan kedua orang tua Alisha memang orang bisnis yang kalau bertemu saling membahas bisnis mereka.


“Sha, mau makan?” Ibunya Alisha buru-buru ke meja makan.


“Bi! Siapkan makan siang dulu.” Mamanya Hartino buru-buru meminta pelayannya menyiapkan makan buat dua anak bos itu.


Makanan dihidangkan, lalu setelah itu Alisha dengan tenang disediakan makan oleh ibunya, Hartino juga mengambil makanannya sendiri.


Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Alisha, mamanya menunggui Alisha agar dia makan dan tidak mengabaikan makanan di piringnya.


“Biar Hartino aja yang temani Icha makan, Tante,” Hartino berkata.


“Tapi Har, Alisha susah makannya, makanya kurus.” Ibunya Alisha terlihat sedih.


“Nggak kok! Alisha mau makan, nih lihat ya, Alisha makan.”


“Tuh kan Tan, makan kok Ichanya. Jadi biar Har aja yang temani, Tante bisa ngobrol lagi sama mama.”


“Har, kamu anak yang baik dan tampan sekali. Kalau udah gede jangan jauh-jauh ya.” Mamanya Alisha terlihat sangat terkesan dengan sikap Hartino yang sangat sopan.


“Jauh-jauh apa sih Ma?” Alisha bingung.


“Jauh-jauh mainnya, Ichaaa.”

__ADS_1


“Jangan panggil begitu!” Alisha kesal.


“Kenapa?” Mamanya Alisha bingung.


“Karena itu panggilan Har ke Sha, jadi Mama jangan panggil aku kayak gitu ya.” Alisha terlihat benar-benar kesal.


“Baik, Tuan Putri.” Mamanya Alisha akhirnya meninggalkan dua anak itu untuk makan bersama.


“Jangan kasar kalau sama ibumu, dia itu yang melahirkanmu, dia pasti menyayangimu.” Hartino menasehati, dia memang sangat dewasa.


“Mamaku itu jahat!” Alisha mengeluh.


“Kok gitu?”


“Dia selalu bilang kalau aku itu kurus, jelek dan hitam. Kalau nggak mau makan, aku selamanya akan jelek dan hitam.”


“Astaga Icha yang cantik ... kau itu anak yang sangat cantik, kulitmu juga putih bersih seperti diriku, kau sangat manis.” Hartino tertawa, tidak terasa Alisha makan cukup lahap sembari ditemani ngobrol.


“Masa! Lalu kenapa ibuku bilang begitu?”


“Itu pasti caranya membujukmu untuk makan Icha manis, pasti ibumu sudah melakukan segala cara, mulai dari membelikanmu banyak mainan, bicara lembut hingga akhirnya mengancam. Dia sedang khawatir Cha, takut kalau anak kesayangannya sakit, makanya dia menempuh jalur mengancam agar kau ketakutan jadi jelek dan akhirnya mau makan.”


“Jadi boleh kalau mamaku bilang jelek dan hitam?”


“Tentu saja tidak boleh, karena itu bohong. Kau cantik dan sangat putih bersih.”


“Lalu kenapa kau membelanya?”


“Karena kadang, masalahnya bukan benar dan salah Cha, tapi bagaimana ibumu menjagamu agar tetap sehat dengan makan yang benar. Walau caranya salah, tapi niatnya adalah karena dia ingin kau sehat. Jadi, dari situ lihatnya. Orang mau berbuat baik atau jahat, keliatan dari sana. Jadi mulai sekarang Har minta, Icha nurut sama mama, ya.”


“Iya, nih lihat, Icha makannya habis.” Alisha dengan bangga memperlihatkan piring kosongnya.


“Anak baik, kalau lagi makan sendiri kayak gini juga, ya.” Hartino mengusap kepala Alisha.


Sementara ibunya Alisha melihat dari tempat mereka mengobrol.


“Har itu hebat ya.”


“Kenapa?” Mamanya Har bertanya, karena ibunya Alisha tiba-tiba keluar dari topik pembicaran bisnis mereka.


“Alisha bisa makan dengan lahap hanya karena ditemani, mereka berdua terlihat senang bermain bersama.”


“Har itu memang begitu, lebih dewasa dari umurnya. Yah kau tahu, dia merasa perlu melindungiku. Jadi terhadap anak perempuan dia jadi lebih lembut karena itu cara dia memperlakukan wanita.”


“Boleh, kalau Har mau, Alisha setuju, ya aku setuju. Tapi bukankah ini terlalu dini, mereka baru umur 10 tahun Mbak.” Mamanya Hartino tertawa.


“Ngawur kamu, anak kita masih kecil, masih jauhlah kalau itu. Kita biarkan mereka memilih saja, Har belum tentu suka Alisha jika sudah dewasa, jangan-jangan dia hanya menganggapnya adik. Karena Har kan anak tunggal.” Ayahnya Alisha lebih berkata masuk akal.


“Ya, tak apa jika memang tidak jodoh, tapi kalau jodoh tentu kita akan senang.” Ibunya Alisha benar-benar berharap.


“Ya, aku takkan keberatan, kita akan mengaturnya kelak jika mereka sudah dewasa.”


“Terima kasih ya.” Mamanya Alisha memegang tangan mamanya Hartino.


Sementara anak mereka masih berbincang dengan wajah yang senang.


...


SAAT INI


“Jadi kamu uring-uringan karena cinta pertamamu balik dari luar negeri? dia udah lulus kuliah S2-nya, ya?” Ganding tertawa terbahak-bahak.


Hartino menyebalkan selama ini karena dia sedang gusar.


“Diam kau!” Hartino kesal. Alka sedang sibuk meramu obat, Aditia tidak ada karena harus narik angkot, Jarni seperti biasa, tidur di tempat tidur Alka, dia suka sekali tidur di sana.


“Har,kamu aneh, udah berapa belas tahun nih? kamu masih aja belum move-on. Iya aku tahu, Alisha cantik, pinter, kaya raya, anggun. Tapi jelas kamu nggak akan pernah bisa nikahin dia karena prinsipmu, bukan?”


“Dia terlalu berharga untuk manusia seperti kita.”


“Jadi maksudmu, kita nih kayak gimana?”


“Nding, kamu enak. Jarni bisa menerimamu, dia bahkan gabung dalam perjuangan kita. Tapi Alisha? Dia seorang perempuan yang sangat anggun, manja, dari keluarga kaya. Cara berpikirnya berbeda. Dia itu sangat berharga untuk berada di dunia seperti kita Nding. Aku percaya hanya akan menikah dengan wanita Kharisma Jagat seperti kerabat Aditia atau tidak menikah sama sekali. Aku tidak akan pernah merusak Alisha. Aku akan hancur kalau Alisha sampai celaka.”


“Wah cintamu seperti Lanjonya Kak Alka. Dalam dan mematikan.”


“Nding!” Alka terlihat kesal karena Lanjo dibahas, untung tak ada Aditia.


“Sorry kakak.” Ganding tersenyum tanpa menyesal tapi juga tidak.


“Yaudah kamu jauhin aja.”

__ADS_1


“Seandainya semudah itu, dari dulu begitu aku tahu bahwa dia nggak akan mampu, aku udah coba jauhin dia dengan segala cara. Tapi entah kenapa, dia selalu bisa mendekatkan dirinya lagi padaku, jaman SD, SMP, SMA bahkan kuliah S1nya. Hingga akhirnya aku berpura-pura pacaran dengan teman kampus kami, dia keluar kuliah dan memilih mengulang kuliahnya di Australia sampai S2.  Nggak bisa Nding, dia terlalu gigih. Andai ini cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi masalahnya dia memliki rasa yang sama sepertiku.” Hartino frustasi.


“Mau aku bantu?” Ganding bertanya.


“Caranya?”


“Hmm, gimana ya Kak?” Ganding tiba-tiba bingung, padahal dia yang paling jenius, tapi urusan perempuan dia tidak terlalu paham.


“Aku tidak tahu! Tapi kalau kau mau, aku bisa buatkan ramuan pembenci. Kau mau aku buatkan? Dia akan membencimu, bahkan dia akan menjauhimu karena saking bencinya.”


“Serius kak?” Hartino bertanya.


“Ya, tapi ada harga yang harus dibayar.” Alka terlihat serius.


“Apa tidak ada harga teman kak?”


“Har!” Ganding kesal karena dia sempat-sempatnya bercanda.


“Kau harus memberikan pertukaran, bukan uang, bukan juga barang.”


“Lalu apa?”


“Sesuatu yang berhara dalam hidupmu apa?” Alka bertanya.


“Ibuku! Maksudnya ibuku jadi taruhan?”


Ganding memukul kepala Hartino, “Kau pikir kakakku dukun yang suka minta tumbal.”


“Ya, lalu apa Kak?”


“Bagaimana jika ingatan?”


“Hah? ingatan?”


“Ya, karena ramuan ini harus disertai pembacaan mantra, mantra yang meminta pertukaran. Bisa jadi kenanganmu dengannya harus kau korbankan, dengan kata lain ....”


“Cintaku juga akan hilang padanya.” Hartino menunduk.


“Lah, bukannya bagus, dia benci sama kamu, kamu juga nggak cinta dia lagi, win-win solution, Bro.”


“Nding, dulu ketika Jarni belum memiliki rasa padamu, apakah kau mau menghilangkan rasa cintamu padanya?” Jarni masih tertidur, hingga Hartino merasa bisa mengatakan itu dengan bebas.


“Nggak bisalah.”


“Kenapa?” Hartino bertanya.


“Karena aku cinta dengan rasa itu, saking cintanya sama Jarni. Sampai aku nggak mau hilangin setiap inci pun rasa cinta aku itu ke dia. Semacam kepuasan tersendiri merasakan cinta yang besar ini, walau aku saat itu tidak bisa memilikinya.”


“Nah, udah tahu kan, kenapa itu bukan win-win solution buatku?”


“Ya, aku mengerti Har.” Ganding dan Hartino berjabat tangan sebagai dua pemuda yang tahu rasanya tidak bisa mencintai dengan terbuka.


“Selalu ada harga Har, buat apa yang kau inginkan, ini namanya dunia.” Alka kembali meracik ramuan.


“Kak, masa nggak ada cara lain?”


“Ada, kau menikah saja dengannya, lalu hidup seperti bapak.” Alka memberi solusi yang menjadi opsi paling buruk bagi Hartino.


“Maksudnya menyembunyikan identitas kita sebagai orang yang berdiri di dua alam?”


“Ya.”


“Tidak!”


“Kenapa?”


“Kak, tidak semua perempuan memiliki hati teguh seperti ibunya Aditia, dia percaya bapak seribu persen. Dia tidak curiga dan memberi bapak kebebasan untuk menjalankan ikhtiarnya mencari rejeki, padahal dia sibuk mengurus dunia lain. Mengeleminasi semua yang menurutnya tidak perlu dipikirikan. Makanya rumah tangga mereka sangat damai sentosa. Tapi Icha! Icha gadis modern yang pasti ingin turut campur dalam semua kegiatanku, apalagi dia menunggu-nunggu pernikahan ini. Aku sangat ingin bersamanya, tapi aku juga tidak mau dia celaka dan hidup dalam ketakutan seumur hidup.”


“Yasudah, ramuan pembuat benci saja, gimana?” Alka kembali ke saran pertama.


“Kak!” Hartino kesal karena yang lain tidak menganggap penting keresahannya.


“Ada apa sih?” Aditia tiba-tiba sudah di gua.


“Dit sini! kamu pasti semangat dengernya, ini si Hartino lagi galau.”


“Wah menarik tuh ceritanya, nih aku bawain kopi dari Kalimantan, temenku kasih oleh-oleh dari pulang kampung. Kita gosipin Har yuk, pasti seru nih liat dia menderita.”


“Dit, kita berkelahi aja yuk, daripada waktumu sia-sia buat gosip!” Hartino kesal karena semua orang menganggap remeh yang dia rasakan.


Ada yang mau bantuin Hartino? Ada yang punya saran gimana Hartino membuat Icha meninggalkannya? Komentar di bawah ya, jangan lupa vote dan like.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2