Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 490 : Nyebrang 22


__ADS_3

Satu, Sabdah tangkap, dia lempar ke zona gelap, lalu Mulyana menutup pintu untuk jin itu, dua, tiga, empat, 10, 15, 20. Sudah banyak yang dia masukkan, lalu malam itu hening setelah pertarungan sengit, Mulyana buru-buru menutup pintu zona gelap itu, memastikan tak ada lubang yang bisa membuat jin itu kabur, sekarang dukun-dukun itu tak punya taring, karena semua jin pesuruh telah habis dimasukkan ke dalam zona gelap. Mulyana, Aep dan Eman terduduk setelah memastikan zona gelap itu sudah aman.


“Aku capek.” Eman berkata.


“Kau capek Man? Kakakku mengalami pertarungan ini hampir setiap malam loh.”


“Terserahlah Mul, sekarang aku hanya ingin pulang dan tidur.”


“Baiklah kita pulang dan tidur dulu.” Aep berkata.


"Ngomong-ngomong tempat ini akan menjadi angker Mul? Ep?"


"Ya enggak lah, sudah kututup rapat." Mulyana dengan percaya diri mengatakannya.


Tapi dia salah.


Setelah membuat zona gelap dalam satu malam yang berat, Mulyana pamit pulang, tentu setalah beristirahat cukup.


Mulyana pamit dan meminta Aep untuk menjaga diri, mulai sekarang pasti para dukun sibuk mencari jinnya, jinnya hilang dalam semalam.


Aep akan hidup dengan tenang.


Setelah Mulyana pulang dan zona gelap itu juga sudah terbangun dengan aman, Wak Eman dan Aep mulai melanjutkan misinya.


“Sakit lagi Pak?” Tanya seorang tetangga pada Aep yang jalan tergopoh sambil batuk.


“Iya nih, padahal udah ke puskes, tapi masih aja sakit,” jawan Aep dengan santai, itu adalah tetangga yang biasanya suka ngobrol dengan ibu-ibu di sekitar rumah, Aep sengaja bertingkah sakit di depan ibu-ibu.


Berminggu-minggu Aep berjalan dengan wajah pucat dan batuk-batuk. HIngga rumor kembali muncul, rumor itu adalah, Aep dikerjai orang hingga sakit-sakitan.


Tak masalah, itu memang yang diinginkan Aep, dia ingin agar semua warga percaya dia sakit.


“Man, aku sudah siap, setelah aku pingsan, kau harus segera membawaku ke rumah sakit, mereka akan menyatakan aku meninggal dunia, setelah itu akan ada surat kematian yang dibuat, tolong adakan penguburan yang normal, biarkan mereka melihatku dikubur.”


“Ep, emang harus begitu, kenapa tidak meninggalnya kecelakaan saja, kenapa harus seniat itu? lalu apakah Dokter akan mau diajak kerja sama? karena kan, kau tidak benar-benar mati.”


“Siapa bilang aku akan meminta Dokter kerja sama? aku sudah mempelajari beberapa ilmu akhir-akhir ini, salah satunya, aku bisa memastikan detak jantungku seolah berhenti, tapi padahal tidak sama sekali, aku akan menggendam Dokter di sana, mereka akan melihatku sebagai pribadi yang telah mati dan jantungnya tidak terdeteksi, yang perlu kau lakukan adalah, memastikan prosesnya cepat, ketika akhirnya aku dikuburkan, aku akan memilih batang pohon yang nantinya akan merka lihat sebagai diriku yang dikubur.


Kau harus membuat kematian hingga penguburanku sangat amat cepat, jangan biarkan emreka untuk melayatku ya, tidak perlu, pokoknya pulang dari rumah sakit setelah dinyatakan meninggal dunia, kau harus buru-buru untuk mengburkanku, jangan tunggu apapun.”


“Ya aku akan lakukan sesuai perintahmu.”


“Lalu setelahnya, kau jangan hubungi Mulyana, karena kalau kau hubungi dia, dia akan datang dan kau pasti ketahuan, dia akan tahu kalau di dalam kuburan bukanlah aku.”


Lalu mereka berdua mulau menjalankan semua rencana itu.


...


SAAT INI MASIH DALAM ZONA GELAP


“Jadi, ayahku dan paman yang buat tempat ini? tapi paman bilang tempat ini takkan menjadi angker? Lalu kenapa sekarang malah banyak korban?” Aditia bertanya.


“Karena apapun yang ada di dunia ini, takkan pernah menjadi sempurna Dit, karena ciptaan manusia, pasti ada saja kurangnya.


“Kami memang telah membuat para jin itu terkurung, mereka takkan bisa lari dari zona ini, karena ayahmu membuat sawahnya terus berputar jika ada pergerakan, hingga akhirnya mereka tersesat. Jin-jin itu takkan bisa keluar dari sini.


Kami lupa, mereka masih punya tuan yang terus menerus mencoba untuk membebaskan peliharaannya, mereka merasakan peliharaannya ada di sawah yang telah aku hibahkan, maka akhirnya, zona gelap itu terkikis oleh kekuatan para dukun yang bersatu karena jinnya di buang ke tempat ini.


Maka terciptalah lubang, di mana zona gelap akan terbuka ketika waktu melewati tengah malam, korbannya banyak, benar sekali, bukan hanya Didin dan kekasihnya, sebelum itu juga ada korban lain, mungkin Eman belum cerita semua.”


“Tapi Paman, lalu setelah kalian berhasil membuat zona gelap itu, apa yang terjadi?” Aditia bertanya.


“Yang terjadi, Mulyana ayahmu pulang, sementara aku dan Eman pulang membuat skenario. Aku pura-pura sakit, lalu meninggal. Eman membuat prosesnya sangat cepat, aku menggunakan gendam untuk menipu banyak orang, ada Dokter, Perawat dan banyak warga desa ini.”


“Wah, kau pasti lelah menipu banyak orang gitu, pantasa saja, menipu kami takkan membuatmu merasa bersalah kan, Paman?” Aditia merengut lagi, dia masih kesal dengan ini.

__ADS_1


“Adikku saja tidak aku beritahu, apalagi kau.” Paman tertawa terbahak-bahak, semua orang melihat itu menjadi sedih.


“Kenapa wajah kalian sedih semua?” Paman bingung.


“Karena wajah dan suara paman, mirip sekali dengan bapak.” Alka berkata dengan lembut, rindu sekali pada pria paruh baya yang sangat teramat baik hatinya.


“Sudah, sekarang ayo kita mulai cari penyusup.”


“Penyusup?” Aditia bertanya.


“Ya, para dukun itu ada yang masuk dan berusaha menemukan jinnya di sini, banyak dari mereka belum menemukan jalan keluar karena sawahnya, sawah itu yang Mulyana buat untuk menyesatkan siapa pun yang datang.


“Kita harus mengeluarkan dukun-dukun itu dulu agar mereka tidak menjadi mayat di sini,” Ganding berkata.


“Cara carinya? Kelamaan kalau jalan bolak-balik seperti sebelumnya.” Aditia menolak untuk jalan sambil memperhatikan sawahnya, buang waktu.


“Ya tidak bisa, kalau kau mau yang mudah, maka kau akan tersesat, makanya Mulyana membuat tempat ini sangatlah rumit, kau harus hargai jerih payah ayahmu.”


“Tapi jerih payah ayahku membuat kita semua di sini sekarang.” Aditia kesal, karena pamannya masih saja santai.


“Anak muda jaman sekarang memang kurang gigih.” Paman Aep berjalan dan dia jalan sambil melihat ke arah sawahnya.


Hingga mereka akhirnya ada seorang wanita dengan pakaian khas tahun 80an, dress selutut dengan motif bunga, sepatu dengan hak yang cukup tinggi, rambut yang memiliki sasakan yang sama tingginya dengan hak sepatu, dipadupadankan dengan bandana warna mencolok, apalagi kalau bukan warna merah?


Sayang, wanita itu berjalan dengan cara diseret, kaki kanannya bengkok, kepalanya juga tidak tegak, seperti tulang lehernya patah, dia terus berjalan dengan begitu lambat, tapi begitu melihat kawanan dan Paman Aep, dia berlari mengerjar mereka, Paman Aep menebas lehernya dengan golok, rupanya senjata pusaka paman adalah golok, setelah kepala itu ditebas, dia lalu menebas lagi tangan dan kaki hingga menjadi beberapa bagian.


“Cincang mereka, karena kalau tidak dicincang, mereka bisa menyambungkan kembali tubuhnya.”


Paman Aep memberi perintah, lalu kawanan mulai mencincang daging dengan wujud jin itu.


Setelah selesai kawanan ikut lagi berjalan.


“Ini tuh kayaknya akan jadi kasus terberat nggak sih?” Aditia tiba-tiba bertanya.


“Kenapa?” Alka penasaran.


“Husss! Kau jangan bicara sembarangan di tempat seperti ini, nanti kejadian baru kau akan ....” Paman Aep memperingatkan tapi perkataannya tidak diteruskan, karena sudah kejadian.


“Wah Dit, doamu dikabulkan, tuh liat.”


“Brengsek!” ada gerombolan jin dengan tubuh tak utuh mengarah kepada mereka.


Kawanan berlari dan mulai menyerang pada puluhan jin itu, Sabdah dikeluarkan, seketika bumi terasa bergoncang, bahkan kawanan hampir jatuh karena keluarnya Sabdah dari tubuh Paman Aep itu membuat pijakan mereka benar-benar bergoyang.


“Wah, itu dia ternyata peliharaan pamanmu, sungguh sangat besar. Rangda, kau tidak ada apa-apanya.” Hartino meledek khodam istrinya yang sudah keluar dari tubuh juga, bukannya sakit hati, Rangda malah bermain mata dengan jin besar itu, ternyata seleranya seperti itu.


“Kau bisa fokus nggak, jangan centil, nanti kau aku kurung ya di tubuhku, berani sekali kau main mata, umur berapa kau!” Alisha marah, dia seperti marah pada anak remaja yang sedang jatuh cinta, Ranga menatap Alisha dengan kesal lalu ikut menghajar jin itu.


Seperti dugaan, mereka semua mampu mengembalikan tubuh yang sudah terpotong itu segera setelah ditebas, Sabdah mengambil tubuh jin itu lalu mengoyaknya dengan menarik tubuh itu pada dua arah yang berbeda, hingga tubuh itu hancur lebur dibuatnya.


Sabdah bisa menghancurkan mereka seperti merobek kertas menjadi kepingan, itu membantu, tapi kawanan, menjadi sangat lelah, seberapa kali pun mereka menebasnya tubuh itu terus kembali.


“Cukup! Cukup!” Paman berteriak, dia melihat kawanan sepertinya kelelahan, gawat kalau sampai mereka tidak sadar dan akhirnya darah salah satu kawanan jatuh di aspal ini, maka kemungkinan zona gelap akan hilang mantranya, karena untuk membatalkan mantra di zona gelap ini, hanya perlu darah dari keturunan si pembuat, artinya, darah Aditia.


Kawanan menurut, Aditia lalu membuka pintu ghaib untuk keluar dari tempat itu, kawanan berlari, terakhir adalah Paman Aep, dia sudah kelua dari zona gelap dan tidak lupa membawa serta Sabdah di dalam tubuhnya, pintu itu lalu ditutup rapat agar tak bisa ada yang keluar.


Mereka kembali ke rumah paman Aep dan duduk di ruang tamu beralas tikar, sedang Wak Eman membawa bala-bala dan kopi hitam satu teko.


“Wak, bisa-bisanya kau mengelabui kami.” Aditia kesal lagi.


“Bukan aku, pamanmu yang tak mau siapapun untuk diberitahu kalau dia masih hidup, terutama Mulyana, aku hanya menjaga amanah itu.” Wak Eman membela diri.


“Lalu setelah pamanku tahu, aku yang datang, kenapa tak beritahu aku?” Aditia bertanya lagi,


“Pamanmu melarang, dia ingin lihat cara kerja kalian, nanti kalau dia yang bantu, itu akan menjadi mudah bukan??” Wak Eman tertawa.

__ADS_1


“Lalu sekarang kau datang begini, tak takut ada yang melihat Paman?” Ganding bertanya.


“Tidak, karena aku tadi sudah merubah wujud menjadi Eman saat keluardari zona gelap.”


“Wah kau seperti Alka, Paman, mampu merubah diri.” Alisha berkata sembari makan bala-bala dan menyeruput kopi.


“Itulah kenapa paman kalian butuh waktu untuk tidak diganggu, dia perlu berlatih dengan sangat gigih agar Sabdah bisa dia kendalikan, tapi kalau diserang setiap saat, bagaimana caranya dia mampu mengendalikan Sabdah?


Makin hari aku melihat paman kalian memang semakin tinggi ilmunya, dia juga membantu banyak orang untuk lepas dari pengaruh ghaib, dia mengobati banyak orang dengan wujudku, jadinya namaku tersohor.” Wak Eman tertawa mengatakannya, merasa bangga.


“Kau tidak ingin dipuji atau mendapat keuntungan, paman? Dari semua pertolonganmu itu?” Ganding yang bertanya kalia ini.


“Tidak, seperti kalian, apa kalian butuh uang dan pujian? Kalau butuh, kenapa selalu menyamar setiap kali membantu orang?”


“Karena kami ....”


“Merasa cukup.” Kawanan berteriak mengatakannya, itu adalah apa yang mereka yakini, mereka memang anak-anak orang kaya, tapi kalau mereka mau, mereka bisa jauh lebih kaya dari ini, tapi mereka tak serakah, makanya merasa cukup itu ilmu yang sulit dipelajari, kecuali oleh jiwa yang tulus.


“Ya, itu dia, aku sudah merasa cukup.”


“Jadi kita hanya harus mengeluarkan dukun yang membuat lubang di dalam zoba gelap itu Paman?”


“Ya, kita harus mengeluarkannya dari tempat itu, karena lubang yang dia ciptakan itu, memberi keuntungan yang banyak baginya.”


“Ya, pasti lubang itu dia gunakan untuk mengeluarkan jin yang ada di zona itu, beruntung kami memilih kasus ini, jadi bisa langsung tahu kalau zona itu bolong, sudah berapa jin yang dikeluarkan dari zona itu oleh para dukun, Paman?”


“Nol.”


“Hah? kok bisa? Bukannya maksud mereka menciptakan lubang untuk mengambil jin-jin itu dari zona gelap?” Ganding tak punya analisa apapun tentang ini.


“Awalnya iya, itu rencananya, tapi ... entah dari mana pemikiran itu datang, mereka menggunakan zona gelap sebagai menara pertahanan, mereka menyerang musuh melalui lubang dari zona gelap, lalu musuh tak bisa mendeteksi mereka karena zona gelap dimantrai dengan ilmu tinggi oleh Mulyana sehingga, bisa melindungi dukun brengsek yang menjadikan zona gelap itu sebagai menara penyerangan dan juga perlindungan.” Aep menjelaskan.


“Apa! brengsek! Mereka menggunakan tempat yang ayahku buat untuk mengurung jin jahat itu sebagai tempat penyerangan sekaligus perlindungan? Tempat penyerangan karena melalui lubang itu mereka bisa mengirim santet dan lainnya, lalu terlindungi karena zona gelap itu sulit terdeteksi oleh dukun ilmu rendah apalagi orang awam? Sungguh di luat batas kelakuannya.


Karya ayahku dijadikan rendahan oleh mereka,” Aditia geram.


“Aku sadari itu ketika sedang bertarung dengan salah satu dukun di suatu daerah tempatku tinggal, dukun itu kalah, dia lalu bilang kalau dia murid seorang yang memiliki benteng tebal yang tidak dapat terdeteksi, dia sebut nama desa ini.


Maka aku sadar, salahku tidak pernah memantau ke sini, karena percaya, tak ada yang mampu menjebol pertahanan yang Mulyana buat, tapi sayang, entah dukun mana yang begitu hebat mampu membuat lubang.” Aep menyesal karena kurang peduli.


“Paman, siapa musuh yang kau curigai?”


“Seorang perempuan yang dulu memfitnah aku dan istri Eman.”


“Wanita?” Kawanan dan Eman terkejut, musuh besar mereka seorang dukun wanita?!


“Kau sudah menemukan perempuan itu, Ep?” Eman bertanya.


“Sudah, dia memang sangat sakti, dukun wanita itu bahkan mampu menggendamku dengan membautku melihat istri dan anak yang belum sempat dilahirkan.”


“Wah, bukan wanita sembarangan, kita harus waspada saat besok mulai menyerang lagi, tapi soal jin yang begitu banyak itu, apa kau tidak punya solusi, Paman?


_____________________________


Catatan Penulis :


Kemarin aku udah SS dua akun yang aku pikir lumayan dekat menebaknya, walau tetap tidak tepat, kau mau kasih kalian tumblr AJP, DM IGku ya kasih alamat.


Ini akunnya :


Akun ini walau jawabnya Sabdah tapi di coment awal dia bilang BICARANYA KAYAK AEP. Aku kirim tumblr untukmu ya, DM igku alamatmu.



Akun ini analisanya bagus, dia ingat kalau Aditia tidak bertemu Sabdah tapi ketemunya Aep, walau tebakan akhirnya salah, tapi aku suka analisanya. Dia memilirkan cluenya dengan baik. Aku mau kirim tumblr untukmu ya, DM alamatmu di IGku ya.

__ADS_1



__ADS_2