
Dokter Itu masih terdiam, dia gemetar, takut dan bingung, dia memegang meja kerjanya agar mudah menjaih jika buku itu menyerangnya, walau pemikiran itu adalah pemikiran bodoh sekali.
“Ba-bagaimana kau ….”
“Bagaimana aku bisa memindahkan buku itu?”
“Hmmm.”
“Pada kenyataannya, kau dan yang lain salah sangka Dok, bukan aku yang memindahkannya, aku meminta yang lain untuk memindahkan buku itu.”
“Maksudnya?”
“Yang kalian tidak bisa lihat.” Ganding yang sedari tadi memasang wajah santai menjadi serius.
“Yang kami tidak bisa lihat?”
“Ya, saat ini kita tidak sedang berdua, tapi kita bertiga, dia adalah Si Bulu, aku memberinya nama karena dia tidak berbicara, dia hanya ada begitu saja, aku memberinya nama seperti itu karena dia memiliki bulu dari kepala hingga kaki yang menutupi seluruh tubuhnya. Maaf aku membauatmu terkejut, aku tidak punya cara selain membuktikannya, mommy bilang aku perlu bukti.
Kenapa aku tidak memberi tahu mommy dan memberikan bukti seperti yang aku lakukan pada Dokter, karena aku tidak ingin di terkejut dan takut padaku.” Ganding tertunduk mengatakan itu.
“Aku … jujur aku tidak bisa mendefinisikan keadaan ini, aku perlu waktu memikirkannya, aku ….”
“Dok, aku hanya tidak ingin minum obat, aku tahu betapa jahatnya kandungan obat bagi tubuhku yang masih harus tumbuh, aku tidak ingin menjadi lemah karena obat-obat itu.”
“Setelah kau memperlihatkan kejadian luar biasa tadi kau hanya tidak ingin aku resepkan obat, padahal kau mungkin saja membuat seorang Dokter mengubah keyakinannya.” Dokter itu menghembuskan nafas dengan berat.
“Ya aku butuh apalagi, aku juga tidak ingin memaksa mommy atau anggota keluarga lain untuk menerimaku, aku tahu, dunia ini berjalan sesuai dengan apa yang orang banyak yakini, aku hanya ingin hidup tenang Dok, sekolah, baca buku dan meraih cita-citaku.”
“Apa cita-citamu?” Dokter itu menjadi tertarik pada cita-cita anak jenius ini.
“Hmm, aku ingin menjadi Dosen.”
“Dosen? Kenapa Dosen? Kau bisa mendapatkan yang jauh lebih tinggi dari itu, seperti Dokter Spesialis, Astronot mungkin atau profesi elit lainnya, bukannya Dosen tidak bagus, tapi bukankah menjadi Dosen kau tidak perlu terlalu jenius.”
“Aku ingin menjadi Dosen karena dengan begitu aku bisa mengajarkan ilmu kepada Mahasiswaku kelak, aku juga bisa berdiskusi dengan mereka, aku harus banyak belajar agar tidak tergerus jaman karena pasti setiap tahun Mahasiswaku akan berdatangan dari generasi berbeda, makanya aku ingin kerja dimana, membaca adalah hal yang harus selalu dilakukan, aku tidak terlalu suka kegiatan fisik.”
“Wah, aku baru melihat, ada anak dengan tingkat kecerdasan sangat tinggi tapi cita-citanya tidak terlalu tinggi, menjadi Dosen adalah cita-cita yang mulia, walau kau bisa mendapatkan lebih dari itu.”
“Buatku, anak-anak yang masa depannya sudah dicatatkan oleh orang tua, kami tidak punya banyak pilihan Dok.”
“oh ya, lalu kenapa kakak-kakakmu bisa bebas dengan apa yang mereka mau? Kakak perempuanmu sekolah balet kan? Lalu kakakmu yang laki-laki suka ikut kegiatan band di kampusnya, lalu kenapa kau yang masih sangat muda tapi seperti terlalu pesimis dengan masa depan?”
“Itulah Dok, kalau mereka begitu, maka siapa lagi selain aku yang akan mengambil alih perusahaan daddy, apakah kau akan tega, pada ayah yang bekerja keras untuk kehidupan keluarganya, tapi anak-anaknya tidak mau melanjutkan, padahal itu semua yang menyokong hidupmu?”
“Ganding, terima kasih ya.”
“Buat apa Dok?”
“Untuk pelajaran yang kau berikan padaku hari ini, tentang betapa dewasanya dirimu, padahal kau lebih kecil dari kakak-kakakmu, tapi kau yang paling tidak egois, kau yang paling jenius, tapi kau yang bahkan memilih mengalah untuk semua orang bahagia, aku tahu sekarang, kenapa anak jenius cenderung menutup diri, karena mereka sudah tahu kenyataan dunia sebelum orang yang masih mabuk mimpi.”
“Aku harap diskusi kita berlanjut, tapi bukan sebagai diskusi antara Dokter dan Pasien ya Dok.”
“Kalau aku sudah bisa menyimpulkan apa yang harus aku lakukan dan kau tidak perlu datang sebagai Pasien lagi, aku tidak keberatan ngobrol santai denganmu.”
“Kau tidak malu Dok?”
“Malu kenapa?”
“Ngobrol kok sama anak kecil.”
“Anak kecil hebat maksudnya? Aku yakin, kau akan punya masa depan yang cemerlang jika kau tetap mempertahankan semua keyakinan itu di dalam dirimu, keyakinan kebaikan untuk semua orang, kita butuh orang-orang sepertimu di zaman ini Nding.” Dokter itu mengatakannya dengan tulus.
Sesi selesai, mommy sudah menunggu di depan ruangan, Ganding keluar dengan wajah senang.
“See, aku bilang juga kau akan senang ke sini,” mommynya berkata.
“Iya Mom, makasih ya.”
“Ya Nak, semua untukmu, terbaik untukmu, semoga setelah ini kita akan baik-baik saja.”
…
“Aku bingung makanya aku menghubungimu.” Dokter itu bertemu dengan temannya, temannya itu adalah teman kampus, mereka satu kampus tapi dengan jurusan berbeda, temannya adalah Dokter umum pada suatu rumah sakit, temannya pernah bercerita saat mereka bertemu terakhir kali kalau dia dibantu oleh seseorang ketika menghadapi masalah di luar nalar.
Waktu itu di rumah sakitnya ada kejadian yang menakutkan, yaitu dimana ketika ada bayi yang tiba-tiba menghilang di rumah sakitnya, tidak terdeteksi CCTV ataupun penjaga, bayi itu hilang seperti di telan bumi, benar-benar menghilang.
Lalu seseorang datang menolong dan memperlihatkan di mana bayi itu berada, jadi bayi itu masih ada di bangsal bayi, tapi disembunyikan oleh ibunya, ibunya yang sudah meninggal sat melahirkannya, lalu ibu itu akhirnya diantar ke tempat yang semestinya oleh seseorang itu.
Makanya sekarang Psikiater itu bertemu dengan temannya untuk dikenalkan dengan seseorang itu, siapa tahu dia bisa membantu menjelaskan tentang fenomena yang dia alami ketika bersama Ganding tadi.
Setelah mengutarakan maksud dan menceritakan tentang Ganding, Psikiater itu langsung diberi nomor telepon orang yang membantu menemui bayi yang menghilang secara ghaib itu, Psikiater tidak menunggu waktu lama menelpon dan mengajak ketemuan.
“Jadi begitu Pak ceritanya, saya yakin bahwa mental saya sehat dan baik-baik saja.” Psikiater itu berkata dengan sedikit bersemangat.
“Baiklah, kalau begitu selamat, anda sudah diberi pengalaman spiritual yang cukup tinggi oleh anak itu.”
“Tapi Pak, apakah Pak Mulyana bisa bantu saya, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Yang sebenarnya terjadi adalah apa yang anak itu ceritakan, itulah yang terjadi.”
__ADS_1
“Jadi benar bahwa dia berteman dengan setan?”
“Waduh, Dokter harus hati-hati mengucapkan kata setan, karena tidak semua yang tak terlihat itu setan.” Pak Mulyana tertawa dengan kesimpulan Dokter itu.
“Ya, maksudku hantu.”
“Jin Dok, mereka itu jin, anak itu sedang bersama ji n dan tidak semua orang diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa melihat jin, seperti Ganding dan juga mungkin ratusan anak lain.”
“Apa yang harus saya lakukan Pak, maksudnya saya sudah tahu dengan jelas, bahwa dia tidak gila.”
“Beri diagnosa saja sesuai dengan keyakinan Dokter.”
“Kalau beri diagnose, berarti saya harus mengikuti diagnose medis berdasarkan prilaku pak.”
“Bukan itu dong Dok, maksudnya, beri diagnosa sesuai yagn Dokter yakini saat ini, apakah itu memang prilaku anak yang sakit mental atau tidak.”
“Lalu bagaimana saya mempertanggung jawabkan diagnosa saya, Ganding tidak ingin diketahui soal kelebihannya pada orang tuanya Pak.”
“Nah kalau itu saya nggak bisa bantu, silahkan Dokter cari cara sendiri, tapi bolehkah saya mengenal Ganding lebih jauh? Saya ingin melihat seberapa jauh dia sudah masuk dalam dunia ghaib, saya hanya takut, itu membahayakan untuk anak sekecil dia.”
“Tentu saja Pak Mulyana, saya akan beri tahu alamat rumahnya.”
“Iya Dok, makasih ya.”
Dokter itu sekarang sudah tahu langkah apa yang harus dia ambil, tapi dia harus lebih hati-hati lagi dalam memberikan alasan atas diagnosanya, jangan sampai ini menyulitkan Ganding, pantas dia disebut Dokter yang hebat dan terkenal, itu karena dia benar-benar memikirkan apa yang anak-anak itu rasakan, dia tidak hanya memperdulikan tentang uang pengobatan, tapi benar-benar pada kesehatan mental anak.
Pak Mulyana lalu berkunjung ke alamat rumah Ganding, dia memantau dulu dari kejauhan karena dia harus memastikan bahwa omongan Dokter bukan bualan, maklum perihal ghaib tidak bisa dibuktikan dengan mudah.
Ganding pergi ke sekolah, Pak Mulyana mengikutinya, lalu sampai sekolah dia menunggu sampai waktunya pulang, dia perhatikan satu-satu anak, Ganding belum pulang, wakt yang tepat untuk menyapa.
Pak Mulyana lalu masuk ke sekolah, dia mencari perkelas, karena katanya Ganding itu kelas satu sekolah dasar, jadi dia hanya perlu melihat kelas per kelas pada kelas satu, yaitu lantai tiga di sekolah ini.
Saat dia mencari, dia melihat Ganding sedang berjalan, dia seperti sedang tertawa, tapi begitu melihat Pak Mulyana dia langsung terdiam, dalam hati Pak Mulyana berkata, anak hebat, dia berusaha menyembunyikan makhluk itu, dia piker Pak Mulyana adalah orang yang harus dia hindari agar tak muncul rumor lagi, dia belum kenal Bapak.
Saat jalan sudah dekat, Ganding berjalan terus, dia tidak mau menengok terus jalan.
“Ganding.”
Ganding diam, dia tidak berjalan lagi, Pak Mulyana ada di belakangnya.
“Ya, Bapak siapa?” Ganding bertanya.
“Saya? saya Mulyana, boleh bicara sebentar?” katanya.
“Maaf Pak Mulyana, sebentar lagi saya dijemput, mungkin Bapak perlu bicara dengan mommy jika ingin bicara dengan saya.” Mungkin Ganding terdidik untuk selalu berhati-hati pada orang asing, dia memang cerdas.
“Hal ini? saya melibatkan mommy dalam hal apa pun, jadi saya permisi dulu.” Ganding mulai menolak dengan keras, dia bahkan hendak meninggalkan Pak Mulyana.
“Baik, saya akan hubungi ibumu untuk membicarakan, makluk yang ada di belakangmu.”
Ganding terdiam, langkahnya benar-benar terhenti.
“Maksud Bapak?” Ganding berbalik lagi menghadap Pak Mulyana.
“Ya, makhluk yang penuh bulu ini.” Wajah Ganding yang tadinya terlihat khawatir menjadi tersenyum.
“Bapak bisa lihat dia?”
“Tentu saja.”
“Bapak … apakah Bapak bisa melihat dia juga?”
“Bukan hanya dia, tapi juga ‘mereka’.”
“Wah hebat.”
“Jadi, apakah aku harus memberitahu ibumu tentang hal yang perlu aku bicarakan?” Pak Mulyana meledeknya, walau pemikiran tidak gampang berbicara dengan orang asing adalah pemikiran yang baik dan tepat.
“Tidak perlu! Kita berdua saja bicaranya.”
“Kalau begitu, mau ikut denganku, ikut ke angkotku.”
“Angkot? Maksudnya transportasi umum yang orang suka pakai? gimana kalau dengan mobilku saja?”
“Tidak, ayo ikut aku.” Mulyana memaksa, Ganding akhirnya ikut.
Mereka sudah di angkot Mulyana kendaraan yang dia pakai untuk menjemput dan mengantar ‘mereka’.
“Kau tahu, kenapa aku menggunakan ini?”
“Tentu, untuk mencari nafkah bukan?”
“Bukan.”
“Lalu untuk apa?”
“Karena kau bukan anak kecil biasa, maka aku akan berbicara dengan terbuka. Jadi begini, aku bukan supir angkot, aku menggunakan kendaraan ini hanya agar tidak terlihat mencolok, karena jika kendaraan lain yang aku gunakan, maka orang akan curiga.”
“Kenapa mereka bisa curiga?”
__ADS_1
“Pertanyaan bagus, karena aku terkadang memarkir kendaraanku di tempat yang sangat tidak umum.”
“Oh ya? di mana misalnya?”
“Misal, di tanah kosong, di rumah tua, kuburan atau bahkan tengah hutan.”
“Wah, keren. Lalu apa yang kau lakukan di sana?” Ganding bertanya.
“Aku? mengantar mereka.”
“Mereka siapa?”
“Bukan siapa, tapi apa.”
“Oh, apa?”
“Mereka yang tersesat dan tidak bisa kembali ke tempat di mana mereka semestinya.”
“Wah kau hebat, pantas kau bisa melihat Si Bulu.”
“Ganding sudah tahu siapa Si Bulu itu?” Mulyana bertanya.
“Belum, dia tidak menjawab Pak, aku suda mencari di banyak literatur, baik literatur Jawa maupun Sunda, tapi tidak ada yang bentuknya mirip dia.”
“Baik, kalau begitu aku akan tunjukan padamu, wujud aslinya dan untuk apa dia di sini.”
“Aku tidak sabar, Pak.”
“Tapi sebelum itu, boleh aku tahu sesuatu?”
“Boleh, silahkan.”
“Aku bermaksud mengajakmu memanfaatkan ilmu yang kau miliki, makanya ilmu yang aku berikan tidak gratis.”
“Aku punya uang banyak, tabunganku ada, kalau tidak cukup, aku akan mencari alasan hingga daddy kasih uangnya, aku bukan anak yang sering minta uang, pasti mereka akan kasih.”
“Bukan uang, aku tidak butuh itu, karena aku lebih kaya dari ayahmu.”
“Oh begitu, maaf. Lalu apa yang kau butuhkan sebagai bayaran?”
“Dirimu.”
“Aku?” Ganding bingung.
“Ya kamu, aku ingin kau mengabdi pada mereka yang membutuhkanmu, aku biasanya tidak meminta seperti ini, apalagi pada anak kecil, tapi mendengar kisahmu dari Dokter itu, aku yakin, kaulah yang mampu membantuku, karena sendirian aku tidak mampu.”
“Baiklah, apa yang bisa aku lakukan? siapa yang membutuhkanku?”
“Aku tidak bisa jelaskan sekarang, kita akan belajar dengan prakter kelak, tapi kau butuh teorinya dahulu, bagaimana? kau harus berjanji dulu.” Mulyana sangat ingin Ganding tidak hanya berhenti menjadi anak jenius, tapi anak yang bermanfaat untuk banyak orang.
“Aku tidak suka berjanji, karena aku benci jika tak mampu tepati, tapi kali ini aku akan lakukan, karena aku fikir pertukarannya sepadan.” Anak yang hebat.
“Baiklah berarti kita sepakat, maka tak ada alasan bagiku untuk tidak memberitahumu siapa sebenarnya Si Bulu ini, tapi kita harus pergi ke suatu tempat dulu, kau percaya padaku?”
“Aku percaya, tapi kalau aku lama-lama ikut Bapak, orangtuaku akan mencari dan mungkin mereka akan menelpon Polisi.”
“Tidak akan, karena … kau yang lain, akan pulang.”
“Aku yang lain?”
“Ya, dirimu yang bukan dirimu,” jelas Mulyana.
“Aku tidak menger … oh, apa kau bisa menduplikasi diriku?” Mata Ganding berbinar, dia seperti melihat seorang yang sangat hebat.
“Bukan duplikasi, tapi menyamar, karena golongan jin itu pandai menyamar, berikan padanya satu helai rambutmu, maka dia akan bisa menyamar menjadi dirimu.”
“Ya, ini.” Ganding menyerahkan sehelai rambutnya.
“Cepat sekali kau sudah langsung menarik rambutmu.” Mulyana tertawa karena Ganding tanpa ragu memberikan rambutnya.
“Ya, ayo cepat, aku sudah tidak sabar.”
“Kalau begini, kau terlihat seperti anak umur enam tahun.”
“Aku memang anak umur enam tahun.”
Mulyana mengambil rambut itu, lalu memberikannya pada jin temannya,Ganding melihat itu, tidak lama kemudian jin itu berubah menjadi sangat mirip seperti Ganding.
“Ini duplikasi namanya Pak, kau hebat.”
“Bukan aku yang hebat, tapi Allah yang hebat.”
“Ya, maksudku begitu.”
“Dia akan pulang ke rumahmu, kita punya waktu yang cukup untuk memberitahumu yang sebenarnya, sudah siap?” Mulyana bersiap untuk berkendara.
“Tentu saja, aku sangat siap.” Ganding bersemangat, sementara Si Bulu ada di angkot bagian belakang, pintu mobil di bagian belakang di tutup agar terlihat seperti angkot yang tidak narik.
Besok lagi ya Bun, selamat bobo semua.
__ADS_1