
“Baiklah kalau begitu, silahkan untuk tunggu, tapi jangan di areal pembangunan ya, takutnya nanti mengganggu dan bahaya, di deket tempat makan aja, di sana Wulan biasanya bekerja.” Para kekerja itu akhirnya mengizinkan dan sempat salah paham, tapi beruntung, ayahnya Wulan boleh tetap di sana, menunggu waktu, jika saja ada kesempatan, dia akan ke tempat itu lagi, tempat di mana wangi itu berasal.
Malam pun tiba, ayahnya Wulan masih saja di sekitar lokasi konstruksi, areal yang belum sepenuhnya menjadi lapangan dan tempat pelatihan itu.
Dia bahkan tak makan dan minum atau istirahat, hatinya berkata bahwa, Wulan sudah tiada dan jasadnya di sana. Kalau benar, sungguh dia tak akan memaafkan siapapun yang mencelakai anaknya.
Tengah malam tiba, banyak orang sudah istirahat tidak lanjut lagi bekerja karena sejak subuh pembangunan sudah dimulai, maka ini waktu yang baik untuk datang ke tempat itu lagi, tempat di mana wangi minyak khas desa mereka menyeruak, wangi yang menjadi penanda bahwa setiap orang dari desa mereka memiliki wangi yang khas dan hanya orang-orang dari desa mereka sajalah yang mampu menciumnya, walau jarak penciuman berbeda-beda.
Dan mungkin hanya minyak yang dimantrai sajalah yang memiliki kemampuan menembus tanah, seperti wangi yang sekarang dicium oleh ayahnya Wulan.
Suara lolongan anjing menjadi penanda, betapa malam ini sangatlah kelam, ayahnya Wulan mendekati areal itu lagi, dia mendekati tanah yang di bagian atasnya tertumpuk begitu banyak batang pohon, sulit mendorongnya agar bisa menggali tanah, maka tak ada lagi yang mampu dia lakukan selain … merapal mantra.
…
“Kau tidak ke tempat konstruksi itu selama beberapa hari, ayah dan ibu menanyakanmu terus, kau kemana beberapa hari ini?” Istrinya Yoga langsung marah-marah begitu Yoga sampai rumah larut malam.
“Kau bisa diam, karena aku lelah.”
“Bagaimana aku bisa diam, jika suamiku bertingkah aneh, perempuan mana lagi yang sekarang kau tiduri!”
“Kau bilang aku suamimu sekarang? Kemarin-kemarin saat menghabiskan uangku, kau anggap aku apa? Sapi perah?”
“Bisakah kita melupakan hal itu, Mas? Aku salah dan aku hendak bertobat, tapi bisakah kau kembali seperti dulu lagi, ingat kita sudah punya anak, jangan kau berpikir untuk meninggalkan kami, aku akan bujuk ayah untuk memberikan uang itu, agar semua uangmu bisa kembali.”
“Aku tidak butuh uang, saat ini aku hanya ingin tidur.”
Yoga meninggalkan istrinya yang menangis, dia sudah tahu apa yang terjadi pada suaminya, desas-desus soal Wulan dan suaminya sudah sampai ke telinga istri Yoga itu, dia tidak mau orang-orang kelas atas yang dia kenal akhirnya juga mengendus soal isu perselingkuhan ini, makanya dia tadi merendahkan diri meminta suaminya untuk tenang.
Dia juga mengutus mata-mata untuk melihat gerak-gerik suaminya, karena beberapa hari ini, suaminya berkeliling satu daerah ke daerah lain menanyakan sesuatu, menanyakan alamat Wulan pada orang-orang yang mungkin tahu, tapi sepertinya dia belum berhasil mendapatkannya, maka mata-mata kiriman istri Yoga itu diperintahkan untuk mendapatkan alamatnya terlebih dahulu, agar Wulan dapat diperingati keras dan mau meninggalkan suaminya.
Istrinya Yoga tak tahu, kalau Wulan bahkan sudah berkalang tanah.
Sementara di tempat yang jauh, seorang dukun terlihat sangat kesakitan, dia terus merintih, karena bagian tangannya terluka cukup parah dan tak sembuh-sembuh. Luka itu sudah diberi segala macam obat, tapi tetap tak sembuh juga.
__ADS_1
Maka dia tersadar, bahwa ada campur tangan ilmu hitam di dalamnya, jika diingat-ingat, wanita yang tak sengaja dia bunuh itu mencakar tangannya ketika dia mencekik leher wanita itu, dia mencakarnya cukup dalam, tapi luka ini semakin hari semakin melebar dan bernanah, maka dari itu dia buru-buru pergi ke gurunya, sesama dukun ternama, dia harus mencari tahu, kenapa luka ini tak sembuh juga.
Maka dukun itu pergi ke suatu tempat, di tengah hutan tepatnya pada suatu perkampungan, tengah malam dia sampai, tentu saja, guru dukunnya itu sedang mempraktekan ilmu hitamnya, saling serang entah dengan siapa.
Nama gurunya adalah Aki Hagir, Adakah dari kalian mengingat tentang dukun yang memiliki anak perempuan, anak perempuan itu kelak akan membuat jalur persawahan sebagai lubang hitam yang kasusnya tak bisa diselesaikan Mulyana dan kakaknya? Maka di saat inilah Aki Hagir dan Drabya terus bertarung, tapi Mulyana, belum dilibatkan karena Drabya masih mampu melawannya sendirian, kelak ketika Mulyana sudah cukup dewasa dia akan menjadi orang yang membantu Drabya mengalahkan Aki Hagir dan akhirnya Aep akan menjadi tuan dari jin Sabdah Zaid, untuk akhirnya benar-benar mengalahkan dukun tua itu.
“Kau tumben ke sini, sebentar, aku harus memasang pagar lagi, agar serangan dari Kharisma Jagat sialan itu tidak tembus.”
“Drabya brengsek masih terus mengincarmu?” Dukun itu bertanya.
“Ya, kau tahulah, dia memang terus menyerang kita tanpa berhenti.” Dukun guru itu berkata dan duduk di hadapan muridnya dan mulai bertanya, apa yang membuat muridnya itu datang.
“Bisa tolong lihat ini Ki? Tanganku tidak sembuh setelah beberapa lama terluka, bahkan lukanya semakin melebar.” Dukun keluarga Badrun itu mengeluh pada gurunya.
“Sini kulihat.” Dukun itu lalu mengambil tangan dukun itu dan tiba-tiba terhenyak, karena menyadari sesuatu.
“Kenapa, Ki?”
“Pelet minyak, minyak apa, Ki?” Dukun itu memang tidak tahu banyak soal pelet, karena bidang yang dia kuasai adalah santet.
“Minyak pelet kasturi yang telah dimantrai.”
“Hah? Bunga kasturi?”
“Bukan, bukan dari bunga, tapi dari hewan.”
“Hewan apa itu, Ki?”
“Rusa Jantan, diambil dari kelenjar beberapa bagian tubuhnya untuk diekstrak menjadi minyak, bisa jadi dari perut, leher, kepala dan bagian atas tubuhnya.”
“Aku tidak pernah mendengar minyak dengan jenis ini, yang benar-benar diekstrak oleh rusa Jantan dan dijadikan alat untuk memelet seseorang.”
“Hanya ada satu perkampungan di negara kita yang mampu membuatnya, mereka bahkan menernak rusa jantannya sendiri, di perkampungan itu, mereka menghasilkan minyak itu hanya untuk praktek ghaib, hanya untuk memelet target mereka.
__ADS_1
Di perkampungan itu, setiap anak gadis pasti memiliki minyak itu sebagai ajian, ajian yang akan membantu mereka mendapatkan lelaki yang mereka inginkan sebagai suami, bisa jadi para lelaki itu adalah orang-orang yang kaya raya, tujuan mereka hanya satu, untuk mendapatkan hidup yang jauh lebih baik dari memelet orang yang kaya raya.
Anak-anak gadis mereka memang terkenal sangat cantik-cantik, tapi tak memiliki Pendidikan yang tinggi karena kesulitan ekonomi, maka dari itu, mereka memanfaatkan mantra turun temurun dari nenek moyang untuk memelet.”
“Baiklah, lalu pertanyaanku, kenapa tanganku menjadi luka seperti ini, padahal hanya terkena minyak pelet?”
“Apa kau habis bertarung dengan salah seorang dari kampung itu?” Aki dukun yang merupakan guru dari dukun kepercayaan keluarga Badrun itu bertanya.
“Bertarung? Aku mendapatkan sebuah perintah dari keluarga Badrun, kau tahu kan? Pelanggan tetapku, mereka ingin aku menyingkirkan seorang wanita, kami bergumul cukup hebat, dia mencakarku dan sekarang jadi seperti ini.”
“Maka kau mungkin terkena mantranya, karena minyak ini, bukan hanya bisa digunakan untuk pelet, kau tahu kan, media ghaib itu selalu punya jin untuk membuat kemampuan ghaibnya tercapai, maka mungkin saat itu, mungkin wanita itu menandaimu agar diketemukan oleh keluarganya, pada dasarnya sekujur tubuh wanita itu pasti telah dibalur minyak kasuri sejak lahir, lalu dia menggunakan mantra pelet untuk menargetkan seseorang dan ketika kau bertarung dengannya, wanita itu menandaimu dengan mantra lain yang dibekali keluarga untuk menghadapi keadaan terburuk, sekarang dia menandaimu untuk diburu oleh keluarganya.
Di mana perempuan itu sekarang? Kau harus membuat kesepakatan dengannya agar dia bisa membatalkan mantra penanda ini padamu, atau luka ini takkan pernah sembuh.”
“Sayangnya, wanita itu … sudah mati!”
“Kau membunuhnya!” Aki itu terkejut, walau bunuh-membunuh dalam dunia perdukunan hal biasa, ranah santet selalu diwarnai dengan banyak kematian, bukan?
“Ya, tidak sengaja, aku tidak berniat.”
“Kau akan diburu oleh keluarganya, pergilah yang jauh, jangan sampai mereka menemukanmu.”
“Apakah mereka memiliki ilmu yang sangat kuat?” Dukun itu bertanya, dia ingin menemukan kemungkinan bisa mengalahkan mereka.
“Mereka itu punya perkampungannya sendiri, mereka mengembangkan ilmu ghaib dengan sangat tinggi, seingatku, kalau tanah Pasundan dikuasai oleh para Kharisma Jagat, sedang tanah pada kampung mereka dikuasai oleh orang-orang itu dengan kemampuan yang setinggi Kharisma Jagat, kau tahukan, Drabya saja yang satu orang itu sulit dihadapi, apalagi kumpulan mereka, kau akan celaka.”
“Kemungkinan mereka menemukanku bagaimana?”
“Pasti ketemu, mereka mampu mencium bau kasturi, karena kasturi itu sudah dimantrai. Mereka akan memastikan kau habis. Kaburlah yang jauh.”
“Aku tidak bisa, karena aku sudah memegang kontrak dengan keluarga Badrun. Aku harus melindungi mereka.“Terserah saja, kau lebih ingin nyawamu atau nyawa mereka?” Aki tak punya nasehat lain selain memintanya kabur.
Apakah sudah ada yang bisa menjahit benang merahnya? Komentar ya.
__ADS_1