Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 284 : Hilang 9


__ADS_3

BEBERAPA WAKTU SEBELUM RATU SAKIT


“Apa tujuanmu datang padaku?” Abah Wangsa bertanya pada Ratu Amanasih, mantan istri yang telah ditinggalkannya karena tetap menganut ilmu hitam dan menjadi fasik.


“Aku ingin mengadakan perang terbuka.” Ratu menantang.


“Siapa yang menjadi tuanmu?” Abah bertanya.


“Selir Diah Ningrum.”


“Oh, anak kecil itu, apa yang dia janjikan?”


“Kelak seluruh keturuannya milikku.”


“Praktek pesugihan seperti ini masih saja kau lakukan?” Abah heran karena jin ini masih saja tidak taubat, padahal umurnya sudah ratusan tahun.


“Tentu masih, karena menjadi Karuhun sepertimu terlalu membosankan.”


“Seharusnya kau punya tuan agar semua nafsu duniamu teredam.”  Abah memperingatkan.


“Tuanku adalah diriku sendiri, mereka yang mengikutiku bahkan adalah budakku, untuk apa berubah menjadi sepertimu? Menjadi budak manusia, bodoh sekali.” Ratu Amanasih tidak tertarik bertobat.


“Katakan apa yang kau mau?”


“Aku ingin kerajaanmu porak poranda, aku ingin rautmu mati, aku ingin keturunannya musnah.” Ratu Amanasih sangat tidak punya adab, dia ingin menghabisi tahta Adi Barang.


“Maka kau harus melangkahi aku dulu.” Abah menerima tantangan itu.


“Baiklah, maka kau tahu, bahwa aku tidak akan berhenti hingga apa yang aku inginkan tercapai, kau tahu bukan, bahwa Ratu adalah Kharisma Jagat yang dimusuhi karena mendominasi kekuasan Kharisma Jagat tanah Sunda ini.


Abah terdiam, karena sadar, tanpa Ratu Amanasih saja, Ratu Dahlia sudah kewalahan harus berperang melawan Kharisma Jagat yang memberontak, lalu sekarang ditambah Ratu fasik ini, sungguh Ratu akan babak belur.


“Kenapa? kau takut Ratumu tumbang?” Ratu Amanasih terlihat sangat senang dan tahu bahwa dia bisa memberikan jalan tengah yang tentu menguntungkan.


“Aku tidak keberatan untuk bertarung.”


“Maka Ratumu akan kalah dan tumbang dengan brutal, mampukah kau menghadapinya, kehilangan Ratumu dalam pertarungan.”


“Apa yang membawamu ke sini? Jika memang tujuanmu bertarung, maka kau takkan pernah mendatangiku, kau akan langsung menyerang kediaman Ratu.” Abah menebak.

__ADS_1


“Perjanjian.” Seperti biasa, jin selalu suka perjanjian.


“Apa isinya?”


“Biarkan budakku menjadi Ratu, pengaruhi Ratumu untuk memuluskan jalannya, toh kita sama-sama tahu, bahwa Ratumu akan sekarat kelak, dia takkan bertahan lama.”


“Kau memintaku untuk mengkhianatinya?!”


“Ya, harga sepadan untuk Putra Mahkota, toh kau tahu, kalau semua anak cucu Diah adalah milikku, mereka hanya akan hidup sebentar-sebentar saja, sedang posisi Putra Mahkota akan kokoh hingga dia siap memimpin, aku akan memastikan bahwa tidak akan ada Raja penerus selain Putra Mahkota anak dari Dahlia.”


“Aku takkan melakukan pengkhianatan itu, kau tahu bahwa Karuhun tidak diperbolehkan mengkhianati tuannya, kecuali putus ikatan antara keduanya dan aku tidak bermaksud memutus ikatan itu.”


“Sudah kubilang, terlalu rumit menjadi Karuhun, seharusnya kau menjadi tuan mereka, bukan budak mereka.”


“Aku tidak bisa menerima perjanjian ini.” Abah Wangsa pergi dan menuju kediaman Ratu, Ratu terlihat sedang tertidur.



Waktu di mana Ratu akhirnya bangun di tengah malam, dan harus bertarung tiba, dia bertanya pada Abah Wangsa, apakah ini adalah Kharisma Jagat yang memberontak, Abah mengatakan bahwa ini semua adalah Kharima Jagat, Abah berbohong, dia tahu kalau ada campur tangan Ratu Amanasih, sedang Ratu juga meresa bahwa ini bukan hanya Kharisma Jagat, karena mereka lebih kuat, tapi Abah Wangsa tetap menutupinya.


Setelah terbangun, Ratu batuk darah dan diurus oleh ibu angkatnya yang juga menjadi dayang.


Abah tahu bahwa Ratu tidak bisa melawan mereka, Abah juga sadar bahwa kalau dipaksakan, Ratu bahkan tidak bisa bertahan sampai tahun. Maka dari itu, abah menerima perjanjian dengan Ratu Amanasih, dia mengorbankan Kharisma Jagat wanita ini, untuk menjaga Putra Mahkota. Karena kalau dia menolak tawaran Ratu Amanasih dan membiarkan wanita lain menempati takhta Ratu Dahlia, maka ancaman bagi Putra Mahkota, kalau Ratu baru melahirkan anak lelaki, maka bisa jadi akan ada perebutan kekuasaan. Abah akan kesulitan untuk menjaga Kharisma Jagat yang masih belia, dia belum bisa bertarung, dan pasti akan rentan diserang.


Tapi Abah tidak punya cara lain, dia harus menyelamatkan Putra Mahkota dulu, maka dari itu dia tidak bisa berjanji untuk melindungi Raja, karena perjanjian dia dengan Ratu Amanasih.


Maka Abah menjadi Karuhun yang dusta dan pengkhianat, dia membuat tuannya percaya akan jalan keluar yang sesat. Padahal Abah adalah satu-satunya yang Ratu percaya setelah ibu angkatnya, untuk menjaga Raja dan Putra Mahkota.


Semakin lama kondisi Ratu memburuk, sekarat dan akhirnya mulai kritis, hingga tiba waktu Ratu Dahlia bertanya, apakah Abah memiliki wanita yang bisa menggantikanya kelak jika ia tiada, lalu ketika Ratu Dahlia mengajukan nama Diah, Abah setuju, padahal dia tahu, Diah hanya akan menimbulkan bala bagi Raja, tapi Abah menyembunyikannya dan setuju. Abah tidak akan melindungi Raja, karena bagi Karuhun Kharisma Jagat adalah yang paling utama, maka Putra Mahkota paling utama saat ini, bahkan Ratu Dahlia saja dia khianati untuk tetap mengokohkan kedudukan Putra Mahkota.


Ratu Dahlia wafat setelah tiga tahun bertahan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan, dia digerototi penyakin ghaib, persis seperti ketika Mulyana bertahan, hingga Aditia bisa menjadi penerusnya, dia digerogoti penyakit. Tapi Abah tidak mengkhianati Mulyana, Mulyana sakit karena Mudha Praya.


Saat sebelum kematiannya, Ratu Dahlia memanggil Abah Wangsa, dia ingin memberikan wasiat pada Karuhunnya dan juga putus perjanjian, agar Ratu Dahlia bisa pulang kepada Tuhannya dengan baik.


“Abah, aku mohon jaga suami dan anakku, jaga mereka seperti kau menjagaku.” Ratu Dahlia hanya meminta itu.


“Aku akan menjaganya.”


“Maka aku putus perjanjian antar kau dan aku sebagai Karuhun dan Kharisma Jagat, kau akan diwariskan kepada Putra Mahkota Negeri ini, anakku, kau harus menjaganya, semua yang kau lakukan terhadapku dan Negeri ini aku percaya sebagai apa yang baik, aku percaya padamu.” Ratu Wafat setelahnya dan menjadi duka yang mendalam bagi rakyat yang tahu, betapa arif dan bijaksananya Ratu Dahlia.

__ADS_1


Putra Mahkota sudah dilatih untuk menerima Abah, dia masih belia, tapi semua Kharisma Jagat memiliki kebijaksanaan, intuisi dan juga kedewasaan melebihi anak seumurnya. Saat ini usia Putra Mahkota baru delapan tahun, terpaksa harus menerima beban Karuhun di usia belia, walau tidak ada yang bisa mengelahakan Aditia dalam penerimaan Karuhun di usia termuda, yaitu sejak baru lahir, Aditia sudah memiliki Karuhun Saba Alkamah.


Anak Diah seorang Putra Raja, tidak bisa menjadi Putra Mahkota karena masih ada Putra Mahkota anak Dahlia, Diah juga tahu bahwa dia tidak bisa berharap untuk menjadikan anaknya seorang Putra Mahkota, karena tahu, pada umur tertentu anaknya akan menjadi tumbal. Diah tidak peduli dengan kekuasaan selanjutnya, dia lebih peduli pada kekuasaan saat ini, kekuasaan yang telah dipegangnya.


Raja Adi Barang memang terbiasa untuk dibantu dalam kepemimpinan, dulu dia punya Ratu Dahlia yang sangat adil dan bijaksana, maka semua keputusan Raja tepat, tapi sekarang, dia adalah orang yang diatur dan dikendalikan oleh Ratu bodoh yang fasik, yang hanya suka dengan kekuasaan dan kemewahan. Tapi tak mampu membantu memimpin Negeri.


Waktu berjalan, semua anak Ratu Diah mati dengan cara mengenaskan, dengan umur yang variasi, hingga Putra Mahkota sudah semakin dewasa, wajah tampan dan betapa berkharismanya sang Kharisma Jagat ini, Aditia loncat waktu lagi ke waktu di mana Putra Mahkota seumuran dengannya, saat melihat wajah itu, Aditia langsung terperanjat.


“Kenapa wajahnya mirip sekali denganku? Aneh, seperti bercermin.” Aditia melihat Putra Mahkota sedang bersiap dengan pakaian latihan memanahnya, sebentar lagi dia harus berburu dengan Raja, berburu adalah salah satu keahlian Putra Mahkota.


Abiyasa Rangkawuti Barang X, adalah nama Putra Mahkota anak dari Ratu Dahlia, dia memiliki tubuh tegap yang gagah, cerdas dalam semua hal, pintar dan tegas, Ratu Diah sangat takut kepadanya, karena banyak keputusan yang dulu dikendalikan olehnya, sekarang dikendalikan oleh Putra Mahkota Abiyasa.


Raja juga sudah sering sakit-sakitan, karena banyak serangan dari Kharisma Jagat yang tidak dihalau oleh Ratu Dahlia seperti dulu.


Ratu Diah memang hanya bisa menyebabkan banyak bala dibanding dengan keberkahan, maka dari itu, perlahan Abah Wangsa meminta Putra Mahkota mulai mengambil alih urusan kenegaraan.


Raja Adi Barang tidak keberatan karena dia memang Raja yang selalu bisa dikendalikan.


“Yang Mulia Raja, berdiri di belakangku. Aku melihat ada rusa yang berlari.”


“Aku tidak melihatnya.” Raja bingung, semua pengawal mengikuti Pangeran Abiyasa, mereka berlari, sementara Raja duduk di kudanya bersama banyak pengawal lain.


Saat hendak memburu rusa, dia merasakan ada anak panah yang mengenai dirinya, tepat di pundaknya, anak panah itu tembus, Abiyasa tahu, ada pengkhinat dalam barisan pengawal yang mengikutinya, maka dia berlari, menembus hutan, tempat mereka melakukan perburuan.


Abiyasa saat ini seperti rusa itu, dia diburu oleh beberapa pengawal, ada pengkhianat yang ingin dia mati.


Abiyasa terus berlari, karena tidak bisa melawan musuh yang bersembuyi, dia juga harus bersembunyi, dia memiliki tubuh yang kuat dan hapal betul hutan ini. Makanya dia berlari semakin masuk ke dalam hutan.


Waktu senja telah berganti menjadi malam, saat ini semua pengawal pasti mencarinya, ada yang pura-pura atau benar mencarinya, Putra Mahkota hilang, itu pasti yang mereka pikirkan.


Sementar Abiyasa tetap membiarkan panah itu menempel di pundaknya, hanya agar darahnya tidak mengalir keluar, kalau sampai terjadi, dia bisa mati karena kehabisan darah.


Saat beristirahat karena lelah berlari, Abiyasa pikir telah selamat dari para pengawal, tapi dia salah, ada seekor macan besar yang mendekatinya, Abiyasa berdiri dengan sekuat tenaga, menunduk dan berharap tidak diterkam, dia memang hebat, tapi menghadapi macan sebesar ini, tentu dia akan kalah, macan itu memperhatikannya dengan angkuh, tahu bahwa ini bukan lawan yang seimbang.


Abiyasa berdoa menengadahkan tangan, karena pertolongan Tuhan yang dia harapkan.


“Assalamualaikum, wahai Panglima Erlangga.” Abah Wangsa keluar dari tubuh Abiyasa. Abiyasa pingsan karena kelelahan.


Panglima Erlangga mendekati Abah Wangsa, tak lama kemudian, muncul seorang wanita yang sangat cantik jelita dan memakai selendang hijau.

__ADS_1


“Ayi Mahogra.” Abah langsung bersujud, Ratunya para Kharisma Jagat saat itu, para tahun itu, memang waktunya Ayi Mahogra abad pertama lahir. Waktunya Ayi memimpin Kharisma Jagat yang seenaknya saling bertarung untuk kekuasaan, saat ini Ayi Mahogra masih sangat belia, dibawah umurnya Abiyasa, tapi tentu, Ayi Mahogra memiliki kemampuan di atas Abiyasa karena ditakdirkan untuk memimipin seluruh Kharisma Jagat di tanah Pasundan. Tentu Ayi Mahogra ini adalah leluhurnya Seira Adam Hanida, yang kelak didapuk jadi Ayi Mahogra masa depan.


“Siapa lelaki ini? Kenapa dia terluka?” Ayi Mahogra terlihat penasaran, saat melihat wajahnya Ayi Mahogra terdiam, dia terpesona dengan ketampanannya.


__ADS_2