
“Jadwal tidur Raja bersamamu sudah ditetapkan, Maharaja akan datang besok, akan disediakan pendopo pribadi untukmu ketika menemui Raja. Karena Raja suka ruang pribadi.” Seorang Dorapala datang memberikan titah, Pendopo pribadi yang akan digunakan adalah pendopo khusus untuk perjamuan raja yang dilakukan Selir-selir di kerajaan ini.
“Prabu akan datang besok, kau harus bersiap, riaslah dirimu dengan baik, jangan sampai Prabu melihatmu jelek seperti Selir yang kemarin akhirnya di depak dari kerajaan.” Salah satu selir teman pendoponya berkata setelah Dorapala memberi titah.
“Ya, aku harus hati-hati, karena mungkin ini adalah kesempatan yang sangat jarang aku dapatkan, bertemu dengan kekasih hatiku.” Diah terlihat senang dan was-was.
“Kau harus tenang dan jangan sampai ada yang salah, karena kalau kau jatuh, tidak akan ada yang menolongmu, kau berdiri di kakimu sendiri jika hidup di kerajaan ini.”
Diah tersenyum, karena ada selir yang begitu naif sekali.
Diah mempersiapkan semuanya dengan hati-hati, dia mandi dengan air yang dia tahu jelas sumbernya, makan dengan hati-hati dan berpakaian dengan sangat mewah.
Hingga hari bertemu Raja tiba, lalu Diah diantar ke pendopo khusus milik Prabu, Diah menunggu dengan hati berdebar, hari ini dia akan merasakan menjadi seorang istri yang seutuhnya, Diah bersumpah akan memberikan pelayanan yang terbaik.
Prabu datang, dia duduk dihadapan Diah, tersedia makanan yang cukup banyak kesukaan Prabu dan Diah, ini adalah malam pertama mereka setelah beberapa bulan menikah.
“Prabu ingin minum hangat dan makan dulu atau ingin istirahat?” Diah bertanya, wajahnya masih menunduk.
“Kau diizinkan untuk memperlihatkan wajahmu, aku ingin melihat wajah wanita muda yang menjadi hadiah bagi rumah tanggaku.” Prabu berkata dengan sangat berwibawa, Diah sangat amat bahagia mendengar itu semua.
Diah memperlihatkan wajahnya pada Prabu dengan malu-malu, hanya untuk menjaga etika, karena wajahnya memang adalah harta untuk menggoda Prabu, wajah dengan sihir dari para jin yang bersemayam di tubuhnya, pada setiap tetes aliran darahnya.
“Kau cantik sekali.” Prabu berkata dengan berbisik.
“Wajah ini memang diabdikan untuk menjadi milikmu Prabu.” Diah berkata dengan gerakan tubuh yang menggoda, Diah menurunkan bagian dada pada kebayanya, dia ingin Prabu melihat hidangan lezat dalam dirinya yang sudah disediakan sejak lama tapi tidak pernah dijamah.
“Diah, aku ingin minuman hangat, tuangkan untukku.” Prabu terlihat masih menahan diri.
“Baik Maharaja Yang Mulia.” Diah lalu bangkit dari duduknya, tidak berdiri, masih tetap dengan kaki ditekuk, Diah menuangkan minuman jahe hangat ke dalam gelas Prabu, saat melakukannya, lagi-lagi Diah membungkuk, hanya untuk memamerkan apa yang ada di dalam kebaya bagian dadanya, Raja mengerti.
Prabu meminum jahe hangat untuk kebugaran, setelah jahe itu diteguk habis, Diah mendekat ke dalam pangkuan Prabu.
“Apa aku telah melewati batas Prabu?” Diah terdengar semakin menggoda, Prabu terlihat sangat gusar, karena dia sangat ingin menerkam wanita muda yang menggodanya ini.
“Tidak, kau sangat cantik dilihat dari dekat seperti ini.”
“Kalau begitu, apa aku harus membantu Prabu menanggalkan baju?” Diah terus memprovokasi Prabu agar mulai ‘menyerangnya’, tapi Prabu masih bertahan untuk melihat lebih ke dalam, karena Prabu ingin berjaga, tidak ada sihir yang Diah gunakan lagi, tampaknya bersih, sama sekali tidak ada sihir yang terlihat dari Diah. Raja tidak tahu, sihirnya bukan lagi mantra, tapi menyatu dalam dirinya.
Diah membuka satu persatu jubah raja hingga ke baju kebesaran Raja. Setelah semua tanggal, Diah menyajikan sebuah kenikmatan yang sedari tadi masih dibalut kain kebaya dan jarik, Raja melihat itu sungguh langsung terjatuh, terjatuh karena melihat keindahan yang tidak pernah dilihat sama sekali sebelumnya.
__ADS_1
Diah menarik Raja ke tempat tidurnya, setelah Raja sudah sampai di tempat tidurnya, Diah membiarkan tubuhnya menjadi mainan raja, Diah begitu menikmati setiap sentuhan suami tidak resminya, saat sedang bergulat dengan kenikmatan itu, Prabu tiba-tiba terdiam, dia duduk dan memegang lehernya, Prabu tercekik tanpa alasan.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Kenapa, kenapa Yang Mulia?!” Diah panik, dia mengambil kain jariknya untuk menutupi tubuh dan berteriak agar Dorapala masuk ke kamarnya menolong Raja.
“Dorapala! Dorapala!” Dorapal mendengar suara teriakan dari dalam langsung masuk dengna paksa.
Saat sudah masuk, Dorapala kaget karena melihat Raja dalam keadaan yang sangat aneh, beliau memegang lehernya seperti tercekik, Dorapala segera memanggil semua pengawal dan berusaha menolong Raja, tabib kerajaan dipanggil, dalam hitungan menit tabib itu datang.
Raja masih terus merasa tercekik, Diah sudah berpakaian lengkap, dayang buru-buru memakaikan baju pada Diah.
Diah masih terus berada di sisi Raja, hingga Ratu Dahlia datang ke pendopo itu.
Begitu masuk ke pendopo khusus milik Raja, Ratu Diah sangat murka melihat Diah yang duduk di samping Raja dan memegang tangan suaminya. Tepatnya, suami mereka.
“Dayang, bawa selir ini ke luar, aku ingin bersama suamiku.” Ratu terlihat dingin.
“Yang Mulia Ratu, aku mohon, izinkan aku di sisi suamiku, aku ingin bersamanya, aku ingin berada didekatnya.”
“Selir Diah Ningrum, ke luar atau aku akan meminta dayang menyeretmu ke luar!” Ratu Dahlia semakin marah. Dayang bersiap menyeret Diah.
“Baiklah aku akan keluar dari sini, tapi aku mohon, izinkan aku berkunjung jika Raja telah bangun, aku sangat ingin di dekatnya Yang Mulia.” Diah memberi syarat.
“Selir Diah, tak tahu dirikah kamu! saat bersamamu Prabu yang mulia jadi seperti ini, kau memang wanita pembawa sial!” Ratu Dahlia sangat marah, karena Selir Diah masih saja berusaha mendekati Raja.
“Ratu, aku mohon, izinkan aku untuk bersama suamiku.” Diah berteriak, sangat tidak beretika sekali.
“Diam kau! atau kurobek mulutmu karena berani berkata Prabu adalah suamimu, dia itu suamiku, kau hanya simpanannya! Ingat ini baik-baik, akan kupastikan kau kali ini habis, karena berani mencelakai Raja.” Ratu membisiki kata-kata itu pada Diah, dia tidak mau yang lain dengar. Diah terdiam, tidak tahu kalau Ratu juga orang yang sangat kejam.
Diah akhirnya ditarik ke luar, tapi pada saat sudah di luar, diah terduduk, dua dayang kesulitan menariknya lagi.
“Aku hanya disuruh keluar dari pendopo kan? aku boleh di halaman ini kan? aku akan menunggu hingga Raja bangun, aku hanya ingin tahu keadaan Raja.” Diah memohon.
Dayang tidak menggubris, dia malam meminta bantuan semua dayang yang lewat untuk menariknay kembali ke pendopo, lalu mengunci Diah di pendoponya.
“Ada apa?” Kenapa kau kembali begitu cepat? Ini bahkan belum larut?” Selir teman pendoponya bertanya.
“Raja sakit, dia terlihat tercekik, Ratu mengusirku dari pendopo.” Diah terduduk lemas.
“Apa kubilang, Ratu akan melakukan apapun untuk mengusir Selir yang dia tidak sukai, sudah banya korbannya, hanya Prabu tidak mau menindak, dia sangat cinta pada Ratu.” Teman itu berkata lagi.
__ADS_1
“Apa Ratu mencelakai Prabu? Karena setelah minum jahe hangat, Prabu langsung tercekik, apa ada orang suruhan yang melakukan itu pada Prabu?” Diah terlihat mulai takut, lawannya bukan tandingan dia.
“Sudah pasti, siapa lagi yang punya otoritas untuk menyuguhkan makanan dan minuman bagi Raja?” Teman itu mendukung asumsi Diah.
“Tapi apakah dia tega menyakiti suaminya sendiri?” Diah berubah pikiran.
“Kau tahu tidak? kisah tentang Ratu Dahlia?” Selir itu bertanya pada Diah.
“Kisah Ratu Dahlia? Maksudna?”
“Dulu kala dia itu adalah anak dari musuh Maharaja VIII, ayahnya Maharaja IX, Prabu Adi Barang, suami kita semua.”
“Hah?” Diah bingung.
“Ya, Ratu Dahlia adalah wanita hasil rampasan perang, karena ayahnya kalah perang, Raja jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ratu Dahlia, karena kecantikannya, ya, waktu membuat Ratu Dahlia jadi tidak secantik dulu.”
“Ratu Dahlia masih mau melayani orang yang membuat kerajaan ayahnya tumbang?” Diah kaget dan takjub.
“Ya, karena kerajaan itu saat ini menjadi makmur, walau di bawah kepemimpinan Raja Adi Barang.”
“Tapi Ratu sungguh tak punya harga diri, masa masih mau bersama orang membuat ayahnya turun tahta. Aneh sekali.”
“Nah, ini dia berita buruknya untuk Ratu, tapi berita baik untuk kita. Dulu orang-orang bergunjing kalau Ratu Dahlia mungkin saja sebenarnya masih dendam, jadi masih ada kemungkinan dia mencelakai Raja dengan berbagai cara karena sejarah kerajaanya, kau harus pastikan bahwa kau akan tetap aman, karena Ratu Dahlia sangat tidak taat pada peraturan, dia merasa dialah peraturannya.”
“Aku takut.” Diah terlihat berkata dengan lembut.
“Makanya kau harus hati-hati, seharusnya kau saja yang minum air jahe hangat itu, kenapa kau meminta Raja meminumnya?”
“Aku tidak meminta Raja meminumnya, aku hanya memberikan yang Raja inginkan. Aku mana tahu kalau di teko itu ada racun.
Diah terlihat sangat sedih dan ketakutan.
“Sudah jangan menangis, kau istirahat saja dulu, jangan sampai kau kelelahan dan sakit, hari akan panjang, semoga Raja tidak apa-apa dan orang lupa akan insiden ini.” Selir ini memang baik, makanya mau menasehati Diah.
Tapi Hati Diah masih gusar, apa yang membuat Raja sakit, kenapa Ratu begitu kasar, lalu bagaimana dia keluar dari masalah ini, tidak mungkin meminta pertolongan Ratu Amanasih, karena ini bukan ranahnya sebagai makhluk ghaib, lalu dia mesti minta pertolongan siapa.
Diah terus berpikir sementara Raja mulai membaik, saat sudah membaik dia langsung bertanya dia mana Selir Diah, Ratu Dahlia sangat terkejut, karena ini pertama kalinya Raja menyebut nama lain di
“Dia sudah kembali ke pendoponya, aku sudah meminta dayang mengantar ke sana, Yang Mulia harus istirahat dulu, kau kesakitan sejak tadi, ada kemungkinan kau diracun Yang Mulia, kita harus mengusut siapa yang melakukan itu, ini namanya pemberontakan.” Ratu Dahlia terlihat kesal pada Raja dan juga kejadian ini.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa, panggilkan Selir Diah, aku ingin dia menemaniku di sini.” Ratu Dahlia semakin kaget karena mendengar kalau Raja meminta Selir muda itu untuk datang menemaninya.
Ratu kecewa, tapi dia tidak bisa melawan Raja, maka dia mengutus Dorapala untuk menjemput Selir Diah.