
Sisa potongan tubuh sudah diserahkan ke rumah sakit, tes juga sudah dilakukan, kesemua potongan tubuh itu pemiliknya adalah satu orang.
“Jadi Yan, gue harus mulai dari mana, wajahnya sudah hancur kita kesulitan untuk mengidentifikasi, lu bilang ini Koswara, berdasarkan foto dari preman di pelelangan ikan kan?”
“Ya, kita tahu wajahnya dari arwahnya, karena wajahnya kurang lebih mirip dengan selebaran foto pencarian itu. Yang aku heran, apa motifnya? Bosan aku kalau selalu soal uang.”
“Yaelah Yan, apalagi coba? Di dunia ini nggak ada yang terlepas dari uang. Mana ada permasalahan di dunia ini tanpa melibatkan uang sebagai tokoh utama.” Dirga menertawakan sahabatnya yang sedang kesal.
“Lagi-lagi uang.” Mulyana merasa geram.
Aditia telah bangun, dia bertanya apa yang terjadi, ayahnya hanya mengatakan bahwa dia pingsan saat melihat sisa tubuh, Aditia tidak ingat apa-apa, selain saat ayahnya memanggil dia, itu saja. Efek gendam yang Mulyana lakukan berhasil.
“Sekarang kita haru apa Yah?”
“Ingat angka ganjil yang sudah kita temukan?”
“Ya, 30 kilometer dan 50 kilometer. Yang belum ketemu 10 dan 90 kilometer, karena 70 kilometernya adalah gunung yang dituju sebagai pusat penyembahan berarti dari gunung tempat persembahan, 90 kilometer balik ke tempat awal dan dari tempat awal adalah 10 kilometer ke tempat ditemukannya jari telunjuk itu."
"Ya, tugas kita sekarang adalah, menemukan tempat yang jauhnya 90 kilometer dari gunung dan 10 kilometer dari tempat ditemukannya jari. Adit sudah bisa menebak dimana itu?"
"Ya, rumah mewah milik istri Koswara."
"Jadi benar dia pelakunya?"
"Bukan, dia hanya alat."
"Jadi siapa pelakunya?"
"Koswara."
"Hah? Dia membunuh dirinya sendiri?" Aditia bingung, Dirga yang sedari tadi nimbrung tidak mau mengatakan kebingungnnya juga, karena dia ingin menyembunyikan ketidakpahamannya.
"Ya, dia membunuh dirinya sendiri."
"Gimana kalau kita ke lokasi aja, cari bukti." Dirga bersiap, dia kali ini akan menggunakan lencananya untuk bisa mendapatkan informasi.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, mereka sampai di rumah cukup mewah itu.
__ADS_1
Dirga mengetuk pintu dan seorang pelayan membukakan pintu. Dirga meminta nyonyanya dipanggilkan. Istri Koswara turun, dia menggunakan gaun yang sangat mahal hingga semata kaki yang tertutup, riasannya juga terlihat sangat gelap, dadanan yang sangat aneh walaupun jaman itu istilah gotic sudah tidkenal.
“Apakah Ibu ada waktu untuk kami tanyai informasi seputar hilangnya suami ibu?” Dirga langsung pada intinya.
“Silahkan, walau saya tahu, anda tidak membawa surat ijin dari kepolisian bukan?”
“Oh tenang saja Bu, surat itu akan segera ibu terima, kan ibu tahu, itu hanya soal formalitas.” Dirga tidak mau kalah.
“Anda bisa mulai, ambilkan air putih untuk mereka.” Nyonya rumah terlihat tidak perduli pada apapun.
“Tidak perlu repot.”
“Tenang saja, itu hanya air putih, kami juga tidak akan berani macam-macam dengan Polisi, ngomong-ngomong, anda itu Petugas Koperasi atau Polisi?” Nyonya rumah sedang mengejek Mulyana, Mulyana tidak akan terpancing dan diam memilih tidak menjawab.
“Apakah anda benar tidak tahu bahwa suami anda telah meninggal dunia?” Dirga langsung pada pertanyaannya.
“Suamiku hilang, itu yang aku tahu.”
“Kami menemukan tubuhnya, kami harus mengkonfirmasi pada anda apakah benar dia adalah Koswara, suami anda. Karena tidak ada riwayat di rumah sakit yang bisa kami jadikan acuan bahwa tubuh yang kami temukan adalah tubuh suami anda.”
“Pasti bukan suamiku.” Wanita itu terlihat sangat yakin.
“Bagaimana anda yakin itu dia?”
“Karena kita berdua tahu, seperti apa kondisi tubuh suamimu.”
“A-apa maksudmu.” Nyonya rumah itu terlihat kaget.
“Jarinya ada di kali, leher hingga alat kelamin ada di kolong jembatan, sedang sisanya ada di perkebunan karet. Semua jarak tempuh di ketemukannya jika ditarik garis lurus adalah, 10 kilometer dari rumah anda sampai kali, 30 kilometer dari kali sampai ke kolong jembatan, 50 kilometer sampai ke kebun karet dan 70 kilometer sampai di gunung tempat tujuan sesembahan yang pasti anda yakini sebagai tempat iblis itu tinggal lau, jika ditarik lagi garis dari gunung itu kembali ke rumah anda adalah 90 kilometer. Angka ganjil yang menjadi syarat dikuburkannya tubuh itu.” Mulyana mengemukakan kesimpulannya.
“Dimana tubuh itu sekarang!” Wanita itu terlihat sangat gusar, dia yang tadinya tenang dan cantik walau dengan gaun dan dandanan yang tidak lazim, sekarang menjadi tidak tenang.
“Di rumah sakit dan sudah dapat dipastikan bahwa, itu adalah satu tubuh dari satu identitas, walau identitasnya kami belum ketahui.” Pada jaman itu belum ada bank data yang mengumpulkan data dari setiap pasien yang saling terhubung sehingga memudahkan proses identifikasi dalam proses pencarian identitas. Sampai saat ini juga hanya beberapa negara saja yang sudah memiliki tekhnologi sebaik itu. Karena proses pengumpulan data sudah mereka lakukan sejak lama, sedang negara kita baru melakukan pengumpulan data sejak diterbitkannya elektronik kartu tanda pengenal atau E-KTP baru-baru ini.
“Anda menggalinya dan mengumpulkan kembali tubuh itu, brengsek kalian!” Wanita itu berteriak histeris, dia terlihat tidak mampu mengendalikan dirinya.
“Ya, tentu saja, kami melakukannya, ruh suamimu yang meminta itu!” Mulyana kesal melihat kelakukan istrinya, dia tahu istrinya tidak terlibat dalam pembunuhan itu.
__ADS_1
“Kami sudah memeriksa sidik jari, diketemukan hanya satu sidik jari, kami sudah mencari pemilik sidik jari itu, sidik jari itu milik dari pria yang kau sebut anakmu itu.”
Nyonya rumah lunglai, dia telah kehilangan suami dan sekarang akan kehilangan pria yang dia katakan sebagai anaknya itu. Pria yang katanya adalah anak bawaan suaminya, makanya dia selalu bilang itu adalah anak kami, anaknya dan suami. Padahal jelas dia belum pernah hamil dan melahirkan.
“Siapa pria itu, dia bukan anak Koswara bukan? dia itu hanya anak angkat kalian bukan? dan Koswara mengaku-aku lelaki muda itu sebagai anak bawaannya saat dijodohkan dengan anda.” Mulyana tidak benar-benar bertanya, dia menebak apa yang pasti benar.
“Aku mencintainya, walau semua orang ragu karena umur kami yang begitu jauh, seperti ayah dan anak kata mereka. Tapi aku benar-benar mencintainya, kami mempersiapkan masa depan dengan sangat rapih. Uang dan kekuasaan telah kami miliki, lihat rumah ini, ini adalah kerja keras yang suami tercintaku hasilkan. Kami adalah pengusaha di daerah ini dengan banyak nama lain, tidak ada yang tahu bahwa pasar dan pelelangan ikan kamilah yang mengendalikan harganya.
Kami memiliki semua kecuali ... umur. Kami punya batasan untuk itu. Maka dari itu kami melakukan penyembahan pada Durbiksa Damplak. Kami diberitahu seseorang yang juga merupakan kumpulan penyembah Durda, kami menyingkat namanya agar mudah disebutkan.
Para pengikut yakin, bahwa tubuh ini hanya cangkang, sedang jiwa kami bisa di pindahkan pada cangkang lain. Syarat pemindahan cangkang lain adalah, kami harus mati sebelum takdir kematian yang Tuhan gariskan datang. Kami akan bunuh diri, memisah seluruh tubuh kami sebagai persembahan pda Durda, jiwa kami akan diselamatkan oleh Durda, lalu dimasukkan ke dalam cangkang baru, yaitu lelaki yang kami telah siapkan sebagai cangkang lain.
Koswara lelaki tercintaku, seharusnya sekarang sudah masuk ke dalam tubuh anak kami, jika saja kalian tak mengacaukannya! Seharusnya kami akan hidup kekal dengan cara seperti itu! Ketika kami sudah tua, kami akan melepas cangkang tua kami dan masuk pada cangkang baru, umur sudah bukan masalah lagi bagi kami!”
“Kamu pikir bisa mencurangi Tuhan! Kalau rencana itu memang benar, lalu kenapa suamimu meminta dibantu untuk ditemukan mayatnya? Dia bahkan berkata dia dibuang di sana. Jiwanya saja terlihat dalam bentuk yang hancur, itu artinya dia telah menyesal percaya pada setan dan iblis. Apakah kau pernah melihat seseorang yang benar telah masuk ke dalam cangkang lain? Seperti yang tuhan kalian katakan?”
“Ya, tentu saja, kami melihat itu pada persembahan terakhir, pria tua itu masuk ke dalam tubuh seorang pria muda, dia membuktikan dirinya adalah jiwa pria yang telah masuk ke cangkang baru dengan cara mampu menceritakan dengan sangat detail tentang pria tua yang telah mengorbankan cangkang lamanya untuk masuk ke cangkang baru. Kami yakin dia telah pindah cangkang lain.” Wanita itu bersemangat menceritakannya.
“Lagi-lagi orang bodoh ditipu jin, dia sudah meninggal ketika memutuskan bunuh diri, lalu jiwa yang kalian yakini adalah pria tua yang telah pindah cangkang, adalah jin yang menyamar dimana jin itu telah di tugaskan untuk mengintai pria tua itu selama beberapa waktu sehingga begitu masuk ke tubuh baru yang kalian bilang cangkang lain itu, dia bersikap menyerupai pria tua tersebut. Kalian benar-benat manusia bodoh yang mudah tertipu!” Mulyana kesal dengan penjelasan ini. Walau bukan karena uang, tapi karena keserakahan akan kehidupan abadi, tetap saja, ini alasan yang jauh lebih menjijikan.
“Pertanyaan saya, kenapa kalian pura-pura hidup miskin?” Dirga bertanya secara spontan, Mulyana tertawa karena temannya sudah jadi Polisi masih saja tidak tahu soal itu.
“Kareka kami menghindari orang-orang sok tahu agama seperti kalian! Kami tiba-tiba kaya, apakah itu tidak membuat kalian bingung, kami sebelumnya melakukan banyak prakter pemujaan pada tuhan-tuhan kami, sehingga kami mendapatkan kekayaan tersebut, hingga kami dipertemukan dengan para pemuja Durda, dia jauh lebih hebat, aku tidak percaya padamu, kau yang membuat suamiku tidak dapat masuk ke cangkang barunya!” Istrinya terlihat histeris.
Mulyana dan Dirga pamit, mereka akan membawa surat penangkapan, walau jelas ada bukti Koswara bunuh diri, tapi memperlakukan mayat sekeji itu dengan memotong-motongnya adalah hal yang tidak dapat dibilang benar juga. Praktek penyembahan tuhan palsu juga tidak seharusnya masih bertahan.
Maka dari itu, wanita ini akan tetap ditangkap bersama pria muda yang dia bilang sebagai anak bawaan Koswara. Kasus ini selesai, Mulyana masih tetap berusaha mendapatkan orang-orang yang masih menyembah Durda, walau itu tidak mudah, mereka hebat menyembunyikan diri, mungkin karena uang yang mereka miliki sangat banyak, sehingga membayar banyak hal agar mereka mampu bersembunyi itu mudah.
"Yah, serem ya, serakah membuat orang lupa diri. Mening kita aja ya, hidup sederhana tapi saling memiliki." Aditia dan ayahnya dalam perjalan pulang. Sementara Dirga masih sibuk mengurus penangkapan dan juga pengumpulan bukti.
"Dit, Ayah tahu, uang itu penting. Tapi bukan segalanya. Ada hal yang tidak bisa uang beli. Ketulusan Dit. Kamu akan sangat beruntung jika memiliki orang-orang tulus di hidupmu, tapi takkan bisa kamu dapatkan jika posisimu terlalu tinggi. Karena orang akan condong menjilatmu ketika mereka bjkan harus melihatmu dengan mendongak. Maka ketika posisi kita di bawah, kita akan mampu bertemu dengan orang-orang yang tulus. Mudah menemukan mereka jika posisi kita serendah ini." Mulyana semakin merasa keputusannya untuk membuat hidup keluarga sederhana adalah keputusan yang tepat. Walau kelak jika keluarganya tahu, betapa dia telah membohongi mereka seumur hidupnya, pasti akan ada kebencian karena merasa dibohongi. Mulyana akan ambil resiko itu daripada resiko anaknya tercemari dengan kemewahan dan sulit lepas darinya.
______________________________
Catatan Penulis :
Part Aditia akan tamat sebentar lagi ya, aku ga yakin 1 atau 2 part lagi. Baru abis itu nyambung ke pertarungan lima sekawan lagi.
__ADS_1
Part ini cukup bikin aku merinding. Kalian? Ada yg udh nebak akhirnya?
Jangan lupa selalu dukung kami ya.