
“Judul ini aku agak bingung Dit, karena ini halaman dari catatan Bapak yang harus kita tunaikan kasusnya.” Ganding menunjuk judul di buku itu.
‘Pernikahan adalah akhir’. Itu bunyi tulisannya, sayang hanya ada judul dan sebuah alamat, tidak ada keterangan lanjutan.
“Pernikahan adalah akhir? Kok gitu ya Dit? Bukannya pernikahan itu awal?” Ganding bingung.
“Mungkin maksudnya pernikahan adalah akhir dari kejombloan.” Aditia tertawa, itu membuat Ganding yang selera humornya rendah kesal.
“Dit, jangan bercanda sih, kau mau pamali? lagi bicarain beginian kok bercanda?”
“Emang orang seperti kita bisa percaya pamali, sedang sehari-hari menghadapi kasus-kasus tak masuk akal?” Aditia kembali bergurau.
“Dit!” Alka menegur karena Aditia memang sudah berlebihan bercandanya.
“Sorry Nding.” Aditia memang hanya menuruti Alka.
“Kak, gimana nih?” Ganding bertanya.
“Kita besok ke alamat itu, cari tahu, baru bisa ambil tindakan.”
“Hartino gimana?” Ganding bertanya lagi.
“Tidak, jangan hubungi dia dulu, kalau dia siap, pasti dia akan menemui kita dan menghubungi kita duluan.”
“Iya Kak, aku juga tak ingin dia terbagi perhatiannya, saat ini Alisha lebih penting dari apapun bagi Hartino.”
“Sampai kapan kita akan membohongi Alisha?” Jarni bertanya, ini sangat mengganggunya karena sudah cukup lama mereka menyembunyikan tentang Rania dan juga rahimnya.
“Itu semua keputusannya Hartino Jarni, kita tidak bisa memaksa Har untuk jujur saat ini, dia yang tahu kapan waktunya, sekarang mereka hanya perlu memnikmati waktu bersama dulu.”
“Sampai kapan kebohongan akan selalu membayangi hubungan mereka? aku benar-benar sedih, karena Alisha harus mendertia seperti ini.” Jarni menangis, dia memang menganggap Alisha adalah orang kedua setelah Alka, buat Jarni Alka itu kakak yang sifatnya seperti ibu, sedang Alisha adalah kakak yang benar-benar seperti kakak, dia sedih karena kisah cinta kakak yang serasa baru saja dia dapatkan harus menderita, lagi dan lagi.
“Jarni sayang, udah jangan terlalu membebani pikiranmu, kita akan bantu Hartino dan Alisha semampu kita, semua akan selalu ada untuk mereka, jadi kamu fokus ke kasus ya, sayang.” Ganding merangkul kekasihnya untuk menenangkan.
“Tapi aku sangat sedih, melihat mereka, aku merasa kenapa sulit sekali hubungan mereka, lalu aku jadi takut ... takut kalau aku juga akan memiliki hubungan yang sulit seperti itu.” Jarni tiba-tiba mengungkapkan apa yang paling dia takuti, kehilangan Ganding, karena mungkin dia takkan mampu bertahan sekuat Alisha, mungkin Jarni akan menjadi pribadi yang jauh lebih gelap dan akhirnya depresi.
“Jangan menghubungkan kisah orang lain dengan kisahmu, sayang. Setiap orang punya kisahnya masing-masing, yang paling penting, jangan pernah pergi dariku, jangan pernah lepas peganganku dan selalu memegang janji untuk teguh saling mencintai.”
“Iya, aku akan berusaha selalu terbuka padamu.”
“Kalian berdua menjijikan ah!” Aditia tiba-tiba memutus keromantisan Ganding dan juga Jarni, dia memang kesal karena tidak bisa mengucapkan kata romantis seperti itu pada kekasihnya.
“Sore ini kita ke alamat yang disebutkan tadi.”
“Malam saja, firasatku mengatakan kita harus ke sana malam, supaya tidak banyak orang yang liat.” Aditia tiba-tiba berkata.
“Ok, aku percaya intuisi Kharisma Jagat.” Alka setuju.
Mereka berdua lalu sepakat untuk pergi ke alamat yang ada di buku catatan Mulyana malam hari saja.
Tepat jam tujuh malam mereka jalan dari gua Alka, ke alamat yang dituju.
Setelah satu jam mereka jalan, mereka berhenti dulu untuk tanya di mana alamat itu pada orang yang lewat. Tapi nihil, Aditia akhirnya kembali ke angkot.
“Ka, nggak ada yang tahu loh alamat ini, setiap aku tanya, mereka bilang tak ada nomor ini.” Aditia bingung karena sudah tiga kali mereka berputar di jalan besar ini, tapi nomor yang ada di tulisan bapak tidak pernah ketemu.
“Sebentar.” Alka turun dan melihat keadaan sekitar, memegang tanah yang dia pijak lalu kembali ke angkot.
“Kenapa?” Aditia bertanya.
__ADS_1
“Belum apa-apa kita tidak diperkenankan ke alamat itu, kita disasarkan.” Alka menjawab dengan senyum tipis.
“Kok bisa? Aku nggak rasain energi apa-apa?” ujar Ganding.
“Ya, aku juga tidak.” Aditia dan Jarni sepaham.
“Kita takkan sadar, karena dia tidak pakai pagar ghaib, mereka pakai selimut ghaib. Kau tahu kan, selimut itu menutupi tempat dengan sangat rapat dari orang-orang dengan darah dingin macam kalian. Sedang aku setengah jin, aku merasakan sedikit energinya saat memegang tanah tadi, aku izin memakai wujud jinku, karena kita takkan pernah sampai ke sana tanpa bantuan mata jinku.” Alka lalu berubah menjadi jin dengan tubuh penuh sisik, mengambang dan diikuti oleh angkot Aditia, mereka berhenti di sebuah dinding semen, itu yang terlihat oleh kawanan. Hanya wujud jin Alka yang melihat gang kecil itu, tidak muat mobil, hanya masuk dua motor saja.
“Dit, turun di sini, itu ada gangnya.” Alka meminta kawanan turun dan masuk ke sebuah gang. Aditia turun diikuti Jarni dan Ganding.
“Kak, mana sih gangnya? Ngga ada?” Ganding bingung, karena tak melihat satu pun gang di situ.
“Ini.” Alka menunjuk dinding semen yang terlihat cukup kokoh.
“Trus gimana cara masuknya? Kita nggak lihat gang, tapi kita lihatnya dinding semen.” Ganding memegan-megang dinding itu, aneh! Tidak terasa apapun, tangannya tembus.
“Udah tahu kan sekarang, cara masuk ke dalam gang ini?” Alka tertawa dan merubah wujudnya menjadi manusia lagi.
Tenryata mereka hanya perlu melewati dinding itu saja, karena dinding itu hanya tipuan mata, bahkan Kharisma Jagat saja tidak bisa melihat dinding tipuan itu, karena ternyata mereka memakai selimut ghaib yang terkenal sangat ampuh menutupi sebuah tempat agar tak terlihat bahkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan setinggi Aditia, karena ilmu ini dimiliki oleh seseorang yang berilmu tinggi.
Dulu ilmu ini digunakan saat masa kekerasan PKI terjadi, untuk melindungi para ulama yang diincar untuk dibunuh, ilmu ini digunakan untuk menyasarkan para oknum yang hendak menculik dan menyiksa ulama.
Banyak ulama terselematkan dari penculikan karena disembunyikan oleh selimut ghaib ini. Selimut ghaib ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah melakukan tirakat sampai puluhan tahun, tirakat puasa tanpa putus selama puluhan tahun itu, hingga selimutnya bahkan ampuh untuk seseorang yang punya kemampuan mata batin.
Dulu para oknum penjahat PKI juga menggunakan jasa dukun untuk menembus selimut ghaib dalam suatu desa, karena bingung kenapa satu desa bisa hilang dan tidak bisa diketemukan, padahal banyak ulama yang diincar di sana, tapi akhirnya menyerah dan tidak dapat menemukan para ulama dan anak cucunya berkat selimut ghaib itu.
Setelah oknum penjahat PKI itu ditangkap oleh Presiden Soeharto saat itu beliau belum menjadi Presiden dan Supersemar belum diumumkan, barulah para ulama itu membuka selimut ghaib dan turut dalam memburu penjahat PKI, banyak penjahat-penjahat itu bahkan mengungsi ke hutan, seperti yang kita tahu bahwa salah satu petinggi PKI diketemukan di dalam hutan, itu adalah berkat penglihatan salah satu ulama yang memiliki ilmu selimut ghaib itu, dia mampu membuka tabir pagar ghaib dari antek petinggi penjahat PKI itu dan akhirnya menemukan mereka dan langsung menghukum pada penjahat PKI.
Bedanya pagar ghaib dan juga selimut ghaib, hanya para jin yang tahu, yaitu, bisa ditembus oleh tangan orang yang hatinya suci dan memiliki ilmu mata batin yang baik. Kecuali dia dapat undangan, kalau undangan lain lagi, orang yagn diberi undangan akan melihat tempat itu sementara yang lain tidak bisa dan bisa masuk sebebasnya.
Seperti saat ini, Alka dan kawanan adalah orang-orang yang berhati baik dan dengan ilmu yang cukup, makanya mereka bisa masuk walau sebelumnya selimut itu tak terlihat. Sayangnya, selimut itu sebenarnya hanya diperuntukkan untuk kawanan, kalau orang biasa akan bisa melihat, lagipula siapa yang mau ke kuburan tanpa kepentingan, apalagi kuburan ini sudah lama sekali tidak digunakan sebagai pemakaman umum.
“Begitu aja kaget.” Aditia meledek.
Alka langsung berjalan menyusuri gang, tentu gang itu tidak terlalu panjang untuk mereka. Begitu sampai ujung gang, ternyata itu gerbang kuburan.
Mereka masuk dan tidak melihat apapun di sana, hanya pemandangan biasa saja, ya tentu dengan para pasukan kain kafan yang sedang sibuk bolak-balik entah sedang apa.
Mereka masuk semakin dalam dan akhirnya ....
“Hei! Kalian mau kemana!” Seorang lelaki yang mungkin umurnya sudah empat puluh tahun lebih menegur mereka, mungkin kawanan terlihat seperti anak muda iseng yang mencari tempat horor untuk dijadikan konten.
“Kami sedang ....”
“Kalian pasti dapat undangan lagi kan?!” Budiman memotong omongan Ganding, saat Ganding akan membantah, Aditia menahannya.
“Iya, kami dapat undangan Pak, itu di depan rame banget kayak pasar, di sini juga, mereka itu setan ya?” Aditia menunjukan wajah yang ketakutan.
“Ayuk cepat ikut saya! padahal ini bukan hari hitungannya, tapi kenapa mereka berulah lagi. Cepat kalau tidak mau celaka.” Budiman menarik tangan Aditia dan kawanan ikut.
Mereka dibawa ke rumah Budiman, ada istri dan anaknya sedang menonton televisi, tapi karena ada tamu, mereka akhirnya pindah ke kamar, setelah sebelumnya, istri Budiman menyajikan teh hangat. Wangi melati sangat menyeruak di rumah itu. tentu saja.
“Jadi kalian benar dapat undangan ya? padahal ini bukan hitungan malamnya. Aneh.”
“Hitungan malam apa ya Pak?” Aditia bertanya.
“Tapi kalian hebat ya, tidak pingsan, bahkan yang sebelum yang pingsan itu malah meninggal dunia. Kalian sebenarnya berani sekali malam-malam tidak minta bantuan atau histeris.”
“Pak, hitungan malam dan undangan apa sih?” Aditia bertanya lagi.
__ADS_1
“Udah kalian nggak perlu tahu, kalian menginap saja dulu, kalau nanti kalian keluar malam-malam begini, takutnya diincar, jadinya malah nyasar lagi. Udah ada yang begitu soalnya, sering malah.”
“Sering ada yang nyasar maksudnya Pak?” Kali ini Ganding yang bertanya.
“Iya nyasar, kayak kalian, ketakutan, yang terakhir sih pingsan, untung saja hanya pingsan.”
“Pak, pakai pagar ghaib ya?” Jarni tiba-tiba bicara.
“Loh kok tahu, kamu in ... in ... indi apa ya, yang orang-orang bisa lihat gitu, anak saya sering bilang soalnya.”
“indigo Pak?” Jarni melengkapi.
“Iya itu dia, kamu indigo?”
“Iya Pak, temen saya ini indigo, dia kebetulan bisa liat, tapi tadi kami semua udah lihat, mungkin karena yang bapak bilang tadi, kami diundang, hitungan apa sih Pak? Weton?” Aditia geregetan karena dia tidak tahu hitungan apa yang dimaksud.
“Bukan.”
“Primbon?”
“Bukan juga.” Budiman masih menjawab.
“Parimbon Sunda?” Aditia masih terus menebak.
“Bukan! sudah jangan tanya lagi, kalian siap-siap saja untuk tidur, yang perempuan tidur di kamar anak saya, nanti anak saya tidur di kamar kami, yang laki-laki tidur bersama saya, pakai tikar saja ya, nggak apa-apa kan?” Budiman bertanya.
“Nggak apa-apa pak, kami justru terima kasih karena sudah diberikan tempat untuk tidur.” Ganding kali ini yang bicara karena dia tahu, Aditia kalau sudah dibuat penasaran pasti akan kesal, nanti takutnya dia malah nekat pakai gendam untuk tahu hitungan apa yang dimaksud.
Lalu mereka tidur, Alka dan Jarni tidur di kamar anak Budiman, sementara istri dan anak Budiman tidur di kamar utama, sedang yang lain tidur dengan tikar di ruang tamu.
Malam panjang terasa sangat sepi, tapi Budiman mewanti agar mereka tidak keluar dan berusaha untuk tidur, Aditi tidak bisa tidur karena masih penasaran, Ganding sudah tidur sejak tadi saat, saat dia asik dengan merenung, kira-kira apa hitungan yang dimaksud, dia akhirnya memilih untuk keluar dari rumah itu, merasa agak panas dan pengap, tentu dia tidak takut, walau di luar adalah kuburan.
Saat membuka pintu dia melihat semua orang pulas sekali, sehingga tak ada yang sadar dia buka pintu.
Ditutup lagi pintunya karena takut ada nyamuk, setelah itu dia duduk di bangku yang ada di luar rumah, sepi sekali, tentu saja penerangan sangat minim sekali, tapi rumah ini cukup terang.
Saat termenung, Aditia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh, orang itu terlihat memakai setelan serba putih, wajahnya tak terlihat, sedang kakinya tidak napak, tentu saja, Aditia hendak mengejarnya, posisi lelak itu agak jauh, tepat di tengah-tengah kuburan.
Saat Aditia hendak berlari mengejarnya, bahunya ditahan oleh entah tangan siapa, Aditia menoleh dan melihat Abah Wangsa.
“Bah, kenapa?” Aditia bertanya, karena Abah terlihta menahan badannya agar tidak mendekati makhluk yang tadi menggoda Aditia untuk mengejarnya.
“Jangan, kembali ke rumah sekarang.” Abah terlihat khawatir.
Aditia tidak membantah, karena tahu, berarti ada yang sangat tidak beres.
Aditia masuk ke rumah dan melihat semua orang masih tertidur lelap.
“Tidur saja dulu, besok baru kita bicarakan, aku tidak mau kau sendirian di luar sana, terlalu ....”
“Bah?” Abah memotong kata-katanya membuat Aditia penasaran.
“Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi kalian telah masuk ke wilayah yang salah, kalian tidak diundang, aku harus memastikan kalian akan keluar dari sini dengan selamat, tapi besok saja aku jelaskan ya, karena ada yang harus aku pastikan dulu sebelumnya.”
“Baiklah Bah, tapi apa yang ada di sana tadi?” Aditia tiba-tiba bertanya.
“Dia ....”
Pintu kamar istrinya Budiman terbuka dengan kasar, membangunkan semua orang, istrinya keluar dari kamar dengan wajah pucat, dia terlihat linglung dengan rambut yang berantakan.
__ADS_1
“Kesurupan! Istriku kesurupan, duh Gusti hampura abi teu maksud (Ya Allah, maaf, aku tidak maksud).” Budiman terus memohond doa kepada Tuhan.