Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 449 : Kamboja 11


__ADS_3

“Kita gempur aja sekalian apa?! kita hancurkan terowongan itu kalau perlu!” Aditia kembali dengan sifat nekatnya.


“Tidak! tetap pada rencana.” Alka menolak dan yang lain setuju pada Saba Alkamah dibanding kasep. Akan berbahaya kalau mereka asal gempur, kalau yang diterowongan banyak dan berilmu tinggi bagaimana? bisa habis kawanan.


“Aku sungguh tak sabar ingin mencincang tubuh agent itu!!!” Aditia masih saja marah dan tidak sabar, yang lain mencoba menenangkannya.


Siapa yang tidak marah mendengar ini? yang tidak marah, dia pasti sesama iblis.


“Kita akan tetap saling mengintai besok, dengan jadwal yang sudah diatur, kita juga akan menemui istrinya supir taksi itu.”


...


“Sore ini mereka datang dengan formasi lengkap ke rumah supir taksi yang menjadi korban itu, dia juga baru saja meninggal dunia.”


“Jadi kalian ini yang kemarin menyelidiki tentang kecelakaan di lokasi suami saya ditemukan ya? terima kasih sudah datang ya.” Istri supir taksi itu menyambut dengan baik.


“Bu, tidak perlu repot ya, karena kami tahu ibu dalam keadaan berduka, ini kami bawakan kue untuk ibu di rumah dan ini kebutuhan sehari-hari, agar ibu tidak perlu repot untuk keluar rumah dan bisa fokus untuk istirahat.” Alisha berinisiatif selain membawakan kue basah dan kering, dia juga membawakan kebutuhan sehari-hari agar istrinya tak perlu repot lagi ke pasar selama beberapa hari, jarang sekali orang sadar akan hal ini.


Yang sedang ditinggal pergi, jangankan punya kekuatan untuk membeli kebutuhan makannya sehari-hari, bisa menjalani hidup saja itu sudah suatu hal yang sangat luar biasa, makanya Alisha turut membelikan sembako juga agar memudahkan istri dan anak-anak supir taksinya untuk bisa menjalani hari sementara waktu dengan lebih tenang.


“Terima kasih, kamu baik sekali Mbak, memang saya akhir-akhir ini sulit sekali makan, saya sedih, kehilangan suami, seperti kehilangan separuh jiwa kita Mbak, bagaimana menelan makanan, sementara saya selalu ingat, bagaimana suami saya terkena serangan jantung, mungkin karena kelelahan, kebutuhan sehari-hari, uang sekolah anak, itu mencekik kami Mbak, suami saya bahkan narik dengan jam kerja yang sangat panjang, saya pernah mengingatkan dia untuk istirahat dan makan teratur, walau mungkin makanan yang saya bekalkan tak mewah, tapi cukup untuk membuat perutnya kenyang dan sehat.


Tapi suami saya tidak mau dengar, dia sangat ingin anak-anaknya sekolah dengan baik dan bisa bekerja di tempat yang lebih baik dibanding dirinya, makanya dia tak peduli, mau malam atau siang, dia akan tetap narik, yang penting uang sekolah anak lancar.”


“Jadi, memang benar kena serangan jantung ya, Bu?” Ganding bertanya.


“Iya, benar, padahal bapak tak punya riwayat jantung sebelumnya, tapi kata Dokter, serangan jantung memang tak ada gejala dan bisa kena siapa saja dengan pola makan dn tidur yang tidak teratur, tidak peduli umur berapa, serangan jantung bisa menjangkiti siapapun, termasuk supir taksi dan orang kecil seperti kami.” Ada kemarahan pada Tuhan dalam kalimat yang dikatakan istri supir taksi itu.


“Bu, adakah yang bisa kami bantu? Apakah anak ibu sudah cukup umur untuk bekerja?” Hartino bertanya.


“Anak saya masih ada yang kuliah, tapi Alhamdulillah, ada santunan dari perusahaan tempat suami saya bekerja, dia tidak memberikan uang santunan itu langsung, tapi berupa uang beasiswa untuk anak kami sampai lulus dan juga janji bekerja di perusahaan itu seuai dengan juruan yang diambil saat kuliah, aku bersyukur sekaligus sedih, karena suamiku tidak bisa lihat, bahwa anaknya sekarang tak perlu lagi memikirkan biaya untuk sekolah anak kami. Tapi dia sudah tiada, bahkan sepeninggalnya pun, dia masih mampu membuat anaknya sekolah dengan tenang.” Istrinya menangis lagi, mengingat betapa gigih suaminya mencari uang untuk keluarga.


“Baik Bu, apakah ada hal lain yang ibu bisa ceritakan pada kami?” Aditia masuk ke inti kedatangan mereka.

__ADS_1


“Hal lain?”


“Ya, misal apakah ada kejadian aneh saat bapak masih dirawat? Saya dengar ibu bertemu dengan bapak di luar ruang ICU? Apakah itu benar?”


“Oh iya ... sepertinya memang beliau pamit, tapi pamitan itu sangat menyedihkan, itu bukan mimpi saya yakin sekali, walau agak aneh, karena saat saya melihatnya, rumah sakit sepi, tak ada satu orang pun yang lewat, padahal sedetik sebelumnya ruangan itu ramai, ada perawat dan pasien lain.”


“Baik, lalu setelah bertemu dengan suami ibu, apa ada yang dia katakan?” Aditia bertanya lagi.


“Tidak ada, dia bahkan tidak menoleh, saya hanya tahu saja itu suami saya walau dia tak mempelihatkan wajahnya, dari bentuk tubuh dan juga cara jalannya, saya yakin kalau itu suami saya, saat saya mencoba untuk menepuk bahunya, karena dia tak mau berhenti saat saya panggil, saya merasakan dingin yang aneh di bahunya, dingin dari jasad yang telah ... tiada.”


“Lalu, setelah ibu pegang bahunya apa yang terjadi?”


“Saya mendengar dia berbisik masih tanpa menolah sama sekali, tapi suaranya terdengar.”


“Berbisik? Apa itu?”


Istrinya mencondongkan badannya dan berkata dengan berbisik, “Suamiku bilang gini ... ‘aku akan kembali’.”


Kawanan mengernyitkan dahi, aku akan kembali hanya berlaku bagi orang yang pergi ke luar kota atau ke luar negeri, paling jauh ke luar angkasa seperti Neil Amstrong, dia kembali ke bumi setelah proyek Apollo 11 sukses besar, berhasil mendarat di Bulan, bahkan digadang-gadangkan sebagai pionir atas proyek pendaratan ke Bulan, tak ada satu negara pun yang bisa menandingi proyek ini. walau di masa selanjutnya, apa yang di claim masih dipertanyakan dan dituduh sebagai proyek bohongan karena begitu banyak kejanggalan pada dokumentasi yang dilakukan Neil Amstrong itu.


Jadi maksud dari kata supir taksi itu dia akan kembali itu apa?


“Suami ibu berkata aku akan kembali? Dan apa maksudnya?”


“Entah, saya tidak tahu, tapi setelah dikuburkan kemarin, saya jadi sadar, kalau itu mungkin hanya halusinasi saja, apa mungkin karena saya kelelahan dan akhirnya berhalusinasi? Karena saya akan membantah jika dibilang mimpi, tapi sulit menyangkal jika itu dibilang halusinasi, karena setelah melihatnya, rumah sakit menjadi begitu ramai, saya yang jatuh karena terkejut merasakan bahu suami saya yang dingin itu, ditolong oleh Perawat yang juga memberitahu saya soal kematiannya.”


“Baik, lalu apakah setelah kematian suami Ibu, ada kejadian janggal lain?” Ganding kali ini yang bicara.


“Kejadian aneh? Ada satu atau dua hal, tapi mungkin saya berhalusinasi lagi.”


“Apa itu?” Yang lain penasaran, tapi pertanyaan di wakili oleh Ganding lagi.


“Saya dan anak-anak masih merasakan kehadiran suami saya.”

__ADS_1


“Bukankah itu hal biasa Bu? Jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, kita akan merasa dia tetap masih ada, karena kebiasaan sehari-hari yang kita jalani bersama, membuat kenangan itu sulit diperbaharui dengan kenangan yang menyakitkan, yaitu kematian, makanya otak kita kadang masih suka membaca kebiasan sebagai sesuatu yang nyata, padahal orang yang itu sudah tiada.”


“Kalau hanya masalah rindu, saya tidak akan bilang begini Mas, tapi ... saya dan anak-anak merasa bahwa barang-barang yang suami saya sering pakai, tiba-tiba suka berpindah, seperti dompetnya, yang seingat saya ditaruh di laci kamar, tiba-tiba berpindah ke meja televisi, karena beliau memang suka sekali menaruh dompetnya di sana jika baru saja pulang, agar mudah menemukan saat tiba-tiba butuh.”


“Mungkin ada anggota keluarga ibu yang memindahkan?” Ganding bukannya mencoba untuk skeptis, tapi dia memastikan bahwa informasi yang mereka dapatkan itu, valid.


“Tidak Mas, karena curiga, saya langsung bertanya pada anak-anak dan mereka bilang tak ada yang memindahkan, uang di dalam dompet itu juga tidak berkurang sama sekali.”


“Baiklah ini informasi yang sangat membantu sekali.” Ganding mencoba untuk mengakhiri perbincangan ini karena mereka merasa sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, walau mungkin lagi-lagi bukan titik terang.


“Tapi maaf ya Mas, Mbak, mau tanya, ini kenapa kalian bertanyanya detail sekali ya? apakah memang informasinya harus detail begitu ya? apalagi saya ceritanya soal yang ... ghaib, pasti kalian tidak butuh informasi seperti itu kan?” Istrinya baru sadar telah bercerita sesuatu yang tidak terlalu penting, tapi entah kenapa dia tidak bisa menghentikan mulutnya untuk bicara, dia bahkan tidak banyak cerita soal ini pada keluarga maupun tetangga, tapi pada kawanan dia cerita dengan sangat lancar.


Tentu saja, Alka telah menggendamnya saat masuk tadi, langkah ini dilakukan agar mereka lebih mudah mendapatkan informasi.


“Baiklah Bu, kami mohon izin pamit, ini ada sekedar untuk kebutuhan sehari-hari dari kami, semoga ibu dan anak-anak bisa tetap sehat dan menjalani hari dengan lebih semangat, sekali lagi, kami turut berduka cita ya, Bu.” Ganding memberikan santunan yang cukup banyak di dalam sebuah amplop coklat yang biasa digunakan oleh bank untuk menaruh uang tunai yang akan diberikan pada nasabahnya saat mereka mengambil uang tunai di teller jaman dulu, sebelum mesin ATM menjamur di mana-mana.


Kawanan segera bergegas pamit dan menaiki angkot jemputan seperti biasa, mereka berhenti di suatu tempat dan hendak berdiskusi, kepala mereka sudah penuh sekali dan sulit menahannya hingga ke markas.


"Apa yang istrinya maksud dengan perkataan suaminya bahwa dia akan kembali?" Hartino membuka percakapan, mereka semua ada di bagian belakang angkot.


"Aku akan kembali, bukankah itu kalimat yang romantis, jika dikatakan pada orang yang masih sama-sama hidup dan akan sangat mengerikan jika dikatakan oleh orang yang telah tiada, bukankah akan menjadi kalimat ancaman dibanding kalimat romantis, tapi kalau itu ancaman, kenapa dia mengancam istrinya?" Alisha mulai membuka diskusi ini.


"Kata 'aku akan kembali' itu juga sulit diartikan sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, masa kembali dari alam baka? jadi jiwa tersesat dong." Hartino menambahkan perkataan istrinya.


"Maka kita bisa ambil kesimpulan kalau jiwa-jiwa itu memang ditahan di terowongan itu." Aditia mengambil kesimpulan yang seperti kita duga, terlalu prematur.


"Kalau jiwanya di sana, lalu kenapa bisa menemui istrinya?" Ganding yang cerdas melihat celahnya.


"Masuk akal Nding, jadi ... apakah pria itu bukan suaminya?" Alka membela adik jeniusnya.


"Kita tidak bisa memastikan sebelum menemuinya langsung, kenapa sih kita nggak bisa masuk ke sana, jadi ingat kasus anak ambar, kita kan tidak bisa masuk ke kamarnya, tidak aku ralat, kita bahkan tidak bisa masuk ke rumahnya karena lagsung mental." Aditia jadi ingat kejadian itu.


"Bedanya kita lemas di terowongan ini, sedang di rumah anak ambar, kita mental."

__ADS_1


"Kalau di rumah anak ambar kita mental karena ada gesekan energi yang saling bertolak belakang hingga menjadi medan yang saling bebenturan, tapi di terowongan itu kita lemas, apakah karena ...."


__ADS_2