
“Pagi, mau sarapan?” Lais menawarkan sarapan pada Hartino yang baru saja bangun, dia terlihat kesakitan karena punggungnya terluka.
“Dimana kita?” Hatino bertanya.
“Di apartemen Alka, dia membelikanku apartemen ini dulu. Tapi aku tidak berani tinggal sendiri karena ayahku, kau ingatkan ceritaku?” Lais mengingatkan cerita karangannya.
“Ya,”Hartino menjawab. Dia mencoba bangun untuk menghampiri Lais yang sedang duduk di meja makan kecilnya. Tapi saat akan bagun dia akan terjatuh, Lais berlari, sebelum Hartino jatuh, dia menangkap tubuhnya dari depan, sehingga posisi mereka berpelukan.
Lais mengembalikan tubuh Hartino ke tempat tidur.
“Kau harus hati-hati.”
Hartino mengangguk, kali ini dia merasa ada yang aneh, perasaan apa ini, kenapa jantungnya berdetak, kenapa dia merasa canggung? Tapi nyaman berada dipelukan Lais, wangi tubuhnya seperti sangat familiar.
Lais membawa makanan Hartino dan duduk di samping tempat tidurnya, dia bermaksud menyuapi Hartino.
“Makan dulu ya, biar ada tenaga, kau kehabisan banyak darah semalam, maaf aku tidak membawamu ke Dokter atau rumah sakit, karena aku bingung kemana harus membawamu ke tempat terdekat, makanya aku ke sini saja.” Padahal Lais tidak mau membawanya karena dia tidak mau menunjukan identitas aslinya, karena takut dicurigai, foto KTPnya akan terlihat berbeda karena wajahnya masih diselumit oleh mantra rubah wajah.
Selain itu, rumah sakit Dokter Adi juga terlalu jauh, kalau ke sana, pasti akan terlambat dan Hartino bisa saja mengeluarkan banyak darah. Makanya dia ke apartemen agar bisa segera melakukan pertolongan pertama, syukurlah Hartino membaik.
“Tidak perlu, biar aku saja.” Hartino menolak disuapi.
“Kau itu lemas, tidak perlu malu, kita kan teman, kalau Ganding atau Aditia yang terluka aku pasti juga akan membantu mereka seperti ini.”
“Kau mau dihajar Jarni dan Alka kalau berani menyuapi Ganding dan Adit?” Hartino tertawa tapi lalu kesakitan.
“Meman kenapa mereka marah? Aku kan hanya membantu.”
“Menyuapi itu bukan tindakan bantuan, itu tindakan intim, kau tahu dengan jelas bahwa makanan dan suapan bisa jadi media yang sangat dekat dengan masuknya banyak kebaikan dan keburukan.”
Lais lalu memberikan mangkuk buburnya dengan kasar, kesal karena Hartino tidak mau menerima kebaikannya.
“Makan sendiri sana!” Lais kesal.
“Ngambek? kau seperti seseorang yang aku kenal, kalau tidak mendapatkan keinginannya, dia akan merajuk.”
“Siapa? pacarmu?” Lais asal menebak, dia kembali ke meja makan dan meminum kopinya.
“Bukan ... walau aku berharap.”
“Berharap? Orang sepertimu berharap? Maksudku, wajah itu, kekayaan itu dan semua gesturmu, aku rasa kau tidak pernah mengenal kata berharap.”
“Mungkin terlihat seperti itu dari luar, kalau aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan, tapi kau salah, kami, kawanan, tidak selalu mendapatkan apa yang kami inginkan dengan semua yang kami miliki.
Aditia dan Alka, mereka tidak bisa bersama, Jarni dan Ganding bahkan harus menghadapi raja jin untuk bsia bersama.”
“Oh begitu, lalu kau?”
“Aku? kami berbeda dalam banyak hal, jadi ... sulit bersama.”
“Bukankah cinta bisa membuat perbedaan jadi lebih indah?”
“Tidak kalau itu mengancam nyawa yang lain.”
__ADS_1
“Maksudmu!” Lais mulai merinding, apakah benar ada wanita lain, siapa itu? kenapa dia tidak tahu?
“Ya begitulah.” Hartino menyuap buburnya dengan terpaksa.
Lais melanjutkan makannya dan tenggelam dalam prasangka lagi, dalam hatinya dia ingin tahu gadis itu dan mungkin menyantetnya supaya muntah darah.
...
Siang berganti malam, mereka berdua kembali ke jembatan itu, karena masalah sebenarnya adalah menyingkirkan jin itu, atau jiwa itu, mereka belum bisa mengidentifikasinya, Rania bahkan tidak mampu mencari tahu tentang jin itu.
“Kau yakin bisa menghadapi dia?” Lais bertanya.
“Bisa, lukaku sudah sembuh.”
“Secepat itu?”
“Ya, karena tekadku memang bersar.”
Lais dan Hartino kali ini membawa khodam mereka dan sudah mendeteksi dari jauh kalau jin itu memang ada di sana sedang mengawasi sembari memegang atap, yang aneh, jin itu bisa memegang benda, seharusnya itu tidak mudah.
“Dia di sana,” Lais memberitahunya.
“Ya, aku melihatnya.”
Mereka bersiap dengan serangan atap, benar saja, sosok itu memang bersiap melempar mereka berdua, dia tidak kapok dengan kejadian kemarin.
Tepat saat plat atap itu dilempar, Hartino menangkapnya, dia kali ini melindungi Lais lagi.
Dia lalu membantu Lais mengejar jin itu, mereka terus berlarian berputar karena jembatan penyebrangan memang tidak besar.
Lais kesal karena jin itu licin sekali, dia akhirnya mengeluarkan senjata, pedang yang sangat panjang, Hartino terkejut melihat Lais mengeluarkan pedang itu, pusaka yang tidak pernah dia liat sekalipun.
Lais menyeret pedang itu pada lantai jembatan, sehingga membuat lantai itu mengeluarkan percikan api, setelah itu dia berlari kea rah sosok itu, tanpa ragu menyabetnya dengan pedang pada bagia kakinya yang menekuk karena cara bergeraknya adalah dengan merangkak.
Dia berteriak, teriakannya lirih kesakitan, geraknya melambat, lalu tanpa ampun Lais mengayunkan kembali pedangnya, tertuju pada leher sosok itu, hampir kena, Hartino menarik Lais untuk berhenti, karena tujuan mereka bukan membunuhnya, tapi ‘memulangkannya’.
Hartino terkejut, dia melihat mata Lais berubah, mata itu menjadi merah semua, dan pupilnya mengecil dari ukuran biasa.
“Lais!” Hartino memanggilnya agar Lais segera sadar, kemarahan membuat kekuatannya berkali-kali lipat, lalu dia seperti kehilangan kesadaran.
Hartino mengguncang tubuhnya terus-menerus agar dia sadar dan itu berhasil, perlahan matanya berubah menjadi normal, Lais jatuh terduduk.
Hartino meninggalkannya karena sudah aman dan mendekati sosok yang masih kesakitan itu tidak bisa bergerak, padahal itu hanya goresan kecil, tapi efeknya luar biasa.
“Untuk apa kau melakukan itu?” Hartino bertanya pada sosok itu, alasan dia mencelakai orang. Karena seharusnya hidup berdampingan bukan mengganggu.
“Kalian yang salah, karena bau itu banyak makhluk lain berdatangan ke sini untuk mengambil jatah makanan, sehingga tempat ini jadi penuh, aku tidak suka kebisingan.”
“Bau apa dan makhluk lain siapa?” Hartino bertanya lagi.
“Bau kotoran kalian, beberapa pemuda pemabuk, seenaknya buang air di sini, lalu meninggalkannya begitu saja, belum lagi muntahan kalian, itu adalah makanan bagi kami, makanan lezat, karena itu, banyak yang berdatangan karena bau itu dibiarkan begitu saja, aku benci tempatku di datangi ‘mereka’!”
“Bukankah mereka kaummu juga? Kenapa kau tidak berbagi tempat dan makanan saja bukan malah memburu kami?”
__ADS_1
“Aku tidak makan kotoran! Aku benci kotoran. Itu mengganggu sekali, kaumku dan juga kotoran itu.”
“Kalau begitu kau bukan jiwa yang tersesat, rumor tentang lelaki yang bunuh diri dulu di jembatan ini bukan kau kan?” Hartino memastikan, karena sulit mengenali jin dan jiwa yang tersesat dalam sekali pandang, mereka terdiri dari zat yang sama.
“Tentu saja bukan, kabar dari mana itu tidak ada yang melakukan bunuh diri di jembatan ini.” Sosok itu membantah.
“Kalau begitu kau memang tidak perlu ‘pulang’ kemanapun, tapi soal mengganggu orang, berhentilah, kami akan terus mengawasimu, kalau sampai kau melakukannya lagi, aku dan wanita yang kejam itu, akan benar-benar menghabisimu. Mengerti?”
Sosok itu menganguk dengan wajah ketakutan saat melihat Lais mendekat sambil menyeret kembali pedangnya.
“Gimana?” Lais bertanya.
“Sudah selesai, sekarang kita bisa kembali ke rumah sakit Alka lagi.”
“Oh ok.” Lais berbalik hendak kembali ke rumah sakit bersama Hartino.
“Lais, kira-kira sampai kapan kau akan menyeret pedangmu yang begitu panjang itu?” Hartino bertanya saat mereka akan turun dari jembatan.
Lais baru sadar kalau pedangnya belum dia sembunyikan lagi, dia lalu mengembalikan pedang itu pada tubuhnya.
“Pantas kau tidak mengeluarkan pedang itu saat kita berkelahi dengan pasukan laut, kau takut membuat keributan bukan?” Hartino bertanya, mereka sudah di dalam mobil yang dikendarai Hartino.
“Ratu itu bukan tandinganku, kalau sampai aku membunuh pasukannya, aku akan menyusahkan Alka, aku tidak mau Alka bertambah masalahnya karena aku, makanya aku tidak mengeluarkan senjata.” Lais memberitahu alasannya.
“Pemikiranmu sudah sangat kawanan sekali, kami semua setiap bergerak pasti memikirkan, bagaimana caranya agar apa yang kami lakukan tidak membuat kakak repot atau malah menambah masalah padanya, lihat Aditia yang kerisnya paling sakti saja tidak dia keluarkan. Karena tandingan Ratu laut itu hanya Ayi Mahogra,” Hartino berkata.
“Oh ya soal Ayi, aku pernah dengar soal dia, aku juga mulai mencari kisahnya, aku salut mengetahui kisah cintanya, dalam sekali.”
“Oh Malik dan Ayi?”
“Ya, mereka.”
“Tapi kisah bahagia seperti mereka itu, tidak selalu berhasil pada pasangan lain. Kisah cinta Kharisma Jagat dengan orang biasa.”
“Har, kau kan bukan Kharisma Jagat, kenapa pemikiranmu dalam sekali.”
“Ya, tapi aku juga bukan manusia biasa, sulit bagi kami menikah dengan manusia biasa. Karena berbahaya, musuh kami banyak, dari kalangan manusia yang kalian sebut dukun dan juga jin yang masih tak terima dengan serangan-serangan kami. Makanya, aku tidak boleh menikah dengan manusia biasa.”
“Kalau begitu Har, bagaimana jika menikah denganku?” Lais berkata, dia tidak menatap Hartino sama sekali, mereka duduk berdampingan di dalam mobil.
Hartino terdiam tidak menjawab dan cukup gugup.
“Bercanda Har, kau kan bilang tidak bisa menikah dengan wanita biasa, sedang pilihan tinggal aku, Jarni milik Ganding, Alka milik Aditia.” Lais tertawa seolah itu memang hanya lelucon, padahal itu adalah apa yang ingin Lais dengar dari Hartino, bukan apa yang ingin dia ucapkan.
Hartino ikut tertawa, walau ada rasa sesak di dada, entah kenapa, terbesit wajah Alisha yang membuatnya semakin gundah, berharap bahwa dia tidak pernah menemukan wanita lain agar memiliki alasan tetap menunda pernikahan.
_________________________________
Catatan Penulis :
Buat yang main Tikt*k, mampir di akunku ya Muka Kanvas. Aku buat creepy pasta secara visual di sana. Buat yang udah begadang semalam, maafkeun aku ya.
Terima Kasih.
__ADS_1