Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 263 : Pabrik Seragam 12


__ADS_3

“Alisha!”


Lais telah kembali pada wujud asalnya, benar-benar wujud asalnya, sebelum dia dan Alka melakukan perjanjian.


Alisha telah kembali menjadi seorang wanita yang Hartino sangat cintai tanpa dia ketahui.


“Har, maafin aku udah bohongin kamu ya.” Saat berbicara Alisha masih dalam keadaan terbatuk dan masih memuntahkan darah.


“Kau ini siapa sebenarnya? Kenapa kau berubah menjadi Alisha, kenapa ….”


“Har, bawa Alisha ke vila dulu, kita harus pulang segera, minta penjelasan nanti.” Alka meminta Hartino membawa Alisha pulang.


“Hartino menggendong Alisha, Ardi yang sedari tadi di sekap di ruangan packing ikut pulang, lebih tepatnya, jiwanya Ardi. Begitu sampai vila, Alisha ditidurkan di tempat tidur, dia sudah tidak sadarkan diri.”


Sementara Ardi sudah kembali ke tubuhnya.


“Ceritakan apa yang terjadi saat kau ke luar Pak? Kenapa kau bisa disekap?” Begitu Ardi sadar, dia langsung diberondong pertanyaan oleh Jarni.


“Kita ke rumah Eep dulu, dia sudah pulang?” Ardi bertanya pada Aditia.


“Kami masih menyekapnya di pabrik, kenapa?” Aditia bingung karena begitu bangun Ardi malah langsung perduli pada Eep, bukan pada dirinya sendiri.


“Bawa dia ke rumahnya, kita harus segera menolong ayahnya, tadi aku tidak bisa bicara apa-apa karena sangat lemas.” Ardi tidak menjelaskan secara pasti, tapi dia buru-buru pergi bersama Aditia, sementara Ganding akan menjemput Eep, sedang Jarni dan Hartino menemani Lais, Alka tetap di vila untuk menjelaskan semuanya pada Hartino dan menunggu seseorang datang.


Dalam waktu satu jam semua berkumpul di rumah Eep, begitu sampai rumahnya  Eep dalam keadan kurus kering dan lemah.


“Jadi ada apa ini?” Ganding bertanya, mereka semua ada di ruang tamu rumah Eep.


“Nding, ke dalam yuk.” Aditia meminta Ganding ikut ke kamar, mereka berdua saja.


Begitu sampai di kamar Eep, Ganding kaget, ada seorang pria yang sama kurusnya dengan Eeep, dia terbaring seperti tak sadarkan diri.


“Siapa dia?”


“Dia ayahnya Eep Nding, dia itu dukun yang sebenarnya, selama ini Prabu mengancam Eep untuk mau menjadi medianya, Prabu memiliki beberapa tuan, dukun ini, Eep dan orang yang mendapatkan keuntungan jika pabrik itu berkembang pesat dengan cara yang sesat.”


“Pemilik Pabrik?” Ganding langsung menyimpulkan.


“Ya, tuan asli dari Prabu, pemilik pabrik itu bukan orang luar, tapi orang lokal yang memakai orang luar sebagai boneka agar jati dirinya tidak diketahui.


Dia adalah pemilik Prabu sebenarnya, dia mengendalikan banyak proyek dengan korban yang jika kita takar akan membuat merinding, jadi jiwa-jiwa itu memang sengaja di sekap di sana untuk membaut tuan Prabu yang sebenarnya kaya raya, dia yang sebenarnya orang paling kaya di negeri ini.”


Ganding merinding mendengarnya, karena tidka terhitung berapa banyak korban yang dia bunuh untuk uang, lagi-lagi uang.

__ADS_1


“Dit, apa saja proyeknya?” Ganding bertanya.


“Pembangunan banyak lahan rumah bersubsidi, pembangunan tower, pembangunan jalan tol di daerah terpencil, makanya dia memilah korbannya agar tak begitu terlihat bahwa semua proyeknya menelan jiwa-jiwa tak bersalah.”


“Dit, kita harus menghabisinya.” Ganding kesal, karen dia dan lima sekawan baru saja memusnahkan jiwa-jiwa di pabrik itu dengan serangan membabi buta, karena mereka tidak ingin menimbulkan kekacauan antara dua alam, tapi mendengar seseorang seenaknya menghabisi manusia yang tidak bersalah hanya karen nafsu dunia, itu membuat Ganding ingin menghabisi orang itu secara brutal juga.


“Nggak bisa Nding.”


“Kenapa? kau takut!” Ganding kesal.


“Dia sudah menjadi musuh Ayi, sampai sekarang Ayi bahkan tidak bergerak, karena orang itu punya pasukan jin berilmu tinggi seperti Prabu, lebih banyak dari yang Mudha Praya miliki, bahkan dia juga sudah menantang Ratu Laut untuk bertarung, tapi Ratu tidak menerima karena tahu, kalau dia akan membaut kekacauan, dia sengaja ingin berperang, karena ingin jiwa yang terbunuh semakin banyak dan bisa dia sekap.


Beruntung ketika peperangan Ayi, dia tidak ikut campur, karena saat itu dia sedang sibuk dengan proyeknya dan mendapatkan tangkapan banyak dari proyek-proyek itu. Jadi tidak merasa perlu ikut peperangan.


Kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini Ganding. Aku sudah mendapatkan pesan dari Ayi melalui jin utusannya, yang disampaikan tadi begitu kami sampai di sini, dia bilang mundur, jangan ikut campur perang dingin antara Ayi, Ratu laut dan juga orang itu, ini bukan peperangan kita sendiri Nding, dia bukan tandingan kita.


Bahkan saat kita menyerang pabrik itu, sangat membahayakan kita, makanya, Ayi akan menyelesaikan apa yang kita lakukan dengan hukum tua, hukum para jin, Ayi akan melakukan upaya hukum ghaib agar kita menang dan orang itu tidak mampu berkutik, itu secara hukum, tapi pasti orang itu akan mengejar kita di luar dari ketentuan hukum ghaib, kita harus bersiap Nding, lawan kita kali ini tidak main-main.”


“Belum juga urusan Hartino dan Alisha atau Lais itu selesai, sekarang ada urusan lebih genting lagi! kenapa sih ada orang kayak gitu!” Ganding kesal dan dia bahkan mengeluarkan air mata dan menyekanya dengan kasar, karena tidak bisa berbuat apa-apa atas keserakahan orang.


“Percayakan ini pada Ayi ya, terlalu bahaya buat kita kalau sampai kekeh bertempur, kita selamatkan dulu dua orang ini, kita harus memastikan mereka jauh dari pengaruh Prabu lagi.” Aditia meminta Ganding buru-buru untuk menyelamatkan dua orang korban yang dikelabui oleh tipu daya jin Prabu yang memiliki begitu banyak siasat yang membuat manusia akhirnay tunduk.


Sementar dia vila, Hartino meminta Alka menjelaskan semuanya, kenapa sampai Lais adalah Alisha, kenapa dia ditipu dan kenapa Alisha menjadi seperti ini.


“Har, Kakak nggak bisa jelasin selain perjanjian Kakak dan Alisha, karena ini ranah jin dan manusia, kalau Alisha bangun, dia akan ceritakan segalanya, kita tunggu Rania datang ya, dia sebentar lagi sampai.” Maksud Alka adalah tangan kanan Alisha yang selalu ada di dekatnya tanpa terlihat sama sekali, kebetulan Rania lagi ke luar kota karena disuruh Alisha sehingga saat ini dia tidak berada di dekat Alisha.


“Orang kepercayaan Alisha, dia menemani Alisha selama ini di ... Kamerun saat ngilmu.”


“Kamerun! Dia tidak ke sana, dia ke Negara lain untuk kuliah, kenapa jadi Kamerun!” Hartino menangis saat berkata.


“Biar Alisha yang jelaskan, Kakak tidak bisa jelaskan semuanya, kau harus meminta penjelasan darinya.”


Terdengar suara batuk Alisha, Hartino langsung mendudukkan Alisha agar dia bisa lebih nyaman.


“Alisha ....”


Alisha kaget karena dia mendengar Hartino memanggil nama aslinya.


“Alisha, perjanjian kita telah batal karena kau telah menyerahkan jiwamu seutuhnya pada khodam itu, makanya perjanjian kita terpatahkan.” Alka memberitahu.


Alisha masih terbatuk-batuk, wajahnya sangat pucat, dia sungguh sangat lemah.


“Alisha, aku butuh penjelasanmu, aku mohon.” Hartino menangis dia memohon agar Alisha berhenti berbohong.

__ADS_1


“Har, aku akan jelaskan semuanya.”


“Aku keluar, kalian selesaikan semuanya berdua ya.” Alka pamit undur diri dan membiarkan mereka berdua duduk bersama menyelesaikan apa yang perlu di diselesaikan.


“Aku bukan gadis kecil yang kau kenal seperti sebelumnya lagi Har, aku adalah wanita bodoh yang sesat.” Alisha membuat perkataannya, sementara tubuhnya masih duduk bersandar pada tubuh Hartino, Hartino memeluknya erat sambil mendengarkannya bercerita, Alisha memang begitu lemah.


“Apa yang kau maksud dengan itu?”


“Aku tidak pernah ke Australia untuk kuliah, aku ke Kamerun, karena katanya di sana kita bisa menguasai ilmu hitam yang cukup tinggi jika bersungguh-sungguh.”


“Kenapa kau begitu ingin menguasai ilmu hitam?” Hartino bertanya.


“Karena aku ingin jadi bagian dari dirimu.” Alisha menangis mengungkapkannya, ini bukan kali pertama, karena Alisha selalu terang-terangan memberitahu perasaannya pada Hartino, tapi Hartino yang bersembunyi dari perasaannya selama ini.


“Bagian dari diriku?”


“Kau itu berbeda, aku tahu itu, dulu sekali aku pernah melihatmu berbicara dengan sesuatu yang kami orang biasa tidak bisa lihat. Aku menyadarinya saat sekolah dulu dan beberapa kali juga memergoki kemampuanmu yang berbeda itu. Aku mulai ... menyelidikimu dengan bantuan profesional, aku mendapatkan banyak informasi tentan Alka dan kawanan.


Aku sangat ingin menjadi bagian dari orang yang kau percaya dan kau jaga sebegitunya Har, bagaimana kau selalu meluangkan waktu untuk kawanan dan kasus, percaya bahwa kawanan adalah rumahmu dan kau akan menyerahkan jiwa dan raga pada kawanan.


Aku ingin menjadi bagian dari itu Har, aku mencintaimu dan tak mampu mencintai yang lain setelahnya. Cintaku padamu, bukan cinta monyet yang selama ini kau percayai sebagai cinta anak kecil. Cintaku padamu melebihi bahkan cintaku pada diriku sendiri.


Aku tahu ini salah, tapi bagaimana kau bertahan tanpa dicintai kembali adalah harapan suatu saat aku selalu bisa bersamamu, bahkan dalam wujud lain, wujud yang mampu menaklukanmu.” Alisha menangis lagi, Hartino terdiam dan membeku, dia sungguh tak menyangka bahwa gadis kecilnya yang sangat dia cintai, telah berubah sejauh ini.


“Jadi alasanmu adalah aku?” Hartino akhirnya berani bertanya, ini memang waktunya terbuka atas semua yang mereka sembunyikan selama ini.


“Ya, aku tidak punya alasan selain hanya ingin dekat denganmu, aku mengancam Alka, hingga dia mau melakukan perjanjian, Alka tidak bermaksud menipumu, dia menjaga kalian dengan baik, aku ....”


“Kenapa kau masih memikirkan orang lain sedang tubuhmu sedang sekarat!” Hartino kesal dengan perkataan Alisha yang masih membela orang yang selama ini Hartino anggap keluarga tapi membohonginya.


“Har, aku mohon maafkan aku.”


“Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai kau kenapa-kenapa, aku bahkan tidak akan memaafkan kakak, aku juga takkan memaafkan diriku sendiri.” Hartino marah dan sedih, serta kecewa, dia membuat gadis yang paling dicintai menderita.


“Har, maaf, aku tidak bisa berjanji, kalau aku akan baik-baik saja, karena ini mungkin akan menjadi perpisahan bagi kita berdua.” Alisha menangis tapi tetap tidak menyesali perbuatannya.


“Apa maksudmu?”


“Har, aku telah melakukan perjanjian dengan jin dari Negeri itu, perjanjian itu membuatku memiliki ilmu hitam yang tinggi. Makanya aku bahkan memiliki pedang pusaka dan kemampuan bela diri yang baik, karena aku memiliki jin di dalam tubuhku.”


“Kita bisa mengusirnya, kita bisa mengusir jin itu dari tubuhmu, kita akan minta bantuan Aditia bahkan Ayi Mahogra, kau tahu kan, Ayi itu orang kuat.”


“Tidak bisa Har, karena aku melakukan perjanjiannya, dengan jiwa yang ditangguhkan.”

__ADS_1


Hartino terdiam, tubuhnya bergetar dan lemas, dia tahu apa artinya itu, dia tahu konseksuensinya, dia tahu kalau itu takkan bisa dipatahkan sampai batas waktu yang ditentukan, dia tahu kalau Alisha akhirnya akan ....


“Maafkan aku Har.” Alisha lemas, dia akhirnya pingsan lagi.


__ADS_2