Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 501 : Mulyana 6


__ADS_3

Baru pertama kali dalam hidupnya, dia melihat ... begitu banyak di sini, sesak, begitu banyak mereka yang lalu lalang di tempat ini, sungguh ramai seperti pasar. Dia tidak takut, karena menghadapi makhluk dengan berbagai bentuk hal yang biasa, tapi ini penuh sekali.


Mulyana melihat ayahnya dan memberi kode, betapa banyaknya makhluk itu di rumah ini, ayahnya hanya mengedipkan mata sambil memberi kode agar dia diam dan meneruskan sarapan.


Mulyana lalu melihat ke arah kakaknya, dia sepertinya tidak sadar dengan kehadiran seluruh makhluk yang sangat amat banyak ini di rumah mereka, Mulyana yang masih heran, tetap menyuap sarapan.


Di antara seluruh makhluk itu ada seorang kakek tua yang melihat ke arah Mulyana dengan senang, karena dia sudah menetapkan pilihan.


...


“Kenapa kita ke sini ayah?” Mulyana bertanya, dia bingung karena di bawa ke suatu tempat, jalan yang cukup sering dilewati orang.


“Kita akan menyelesaikan kasus, ini kasus pertamamu.”


“Kasus? Kasus itu apa?”


“Kasus adalah masalah yang timbul karena suatu hal, bisa jadi yang sebenarnya atau tidak, maka dari itu, kita harus memecahkan kasusnya, untuk tahu, benar atau tidak Nak.”


“Aku ... tidak paham ayah.” Memang benar bahwa, Mulyana kecil lebih dewasa dibandingkan anak seumurnya, tapi tidak sedewasa ayah tentunya.


“Begini, begini, jalan ini sering terjadi masalah, banyak kecelakaan terjadi, kau tahu kan, kalau kita sering berkendara dengan mobil Carry kita, tapi tidak semua orang berkendara dengan mobil seperti kita, tapi entah kenapa, setiap binatang yang lewat sini akan menjadi galak, kita menyebutnya agresif, menyerang tuannya atau manusia lain.” Drabya menjelaskan.


“Aku harus apa?”


“Lihat, apakah ada sesuatu yang aneh di sini?” Drabya mengajar anaknya untuk mulai melihat keadaan sekitar.


“Aku melihat banyak orang yang lewat dan banyak mereka yang aneh, seperti kakak yang sedang berayun di pohon itu, dengan rambut panjang, baju putih menjuntai hingga tanah, padahal dia ada di pohon paling atas.


Lalu dia si hitam besar di balik pohon gendut itu,” Maksudnya pohon dengan batang yang sangat besar, “dia memperhatikan kita terus, aakah emreka bisa dibilang sesuatu yang aneh?”


“Aneh untuk mata awam Yan, tapi tidak aneh untuk kita, kalau kau curiga pada mereka, maka menjauhlah dan tunggu, hingga ada delman yang lewat, apakah kudanya diganggu? Kalau diganggu oleh mereka, kita sudah bisa menangkap, karena mereka mengganggu, tapi kalau tidak, mereka hanya menghuni saja, kita tak berhak untuk mengusik mereka.


Karena tugas kita adalah menangkap yang membuat keributan di tempat ini, kalau mereka tak mengganggu, kita ta punya kewajiban menangkap.”


“Kenapa tidak kita tangkap semua saja ayah, taruh di rumah kita, tapi rumah kita udah penuh ya, Yah? makanya tak kau tangkap semua?”


“Kalau kau tangkap semua, artinya kau serakah, Nak. Kita hanya menangkap mereka yang mengganggu saja, yang membaut ketentraman manusia terusik, misal seperti jalan ini, tapi kalau merekanya diam, masa mau kita usik, artinya, kita yang jahat, Nak.”


“Oh begitu, baiklah, aku akan perhatikan satu persatu.”


Drabya dan Mulyana duduk di dalam mobil Carry mereka, tahukah kalian, ketika akhirnya Mulyana bisa mendapatkan mobil ini ketika dewasa, dia mengubahnya menjadi angkot dan selanjutnya angkot ini menjadi kendaraan yang digunakan baik oleh Mulyana maupun Aditia untuk menjemput ruh yang tersesat.


Sudah dua jam mereka di sana, tak ada satupun yang aneh, tidak ada delman yang lewat atau orang yang sekedar membawa binatang mereka untuk jalan-jalan, mungkin popularitas tentang jalan angker ini sudah semakin meluas, hingga membuat siapapun yang memiliki hewan, menghindari jalan ini untuk dilewati jika sedang membawa binatang mereka bermain atau berolahraga.


“Kita pulang saja, ini sudah cukup malam, kau mengantuk ya?” Drabya bertanya pada anaknya yang sedari tadi terus saja menguap.


“Iya ayah, aku mengan ... ayah lihat!” Mulyana berteriak karena melihat ada delman yang lewat, sepertinya delman baru, dari bagian keretanya yang masih terlihat sangat bagus. Mungkin penarik baru, karena berani sekali, semalam ini dia lewat jalan angker.


Ayah dan anak itu akhirnya memperhatikan delmannya, beberapa orang juga menyebutnya keretek, kaalu di daerah kalian, namanya apa?


Tepat pada suatu titik, Drabya melihat titik itu, karena dia telah tandai, di bagian itu dia merasa bahwa ada medan energi hitam yang cukup pekat, tapi tidak tahu apa.

__ADS_1


Saat kaki kuda menginjak titi yang sudah ditandai oleh Drabya, kuda itu terguling, Drabya tidak melihat apa yang membuat kuda itu jatuh, karena kejadiannya sepersekian detik.


Setelah jatuh dan keretanya terguling, tukang delman yang semula memegang tali kekang untuk mengarahkan kudanya guna berbelok atau lurus, ikut terjatuh, dia mental sekitar lima langkah dari kereta delmannya.


Setelah jatuh, kuda itu tiba-tiba berdiri dan mulai bertingkah aneh, kakinya sempat terjerembab masuk ke dalam ... tanah basah.


“Yah, kudanya ditunggangi, ditunggangi.” Mulyana berteriak, karena dia melihat ada sosok hitam yang menunggani kudanya.


Drabya tanpa menjawab langsung berlari dan menerjang kudanya, di menarik buntut kuda agar tidak sampai menginjak tuannya, si tukang delman.


Beruntung tukang delman itu, karena wajahnya selamat dari terjangan peliharaannya sendiri.


Setelah berhasil menahan kudanya, Drabya melompat, dia hendak menangkap sosok hitam yang tak terlihat wujudnya itu.


Tapi sayang, sosok itu lenyap. Hilang tak terlihat lagi.


Tukang delman pingsan karena terkejut saat kudanya hendak menyerang, Drabya dan Mulyn membantu menarik kereta delman dan kudanya itu, setelah delman sudah sia digunakan lagi, Drabya memabangungkan tukang delman.


“Ya Allah Pak, makasih ya, mana kuda sama delman saya?” Tukang itu bertanya dengan perasaan lega sekaligus khawatir.


“Itu, kudamu hanya menginjak paku, makanya menjadi liar, lain kali kalau mau lewat sini, jangan terlalu malam, tidak terlihat kan, ada paku di tanah basah ini.” Drabya berbohong, karena dia tidak ingin membuat citra jalan angker ini semakin kental.


Kaki kuda delman, tidaklah dilapis besi seperti jaman sekarang, beberapa orang menganggap bahwa, dengan melapisi kaki kuda dengan besi, bisa menyelamatkan kakinya dari rasa sakit karena harus berjalan di atas aspal, di mana hampir semua jalan di jakarta sudah beraspal.


Tapi jaman dahulu berbeda, banyak jalan masih merupakan tanah basah, sehingga aman bagi kuda untuk berlari di jalan seperti itu.


“Iya Pak, terpaksa saya narik, kasihan anak sama istri belum makan, sedari pagi belum ada penumpang.”


Drabya dan Mulyana juga pulang dengan kegagalan menangkap sosok itu, dalam perjalanan pulang, Drabya bertanya.


“Apa yang kau lihat saat kuda itu jatuh?”


“Ada yang menarik kaki itu hingga masuk ke dalam tanah.”


“Aku tidak melihatnya, apakah sosok itu menarik tepat di titik yang kutandai?” Drabya bertanya.


“Ya, Ayah. Di titik itu bayangan menarik kaki kuda. Lalu kuda terjatuh, dia keluar dan langsung menungganginya.”


“Bukan menunggangi, dia mencekik kuda itu.”


“Benarkah? Pantas kudanya menjadi sangat liar.”


“Ya, kudanya merasa terancam, dia tidak sedang mencoba menyerang tuannya, itu salah, dia sedang mencoba meminta tolong, tapi karena tercekik, gerakannya menjadi sembarang dan akhirnya kuda itu menjadi bahaya bagi tuannya.”


“Bayangan hitam itu apa Yah?”


“Ini dia kasusnya, bahwa kasus ini adalah suatu kondisi yang benar, jalan itu angker.”


“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan.”


“Pertama-tama, kau harus mencari dulu sejarah jalan itu, karena dari sejarahnya, kita akan tahu apa kita-kira yang ada di sana.”

__ADS_1


“Sejarah? Ada di buku?”


Drabya tertawa, anak-anaknya memang sangat suka sekali membaca buku dan seingat Mulyana, sejarah hanya ada di buku, kelak Mulyana juga akan tahu, bahwa sejarah, bukanlah sesuatu yang benar-benar terjadi dan dapat dipercaya, karean sejarah yang tertulis, selalu milik pemenang.


“Tidak ada di buku, kita harus cari tahu sendiri.”


“Caranya?”


“Bertanya.”


“Ke siapa?”


“Bisa ke kunti dan gandaruwa yang kamu lihat tadi, bisa ke penduduk sekitar, bisa juga ke orang yang ahli, misal dukun setempat.”


“Oh begitu, dukun juga boleh kita percaya?”


“Bisa saja, kalau memang bisa membantu, tapi ingat, dukun pun kadang terpedaya oleh tipu daya setan, jadi jangan telan informasi apapun bulat-bulat, cari banyak informasi, baru ambil keputusan.”


“ini seru ayah, tapi apakah aku bisa seperti ayah?”


“Sepertiku apa?”


“Hebat memecahkan kasus?”


“Kelak kau akan menjadi anak hebat, karena aku telah mempersiapkannya.”


“Lalu kapan kita mulai mencari informasi?”


“Besok, kita akan mulai cari tahu dari orang-orang yang tinggal di dekat jalan itu.”


Metode mencari informasi dari orang terdekat, digunakan sampai generasi kawanan, mereka tak pernah gagal mendapatk informasi bahkan dari grup ibu-ibu yang belanja di tukang sayur gerobak.


Banyak informasi yang bisa digali dari grup yang kita pikir sangat berisik itu, karena selalu penuh dengan obrolan menjelekkan tetangga.


Tapi siapa yang sangka, obrolan jelek itu berubah menjadi informasi yang bisa berguna.


Maka jangan anggap remeh mulut ibu-ibu di sekitarmu, siapa tahu, kau bisa menjadikannya berguna kelak.


“Aku jadi tak sabar, Ayah.”


“Tak sabar untuk mencari informasi?” Ayahnya bertanya.


“Bukan, tak sabar untuk tahu siapa sosok hitam itu.” Mulyana menjawab dnegna mata berbinar.


Drabya menatap Mulyana dengan kagum, anak ini benar-benar akan menjadi penerusnya. Fokusnya sudah sangat tepat, yaitu pada kasus ini, sosok hitam itulah yang harus menjadi fokus utama.


Drabya sebenarnya sudah curiga tentang satu hal, ini kasus ringan baginya, tapi ... dia ingin Mulyana belajar, dia akan sepenuhnya mengikuti langkah Mulyana untuk menyelesaikan kasus ini.


Untuk kalian yang merasa alur Mulyana terlalu lambat, skip dulu ya, karena aku akan buat  beberapa fase, Mulyana kecil, Remaja, dewasa lalu terakhir pernikahan, berakhir di Aditia lahir ya.


Jadi yang ngerasa kurang nyaman, sebentar skip dulu, nanti kalau sudah masuk fase remaja balik lagi.

__ADS_1


__ADS_2