
Pintu didobrak, seorang lelaki muncul, semua orang menatapnya, ayahnya Wulan berlari ke pintu itu dan berusaha mengenali, siapakah yang berani mendobrak pintu dan membuat ritual itu terhenti untuk sesaat.
“Siapa kau!” Ayahnya Wulan tak bisa melihat dengan jelas karena jarak yang masih jauh itu.
“Drabya, Kharisma Jagat Tanah Pasundan!” Drabya berteriak dan membuat semua orang terlihat terkejut.
"Oh, kau rupanya." Ayahnya Wulan berkata dengan tenang, sementara Drabya yang tadinya berada jauh dari areal ritual karena baru saja datang hingga sulit dikenali oleh ayahnya Wulan, mendekat ke arahnya.
"Maaf aku terlambat, ada beberapa kasus yang harus aku tangani dulu."
"Apa dukun tua itu masih tidak mau menyerah dan tetap menguasai upeti dukun dari daerahnya tanpa menyerahkannya padamu?"
"Ya, Hagir bedebah itu masih bersikeras melawan, padahal sudah babak belur, dia merasa jumawa karena merasa masih punya jin paling kuat, aku sedang mengusahakan agar jin itu berpindah tuan."
"Lalu bagaimana dengan muridnya yang membunuh anakku?"
"Masih kuburu, rupanya dia pergi jauh ke pulau lain hingga tidak bisa dilacak, dia mencabut semua agarnya, makanya calon menantumu itu kena pelet sempurna, dukun yang cerdik dan licik."
"Kalau begitu, duduklah di sana, aku sudah menyiapkan bangku yang nyaman untukmu dan makanan, kau akan melihat ritualnya secara langsung."
"Apakah sumpah darah sudah dilakukan?"
"Ya, salahmu terlambat, jadi tak bisa menyaksikan kami melakukan sumpah darah."
Drabya tertawa dengan menggelegar, dia duduk di sebuah bangku yang bisa melihat semua orang dengan jelas, dia duduk bak seorang mahasiswa yang sedang studi banding pada kampus lain.
Ayahnya Wulan lalu kembali pada posisi, dia berdiri di kaki jasad Wulan.
Yoga bertanya dengan gerakan kepala, bertanya siapa yang datang.
"Dia Kharisma Jagat yang ingin melihat ritual kita, mungkin dia juga akan ikut mengaplikasikan pada perkumpulannya. Kharisma Jagat adalah manusia istimewa penguasa ghaib wilayah ini."
"Oh, aku pikir dia akan mencoba menggagalkan rencana kita. Karena biasanya kan kalau dukun setempat itu tak suka dukun daerah lain mengadakan ritual di wilayah kekuasaannya." Yoga berasumsi.
"Pertama dia bukan dukun, jangan sebut begitu dia akan marah, kedua, kau pernah mendengar pepatah, musuh dari musuhku, adalah temanku.
Maka ketika murid Hagir adalah musuhku, sedang Hagir adalah musuh Drabya, maka kami punya musuh yang sama, berteman tak rugi juga, walau aku harus ikut membayar upeti padanya, bagian dari perjanjian, dia itu kaya raya karena dari upeti para dukun yang menjadi budaknya, semua dukun boleh beroperasi asalkan membayar padanya, orang itu memang gila uang, karena kudengar, sebenarnya dia sudah sangat kaya, tapi dia butuh tambahan kata raya, hingga menjadi kaya raya, makanya dia tetap mengambil uang haram untuk itu.
__ADS_1
Orang semakin kaya memang semakin menyukai uang." Ayahnya Wulan berbisik mengatakan itu, agar tidak terdengar Drabya yang terlihat menikmati makanan dan kopi yang disediakan.
Ritual mulai dijalankan lagi, mereka mulai membaca mantra pemanggil jiwa, karena hal pertama yang harus dilakukan adalah memanggil jiwa Wulan untuk ditempatkan lagi di dalam tubuh yang diusahakan tetap dalam keadaan baik. Tubuh yang tidak dibalsemkan, tapi tubuh yang dijaga oleh minyak kasturi agar tetap bisa bertahan untuk tidak membusuk, tapi apakah itu mungkin dalam dunia medis?
Angsar Welos Jito madedami
Sangdi hadir tabarekjadni
Barikjartad ....
Mereka terus membaca mantra yang cukup panjang, Drabya terlihat sangat menikmati pertunjukan itu.
Tak lama kemudian, datanglah sesosok ruh dari dalam tanah, tanah yang berada tepat di bawah altar. Tanah itu dulu adalah tanah tempat perkuburan Wulan.
Ruh itu terus melayang hingga berada tepat di atas tubuhnya, ruh itu tak bergerak hanya melayang.
Drabya melihatnya semakin bersemangat, dia ingin melihat apakah benar bahwa tubuh itu bisa bangkit kembali, kalau ya, maka ini kemajuan zaman bagi dunia perghaiban. Gaya ini bisa diadopsi kelak jika nanti Drabya membutuhkannya.
"Wulan, betapa cantiknya dirimu." Yoga terlihat senang karena bisa kembali melihat Wulan, dia memang sudah dibukakan mata batinnya oleh ayahnya Wulan. Makanya saat ini dia bisa melihat ruh Wulan seperti semua dukun yang ada di sini.
Semua dukun mulai membaca mantra baru, mantra di mana ruh seharusnya masuk ke dalam tubuhnya, mantra terus dibaca, tapi ruh tetap tak mau masuk, semua orang mulai khawatir karena ini taruhannya adalah nyawa, ruh itu hanya terus melayang saja.
Mantra terus dibacakan masih menunggu ruh untuk bersedia masuk.
"Pak, gimana ini? dia tak mau masuk ke dalam tubuhnya." Yoga bertanya.
"Bacakan mantra dengan lebih keras, kerahkan semua kemampuan kita, jangan menyerah, ingat taruhannya adalah nyata kita."
Ayahnya Wulan memerintahkannya.
Semua dukun mulai membaca mantra lagi, mantra yang mereka yakini berasal dari nenek moyang yaitu Calon Arang, dia yang berhasil membangunkan mayat dan kembali membunuhnya untuk dijadikan persembahan bagi Dewi yang dia sembah.
Tapi belum juga berhasil saat dibacakan oleh para dukun itu.
Drabya mulai ragu saat melihat mereka tak kunjung berhasil membuat ruh penasaran itu mau kembali masuk ke tubuh yang hampir membusuk itu.
"Yoga, panggil Wulan, panggil dia dan bilang padanya untuk masuk ke dalam tubuh, suaramu pasti masih dikenali olehnya." Ayahnya Wulan berteriak pada Yoga.
__ADS_1
"Wulan, Wulan masuklah ke dalam tubuhmu, kita akan menikah dan meneruskan cita-citamu, Wulan ... masuklah ke dalam tubuhmu aku mohon Wulan." Yoga berteriak, pada teriakan ini ruh itu terlihat mencari asal suara, dia seperti tak bisa melihat siapapun di sana.
"Wulannn!! Ini Yoga Wulan, masuklah ke dalam tubuhmu, lihat tubuh itu ada di bawahmu, cari tubuhmu dan kembali ke dalam tubuhmu, aku mohon Wulan. Aku dalam bahaya Wulan jika saja kau tidak masuk ke dalam tubuhmu, ayahmu akan mati dan aku juga.
Kau harus menemukan tubuhmu dan masuk kembali ke dalam tubuhmu, ingatlah betapa kau sangat ingin menikahi aku, Yoga, pria yang kau beri minyak kasturi pada makanannya dan kau bujuk dengan wangi minya itu yang berasal dari tubuhmu."
Ruh itu lalu melihat ke arah yang Yoga katakan, dia perlahan melihat tubuhnya muncul, dalam penglihatan ruh itu, perlahan mulai terang, yang tadinya gelap karena kehilangan ingatan akibat pembunuhan yang dilakukan oleh dukun itu.
Karena perlahan Wulan mulai mengingat itu yang terjadi sebelum dukun itu membunuhnya.
Perlahan Wulan melihat ke sekeliling, mulai dari tubuhnya, Yoga, ayahnya dan terakhir semua orang yang ada di sana, dia mulai bisa kembali ke dunia ini dengan panggilan mantra, sementara semua dukun tetap membacakan mantra tanpa putuh dan menyalurkan energinya.
Ruh Wulan bereaksi, dia terlihat menatap Yoga dengan penuh cinta.
"Iya Wulan, ini aku, masuklah ke tubuhmu, kau akan dibangkitkan lagi oleh kami semua, kami bertaruh nyawa agar kau bisa bangkit, maka masuklah ke tubuhmu." Suara Yoga menuntun Wulan untuk masuk ke dalam tubuhnya, suara orang yang dia cintai hingga kehilngan nyawa tanpa sengaja.
Wulan tersenyum dan ruh itu mulai turun menuju tuuhnya, saat kaki ruh itu menyentuh tubuhnya, Ruh Wulan mulai kesakitan, ruh itu merasakan panas api yang luar biasa.
"Tahanlah nak, tahan sakit itu dan teruslah masuk ke tubuh itu." Ayahnya lalu berteriak agar anaknya tak ragu untuk masuk kembali ke tubuhnya.
Ruh itu harus masuk ke dalam tubuhnya sambil menahan panas seperti api yang berkobar, dia kesakitan sementara semua dukun terus membaca mantra agar tubuh itu tidak menolak ruh Wulan dan Wulan bisa berhasil masuk tubuhnya
Jika saja ruh itu bisa masuk, maka tak ada yang menghalangi tubuh itu untuk bisa bangkit lagi. Apakah itu akan terjadi?
_______________________________
Catatan Penulis :
Ini baru kalian ya yang tahu tentang jati diri Drabya. Mulyana dan Aep masih tidak tahu tentang kebusukan Drabya.
Part selanjutnya akan dijawab, satu persatu ya, hingga kalian akan bisa menemukan benang merahnya dan memaklumka kenapa semuaini harus ditutupi, semoga kalian masih bersabar, amiiiinnnn.
Sifat asli Drabya sudah aku kabarkan pada part nyebrang, ada yang pernah curiga sedikit aja? Part yang lalu aku bahkan kasih clue ketika abah bilang seperti dia tak tahu saja bagaimana Drabya, dan banyak part sebelumnya aku juga sudah katakan berkali-kali kalau Abah ingin secepatnya pindah Tuan, karena tahu betapa mulianya hati Mulyana. Kita akan tahu kelak ketika Mulyana memilih hidup sederhana dengan angkotnya saja.
Apa kalian tidak curiga kenapa Karuhun begitu ingi pindah tuan, bukankah setiap Karuhun memilih tuanya sendiri, lalu kenapa sekarng dia ingin pindah tuan? Bukankah ini berarti tuannya tidak baik, adakah yang curiga, kalau tidak, bolehlah kasih semangat ke Author dengan kalimat, AUTHOR MENANG LAGI.
Terima kasih.
__ADS_1