Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 304 : Bus 404 (7)


__ADS_3

“Dit, hajar kanan!” Ganding terlihat kesal karena dari tadi si setan cilik itu tidak kena sabetan cambuk Alka yan dipegang Aditia. Alka kelelahan karena setan kecil ini, yang suka menyengsarakan ibu-ibu di suatu desa ini terlihat sangat licin.


“Har, jagain lagi belakangnya!” Aditia yang kesal karena dia juga selalu gagal menangkap setan kecil ini meminta Har untuk tetap rapat di belakan setan cilik itu.


“Minggir semua!” Jarni kesal karena semua lelak itu tidak berguna.


“De … sini, mau mimi cucu nggak?” Jarni menawarkan hal yang memuat semua orang menahan tertawa, bagaimana mungkin anak polos ini menawarkan hal yang seperti itu.


Setan cilik yang selalu disebut tuyul padahal bukan itu, memang suka sekali dengan susu.


Setan cilik itu lalu berjalan mendekati Jarni, sementara Jarni memberi kode kepada dua sahabatnya untuk segera meringkus setan itu, hingga jarak Jarni dan setan cilik itu hanya satu langkah, Hartino membaca mantra, Aditia menyabet tubuhnya dan Ganding menarik Jarni, setan cilik itu berhasil diringkus.


Akhirnya ….


Semua orang terduduk kelelahan, karena setan cilik ini benar-benar licin, sudah dua minggu mereka di desa ini untuk menangkap setan cilik ini.


Dia tidak mencuri uang dia menyengsarakan ibu-ibu yang baru saja melahirkan, karena air susunya dikuras habis oleh setan cilik ini, hingga akhirnya bayi-bayi mereka sakit karena kekurangan asupan, yaitu air susu ibunya yang dikuras habis oleh setan cilik ini.


Kawanan masih terduduk lemas, Alka yang paling lemah, karena dia mengejar setan ini sejak semalam, sementara yang lain ketinggalan di belakang.


“Istirahat dulu ya, nggak usah ngerjain kasus, gimana?” Aditia mengajukan ide.


“Setuju, capek banget emang kalau urusannya ama anak kecil, mau setan mau manusia.” Ganding tertawa, yang lain ikut tertawa.


Lalu setelah sudah merasa tenaga mereka kembali, mereka akhirnya bersiap untuk pulang, tapi saat hendak bersiap pulang dengan angkot jemputan, kampung tiba-tiba menjadi begitu gempar, Aditia penasaran, tapi yang lain tidak karena benar-benar lelah.


“Bentar ya, cuma mau tau ada apa.” Aditia meninggalkan angkot, sementara Ganding duduk di samping kemudi, Alka duduk di belakang dan tiduran di bangku penumpang, begitupun Jarni, sedang Hartino tidur di bagian bawah angkot dengan menggelar tikar. Anak-anak orang kaya ini benar-benar membumi sekali ketika sedang menjadi kawanan, ini adalah aslinya mereka, kalau sedang menjadi anak konglomerat, mereka berpura-pura menjadi anak orang kaya yang bahagia, padahal bahagia mereka adalah saat bersama kawanan walau babak belur selalu menjadi pilihan yang membuat mereka kesulitan.


“Udah Dit?” Aditia kembali ke bangku kemudi dan menyalakan mobil yang lain sudah tertidur pulas lagi, hanya Ganding dan Aditia yang terjaga, pintu bagian penumpang juga ditutup rapat.


Aditia menjalankan mobilnya, Ganding tidak lama kemudian tertidur.


Tidak terasa perjalanan selama empat jam sampai juga, Aditia memang hebat dalam soal kuat mengemudi berjam-jam tanpa pengganti.


“Dit, udah sampai?” Ganding bertanya.


“Udah nih.”


Yang lain bangun juga, hendak bersiap keluar, karena mereka kira sudah sampai markas, begitu sadar bahwa mereka bukan berada di markas ghaib, saat semua sudah keluar angkot dan berdiri di suatu gerbang, di mana di balik gerbang itu hanya terlihat hutan yang luas di kanan kiri jalan.


“Di mana ini!” Ganding kaget, Alka terdiam sambil menguap. Dia tahu kelakuan lelaki yang dia cintai ini dan bersiap masuk lagi ke mobil.


“Kamu bilang katanya nggak mau nanganin kasus dulu tadi!” Hartino juga kesal dan akhirnya masuk mobil lagi, Jarni hanya melotot pada Aditia, rasanya baru saja istirahat tenang.


Ganding memukul bahu Aditia, karena tahu, Aditia datang ke lokasi baru kasus mereka dan dia masuk lagi ke angkot.


Mereka semua tahu, kalau Aditia akan masuk ke hutan ini, tapi mereka enggan melakukannya sekarang, makanya masuk ke angkot lagi untuk tidur.


Aditia hanya cengengesan, dia memang tidak meminta persetujuan temanya untuk mengambil kasus baru, tadi saat dia penasaran dengan kegemparan desa, dia mendapatkan informasi bahwa ada seorang mahasiswa yang hilang , anak dari seorang warga desa itu, nama anak itu Arif. Hilang sejak beberapa hari yang lalu saat membantu mencari temannya yang hilang juga.


Aditia penasaran karena ada salah satu warga yang bilang, hutan di sini angker Aditia merasa perlu menemukan pria itu karena ini masih beberapa hari, kalau dia ditawan dedemit, kemungkinan dia masih bisa diselamatkan.


Makanya dia akhirnya berkendara ke sini, padahal tadi dia sendiri yang bilang tidak ingin menangani kasus dulu, Kharisma Jagat memang agak lain, kalau sudah dengar kata angker pasti bawaannya pengen samperin, semacam adu ilmu, makanya kenapa Kharisma Jagat perlu Ayi Mahogra untuk mengendalikan mereka merasa mampu menguasai dunia karen berkah yang Tuhan kasih.

__ADS_1


Tapi Aditia tahu, tidak akan memaksa teman-temannya untuk mengerjakan kasus malam ini juga.



“Jadi gitu Pak, ini Heru, keponakan dari Melati, yang ada fotonya di situ.” Winda menjelaskan tentang Heru keponakan dari Melati, mereka di pos, hari ini Pak Parman bersiap menyisir hutan lagi, hari ini adalah hari terakhir mereka mencari di hutan, karena kalau hari ini masih tidak ketemu, mereka akan memperluas areal pencarian.


“Terus Heru mau ikut bantu mencari?” Parman bertanya.


“Iya Pak, minta tolong ya, karena saya ingin sekalian mencari jejak tante saya.”


“Hilangnya tahun 2005 Heru, mana mungkin bisa ketemu, maaf sekali, kamu tahu kan, kalau tubuh seseorang yang meninggal itu, dalam waktu beberapa minggu saja sudah membusuk, lalu berbulan-bulan kemudian menjadi tengkorak, apalagi kalau tubuh itu tidak dikubur, akan sangat mustahil menemukan tubuhnya utuh. Maaf saya harus mengatakan ini.”


“Tapi Pak, kami keluarga yakin, kalau Tante Melati masih … ada di hutan itu, karena mama saya selalu bermimpi tentang tante saya yang meminta tolong, bahwa nenek saya, ibunya Tante Melati juga bermimpi hal yang sama. Kalau tidak ketemu tubuhnya utuh, paling tidak siapa tahu, kita bisa menemukan apa yang terjadi sebenarnya, siapa tahu saya bisa bertemu dengan Tante Melati, apapun wujudnya.” Heru memaksa.


“Kalau sudah meninggal, ruh kembali ke Tuhan Heru, sudah jangan aneh-aneh lagi, lagian, kalau sampai kamu ikut hilang, saya bisa dipecat bahkan mungkin dihabisi oleh keluarga kau dan Arif, jadi jangan macam-macam!” Pak Parman melarang.


Dia dan regu akhirnya memulai pencarian, di titik terakhir kemarin mencari, berjalan dari jalanan menuju gerbang keluar dulu, lalu memarkir mobil di tempat terakhir mereka cari hari sebelumnya dan memulai lagi di titik yang belum mereka sentuh, makanya kemungkinan hari ini, adalah waktu di mana hutan akhirnya telah habis mereka jelajah.


“Win, cari sendiri gimana?” Heru terlihat bersungguh-sungguh dengan perkatannya.


“Ah, gila lu, masuk hutan sendirian?” Winda menolak.


“Mereka ngasal tuh nyarinya, nggak heran dulu juga tante gue nggak ketemu, karena mereka carinya asal-asalan.” Heru kesal dan dia berjalan ke luar pos.


“Her, jangan gila deh, elu gegabah kalau cari sendirian di hutan itu.” Winda marah.


“Kalau nanti gue bisa dapet orang yang biasa jelajah hutan ini, elu mau ikut?” Heru bertanya.


“Maksudnya?”


“Her, tapi ….”


“Ini dua orang yang hilang loh, pertama sahabat kamu, bahkan kamu sempat kirim pesan loh sama dia dan terakhir Arif, temanmu yang ikut pencarian, kamu nggak merasa bersalah kalau mereka nggak ketemu? Yakin kamu bisa jalani hidup kalau mereka kenapa-kenapa?” Heru membujuk dan memaksa.


“Tapi kamu yakin aman? Kalau kita ilang juga gimana?”


“Nggak akan, karena orang yang kita bayar itu selain tahu hutan ini dengan baik, dia juga … dukun! Dia bisa bantu kita berkomunikasi sama dedemit hutan untuk bantu kita.”


“Kamu yakin?”


“Yakin! Aku akan tetap jalan, meski kamu nggak ikut, tapi fokusku cari Tante Melati, kalau sudha ketemu, walau cuma sisa peralatannya saja, aku akan balik, aku nggak akan fokus cari dua temenmu.”


“Ok, aku ikut. Tapi kamu harus menjamin keamananku ya.” Winda meminta Heru berjanji.


“Aku bakal jagain kamu pake nyawa aku.” Heru berjanji dengan wajah sungguh-sungguh, semoga dia bisa menepati janji.



Nola terbangun karena mendengar lagi lagu lawas itu, dia memaksa dirinya untuk segera sadar, saat sudah kembali ke belakang, Nola melihat semuanya terlihat tidak bersemangat untuk turun.


“Kita akan melakukan apalagi sekarang?” Nola bertanya.


“Tidak tahu.” Bobby tidak bersemangat.

__ADS_1


“Bob, maaf aku membuat temanmu tiada, tujuanku hanya menyelamatkan kita semua, hingga kita bisa keluar dari labirin waktu ini.” Nola mencoba memberi tahu kalau dia menyesal tapi tujuan dia baik.


“Kami lelah Nol, sudahlah, jika memang takdir kami begini, selamanya terjebak di bus ini.”


“Kalian jangan menyerah begitu cepat!” Nola tidak mau menyerah secepat ini.


“Trus kita mesti gimana lagi Nol?” Bobby akhirnya berteriak.


“Bob, kita sudah melewati pertigaan itu, kedua jalannya, jalan kita dari sini, jalan kanan dan kiri, semuanya tidak bisa kita lalui bukan?”


“Ya, kau tahu dengan jelas.”


“Kalau begitu, ada satu jalan yang belum kita lalui.” Nola tersenyum.


“Jalan apa?” Bobby bertanya.


“Itu.” Nola menunjuk jalan ke arah depan, jalan ke arah depan bus.


“Maksudnya?”


“Kita terobos sisi depan bus, kalian perhatiin nggak sih, setiap kali lagu itu  terdengar, semua makhluk itu terdiam, ya, walau menatap kita, mereka fokus dengar lagi itu, tapi nggak pernah berusaha nyakitin kita kan? Mereka hanya berdiri di depan, fokus dengar lagi itu tak bergerak, nanti begitu bus ini berhenti dan lagunya mati, mereka akan mulai mengejar kita, benar tidak?” Nola bertanya.


“Iya benar, seperti itu, kenapa aku tidak kepikiran ya?” Bobby baru sadar.


“Tapi kan Nol … terlalu menakutkan menerobos bagian depan dengan makhluk mengerikan begitu.” Rendi berkata.


“Iya, aku juga takut.” Mita dan Rosi sama-sama takut.


“Kalian pikir aku tidak takua aku juga takut.” Nola mengungkapkan kalau dia juga sama takutnya, “tapi aku lebih takut tidak ketemu orang tuaku lagi, tidak kuliah lagi, tidak bertemu sahabat-sahabatku lagi, pasti saat ini sahabatku Winda sangat sedih aku hilang, Arif juga pasti sedih. Jadi, ayo kita kuatkan diri masing-masing, kita pegangan dan pastikan tidak terpisah, kita pasti bisa melalui ini, setelah ini, saat kita keluar dari bus ini, kita bisa menikmati matahari lagi, lalu kita bisa berjalan-jalan di pantai, kemudian lulus kuliah, kerja dan akhirnay menikah, bertemu sesekali mengenang tentang hari ini kita berjuang bersama.”


Nola membangkitkan rasa berani pada mereka, dengan memberikan semangat bagaimana dunia indah di luar sana.


Akhirnya Bobby dan yang lain berdiri meraka setuju untuk saling berpegangan tangan, berjalan satu-satu tanpa melepaskan genggaman.


Bobby paling depan.


“Nola, kalau aku sudah sampai depan, aku akan menarik tanganmu, kau tarik tangan Meli, lalu Meli tarik tangan Rosi dan Rosi tarik tangan Rendi, jadi kita tarik-tarikan, begitu sudah ada di depan pintu bus, ingat, jatuhnya kita pasti sakit, tapi harus ditahan, demi bertemu semua orang yang kita sayangi.”


Semua sepakat.


Bobby mulai jalan, lalu Nola dan yang lain, mereka mulai melewati pertangan bus, lalu tak lama sampai di bagian depan, yang terlihat pertama kali adalah, makluk itu melihat ke arah mereka semua dengan serempak.


Bobby memberi kode untuk tetap jalan, tidak ada yang berhenti, semua mengangguk.


Bau gosong terasa di sana, lalu makhluk itu benar-benar sangat mengerikan, wajah mereka hancur, semua makhluk itu tidak utuh, ada yang gosong sempurna, ada yang gosong sebagian, tapi semuanya tidak utuh, benar-benar menakutkan, saat tim bobby melewati mereka, jarak antara makhluk itu dengan mereka hanya sejengkal, mereka menahan nafas, ketika tangan Nola menyentuh makhluk itu, panas sekali, Nola bahkan hampir melepas pegangannya, tapi buru-buru dia perkuat pegangan itu.


Benar kata Nola, karena lagu itu makhluk-makhluk ini tidak menyerang, tapi kalau sampai mereka menyerang sekarang, pasti gosonglah tubuh Bobby dan semua orang.


Bobby sudah di pintu paling depan, pintunya terbuka, Bobby melihat ke semua orang, dia sedang menguatkan hati, karena bus ini melaju cukup kencang, dia hanya perlu melompat dan mungkin akhirnya mereka akan keluar dari bus ini dan bertemu lagi dengan semua orang yang mereka sayangi, itu menguatkan Bobby.


Bobby memberi aba-aba pada tangan kirinya yang tidak memegang, dia menghitung, pada hitungan ketiga dia akan melompat, itu artinya semua orang akan ditarik dan akhirnya akan jatuh bersamaan.


Bobby menjatuhkan diri, lalu semua orang jatuh tepat diaspal, Nola merasa tubuhnya yang mendarat pada aspal jalanan sangat perih, dia yakin, pasti ada beberapa robekan pada kaki dan tangannya, karena mereka semua jatuh sangat kencang, Nola melihat bus tetap berjalan saat mereka jatuh, tetap berjalan hingga akhirnya belok ke hutan, tempat biasa mereka kabur beberapa kali di waktu yang Bobby selalu bilang kemarin-kemarin itu.

__ADS_1


“Nol, berhasil!” Bobby terlihat senang, dia lalu membantu semua orang bangkit, Nola yang paling sulit bangun karena kakinya sangat sakit, mungkin keseleo karena jatuh mereka memang sangat keras hingga akhirnya menyentuh aspal.


Nola melihat yang lain, kenapa mereka terlihat tidak merasakan sakit, semua bangun dengan sangat mudah, termasuk Bobby  dan … Nola tidak melihat luka sedikitpun di tubuh teman-teman seperjuangannya itu.


__ADS_2