Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 397 : Toko Emas 27


__ADS_3

“Selamat pagi anak papi udah bangun, mau makan yang banyak lagi?” Papi terlihat senang dan mulai tenang, karena dia melihat semuanya mulai berangsur baik.


Termasuk pabrik yang sebelumnya guncang karena ketidakhadirannya, maka Papi sekarang merasa tenang karena pabrik kembali menjadi stabil.


“Papi nggak kerja?” Adik bertanya dengan tenang dan semua gesture tubuhnya sangat anggun, seperti bukan kakak yang begitu ceroboh.


“Nggak, masih cuti dulu, lagian kan, itu pabrik papi, jadi papi bisa cuti dulu. Anak papi nasinya mau dua piring lagi?” Papinya bertanya.


“Kali ini tiga piring boleh Pi?” Adik terlihat sangat senang di dalam tubuh kakaknya.


“Boleh dong, kenapa nggak?” Papi memberikan nasi yang sudah dihias, tiga piring dan adik menerima dengan sangat senang.


Adik makan dengan lahap.


“Cici rencananya mau apa hari ini? kaki masih sakit? apa perlu kita ke Dokter?”


“Hmm, adik ... Cici mau ke toko emas Mami, mau ketemu sama ibu Sum, dia orang yang baik.”


“Hmm, kamu kenal sama ibu Sum pegawai mami?”


“Iya, kenal.”


“Sekarang toko emas dijaga sama ibu sum sama salah satu pembantu kita, nanti papi antar ke sana ya. Kamu mau jaga toko emas itu?”


“Iya Pi.”


“Yaudah, nanti kita ke sana, toh toko emas itu juga nantinya punya kamu.” Papi menjawab.


[Kamu mau apa!] kakak yang jiwanya dikunci hanya bisa bertanya saja, karena tubuhnya dikendalikan oleh adik.


Adik hanya tersenyum mendengar kakak bertanya.


Setelah makan, papi menuruti maunya adik dalam tubuh kakak, mereka ke toko emas itu.


“Loh, ke sini Koh, ada apa?” Sum kaget, karena mereka datang mendadak sekali.


“Ini katanya cici mau lihat toko maminya.”


“Oh begitu, ini anaknya ibu ya?” Sum terlihat sangat senang melihat anak pemilik toko emas itu datang, walau pernah bertemu beberapa kali, tapi tidak terlalu akrab, karena anak itu memang sedikit sombong, tidak mau menegur tetangga, tapi sebenarnya dia melakukan itu karena memang merasa tidak terlalu suka bergaul dengan orang yang di atas umurnya, dia punya rasa empati yang sangat rendah.


“Mau ketemu ibu Sum, anaknya apa kabar bu?” Adik bertanya dalam tubuh kakak.


“Baik, dia sehat.”


“Bagus kalau begitu, anak ibu sum itu baik dan lucu.”


Ibu Sum bingung, karena kakak belum pernah bertemu dengan anaknya sebelum ini, tapi kenapa dia seolah berkata telah bertemu dengannya.

__ADS_1


“I-iya Cici, makasih ya.”


Walau dia bingung tapi hanya menjawab formal saja.


Lalu cici masuk ke dalam toko itu, papi pamit ke pabrik.


“Ibu Sum, suka kerja sama mami?” Cici bertanya, tentu bukan benar-benar cici yang bertanya.


“Suka, mami itu orang baik, kalau ibu lagi susah, mami pasti bantu, nggak pernah tuh marah dan suruh-suruh berlebihan, mami itu orang yang sangat baik dan banyak amalnya sama orang-orang, kadang kalau ada yang beli suka sama model emas, tapi uangnya kurang, suka dikasih diskon, padahal itu jadinya rugi, tapi mami nggak pikirin itu, makanya nggak heran kalau toko ini sangat laris.


Karena mami itu baik orangnya, bukan karena yang orang pada bilang.”


“Emang orang bilang apa?” Adik dalam tubuh kakak bertanya.


“Ya, kamu tahulah, kalau toko emas di sini katanya semua pakai penglaris, tapi cuma mami yang tidak pakai ritual-ritual begituan, jadinya rejeki ngalir dari Tuhan.” Sum menjelaskan dengan seksama.


Mami memang tidak pakai penglaris, tapi mami memelihara anak ambar yang menarik rejeki, tidak heran tokonya laku keras dibanding yang memakai penglaris, karena mereka memakai jalur gelap, sedang mami memakai jalur putih, walau yang dia lakukan tidak bisa dianggap benar.


“Kalau cici?” Sum bingung, kok kakak menanyakan dirinya sendiri.


“Kalau Cici?” Sum bertanya lagi.


“Ya, kalau Cici gimana? dia baik?”


“Maksudnya?”


“Oh ... Amanda.” Sum kaget karena kedatangan Amanda, apakah dia akan beli emas lagi?”


“Bu, mau jual kalungnya ibu.” Amanda datang dengan wajah tenang dan bersemangat, tidak penuh amarah lagi.


“Kok dijual, memang tidak mau di simpan saja? Biar nanti bisa jadi kenang-kenangan?” Sum bertanya dan mengambil kalungnya.


“Tidak ah, nanti keinget ibu terus.”


Amanda bukan takut itu sebenarnya, yang dia takuti adalah, jika saja dia melihat kalung itu, maka terbawa kenangan akan ibunya yang meninggal dengan keadaan tersiksa, Amanda sangat merasa bersalah, makanya dia mau jual kalung itu saja, biar tidak selalu kepikiran.


“Yaudah diukur dulu ya, kayak biasa. Mana suratnya?” Sum menanyakan surat pembelian kalungnya, Amanda menyerahkan surat itu dan Sum mulai menimbang kalungnya. Setelah menimbang, Sum menyebutkan harga, ada potongan dari harga asli, jadinya harga kalung berkurang, karena di jual setelah belum lama dibeli, jadi harga emas masih stabil, tidak naik ataupun turun.


Mereka menyepakati harganya,  Sum mengambil uang dari mesin kasir dan memberikan pada Amanda, tapi ketika Amanda hendak pulang, Sum tiba-tiba bertanya.


“Sekarang tinggal di mana Amanda? Masih kost?”


“Nggak Bu, sudah balik ke rumah sama kakak tinggalnya.”


“Oh bagus, kasian kakak, kemarin waktu kamu ngekost, kata tetangga, kadang kakak kurang makan, abis pulang kerja dia nggak beli makan, ada tetangga yang bilang kakak nggak ada uang buat makan, kan belum gajian, namanya juga baru kerja.”


“Masa sih Bu, padahal kakak, kan, pegang uang dari selawat, kemarin kasih ke aku kok.”

__ADS_1


“Wah, aku nggak tahu juga ya, apa uangnya nggak dipake, makanya kakak begitu, nahan lapar?” Khas ibu-ibu, Sum ingin bergosip saja.


“Bisa jadi, kakak memng sudah berubah, sekarang dia bekerja di perusahaan besar, katanya setelah 3 bulan kalau dia bagus, bakal diangkar sesuai dengan kuliahnya, ya walau belum lulus, kakak bisa pakai transkrip nilai dulu.”


“Wah bagus tuh, Amanda nggak mau kuliah?” Sum bertanya.


“Mau, ini kan Amanda kerja, trus kata kakak, nanti dibantu juga kalau udah mulai kuliah, kami berdua bakal kuliah bareng nanti.” Amanda terlihat senang membicarakan kakaknya yang sudah berubah dan dia juga jadi betah di rumah, dia masakkan untuk kakaknya, ajak teman kostnya dulu ke rumah dan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah dibanding di luar.


“Amanda, ibumu orang yang sangat baik.” Adik dalam tubuh kakak tiba-tiba ikut bicara, dia terlihat menatap Amanda dengan sangat lekat.


“I-iya, kamu pernah bertemu dengan ibuku?” Amanda bertanya padanya.


“Iya pernah, waktu kalian beli emas di sini.” Amanda dan Sum saling menatap, tidak mengerti sama sekali, karena Amanda ingat, tidak ada kakak saat dia beli emas itu, Sum pun sama, yakin kalau kakak tidak ada di sana.


“Memang kakak di sini waktu itu?” Sum memastikan.


“Ya, kakak di sini.”Lalu kakak meningalkan mereka, masuk ke ruang penyimpanan, waktu kakak masuk ke ruang penyimpanan, kakak melewati kaca yang ada di dekat pintu masuk ruang penyimpanan emas itu, Sum kaget, karena dia melihat sosok mengerikan itu pada kaca saat kakak melintas, begitu juga dengan Amanda, mereka berpandangan lalu menutup mata karena takut.


“Kamu lihat?” Sum bertanya.


“Iya.”


“Aku takut.” Sum terlihat sangat takut.


“Tapi itu kan anak sulungnya, kok dikaca beda.” Amanda bingung, karena dia tak tahu apapun. Kawanan tak pernah menceritakan apa yang akan mereka lakukan hingga mengusir anak ambar ini, Amanda hanya sedang menikmati waktu bersama kakaknya dan mimpi masa depan, saat ini kehidupannya sangat amat baik.


“Kita salah liat kali ya?” Amanda menenangkan dirinya dan juga Sum.


“Masa kalau salah lihat bisa bareng?” Sum menolak itu.


“Aku pulang ya, ini uangnya makasih ya.”


“Sebentarlah, temani saya, pembantunya tadi pulang begitu kakak datang, kan yang jaga toko tetap berdua. Saya ... takut.”


“Saya juga takut, Bu.” Amanda lalu buru-buru pamit, meninggalkan Sum yang ketakutan sendirian, dia akhirnya ke bagian luar toko, menunggu Amanda di luar toko, tidak meninggalkan toko, tapi tidak berada di dalamnya.


Adik memang benar-benar jahil.


_____________________________________________________


Catatan Penulis :


Double Up Done ya.


 Selamat malam, jangan lupa ikuti akun noveltoonku ya.


IG, FB, TKTOK = MUKA KANVAS jangan lupa di add ya.

__ADS_1


Terima Kasih kalian semua.


__ADS_2