Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 282 : Hilang 7


__ADS_3

Hari dimana pengusutan atas racun yang diberikan pada Raja tiba.


Aditia masih terus terombang-ambing di negeri antah berantah, dia mulai paham bahwa sukmanya masuk ke masa lalu. Entah apa yang hendak ditunjukan dan siapa yang hendak menunjukannya.


Aditia mulai menikmati walau dia hanya sosok ruh.


Satu persatu saksi dipanggil, mulai dari tukang masak, yang menyajikan makanan dan semua orang yang membawa makanan dan minuman.


Semua melaksanakan pekerjaan mereka sesuai yang diperintahkan. Tidak ada kesalahan satupun, hingga penyajian dilakukan. Dimana semua makanan Raja akhirnya dicicipi terlebih dahulu oleh Ratu sebelum disajikan.


Tiba giliran Selir Diah yang memberikan kesaksian pada sidang pengusutan.


“Raja tidak makan apapun, Raja hanya minum teh, bahkan Maharaja belum sempat makan tapi tenggorokannya sudah terasa tercekik.” Selir Diah berusaha menjelaskan.


“Apa teh itu kau ang menuangkan?” Ratu bertanya.


“Ya, aku yang menuangkan teh itu.”


“Kau tidak meminumnya dulu dan langsung memberikan pada Raja?” Ratu mulai menyudutkan.


“Ya, karena aku rasa itu tidak diperlukan, karena Yang Mulia Ratu sudah melakukannya pada seluruh makanan dan minuman di kerajaan ini bukan?”


Ratu tercekat karena Selir muda ini bahkan berani membalas perkataannya.


“Ya, memang aku melakukannya pada setiap makanan Raja, tapi kau sebagai seorang Selir harusnya waspada, karena makanan ini sebelum disajikan ke Raja harus dibawa dari dapur kerajaan ke pendopo kalian, jadi ada jeda antara makanan itu disajikan hingga sampai dimakan oleh Raja, maka dari itu kau seharusnya mencicipnya terlebih dahulu.” Ratu mulai murka.


“Yang Mulia Ratu maafkan atas ketidakmampuan hamba dalam menjaga Raja, tapi bukankah seharusnya yang menjadi penanggung jawab atas makanan Raja adalah Yang Mulia Ratu sendiri?”


“Kau!” Semua orang kaget, karena beraninya selir rendah ini mengkoreksi Ratu.


“Maafkan hamba yang lancang ini Ratu, tapi bukankah seharusnya hamba yang merasa dirugikan, karena hamba sangat ingin bertemu dengan suami hamba, Maharaja Adi barang, lalu untuk apa hamba mencelakainya sedang menikah dengan Maharaja saja adalah keinginan hamba dan permohonan hamba, lalu ketika akhirnya hamba punya kesempatan mewujudkan mimpi hamba berbakti pada suami, mana mungkin hamba ingin mencelakainya, bahkan ketika akhirnyha hamba ditendang keluar dari pendopo, hamba berusaha untuk bersujud di depan pendopo, tapi diseret kembali ke tempat hamba.” Apa yang selir Diah katakan membuat Raja terlihat marah, Ratu tahu, bahwa Selir Diah mencoba untuk mengadu domba.


“Ketika itu bukan hanya kau yang diusir, semua yang tidak berkepentingan dalam menyelamatkan Raja, haruslah dikeluarkan, meminimalisir serangan, aku adalah penanggung jawab Pendopo dan semua urusan rumah tangga kerajaan, kau yang berteriak tidak jelas, padahal kami sedang berusaha menyelamatkan Raja.” Ratu Dahlia tidak mau kalah, Raja terdiam, ini bukan ranahnya ikut campur, dua orang istrinya sedang saling serang.


“Yang Mulia Ratu, saya mohon untuk lebih jauh menyelidiki lagi siapa penyebab atas keracunannya Raja, karena bisa jadi, dia akan mencelakai kita semua, saya sebagai Selir juga ingin Raja dan Ratu lebih perhatian pada semua sarana dan prasarana kediaman Selir, karena saat ini, banyak selir yang memiliki penyakit aneh, tidak dapat diobati, dimulai dari wajah yang kusam lalu tiba-tiba seluruh kulit menjadi kasar dan akhirnya Selir di usir dari pendopo karena dianggap berpenyakit kotor. Padahal bisa jadi, kami dikerjai, apakah keselamatan kami tidak penting bagi rumah tangga kerajaan?” Selir Diah mulai menancapkan kukunya.


Aditia duduk di samping Selir Diah, dia memperhatikan, kedua tangan Selir Diah menghitam. Aneh, kenapa tangannya seperti mati? Aditia terus memperhatikan tangan itu, sampai dia merasa Selir Diah tiba-tiba melihat ke arahnya. Aditia sampai jatuh terduduk karena saat dia memperhatikan tangan Selir Diah, dia membungkuk, jadi ketika Selir Diah seperti melihat ke arahnya, Aditia jatuh.

__ADS_1


Ternyata tidak, Selir Diah hanya sedang menengok ke arah yang kebetulan Aditia ada di sana saja.


“Kaget aku.” Aditia bergumam.


“Apakah benar Ratuku? Apakah benar prasarana Selir sangat tidak memadai?” Raja termakan omongan Selir Diah.


“Bukankah Maharaja juga mengetahui bagaimana aku mengurus mereka? Selir Diah adalah pendatang, dia bahkan lancang beberapa kali melanggar peraturan kerajaan, mengenai apa yang dia bilang, Selir yang aku usir karena sakit, bahkan keluarganya memiliki riwayat penyakit kulit, lalu apakah aku harus membiarkan penyakit mengerikan seperti itu menjangkiti kerjaan? Aku tidak ingin dia menyentuhmu Maharaja, aku tidak memberitahu soal ini karena tidak ingin membuat istana gempar.


Wahai Selir Diah, terima kasih karena sudah mengingatkanku soal ini, bukankah kau mandi bersama selir yang aku usir dan kemungkinan dia juga memiliki penyakit kulit seperti keluarganya? Apakah aku harus memastikan kau dan semua selir yang mandi bersama dengannya diperiksa dulu dan tidak diperbolehkan untuk menemui Raja dalam jangka waktu yang tidak ditentukan?” Ratu ternyata terlalu cerdas untuk ditumbangkan. Penyakit kulit yang dimaksud Ratu kelak baru ditemukan namanya pada tahun 1800an, yaitu Lepra atau Kusta.


“Apa benar kau telah mandi bersama dengan salah satu selir yang berpenyakit kulit iut?” Maharaja terlihat khawatir, walaupun dia mulai tertarik dengan Diah, tapi tentu penyakit kulit bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main.


“Ham-hamba, hamba ....”


“Dayang-dayang masuklah.” Ratu menggunakan kesempatan ini untuk membuat Selir Diah bungkam dan tidak banyak gaya lagi.


Beberapa dayang masuk dan duduk bersujud seperti Diah, tapi posisinya di belakang Diah, Ratu menanyakan apakah Selir Diah ikut mandi bersama dengan  Selir yang sakit kulit itu.


“Iya yang Mulia, bukan hanya Selir Diah, tapi juga beberapa Selir yang lain.”Dayang kerajaan, semuanya adalah budak-budak Ratu, tentu saja mereka membela pernyataan Ratu.


“Bukankah sebelumnya kau menuntutku untuk berlaku adil, aku hanya melindungi suamiku, aku melindunginya dari banyak kemungkinan dia disakiti orang, sedang kau tidak becus, bahkan di depan mata kepalamu sendiri, racun itu bisa masuk ke dalam tubuh Maharaja. Bukan itu saja, kau bahkan membela selir yang jelas memiliki penyakit kulit.” Ratu membuat Selir Diah langsung jatuh tersungkur dengan perkataannya.


“Yang Mulia Ratu saya ....”


“Baiklah, bawa keluar selir ini, minta tabib kerajaan untuk memeriksanya, pastikan kalau dia tidak sakit seperti selir sebelumnya, lalu cari tahu, siapa saja selir yang yang mandi bersama dengan selir yang sakit kulit itu, periksa seluruh tubuh selir itu, jika diketemukan penyakit yang aku maksudkan, maka usir keluar dari kerajaan, tanpa ragu, tidak perlu persetujuan dariku, karena ini titah, apakah Raja keberatan dengan titahku?” Ratu bertanya, Raja terlihat bimbang, tapi dia terlalu takut dengan penyakit kulit itu, karena terlalu berbahaya, dia melihat salah satu rakyatnya sakit kulit seperti itu dengan tubuh perlahan membusuk walau dirinya masih hidup. Raja bahkan muntah tanpa henti saat itu, karena begitu bau tubuh salah satu rakyatnya yang dia lihat ketika kegiatan berkeliling ke pelosok desa.


“Lakukan apa yang menurut Ratu terbaik untuk kerajaan ini, aku memberi keleluasaan bagi Ratu untuk membuat peraturan dan menurunkan titah.” Raja setelah mengatkaan itu langsung pergi bahkan tanpa menoleh pada Selir Diah.


Dia juga sedikit takut, karena sempat tidur bersamanya beberapa saat lalu, Selir Diah sangat sedih karena dia diabaikan oleh Raja.


Sidang selesai, Selir Diah masih bersujud dihadapan Ratu, Ratu turun dari singgasana dan mendekati Selir Diah, dia menunduk sedikit, semua orang secara spontan menjauh, itu adalah etika, karena Ratu hendak berbicara secara pribadi dengan Selir Diah.


“Kau masih terlalu kecil untuk bermain denganku.” Setelah mengatakan itu Ratu Diah berjalan dan secara sengaja kakinya menubruk tubuh Diah yang jatuh seketika, Diah lemas, karena harapannay bersama Raja telah pupus, sekarang dia harus diperiksa secara menyeluruh dan itu butuh waktu lama.


Raja juga sepertinya mulai enggan untuk mendekatinya lagi karena takut penyakit kulit itu.


Hari telah malam, Selir Diah kembali ke pendopo, dia telah dibiarkan tidur sendirian karena pemeriksaan, semua Selir yang dicurigai sakit kulit, akan diasingkan di pendopo masing-masing, selir lain yang tidak dicurigai diungsikan di pendopo lain.

__ADS_1


Selir Diah duduk dengan bersila, dia telah mengelilingi dirinya dengan lilin, saat ini semua dayang sudah tidur karena larut, dia juga sedang diasingkan, maka memanggil Ratu Amanasih bisa jadi tetap aman.


Aditia entah kenapa, sangat ingin mengikuti Diah, bukan Raja ataupun Ratu, mungkin ini alasannya.


Malam gelap, udara dingin semakin mencapai puncaknya ketika Diah memanggil Ratu jin Amanasih. Saat mantra terucap, suara berjalan seseorang yang entah dari mana asalnya terdengar, suara kayu diinjak berderit, ada suara gamelan dan seruling bersautan, Ratu Jin Amanasih datang, membawa beberapa makhluk tak kasat mata yang wajahnya hancur namun berpakaian kebaya dan kain jarik, berjalan dengan cara melayang. Selir Diah tetap duduk bersila, Ratu Amanasih duduk dihadapannya, sementara semua makhluk bawaan Ratu Jin itu mendekati Diah, wajah rusak dan bau busuk menyeruak, Diah tidak terganggu, karena setiap saat dia memang mencium bau itu, bau yang berasal dari tubuhnya, bau itu hanya dia yang bisa mencium, akibat dari begitu banyaknya makhluk tak kasat mata yang masuk ke dalam tubuhnya.


Aditia terkejut, dia tahu itu adalah Ratu Amanasih, mantan istri Abah Wangsa, Ratu Jin yang fasik! Dia telah mengganggu manusia sejak tahun 1400an, Aditia takjub, betapa kejahatannya sangat konsisten.  Aditia sadar, ini pasti ada hubungannya dengan Abah Wangsa, tapi di mana Karuhunnya itu?


“Aku sudah melakukan yang kau perintahkan, menggenggam racun itu dengan tanganku, sehingga ketika minuman itu aku tuangkan, aku percikan bubuk racunnya tanpa ketahuan, karena kualihkan perhatiannya, dia hampir mati. Kau bilang itu bisa menumbangkan Ratu, tapi sekarang malah aku yang harus diasingkan!” Diah terlihat marah dan mengeluh pada Ratu Amanasih, sementara setan yang lain sibuk mengambil energi Diah untuk makanan mereka.


“Dia memang bukan lawan yang bisa disepelekan, Ratu Dahlia tidak kosong, dia memiliki khodam yang cukup kuat juga. Dia adalah ... Kharisma Jagat, dia telah memprediksi kehadiranku sebelumnya.


Kau tentu bukan tandingannya, tapi aku ... aku tandingan Karuhunnya. Sekarang lakukan apa yang harus kau lakukan, tunggu dan sabar, aku akan mengerjai tuan dari Karuhun itu, aku akan membuatnya jera.” Ratu Amanasih terlihat sangat kesal tapi cekikikannya tetap sangat mengganggu.


Sementara itu, di pendopo lain, tepatnya pendopo Ratu Dahlia, pendopo itu sangat gelap, tapi sebenarnya Ratu Dahlia juga sedang berbincang dengan Karuhunnya. Karuhun itu menjaga Ratu dengan sangat hati-hati, karena sebenarnya tujuan utamanya bukanlah Ratu Dahlia, tapi Putra Mahkota yang kelak harus dijaga untuk bisa jadi Raja kerajaan Sunda.


Tapi terlebih dulu Abah Wangsa harus menjadi Karuhun dari ibunya lalu turun ke anaknya kelak jika ibunya tiada.


“Abah, aku merasa bahwa waktuku telah tidak lama lagi bukan?” Ratu Dahlia bertanya.


“Kematian hanya milik Tuhan.”


“Tapi kau mampu membaca pertandanya bukan?” Ratu Dahlia bertanya.


“Kalau yang kau khawatirkan adalah anakmu, maka aku berjanji menjaganya.”


“Aku tahu, tapi, tolong juga suamiku, jangan sampai dia jatuh pada wanita yang salah.”


“Aku tidak bisa janji jika itu suamimu.” Abah menolak.


“Aku mohon Abah ....”


___________________________________


Catatan Penulis :


Udah tahu sekarang, Raja Adi Barang dan Ratu Dahlia adalah leluhur siapa?

__ADS_1


__ADS_2