Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 307 : Bus 404 (10)


__ADS_3

“Dit. Kenapa harus sekarang sih, besok malam aja boleh nggak sih?” Hartino kesal saat dibangunkan oleh Ganding, dibangunkan paksa.


Alka hanya diam saja, tapi matanya terlihat sekali kalau dia kelelahan.


Jarni juga kesal dan mengusap wajahnya yang masih terlihat sangat lelah.


“Sudah tiga hari, kalau terlalu lama gadis itu di sana, kemungkinan dia tidak bisa keluar dari tempat itu.”


“Siapa?” Alka bertanya, dia cukup tersulut saat mendengar kata gadis.


“Entah, aku hanya melihat bahwa dia seorang gadis yang terjebak di sana, di tempat itu sedang berlari dengan sosok yang membara karena api.”


“Yaudah ayolah, biar cepet istirahat.” Har mengeluarkan senjatanya.


“Tahan Har, mereka semua jiwa tersesat, bukan jin jahil, tahan senjata kalian, kita bujuk atau paksa dengan memasukkan mereka ke botol kalau terlalu ngeyel.” Aditia mengingatkan agar mereka tidak bertarung, ini bukan jin yang harus dihabisi.


“Yaudah ayo Dit.” Ganding membuka pintu gerbang jalan masuk kampus ini, sudah tidak satupun orang yang lalu lalang, hanya udara malam yang dingin melewati gerbang itu.


Saat sudah masuk gerbang yang sebenarnya di gembok tanpa security, karena tidak ada yang mau menjaga gerbang itu saat malam, akibat dari rumor tentang betapa angkernya kawasan itu. Tapi Ganding dan Hartino bisa membukat gemboknya hanya dalam hitungan menit, mereka memang si jenius dan si jagoan, tidak heran, hal ini terlalu sepele untuk dijadikan hambatan.


Begitu mereka semua sudah melewati gerbang kampus, Aditia menyentuh aspal dari jalanan kampus yang kanan kirinya adalah hutan itu, dia lalu membaca mantra pembuka pintu alam ghaib.


Udara malam membuat mantra itu terasa sangat magis, seketika terbukalah pintu alam ghaib, ditandai dengan angin kencang yang melewati mereka, tanda bahwa mereka sudah ada di alam ghaib, kalau ada mata awam yang melihat mereka, pasti mereka saat ini terlihat menghilang begitu Aditia selesai membaca mantra.


“Ok, sekarang kami harus apa?” tanya Ganding, walau dia yang paling jenius, Ganding tahu, pemimpinnya adalah Aditia.


“Ganding, Jarni dan Hartino kalian tunggu di pinggir jalan pertengahan jalan ini sebelum sampai gedung kampusnya, akan ada bus yang lewat, kalian hadang busnya, kalau busnya tidak mau berhenti, kau hadang paksa, loncat ke bus itu.


Saat sudah masuk, pasti ada sekumpulan tubuh gosong di sana, matikan lagu lawas yang menawan mereka, setelah itu, kemudikan busnya ke dalam areal kampus, gedung pertama yang kalian temui, tunggu di sana.


Sementara aku dan Alka akan ke gedung kampus itu untuk menjemput gadis itu dan juga jiwa tersesat yang sedang bersamanya.”


Semua orang mengangguk dan akhirnya mulai bersiap untuk menjalankan perintah Aditia.


Aditia dan Alka berlari menuju gedung dari kampus ini, kelak Aditia baru akan tahu kalau gadis yang hendak dia jemput itu bernama Nola.


...


“Kalau Nola terjebak di dimensi lain, lalu apakah Arif juga sama?” Winda bertanya pada Heru dan Samidi.


“Mungkin ya, mungkin juga tidak, makanya aku membawa Pak Samidi untuk membantu kita, bukan hanya menyusuri hutan tapi juga jika ada kemungkinan tentang itu.”


“Maksudmu, Pak Samidi ini ... dukun!” Winda kaget karena dia tidak menyangka bahwa Heru sampai segitunya untuk mencari Melati tantenya, bahwa kemungkinan ditemukan sudah tidak bernyawa lagipun dia sepertinya tidak masalah, Winda mulai ragu pada Heru.


“Win, kamu harus fokus ya, sekarang kita harus menemukan Arif dulu, nanti kalau saat menemukan Arif kita juga menemukan tanteku, yang mungkin juga bukan seorang manusia lagi ....”

__ADS_1


“ Apa maksudmu bukan manusia lagi!” Winda memotong perkataan Heru.


“Ya, mungkin wujudnya sudah hantu!”


“Kau gila! jadi kau hendak memanggil arwah tantemu!” Winda baru sadar soal ini.


“Ya, aku ingin membawa pulang jasadnya, lalu membuat ibu bisa hidup kembali normal!” Heru membentak Winda.


“Apa maksudmu?”


“Ibuku menjadi kurang waras sejak adiknya menghilang, dia adik satu-satunya, mereka saling melindungi sejak kecil, saat akhirnya tante Melati jadi satu-satunya yang selamat, ibuku benar-benar meminta tanteku untuk berhenti kuliah dan di rumah saja, tapi tante Melati terlalu egois, dia bahkan ikut ke hutan untuk tugas kampus, saat akhirnya hilang, ibuku lambat laun menjadi sakit, sering bengong dan melamun, hingga terkadang dia bilang tanteku pulang ke rumah dan menyiapkan makanan untuknya, aku dan ayahku tidak dihiraukan, kehilangan adiknya seperti kehilangan anak bagi ibuku, apalagi jasad tanteku tidak pernah diketemukan, maka harapan tanteku masih hidup, terus dipegang oleh ibuku.


Jika kita bisa memanggil ruh Tante Melati dan menemukan jasadnya yang bisa ibuku lihat dan yakin bahwa adiknya telah tiada dan harus dia ikhlaskan, mungkin ibuku akan kembali seperti semula, kata ayahku, ibuku dulu periang sangat hangat, kalau sekarang, dia bukanlah dirinya lagi. Aku tidak tahu dengan jelas, karena saat tanteku menghilang aku masih balita, kehidupan kami porak poranda saat tanteku hilang, ibuku tidak bisa lagi mengurus kami, ayahku yang mengurus kami berdua, aku hanya ingin ibuku bisa sehat kembali Win, bisa kah kamu membantuku.


Keuntungan lainnya, jika kita berhasil memanggil tanteku, maka bisa jadi, tanteku akan bisa membawa Nola kembali ke dunia kita, ingat, hanya tanteku yang bisa membawa Nola kembali ke dunia kita dari dimensi ghaib itu.


“Tapi kau tidak membohongiku tentang apapun lagi kan?” Winda bertanya.


“Tidak, semua yang harus kau ketahui, sudah kau ketahui, sekarang kita harus kembali ke hutan, aku tahu titik terakhir tanteku pernah terlihat, di sana kita akan memanggilnya.”


Winda dan Heru akhirnya masuk ke hutan lagi, meninggalkan Nola untuk sementara waktu.


Saat masuk hutan, mereka langsung ke titik di mana Melati terakhirn terlihat, berdasarkan kesaksian banyak orang yang kebetulan saat itu mengerjakan tugas bersama dengannya di hutan itu.


Samidi menggelar semacam sajen, ada makanan, bunga kembang tujuh rupa dan juga kopi pahit.


“Aw! Sakit!” Melati berteriak, Arif terbangun dengan suara teriakan Melati.


“Kenapa Mel?” Arif memegang tubuh Melati yang terlihat kesakitan.


“Arif cepat kita pergi dari sini cepat.” Melati panik, dia sepertinya tahu kalau dipanggil oleh seseorang, tapi dia tidak ingin mengikuti panggilan itu. Makanya dia meminta Arif dan dia pergi.


“Kita ke mana Mel?” Arif bertanya, Melati di papah oleh Arif, dia terlihat kesakitan karena menolak panggilan.


“Kita ke saung saja.”


“Saung apa? itu terlalu jauh.” Arif terlihat bingung.


“Itu.” Melati menunjuk saungnya, Arif kaget, kenapa ada saung itu di sana, bukankah jarak saung itu dan dirinya seharusnya sangat jauh, mungkin berjalan satu harian, tapi kenapa saung itu tiba-tiba ada di hadapannya.


Arif tetap saja memapah Melati ke saung itu, setelah duduk di saung itu, Melati terlihat melihat kanan kiri, dia lalu meminta Arif untuk menunduk, karena dia perlu untuk menutup saung itu dari mata ghaib.


Setelah selesai menutup saung itu dari mata ghaib dan membuat panggilan untuknya gagal, Melati terjatuh, dia terlihat sangat lemah.


“Mel, kamu kenapa?” Arif bertanya dan membantu Melati bersandar.

__ADS_1


“Rif, kamu percaya dengan ... ruh?” Melati tiba-tiba bertanya, Arif jadi merinding.


“Jangan bicara macam-macam, ini sudah malam, kamu istirahat saja kalau begitu.”


“Rif, kamu harus segera menemukan jalan pulang ya.” Melati berkata lagi.


“Iya, kita pasti akan segera menemukan jalan pulang, aku dan kamu akan pulang.”


“Tidak Rif, kamu saja.”


“Mel, kamu pasti kena hypothermia nih makanya ngaco dan ngelantur, kau demam? Tubuhmu terasa panas sekali.


“Kalau memang aku demam, lalu kenapa tubuhku terasa dingin sekali Rif” Melati bertanya, Arif tetap menjaga Melati.


“Ya, kau benar-benar Hypo nih, sebentar kau pakai jaketku, kau pasti kedinginan kan.” Arif melepas jaketnya.


“Jangan, karena kalau kau lepas jaketmu, kau yang akan hypo, sudah pakai lagi, jaketku cukup hangat.”


“Kau yakin Mel?” Arif bertanya lagi.


“Ya, aku yakin.”


“Kau kenapa sebenarnya Mel?” Arf kembali bertanya.


“Sudah beberapa kali aku dipanggil Rif, aku menolak karena aku tidak ingin mereka yang menemukanku.” Melati terlihat sangat serius.


“Kalau mereka siapapun itu menemukan kita, bukannya itu bagus ya Mel.”


“Aku tida bicara tentang orang-orang yang mencarimu, tapi aku bicara tentang orang yang mengincarku Rif.”


“Mengincarmu? Ada orang jahat yang mengincarmu?” Arif bertanya.


“Ya, pernah ada yang begitu, memanggilku hanya untuk menawanku, aku berhasil kabur dan kembali ke hutan ini.”


“Aku tidak mengerti Mel, kenapa kau ditawan? Siapa yang menawanmu? Kenapa dia mau menawanmu?”


“Karena ingin tujuan lain, bagi mereka aku hanya bisa dimanfaatkan.”


“Baiklah apapun itu, walau aku tidak begitu mengerti, aku akan menjagamu. Besok pagi, kita akan jalan lagi dan mencari bentuan segera.” Arif lalu duduk di dekat Melati dan menjaganya.”


Melati tidak tahu, bahwa yang memanggilnya adalah kerabat, bukan lagi dukun yang pernah menawanya dulu yang hendak memanfaatkan kemampuannya untuk tujuan jahat, Melati tidak tahu, bahwa dirinya masih dirindukan dan dicari, Melati tidak tahu bahwa dia seharusnya ikut kembali, walau akhirnya bukan di dunia nyata lagi, paling tidak jasadnya seharusnya bisa kembali ke dalam tanah dengan baik dan benar.


Sementara Lima sekawan masih berusaha untuk menjalankan tugasnya mengerjakan kasus ini, walau tidak memerlukan pertarungan, tapi bukan berarti kasus ini mudah, karena tidak akan pernah ada kasus mudah dalam catatan mereka.


Ganding melihat bus itu melaju dengan santai, dia memberi aba-aba pada Hartino untuk meminta bus itu berhenti dan bersiap lompat untuk mencapai bus itu, karena mereka tahu, pasti bus itu tidak mau berhenti dengan sukarela.

__ADS_1


Saat bus itu mendekat, terdengar lagu lawas yang membuat Ganding dan Hartino menutup kuping, sakit sekali kuping mereka, Hartino bahkan jatuh karena menahan sakit kupingnya, keluar darah dari kuping kedua orang itu, Hartino dan Ganding saling pandang dan paham, ini bukan lagu biasa!


__ADS_2