Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 116 : Saba Alkamah)


__ADS_3

Di dalam pedalaman hutan di sebuah desa bernama desa Hangmut terdapat seorang Jin lelaki yang sangat tampan, bernama Darhayusamang


Dia adalah jin dengan tingkatan yang tinggi, selalu melakukan tirakat bahaya untuk mendapatkan ilmu yang jauh lebih tinggi lagi.


Hingga dia bertemu salah seorang wanita penduduk desa yang sangat cantik, namanya Meutia Mayang sekali lihat dia tahu bahwa gadis itu adalah seoramg yang istimewa.


Tebakannya benar, gadis itu memang istimewa karena dia anak seorang dukun, dia tidak awam dengan dunia jin, sudah terbiasa berinteraksi.


Malam tiba Meutia seperti biasa, dia akan mengambil semua daun obat yang sudah dijemur seharian, dia menaruh daun-daun itu dalam beberapa tampah di depan rumahnya.


Daun itu telah kering, Meutia mengambil satu tampah, saat dia menarik tampahnya untuk diangkat, tampah itu berat sekali, sangat berat padahal hanya berisi daun.


Meutia terus mengangkatnya, dia sampai berkeringat karena tidak mampu mengangkatnya.


Akhirnya dia menurunkan dulu tampahnya, dia taruh tampah itu di bawah lagi dan mencoba mengangkatnya kembali dengan sekuat tenaga, tapi tiba-tiba tampah itu menjadi sangat ringan, karena dia sudah terlanjur mengerahkan tenaganya yang membuat dia terjungkal saat mengangkat tampah itu.


"Siapa itu!" Meutia kebingungan, dia bertanya karena tahu, ini pasti kerjaan jin, walau dia agak was-was, rumah itu sudah dipagari dengan baik, tapi kenapa jin bisa masuk ke rumahnya.


Dia mundur perlahan, ayahnya sedang ke kota untuk mengobati orang, dia sendirian.


Saat mundur, dia terjatuh, kakinya ditarik oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat.


Meutia semakin ketakutan, dia bangun dan hendak berlari, tapi terlambat, tubuhnya ditarik sesuatu, lehernya dicekik, tubuhnya lalu ditarik ke atas, dia mengambang, hampir kehabisan udara, saat dia yakin akan mati, tiba-tiba tubuhnya dijatuhkan.


Meutia menarik nafas panjang ketika sudah jatuh di tanah, setelah mendapatkan kesadarannya lagi, dia melihat sekeliling, dia tidak sadar bahwa sudah ada di tempat lain.


Gelap, ruangan yang sangat gelap, karena masih tidak bisa melihat apapun, dia berdiri, meraba samping kanan kiri, batu yang terasa, sepertinya dia di dalam ... gua.


"Si-siapa kamu! tolong!!! tolong!!!" Meutia berteriak meminta tolong, dia berharap ada yang bisa menolongnya.


"Hei ... hei ...." Suara serak menyapanya dari belakang, dia langsung berbalik saat mendengar itu, tidak ada siapapun, tapi wangi bunga mawar tercium dengan tajam di hidungnya.


"Siapa kau! kenapa kau bawa aku ke sini!" Meutia berteriak lagi.


Saat itu tiba-tiba sosok hitam muncul, dia datang dari arah depan Meutia, semakin lama sosok samar itu semakin terlihat.


Meutia sempat terkesima, karena ketampanan sosok itu, dia menggunakan pakaian rapih khas pemuda jaman dahulu kala dengan atasan beskap dan bawahan kain jarik, sepatunya adalah selop berwana hitam, tapi ada yang aneh, dibawah selop itu bukan tanah, tapi ... angin, dia mengambang.


Walau sempat terpana dengan ketampanan jin pria itu, Meutia tetap sadar, niatnya pasti buruk, karena jika niatnya baik tentu tidak akan mempermainkannya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Meutia.


"Aku? aku ingin menikah."


"Menikahlah, lalu kenapa kau menarikku ke sini? kau tidak tahu siapa ayahku?" Meutia mencoba menjadi gadis yang berani.


"Tentu aku tahu, dia yang suka minta tolong pada jin-jin sesat yang tidak berguna itu kan?"


"Siapa kau!" Meutia berteriak, dia takut tapi tahu, kalau dia diam, maka tamat riwayatnya.


"Aku? kalian menyebutku jin penjaga hutan, ada juga yang menyebutku jin pemakan jiwa, atau apalagi?"


"Darhayusamang!!!" Meutia terkejut, memang di desanya tersiar kabar tentang jin yang harus dihindari, jin laki-laki jahat yang buas, dia tidak suka pada manusia, apalagi yang sengaja datang ke hutan untuk berniat jahat, dia tidak main-main jika sudah tidak suka, tidak perduli lelaki, perempuan bahkan anak-anak, semua akan dia habisi jika berani membuatnya marah.


Meutia yang tahu bahwa jin ini sangat kuat, langsung terduduk ketakutan dan memohon untuk dilepaskan.


"Bukankah di desamu aku sudah terkenal akan mendapatkan apapun yang kuinginkan?"


"Yang Mulia Darhayusamang, aku mohon, lepaskan aku, ayahku akan memberikan apapun yang kau inginkan asal jangan ambil nyawaku."

__ADS_1


"Siapa yang ingin mengambil nyawamu, sudah kukatakan, aku ingin menikah, bukan ingin membunuh." Darhayu berkata dengan suara serak yang berat, siapapun yang mendengar suaranya pasti merinding.


"Baiklah, aku akan melaksanakan perintahmu, dengan siapa pernikahan itu akan dilakukan?" Meutia berusaha menangkap maksud Darhayusamang.


"Menurutmu, kenapa aku membawamu ke sini, jika wanita lain yang aku harapkan sebagai pengantin?"


"Astaga! maksudmu, menikah dengan ... denganku!"


Darhayu tertawa, suaranya menggelegar memenuhi gua.


"Aku mohon Tuan, aku akan melakukan apapun, kecuali pernikahan, aku mohon, ampuni aku."


"Kau menolakku? kau tidak ingin menikah denganku?"


"Bu-bukan begitu Tuan, tapi aku tidak layak menjadi istrimu, seharusnya jin sebangsamulah yang layak, bukankah Tuhan juga melarang pernikahan berbeda dunia, Tuan?"


"Aku bisa melewati batas itu, kenapa kau takut, dasar manusia, mereka memang penuh dengan jiwa pengecut."


"Tuan, aku mohon."


"Aku akan mempersiapkan pernikahan kita dalam tiga hari ke depan, aku akan melamarmu langsung dengan ayahmu, kau harus bersiap, kalau kau menolak, tentu saja, tidak akan ada pria yang akan menikahimu kelak."


"Tuan! Tuan!!!"


"Meutia! Meutia!!!" Meutia merasa pipinya ditepuk-tepuk oleh seseorang, dia terbangun dan sadar, tadi itu hanya mimpi, dia langsung memeluk ayahnya.


"Tolong aku Ayah, tolong aku Ayah." Meutia begitu bangun langsung menangis sejadinya.


"Ada apa?" Ayahnya bingung.


"Meutia bertemu dengan Darhayusamang Ayah, dia bilang akan menikahi Meutia dalam tiga hari ke depan, dia akan menemui ayah." Meutia masih menangis.


"Atau apa Ayah, katanya kalau aku menolak, tidak akan ada pria yang menikahiku kelak."


"Dia akan mengirim penyakit kulit padamu, tubuhmu akan perlahan bernanah dan timbul belatung, sejahat itu dia jika keinginannya tidak dipenuhi."


"Aku harus apa Ayah?" Meutia membayangkan jika tubuhnya penuh koreng dan luka bernanah, siapa yang mau dengan gadis seperti itu, sekarang saja mencari pemuda yang mau dengannya sulit.


"Mengikuti maunya dia."


"Tidak Ayah, masa depanku akan suram jika menikah dengannya, dia itu jin, sedang aku manusia."


"Tapi Nak, kalau kau menikah dengannya, kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, kekayaan, kekuasaan dan semua yang tidak kau dapatkan saat ini."


"Apa dia bisa membuat semua yang aku inginkan bisa aku dapatkan?" Meutia yang tadinya memangis, tiba-tiba berhenti menangis.


"Ya, rumah besar dengan tembok bukan bilik seperti rumah kita ini, pakaian bagus, uang banyak, kekuasaan untukku dan semua yang kau inginkan selama ini."


"Apa ada pria manusia yang bisa melakukan itu untukku Ayah?"


"Di desa ini?"


"Ya, di desa ini."


"Tidak ada, kepala desa sekalipun, dia tidak akan bisa memberikan kekayaan itu padamu."


"Lalu kenapa aku harus menangis? siapkan pernikahan itu Ayah, aku akan melakukannya, siapa perduli berwujud apa suamiku, yang penting aku kaya dan mendapatkan semua yang aku inginkan!" Meutia gadis cantik yang terlalu banyak dihina sejak kecil, memang tumbuh menjadi gadis yang sangat berambisi menjadi kaya, terkadang dia menggoda lelaki kaya di desanya, tapi selalu gagal karena ada perempuan yang sama cantiknya dari kalangan atas yang mengalahkan dia.


Maka menikah dengan Darhayusamang, kemungkinan akan menjadi jalan pintas baginya untuk menjadi kaya raya.

__ADS_1


Uang adalah titik noda yang selalu tidak bisa manusia lewati, semua yang terjadi di dunia ini, keserakahan, ketamakan, gila kekuasaan selalu bersumber pada uang.


Manusia memang punya kelemahan, satu hawa nafsunya, dua uang dan terakhir kekuasaan.


Bahkan perintah Tuhan diabaikan hanya untuk sebuah kenikmatan sementara yang diprenstasikan dengan lembaran atau koin yang bersinar, manusia, memang memiliki akal, tapi karena akal itu juga manusia menjadi licik dan jahat.


...


Mimpi itu ternyata benar, Darhayusamang datang bersama beberapa jin lainnya, dia datang malam hari ke rumah Meutia, dia membawa dua peti yang dibawa anak buahnya.


"Bukankah anakmu telah mengatakan maksud kedatanganku?"


"Betul Tuan, Meutia telah mengatakan lamaran ini, kami sudah bersiap menyambut Tuan." Ayahnya Meutia melirik peti tersebut, dia sudah tahu, pasti isinya sesuatu yang sangat berkilau.


"Baik, apakah lamaranku diterima?"


"Bagaimana aku bisa menolak, tapi Meutia juga punya pemikirannya sendiri, apakah Tuan tidak keberatan jika saya memanggilnya untuk ikut mengambil keputusan?"


Darhayusamang kelihatan tidak senang dengan ucapan lelaki tua itu, yang tentu umurnya jauh di bawah dia, walau Darhayu kelihatan muda dan tampan, tapi dia dari kalangan jin yang umurnya bisa dua sampai tiga kali lipat dari manusia.


"Baiklah, tapi kau tahu bukan, kalau aku tidak suka ditolak?"


"Tentu Tuan. Saya akan panggilkan Meutia dulu."


Tidak berapa lama kemudian Meutia keluar dari dalam kamar bersama ayahnya, Darhayusamang terlihat kaget, Meutia berdandan sangat cantik dengan pakaian yang sangat minim, dia tidak memakai kebaya, melainkan hanya memakai kain sebagai penutup tubuhnya, kemben yang menutup tubuhnya dari dada hingga lutut itu adalah kain jarik yang diliilitkan sangat ketat, Darhayu lalu panik, menyuruh semua anak buahnya keluar, dia tidak ingin tubuh molek Meutia dilihat oleh jin lain.


Sungguh kecantikan itu tidak mampu membuat Darhayu mampu berpikir jernih, dia sangat ingin membawa Meutia ke guanya dan membuat malam indah bersama dalam gelegar nafsu yang tak tertahankan, tapi dia akan menahannya dan mendengar keinginan dari gadis yang sudah memprovokasi nafsunya itu.


"Kau ingin apa gadis cantik?" Darhayu lembut sekali berbicaranya.


Meutia tersenyum, dia tahu kalau jin lelaki tampan itu telah masuk perangkapnya, wanita memang memiliki tubuh yang bisa menjadi senjata.


"Aku ingin semua yang aku inginkan kau penuhi, itu saja."


"Maksudmu?"


"Aku ingin semua permintaanku kelak, jika sudah menjadi istrimu akan selalu kau penuhi, tidak akan pernah kau tolak."


"Asal bukan membangunkan orang mati, aku bisa memenuhinya." Darhayu tahu sekarang, ini pasti soal keserakahan, tapi dia tidak keberatan, Meutia makin terlihat cantik dengan semua keserakahan itu.


"Baiklah, lalu kau ingin pernikahan itu kapan diadakannya?"


"Malam ini juga."


"Baik, aku tidak masalah, apakah Ayah setuju?"


"Aku setuju." Anak dan ayah itu tersenyum puas.


Darhayu menyerahkan dua peti yang begitu dibuka sungguh berkilau, emas batangan yang terpahat tidak beraturan itu memenuhi peti, sungguh sesuatu yang membuat Meutia sangat ingin pernikahan itu berlangsung, bahkan detik ini juga.


"Ini hanya mas kawin, jika kau ingin lebih banyak lagi, tidak masalah bagiku, tapi kau harus mengabdi padaku. Datang jika kupanggil dan pergi jika kusuruh, jangan pernah kau berani membantah dan satu lagi, kau tidak diizinkan memiliki anak, karena jika kau hamil, anak itu harus dibunuh. Aku tidak ingin memiiki anak yang aneh campuran dari manusia dan jin, anak itu akan menjadi anak hina dan membuat posisiku sebagai jin dengan kemampuan tinggi tergeser atau bahkan musnah.


Makanya, kau harus menjaga dirimu agar tidak hamil, tapi kalau itu sampai terjadi, aku akan membunuh anak itu tidak perduli apapun.


Terakhir, pernikahan ini akan dilakukan diam-diam, aku tidak ingin malu karena menikahi manusia, makhluk rendah sepertimu bukan untuk dinikahi, tapi karena kau sangat cantik, aku bersedia menikahimu, makanya jangan banyak tingkah, diam dan semua keinginanmu akan aku penuhi, Mengerti?"


Meutia mengangguk dengan yakin, dalam hatinya berkata, siapa yang ingin punya anak dari jin? dia akan pastikan tidak akan hamil, bagi jin manusia adalah makhluk hina, sebaliknya manusia juga menganggap hal yang sama, siapa yang mau punya anak cacat kelak, setengah jin dan manusia, itu bisa membuat hidup anak itu kelak tidak diterima baik di dunia manusia maupun ghaib, dia akan selalu dipandang hina.


Anak bukan menjadi tujuan utama Meutia, dia hanya ingin hidup kaya raya, tidak perduli tanpa keturunan pun, kalau ingin anak, tinggal mengambil anak orang yang kesulitan untuk dirawat, yang penting kehidupan kaya raya itu akan segera menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2