
Manushbala, dia adalah iblis yang zatnya serupa dengan jin, anak buah Masuth Matun, jenis iblis laknat yang salah satu tugasnya adalah agar manusia selalu mencela, mencaci, memaki, menggunjing, menyebar fitnah, dan mengadu domba. Masuth Matun hidup sudah sangat lama, mungkin sejak manusia ada, berbeda dengan Manushbala, tidak setua gurunya. Manushbala tidak akan pernah menampakan dirinya, karena dia merasa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling rendah, tak pantas untuk melihat sosoknya.
Tapi hobi Manusbalah adalah, mempermainkan manusia yang memiliki energi negatif tertinggi.
Apakah kalian tahu, bahwa dosa yang mampu menembus neraka adalah, dosa menyakiti orang lain. Bahkan dosa menyakiti orang lain itu, akan membuat pelakunya mendapat kutukan dari Tuhan.
Manushbala senang jika menemukan manusia yang hobinya menyakiti hati orang lain, darimana Manusbala tahu bahwa orang itu suka menyakiti hati orang? karena doa-doa orang yang disakiti akan membentuk energi hitam pekat yang menyelimuti hati orang-orang yang senang menyakiti hati orang lain, membuat orang itu terlihat menonjol dari yang lain di mata Manushbala. Maka ketika dia mendapatkan sasarannya, Manushbala akan memberi umpan yang paling orang itu sukai, yaitu objek yang paling sering mereka hina, orang lemah yang ternyata menjadi ketakutan mereka.
Apakah Manushbala menghukum mereka dengan membuat orang-orang dzalim ini tidak bisa bicara lagi? tidak, Manushbala hendak membawa mereka mati tanpa bertaubat, maka yang diincar adalah suara dan akalnya, hingga dia tidak mampu berdoa dengan suara dan hatinya, memohon ampun. Maka ketika manusia tiada tanpa bertobat, persinggahan akhirnya adalah neraka.
“Jadi kemunginan memang masalahnya bukan pada tukang bubur setan, bisa jadi dia hanya tipu daya, bukan tukang bubur yang dibantai lalu jadi jiwa yang tersesat, atau tukang bubur yang menyamar menjadi jin, bisa jadi dia hanya tipu daya akibat apa yang iblis lakukan pada hati nurani gelap yang dimiliki oleh para korban.
Karena hati nurani gelap itu, maka akhirnya iblis membuatkan simulasi hukuman bagi manusia yang menjadi korban, padahal itu hanya untuk menciptakan rasa takut, ketika manusia berada pada kondisi ketakutan, maka tubuhnya mampu dirasuki oleh Tiri Mayit, media yang digunakan untuk membuat korban tidak memiliki kemampuan mengontrol dirinya, karena Tiri Mayit pertama membuat suaranya hilang, lalu timbul benjolan, padahal itu adalah Tiri Mayit yang semakin bertumbuh, incaran selanjutnya adalah otak manusia, dari sana dia akan merasuki tubuh manusia secara sempurna.” Ganding membacakan rangkuman yang dia dapatkan dari beberapa kitab yang mereka kumpulkan dari waktu ke waktu.
“Yah, kita nggak bakal ketemua sama tukang bubur dong? Tipu daya tidak mempan pada kita. Padahal aku penasaran, seperti apa mukanya si tukang bubur.” Aditia sombong.
“Yang pasti dari satu orang ke orang lain takkan sama interpretasinya Dit, karena kan tipu dayanya berdasarkan hati nurani gelap yang ada di diri para korban. “
“Yaudah daripada buang waktu, cepet cari Manushbala, kita harus temukan dia, biar nggak buat onar lagi di komplek ini.” Aditia bergegas, karena kalau terlalu lama, bisa jadi Surti tinggal menunggu kematian dalam keadaaan kerasukan sempurna, tiada tanpa bertobat.
Semua berdiri membentuk lingkaran, berdoa dulu, hal yang biasa mereka lakukan sebelum perburuan. Setelah berdoa selesai mereka mulai berpencar, karena radius pencarian akan segera diperluas, bukan mencari sosoknya, tapi mencari tempat tinggalnya, biasanya dia bersembuyi.
Berdasarkan kitab yang sudah dikumpulkan Ganding dan kawanan, Manushbala tidak pandai bertarung, ilmunya hanya menipudaya manusia, yang ditakutkan adalah, apabila Manushbala mulai mempengaruhi seseorang dengan rasa takutnya, seperti para korban, takut kalau akhirnya dipertemukan dengan orang yang mereka hina dalam wujud yang mengerikan.
Maka kali ini kawanan seharusnya bukan waspada pada cedera fisik, tapi waspada pada cedera mental. Sebaik-baiknya kawanan, mereka manusia, pasti punya rasa takut yang menjadi kelemahan. Maka mereka harus siap menghadapi, rasa takut, Manushbala takkan menyerah begitu saja, mengingat gurunya adalah iblis yang cukup tinggi dalam kelasnya mengganggu manusia, sejak manusia itu sendiri ada.
Mereka berpencar di komplek itu, mencari tempat yang mungkin menjadi persembunyian Manushbala. Setiap rumah diketuk, mereka tidak peduli walau mengganggu, karena ini sudah sangat malam.
Warga pun, tidak keberatan, karena tahu ini untuk bersama, akhirnya mereka kembali ke tenda setelah sampai dini hari mendapatkan begitu banyak barang pusaka yang dicurigai adalah tempat persembunyian Manushbala.
Ada guci antik, keris, pedang, selendang, pisau militer, mangkuk, gelas, semua yang kawanan rasa ada energi hitam yang terasa.
Karena saking banyaknya, mereka akhirnya membawa semua barang klenik itu, dengan gerobak, malam-malam menyidak benda ghaib, sembari mendorong gerobak, persis seperti pemulung, mendorong gerobak bersama-sama, siapa yang bakal menyangka bahwa lima sekawan ini adalah para tuan muda kaya raya semua. Mereka ini benar-benar bersenang-senang dengan pekerjaannya.
Mereka mulai membuka satu persatu barang temuan, yang di rasa terlalu lemah energinya langsung dikeluarkan saja jinnya dan dimasukkan ke dalam botol, jin-jin ini akan dijadikan tawanan di markas baru nanti, agar tidak mengganggu penghuni rumah lagi kelak, bisa jadi ini juga operasi untuk pemutihan para warga yang digangg jin.
Waktu sudah pagi, kawanan kelelahan, mereka belum tidur sama sekali, karena semalaman memerika semua benda klenik, pagi ini mereka sarapan nasi uduk dan kopi hitam bersama, lalu setelahnya mereka harus tidur dulu satu atau dua jam, sekedar mengistirahatkan tubuh.
“Har ….” Suara lembut memanggil Hartino.
Hartino bangun dari tidurnya.
“Cha, sudah pagi?” Hartino bertanya.
Alisha menarik tubuh Har dengan manja, Har tersenyum melihat betapa manjanya Alisha. Alisha yang dulu sudah kembali.
Alisha mendudukkan Har di meja makan apartemen, rupanya dia ingin Hartino sarapan, dia lalu pergi ke dapur, membelakangi Har, seperti sedang mempersiapkan makanan yang hendak diberikan pada Har.
“Kamu masak apa sayangku?” Har bertanya, tapi Alisha diam, dia masih sibuk menyiapkan makanannya.
“Alisha sayang, kamu masak apa?” Hartino mengulang pertanyaannya lagi.
Hartino bangun dan mendekati Alisha, saat mendekat, Hartino merasa bahwa dia mencium bau yang sangat busuk, itu tidak membuat dia urung mendekati Alisha.
“Cha ….” Hartino berhati-hati mendekati Alisha, saat semakin dekat, Alisha berbalik, tubuh itu berubah menjadi Esash, Alisha bukan lagi Alisha istri Har, dia berubah menjadi Esash, hal yang paling Hartino takut dan melemahkannya.
Tubuh Hartino membeku, dia tidak bisa bergerak, Esash mendekatinya, dia menyentuh Har dengan tangannya, membuka paksa mulut Hartino, lalu memasukkan cairan yang sangat berbau busuk dan berwarna hitam pekat, Hartino mencoba melawan, tapi tidak bisa.
Setelahnya gelap.
Kawanan berusaha membangunkan Hartino, karena ini waktunya mereka untuk memeriksa lagi sekitar, mencari barang yang menjadi hunian Manushbala.
__ADS_1
Begitu bangun, Har pucat, Alka yang tadinya tak sadar langsung buru-buru memegang tenggorokan Hartino, dingin.
“Har, kau kehilangan suaramu?” Alka khawatir.
Hartino mengangguk, dia tahu telah masuk ke dalam tipudaya Manushbala dan kehilangan suara. Aditia kesal dan menendang tanah, dia kesal karena mereka semua lengah.
“Tenang semua, ingat, Manushbala sedang menyusup di antara kita, sekarang, kalian semua berpencar, cari apapun yang memiliki kekuatan ghaib! Dia mengirim surat terbuka untuk berpedang.” Alka mengeluarkan cambuknya, karena dia geram, walau terlihat tenang, tapi dia sangat marah.
Aditia dan yang lain juga sama Hartino tidak mau lemah dia tetap ingin ikut bertarung dan menemukan di mana Manushbala berada, dia ingin menangkap jin itu dengan tangannya sendiri karena berani membuat dirinya terkena Tiri Mayit.
Kembali mereka menyusuri jalan, mengetuk rumah ulang, hingga sore hari masih saja tidak menemukan jin bedebah itu.
Mereka berkumpul setelah tidak menemukan apapun pada suatu jalan di komplek itu.
“Bentar deh, kita lagi dipermainkan nih.” Ganding kesal, mereka sudah mandi keringat, tapi masih nihil.
“Coba pikirin deh Nding, elu kalau suka banget sama suatu barang, elu bakal taruh barang itu di mana?” Aditia bertanya.
“Di dekat gue, terus?”
“Kemungkinan Manushbala punya sekutu, seorang manusia yang menyembunyikan dia di ….”
“Di dekatnya? Begitu Dit?”
“Ya! Kalau begitu yang paling mungkin adalah ….”
“Cepet!” Alka juga sadar soal itu, ada satu tempat yang tidak mereka periksa karena merasa itu tempat aman dan tidak terdeteksi energi hitam, bisa saja energi itu memang ditutupi oleh manusia yang sengaja menjaga Manushbala atau menyembunyikan Manushbala di tempat lain.
Begitu sampai di tempat tujuan, Alka langsung meminta mereka semua baris, total ada 5 orang, karena ini sore, dua shift berkumpul, belum jam pulang kerja.
Setelah mengumpulkan mereka, Ganding menggendam mereka semua, karena tidak ada waktu menginterogasi jalur normal.
Pak RT datang berlari melihat semua anak buahnya di bariskan, dia bingung.
“Pak tunjuk orang yang menemukan Surti.” Ganding berkata tanpa memberikan penjelasan.
“Ini.” Pak RT menunjuk salah satu Security yang di seragamnya tersemat nama Herman.
“Yang menemukan Ezy?” Lagi-lagi Pak RT menunjuk Herman.
“Yang menemukan Mira?” Masih Herman yang ditunjuk.
“Lihat lelaki ini Pak, apa yang biasa dia pakai tapi tidak dipakai?” Ganding bertanya lagi.
Pak RT mendekati Herman dan melihat seluruh tubuhnya, semuanya tampak biasa saja, sampai dia berhenti di satu titik dan memberitahukan pada kawanan.
“Dia tidak pakai cincin batu akik, batu akik warna merah, itu adalah kebanggaannya, kita pernah iseng minta dia jual, katanya sampai kapanpun batu itu takkan pernah dijual.”
“Kalau begitu, kita kerumahnya, geledah rumahnya cari batu itu.” Ganding bergegas bersama Pak RT dan Jarni, sedang yang lain menjaga di pos, tetap memastikan semua orang masih dalam pengaruh gendam, tidak bergerak sampai diperintahkah.
Tidak lama kemudian Ganding datang, Ganding bilang tidka menemukan cincin itu, di pos juga tak ada.
Akhirnya mereka melepas gendam kepada semua orang, termasuk Herman. Tapi Herman di bawa ke tanah kosong dulu, Pak RT ikut, walau dia tidak tahu apapun.
“Herman kau kami ikat dengan ikatan ghaib, kau tidak akan bisa bergerak.” Aditia mulai menginterogasi Herman, dia tidak bisa dipaksa untuk jujur dalam pengaruh gendam, karena gendam hanya mengendalikan tubuh saja agar tidak bisa diperintah otak, tapi diperintah yang memberikan gendam, sedang otaknya tertidur sementara, jadi tidak dapat dimintai keterangan jika dalam pengaruh gendam.
“Kenapa saya diikat Pak?” Herman bingung, karena dia tidak bisa bergerak, padahal tak ada tali di tubuhnya.
“Maaf Herman, saya tidak tahu, tapi saya percaya mereka.” Pak RT menjawab.
“Katakan di mana cincin batu akik merahmu?” Aditia bertanya.
__ADS_1
“Apa maksudnya, saya tidak mengerti.”
“Mana cincin yang biasa kamu pakai!” Pak RT ikut geregetan.
“Cincinnya udah dibeli orang Pak!” Herman akhirnay menjawab.
“Bohong, tidak mungkin, kau sangat suka cincin itu dan tidak akan pernah menjualnya, itu katamu.” Pak RT menyangkalnya.
“Iya, tapi … kemarin ditawar harga tinggi, saya butuh uang, jadi saya jual, kan bapak tahu, anak saya mau masuk SMA.”
“Di mana cincin itu?” Aditia tidak percaya begitu saja.
“Sudah saya jual Pak, saya benar-benar sudah menjualnya, lagian emang kenapa? kok kalian sangat ingin cincin saya?” Herman bertanya dengan polos.
“Di dalam cincin itulah jin yang menciptakan tukang bubur setan, kau juga tahu itu kan?” Aditia kesal.
“Saya tidak tahu, saya benar-benar tidak tahu, saya hanya merasa cincin itu adalah cincin yang sangat bagus, setiap kali saya memakai cincin itu, saya merasa beruntung, jadinya saya memakainya dan tidak mau menjual cincin itu.” Herman masih terus menyangkal.
“Beritahu kami di mana, atau aku buat kau menjadi tidak bisa bicara seperti para korban!” Ganding kesal mengingat Hartino saat ini juga jadi korban.
“Saya tidak tahu, saya tidak bohong!” Herman terlihat putus asa.
“Kalau kau masih bersikeras tidak memberitahu, kami benar-benar akan membuatmu tidak bisa bicara.” Jarni yang jarang sekali mengancam orang, tiba-tiba berbicara dengan lantang.
Tapi Herman masih saja menolak, Jarni kesal lalu memasukkan ular mininya ke dalam mulut Herman, saat ini Herman sama sekali tidak bisa bicara, dia jadi kehilangan suara, Jarni hanya membuat lelaki itu hilang suara sesaat, besok juga sudah pulih, tapi dia ingin lelaki ini jadi ketakutan.
“Herman, beritahu saja, kau ingin selamanya bisu!” Pak RT kesal melihat kelakukan anak buahnya.
Herman masih saja menggeleng, dia benar-benar sepenuih hati menyembunyikan di mana cincin batu akik merah itu.
“Herman, kau mau anak istrimu jadi tidak bisa berbicara dengan ayahny lagi, sekarang beritahu kami di mana cincin itu!” Alka kesal karena orang ini tidak juga jujur.
“Kami akan tunggu sampai kau jujur, sementara itu kau akan aku sandera di sini.” Ganding mengancam.
“Nding, Kakak sama Adit ke rumah majikan Surti dulu, karena ini sudah cukup lama baginya, aku taku dia akan melukai dirinya sendiri.”
Alka baru keadaan Surti, ini sudah dua malam sejak dia meminta rekan pembantunya untuk menjaga di rumah majikan itu.
Begitu Alka berkunjung, dia melihat pembantunya sedang membersihkan rumah.
“Mbak gimana Surti?” Alka bertanya.
“Masuk dulu Mbak, aman kok, nggak ada suara apa-apa dari kamar itu, tenang banget, saya juga jadi tenang.”
“Sejak kapan nggak ada suara?” Alka panik.
“Sejak kemarin, hening, biasanya ada suara nubruk-nubruk tembok. Tapi kemarin malam nggak ada suara sama sekali.”
“Mbak! Aduh! Dit!” Alka sangat panik, dia meminta pembantu itu untuk segera membuka pintunya, tapi setelah pintu dibuka, pembantu itu harus menjauh, Alka mengunci pintunya dari dalam, Aditia dan Alka sudah di dalam kamar, Surti terkulai lemas, jelas, karena memang Alka meminta tidak memberikan Surti makan ataupun minum, mengingat manusia bisa bertahan hidup tanpa air selama tiga sampai empat hari, tergantung kondisi dan juga situasi.
“Dia tidak minum sejak dua hari ini?” Aditia bertanya.
“Ya, sudah dua hari ini.”
“Kalau begitu dia akan lemah, kita harus memberinya air dan makan, ikat saja dengan tali ghaib Ka.” Aditia memberi ide. Alka setuju.
Alka lalu memaksa menyuapi Surti dengan makan yang dibawakan pembantu di rumah itu, Surti lemah, tapi dia makan dengan lahap, karena memang lapar.
Setelah menyuapi Surti, Alka memegang tubuh Surti, hanya kakinya yang tidak dingin, sisanya seluruh tubuh dingin.
“Waktu Surti sebentar lagi Dit, kita harus menemukan Manushbala.” Alka kesal karen mereka masih gagal menemukan jin bedebah itu.
__ADS_1
“Yakin Ka, kita pasti menemukan dia, kita sudah melalui begitu banyak kasus, Manushbala hanya jin yang pandai menipu, kita pasti bisa menemukan dia.” Aditia meyakinkan Alka.
Begitu selesai makan, Surti lalu dilepas ikatannya, dia mulai mengamuk, ALka berhasil menutup pintunya dan kembali memasang pagar ghaib yang sudah dititipkan Jarni tadi untuk membuat Surti tidak menemukan jalan keluar, untuk saat ini Surti hanya perlu tenang dulu, karena Alka dan Aditia akan kembali mencari cincin itu.