Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 134 : Saba Alkamah 19


__ADS_3

Saba melewati hari seperti biasa, walau terkadang dia suka histeris karena pria gosong itu masih saja terus mengganggunya, di kamar, di kamar mandi, halaman.


Bahkan sekarang saat Alka sedang baca buku, dia terus saja berada di sampingnya, Alka awalnya sangat takut, lalu takut, lalu menjadi biasa, setelahnya jadi berani untuk mengusir.


Keberanian Alka menjadi semakin baik karena dia tidak pernah sekalipun mengeluh lagi, dia tidak suka melihat ayah dan ibu angkat menjadi sedih dan khawatir, jadi sekarang dia hanya berbohong bahwa dia tidak melihat lagi pria gosong itu dan membiarkan orang tuanya jadi tenang.


"Alka anak ibu yang cantik, yuk sini, anak baik ibu makan dulu." Ibunya mendatangi Alka yang berada di ruang membaca. Alka lallu berjalan mendekati ibunya tapi dia tiba-tiba terjatuh.


"Kau!" Alka teriak ke arah kirinya.


"Alka kenapa, Nak?" tanya ibunya.


"Ini Bu, Alka kesal nih sama karpetnya, selalu aja membuat Alka tersandung." Alka berbohong, padahal dia sedang marah pada pria gosong yang membuatnya tersandung, pria ini sekarang melakukan hal lebih lagi, yaitu berinteraksi.


"Yaudah, nanti ibu ganti karpetnya ya, Alka makan yuk." Ibunya menghampiri Alka dan menggandengnya.


Alka tahu bahwa ia adalah anak angkat, dia dengar itu dari tetangganya yang sedang mengobrol dan tidak sadar Alka ada di sana, Alka yang sudah mengerti maksud pembicaraan itu menyimpannya sendiri.


Dia tahu dia ditemukan ke hutan, dia tahu apa tujuannya ketika umur dua tahun dia disuapi banyak orang, dia ingat itu walau masih sangat kecil, ingatan itu masih tertanam jelas dan dia bisa mengingat apa saja yang orang katakan dan yang harus dia lakukan untuk membuat tanah subur.


Dia melihat bahwa kedua orang tuanya sangat menyayangi dia, makanya Alka menjadi anak penurut, anak baik dan sangat dicintai karena semua sikap santunnya itu.


"Enak nggak?" tanya ibunya, ayahnya ikut makan di sana bersama mereka.


"Enak, ibu kan jago masak, masaknya selalu saja yang Alka suka."


"Makasih ya udah mau makan dengan baik anakku." Ibunya mengusap kepala Alka dan ikut makan, dia selalu memperhatikan apakah Alka makan baik atau tidak.


"Alka, Alka denger Ayah ya," ayahnya berkata. Mereka sudah selesai makan, "Alka tidak boleh lagi ke pasar ya, tidak boleh juga main dengan anak tetangga, guru juga tidak akan datang lagi untuk sementara, Nak."


"Iya Ayah, tapi apakah Alka boleh tahu alasannya?"


"Alka harus fokus untuk belajar sendiri, Ayah tahu Alka mampu kok."


Alka kecil tahu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan, dia jadi penasaran, bahkan gurunya tidak datang lagi.


"Apakah Ayah bangkrut?"


"Nak! tahu darimana kata-kata itu?" Ayahnya kaget karena anaknya langsung menembak pertanyaan begitu begitu.


"Alka baca buku bisnis yang Ayah beli untuk pelajari."


"Itu buku Ayah, bukan bukumu."


"Iya aku tahu, habis bukuku mulai membosankan, makanya aku baca buku ayah."


"Terlepas dari itu, Ayah tidak bangkrut, kita baik-baik saja, ini bukan masalah uang Nak, Ayah hanya takut kalau kau celaka, itu saja."


"Celaka? apakah ada orang yang membenciku sampai membuatku ingin celaka?" Alka kaget.


"Tidak, itu hanya untuk berjaga-jaga saja, Jadi, Alka jangan mikir hal yang aneh-aneh ya, ini pasti karena kau banyak membaca buku yang bukan untukmu." Ayahnya hampir tidak pernah marah dengan suara tinggi, apalagi memukul, Alka bak putri raja di rumahnya, tapi dia tetap saja tahu diri, makanya makin disayang.


"Baik Ayah.:" Alka mengalah dulu, toh pelayan banyak di sini, dia bisa menguping atau bertanyang langsung.


Makan selesai, Alka ke halaman, dia mau main congklak dengan pengasuhnya, ibu membantu ayah di kebun mereka seperti biasa.


"Mbak, tahu nggak kenapa Alka nggak boleh ke pasar, nggak boleh main sama teman lagi? Guru Alka juga nggak bakal dateng lagi."


"Oh pasti karena ...." Pelayan yang paling suka keceplosan itu hampir membocorkannya, tapi dia ingat kalau tuannya sudah mewanti soal ini, dia tidak mau Alka tahu yang sebenarnya.


Karena tidak mendapat informasi, Alka menjalankan rencana selanjutnya, obrolan antar pelayan adalah jalan tikus yang selalu membuat dia puas.


"Alka pengen tahu aja padahal, Alka sedih deh, kenapa nggak boleh ke pasar lagi, nggak main sama teman dan juga nggak ketemu Guru, yaudah, Alka mau ke kamar aja deh, mau bobo." Karena itu jam tidur siang, pelayannya tidak curiga, dia buru-buru membereskan semua lagi congklak yang sudah selsesai dimainkan dan langsung ke dapur membantu di belakang.


Sementara Alka pura-pura masuk kamar dan menutup pintunya, setelah sudah yakin aman, Alka keluar dan ke depan rumahnya, di akan ke dapur dengan jalan memutar, karena di bagian samping itu kau bisa bersembunyi di di balik dinding rumah sebelum sampai ke pekarangan belakang, orang jarang lewat yang biasa Alka lewati, karena tempatnya sempir, terhalang antara dinding rumah dan tembok pekarangan yang dibuat mengelilingi rumah, bagian ini memang cukup sempit untuk dlewati.


Tapi dari sini Alka mengetahui banyak hal, dari sini teknik mengupingnya terbangun dan tentu saja mulai berstrategi ketika dia pikir ada bahaya mengancam keluarganya, walau memang, belum pernah dia temui kasus seperti itu.


Alka mulai menguping, beberapa pelayan sedang masak sembari menggosip, karena tahu tuan rumah tidak di tempat, serta tuan putri rumah sudah tidur, para pelayan merasa bebas berbicara.


"Kasihan Alka, dia tadi tanya kenapa nggak boleh ke pasar, nggak boleh ketemu temen, nggak boleh ketemu guru, aku sedih liatnya."

__ADS_1


"Eh tapi kalian percaya nggak sih apa yang orang pasar bilang?" salah satu pegawai yang bertugas memasak bertanya.


"Soal dia pembawa sial?" Pelayan lain menjawab.


"Hus! jangan kenceng-kenceng ngomongnya."


"Lah, kamu yang tanya barusan, aku cuma mempertegas pertanyaan kamu."


"Kalau aku sih, nggak mau percaya ya, selama di sini aku merasakan juga tuh semua keberuntungan itu, aku dapat gaji lalu beruntung, aku s.ehat, apalagi yang mesti dikeluhkan?" ucap pelayan yang tadi menemani Alka main congklak.


"Kau yakin masih merasakan keberuntungan itu?" tanya pelayan yang lain.


"Aku juga tidak mau percaya, tapi setelah peristiwa petir itu, aku merasa hidupku juga jadi sial, aku sering jatuh, anakku sakit-sakitan, suamiku selingkuh, kayaknya kesialan menghampiriku bersamaan karena aku berdekatan dengan Alka dan aku ingat satu hal, itu terjadi setelah aku menyuapi Alka sehabis tragedi petir itu."


"Apa? jadi maksudmu, menyuapinya itu bisa jadi hal yang membuat kita tidak beruntung lagi? itu seperti terbalik dengan sebelumnya gitu?" Pelayan yang lain menebak hal yang mengerikan.


"Kalau gitu, mungkin kemarin pas dompetku hilang, rumah baruku bocor dan adikku tidak jadi menikah, apakah itu juga karena aku bekerja di sini?" Gosip itu menjadi bola panas yang membuat orang mulai berasumsi berlebihan, walau mungkin itu benar.


"Eh, aku jug, kemarin aku ketumpahan minya, lalu ...."


Satu persatu pelayan mulai bercerita tentang kesialan mereka, menghubungkan semuanya seolah kesalahan Alka, Alka tidak terasa meneteskan air mata, dia begitu kecewa, bukan dengan dirinya yang disangka membawa sial, tapi dengan orang-orang itu, biasanya dia selalu mendengar para pelayan memuji Alka yang cantik, baik dan membawa keberuntungan, lalu sekarang Alka harus menanggun tuduhan keji itu, Alka lalu berlari ke kamarnya kembali dan mengunci pintunya, dia menangis sepuasnya setelah itu.


Malam tiba, mereka sekeluarga makan malam, Alka terlihat sangat murung, dia tidak nafsu makan, biasanya dia selalu lahap kalau soal makanan.


"Alka kenapa? masakan Ibu tidak enak?" Ibunya selalu masak khusus untuk Alka, sedang makanan untuk dirinya sendiri dan juga untuk suaminya, dimasakkan oleh pelayan.


"Enak kok Bu, ini Alka cuma capek aja, mau cepet tidur."


"Tapi habiskan dulu ya makannya, sehabis itu Alka baru bobo, mau ditemenin Ibu bobonya?"


"Nggak usah Bu, Alka nggak apa-apa kok."


Ayahnya melihat Alka dengan curiga.


"Alka main dengan teman?"


"Tidak Yah, Alka hanya di rumah seharian."


"Oh, apa Alka bosan karena tidak ketemu teman dan guru?"


"Oh, kalau begitu bagaimana jika Ayah berikan ayunan dan mainan jungkat jungkit? jadi Alka bisa main dengan Ibu, Ayah atau mbak, gimana?"


"Nggak Ayah, terima kasih."


"Oh ayah tahu, mau buku baru lagi?"


"Alka nggak perlu buku baru."


Ayahnya semakin curiga, ini bukan anaknya yang biasa riang dan selalu bersemangat walau selalu santun.


"Alka sayang, apapun yang Alka butuh, Ayah dan Ibu akan penuhi, Alka tinggal minta saja ya Nak."


"Terima kasih Ayah."


Setelah selesai makan mereka akhir tidur, Alka langsung mencoba tidur untuk melupakan apa yang dia dengar tadi siang.


Tapi tidak berhasil karena dia terus kepikiran soalnkata-kata bahwa dia adalah pembawa sial.


Tanpa sadar dia menangis sesegukan, dia tidak bisa menahannya.


Ibunya tiba-tiba masuk kamar dan langsung tahu anaknya sedang menangis sesegukan.


"Ibu tahu pasti ada sesuatu, anak ibu itu anak yang paling baik dan paling kuat, apa yang terjadi Nak?"


"Ibu, apakah Alka ini pembawa siap?"


"Nak, astagfirullah, tidak sekalipun Ibu dan Ayah berpikir begitu."


"Tapi, mereka pikir begitu kan Bu, makanya Alka dilarang keluar oleh ayah."


"Lebih penting mana? apa yang mereka percaya atau apa yang orang tuamu percaya?"

__ADS_1


"Ibu, kalau benar Alka bawa sial, apakah Alka akan diusir dari rumah?"


"Tidak akan pernah, tidak akan pernah! kau anakku, kau itu hidupku, aku tidak bisa membayangkan jauh darimu, aku tidak percaya mereka atau siapapun."


"Tapi aku tahu, aku bukan anak kandung."


"Nak!" Ibunya menangis dan memeluk Alka dengan sangat erat.


"Kalau mereka membenci kalian karena Alka, Alka lebih baik pergi dari rumah ini, Alka nggak mau mereka jadi marah ke ayah dan ibu."


"Apa artinya rumah besar ini tanpa kamu? aku lebih baik dibenci seluruh dunia, tapi anakku ada di sisiku, kau mungkin tidak lahir dari rahimku, tidak menyusui dariku, tapi percayalah Nak, kau lebih berharga dari hidupku sendiri.


Kami berdua ini dulu hanya orang miskin dengan, makan dari hasilnhutan, aku dan ayahmu menikah tapi tidak juga dikaruniai anak.


Kami menemukanmu di hutan, tapi percayalah buat kami kau itu turun dari langit, Tuhan izinkan kami merawatmu.


Kekayaan ini semua hanya bonus, bagi kami, cukup kamu Nak.


Ayah juga melaranu karena begitu takut kalau sampai ada yang mencelakaimu karena percaya omongan itu, makanya Ayah lakukan ini agar kamu tetap aman."


"Maafin Alka ya Bu, udah buat kalian jadi susah."


"Nggak pernah satu hari pun kami lewati dengan sedih saat kau bersama kami, kau itu pembawa kebaikan, pembawa cahaya di runah gubuk kami dulu dan itu sama sampai sekarang walau rumah kita sudah sangat besar."


Alka dan ibunya berpelukan dengan erat, lalu Alka tertidur lelap setelahnya.


Ibunya tidak bisa tidur, dia memastikan Alka tidur dulu, baru dia ke kamar suaminya, suaminya belum tidur menunggu istrinya kembali, ayahnya yang meminta ibu angkatnya Alka untuk ke kamar Alka melihat keadaannya, dia jauh lebih cemas sebenanrnya.


"Bagaimana Bu?"


"Dia sudah tahu."


"Sudah kuduga, pelayan di rumah ini tidak bisa dipercaya."


"Lalu kita harus bagaimana Pak?"


"Kita harus pindah."


"Apakah benar harus?"


"Aku dengar gosip tentang kita itu mulai menyebar, mereka terus saja menyalahkan Alka atas tersambarnya tukang tenda itu. Ditambah Alka juga kemarin sempat mimpi kalau melihat pria gosong, pasti para pelayan juga membicarakannya kepada orang lain yang percaya bahwa tukang itu menghantui Alka karena dendam."


"Jahat sekali mereka, kita harus memecat mereka semua."


"Ya, kita persiapkan sulu kepindahan kita, aku sudah minta tolong Pak Kades membantu agar kita bisa pindah dengan cepat, dia mau membantu, dari dulu dia sangat menyayangi Alka makanya dia mau membantu."


"Iya Pak, pokoknya ke tempat dimana Alka aman, walau harus tidur di gubuk lagi aku tidak perduli."


"Semoga tidak seburuk itu, tapi aku juga tidak masalah tidur di gubuk asal anakku selamat, dia adalah permata di hidupku, aku lebih baik mati kalau dia sampai celaka."


Suami istri itu berkata sambil berpelukan, mereka tidak sadar kalau Alka menguping dibalik pintu.


Alka mendengar semua, dia tidak menangis tapi dia terdiam dengan tatapan kosong.


Hujan dan petir tiba-tiba bersautan di musim panas ini, hujan yang tiba-tina deras membuat semua orang jadi enggan keluar.


Setelahnya satu minggu penuh hujan deras terus turun tanpa ada jeda, warga desa mulai khawatir, kebun mereka mulai tenggelam, pertanian juga tidak terlewatkan, mereka sudah bisa memastikan bahwa mereka akan gagal panen.


Hujan tidak mau berhenti meski pawang hujan sudah didatangkan, bukannya berhenti malah semakin deras.


Alka jadi snagat murung, tidak mau keluar kamar, makan di kamar dan juga jarang bicara.


Beberapa temannya juga suka datang ke halaman rumah, bukan untuk ajak main atau rindu, tapi berteriak mengatakan bahwa Alka anak sial.


Orang tua angkat Alka sedih melihat keadaan Alka, rencana kepindahan mereka tertunda karena hujan yang mirip badai sesekali ini, makanya hal itu membuat keadaan Alka jadi buruk, mentalnya langsung turun sengan semua sikap orang disekitarnya, bahkan beberapa pelayan terang-terangan memperlihatkan muka tidak suka.


"Alka, kita pindah secepatnya ya, Nak."


Alka diam saja.


"Tenang, di rumah baru kita akan lebih senang, nggak akan ada yang panggil Alka dengan sebutan buruk, kita akan mulai dari awal lagi."

__ADS_1


Alka masih diam saja.


Lalu terdengar suara dari luar, seseorang datang dengan tergesa-gesa sambil berteriak-teriak.


__ADS_2