Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 105 : Ganding 5


__ADS_3

 Angkot Mulyana sudah tiba di suatu tempat, dia lalu meminta Ganding intuk turun.


"Kenapa kita mesti ke hutan gini?" Ada rasa takut yang Ganding rasakan, karena hutan ini gelap.


"Kenapa? takut?"


"Emm, nggak sih, cuma aneh aja."


"Aneh atau curiga?" tanya Mulyana.


"Ok, aku akan jujur. Aku memang sedikit curiga dan ... takut."


"Takut? Ganding si anak jenius takut?"


"Ya, ini bukan sesuatu yang bisa aku jangkau, makanya aku takut."


"Bisa kok, bisa kau jangkau, makanya aku membawamu ke sini, ekspektasimu padaku terlalu tinggi." Mulyana tertawa.


Setelah turun dari mobil mereka lalu berjalan lebih ke dalam hutan, di tengah hutan, terlihat gua yang cukup besar menganga, Mulyana masuk. "Loh kok, berenti? ayo masuk." Mulyana yang sudah masuk gua akhirnya keluar lagi karena tidak melihat Ganding di belakangnya.


"Kita benar akan masuk?"


"Ya, kau mau masuk atau pulang?"


"Aku ...." Ganding ragu karena kalau dia kenapa-kenapa saat ini, keluarganya tidak akan tahu, karena ada duplikatnya di rumah itu.


"Kalau kau ragu dan takut, kita bisa pulang kok, kuberi kau waktu lima menit untuk memilih."


"Hah lima menit? kok cepet banget?" Ganding bertanya.


"Ya sebenarnya kau tidak perlu waktu kalau kau benar ingin pulang atau masuk, aku tahu kau orang yang penuh perhitungan, jadi mana mungkin kau mau sia-sia padahal sudah sampai di sini. Kau akan aman, aku janji." Mulyana akhirnya menenangkan.


"Ya, aku akan masuk."


Ganding akhirnya mengikuti Mulyana ke gua, mulut gue itu cukup panjang, setelah berjalan beberapa menit, ada pintu di dalam mulut gua itu, pintu yang cukup besar tebuat dari kayu, sepertinya kayu jati, karena Ganding terlihat keberatan saat memegang pintu itu agar tidak menutup saat dia masuk. Sungguh pemandangan yang sangat berbeda, di balik pintu ada ada ruangan yang cukup luas, begitu kita masuk ke balik pintu itu, kita akan lupa sedang berada di gua, karena gua bagian dalam itu selayaknya apartemen studio, ada tempat tidur besar, lemari besar, sofa dan meja yang membentuk oval, lalu makin ke dalam ada dapur dan juga kamar mandi, benar-benar tidak disangka. Tapi daripada semua itu, yang membuat Ganding terkejut adalah, ada seorang remaja perempuan di sana, dari perawakannya, Ganding menakar umurnya mungkin sekitar tiga belas atau empat belas tahun.


"Kenalkan, ini namanya Kakak Saba Alkamah, kamu bisa memanggilnya Kak Alka,” Pak Mulyana berkata.


“Halo Kak Saba, aku Ganding, senang berkenalan denganmu.” Ganding bersikap sopan.


Alka hanya melihatnya tanpa bereaksi apapun, dia terlihat sedang membaca.


“Baiklah, Saba, kau harus partisipasi untuk pelajaran ini, agar kalian berdua bisa mengendalikan milik kalian masing-masing.”


“Ya,” Saba menjawab. Masih dengan wajah tidak ramah.


“Baiklah ayo kita ke bagian belakang gua.” Pak Mulyana mengajak mereka untuk keluar lewat pintu belakang gua, ya, gua punya pintu belakang, di sanalah hutan tempat ritual selalu dilakukan.


“Hei, kau kemari.” Mulyana menyuruh Si Bulu untuk menghampirinya dan lebih mendekat, Si Bulu ikut perintah karena dia tahu, Mulyana memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi.


“Baiklah, sekarang, tanyakan padaku apa yang ingin kau ketahui,” Mulyana berkat. Ganding lalu berfikir, satu-satunya yang sangat ingin dia ketahui adalah siapa Si Bulu ini.


“Siapa Si Bulu ini?”


“Bukan siapa, tapi apa.”


“Ya, baiklah, dia itu apa?”


“Sebelum pada pokok pembicaraan itu, aku akan jelaskan dulu kenapa dia turun kepadamu. Hampir semua orang yang diturunkan oleh nenek moyangnya khodam akan mengalami, Sigur Ziqala, ini adalah keadaan di mana kau sebagai ahli waris khodam akan mendapatkan salam sapa dari khodammu sebelum dia akhirnya akan berada di sisimu, salam sapa ini berupa penglihatan pada dunia ghaib dan juga pada kasusmu adalah Si Bulu ini.”


“Wah menarik sekali, Sigur Ziqala, seharusnya aku membawa buku agar bisa mencatat penjelasanmu, Pak.”


“Tidak perlu, karena kelak kalian akan ikut membantuku menyusun kitab ghaib.”


“Baiklah, boleh silahkan lanjutkan penjelasannya, Pak.”


“Jadi Sigur Ziqala ini adalah saat kau disapa oleh khodammu dan bisa jadi itu adalah hadiah pertamanya untukmu.”


“Hadiahnya cukup unik ya, Pak.”


“Begitulah, itu  adalah tanda sayang, bukankah Si Bulu yang melindungimu saat hal buruk terjadi?”


“Ya, dia melindungiku saat teman sekelas hendak memalakku.”


“Anak SD sudah memalak? wah kejam sekali dunia saat ini.” Pak Mulyana kaget, dia tidak percaya bahwa anak sekolah dasar sudah sekejam itu memeras uang temannya.

__ADS_1


“Iya sudah, makanya kita harus pandai menjaga diri,” Ganding berkata.


“Ya, jadi kau sudah paham ya, asal-usul Si Bulu, dia dalah Sigur Ziqala milikmu, tanda cinta dari khodammu.”


“Ya, aku paham Pak, tapi pertanyaannya, berarti nanti aku akan punya dua sosok yang menjagaku? pertama Si Bulu dan yang kedua khodamku, lalu khodamku bentuknya apakah akan unik seperti ini?”


“Si Bulu bukan khodammu, khodammu ya berbentuk seperti manusia pada umumnya, hanya umurnya saja sudah sangat tua, tampilannya pun tua.”


“Oh begitu, kalau Si Bulu bukan khodamku, lalu dia apa?”


“Nah itu pertanyaan bagus.” Mulyana lalu mengulurkan tangannya pada Si Bulu, tapi Si Bulu menggeleng.


“Ya, beberpa Siqur Ziqala tidak mudah dikendalikan, mungkin milikmu salah satunya. Ulurkan tanganmu ke arah Si Bulu.” Mulyana memerintah Ganding, Ganding mengikuti arahan Mulyana, dia mengulurkan tangan ke arah Si Bulu dengan gerakan yang sama seperti Mulyana lakukan.


Dalam hitungan detik, Si Bulu hilang dalam kepulan asap, asap itu bergerak ke arah tangan Ganding, lalu dari kepulan asap itu muncul sebuah benda, benda itu tepat mendarat di tangan Ganding, sebuah benda yang cukup berat bagi anak umur enam tahun itu.


“A-apa ini Pak?” tanya Ganding. Dia memandang benda yang ada di tangannya, walau berat tapi dia masih bisa menahannya.


“Ini adalah senjatamu, ini hadiah dari khodammu, makanya dia tidak bicara, karena memang tidak bisa bicara, wujudnya hanya sebuah samaran agar kau bisa menerimanya, mari kita tebak bersama, menurut Alka, kenapa trisula tombak ini berwujud seperti itu saat turun kepada Ganding.”


“Kau suka binatang kuda dan kagum pada kemampuan burung terbang kan?” Alka menjawab.  Ganding kita dia gadis remaja yang tidak perdulian, tapi ternyata dia tahu itu.


“Ya, bagaimana kau tahu aku suka kuda dan sangat kagum pada kemampuan burung yang bsia terbang?” Ganding terpukau.


“Kaki Si Bulu seperti kuda, wajahnya seperti burung, dan bulu-bulu itu adalah refleksi rumit dan gelapnya caramu berfikir.”


“Wah, kau pintar Kak,” Ganding memuji.


“Alka cerdas, benar sekali, khodam akan menggunakan cara pendekatan dengan apa yang pemiliknya sukai, tapi beberapa ada yang memilih cara lebih sulit lagi, yaitu mengirim hal yang paling ditakuti, agar pemiliknya menjadi lebih kuat lagi, pengalamanku beberapa anak seperti itu,” jelas Mulyana.


“Oh begitu, pantas aku tidak terkejut saat dia datang padaku pertama kali, ternyata memang karena aku sudah suka sejak awal dan dia memang di design untukku, aku mengerti sekarang.”


“Berlatihlah menggunakan senjata ini dengan bijak, melihat prilakunya yang tidak menurutiku, sepertinya dia senjata yang akan cukup berat untuk kau kuasai, walau dia tahu tugasnya melindungimu tapi kemungkinan akan sulit untuk dikendalikan.”


“Tapi aku sudah sering memerintahnya.” Ganding berkata dengan bangga.


“Memerintah untuk hal sepele mungkin akan dia penuhi, tapi ketika kau memerintahnya untuk bersabar dan tidak menimbulkan korban jiwa saat kau keluarkan, itu akan sulit.”


“Korban jiwa? memang kita akan melakukan perang atau semacamnya sampai harus ada korban jiwa?”


“Kau pikir dia tidak punya manfaat ketika diturunkan kepadamu? kau piki trisula tombak itu hanya akan jadi pajangan?”


“Bukan seseorang, tapi sesuatu Ganding,” Alka berkata.


“Sesuatu? misalnya?”


“Jin itu tidak semua baik, begitu juga manusia, tidak semua baik, terkadang ada manusia yang bersekutu dengan jin yang sama jahatnya dengan manusia itu untuk melakukan hal yang merugikan manusia lain,” Mulyana menjelaskan.


“Bisa begitu? aku pikir tidak banyak orang seperti kita.”


“Banyak dan tidak semuanya baik.”


“Hal seperti apa yang bisa merugikan orang lain dilakukan oleh persekutuan jin dan manusia yang jahat itu?”


“Pesugihan yang menuntut tumbal manusia lain atau keluarga dekat, santet karena dendam, pelet karena cinta dan kebencian yang berlebihan atau sekedar iseng dan masalah lainnya yang berhubungan dengan ghaib.”


“Waw, ternyata aku belum tahu apa-apa.” Ganding terpukau lagi.


“Makanya banyak belajar bersama Alka, mulai sekarang, setiap pulang sekolah kau akan ke gua ini, anak yang pulang ke rumah adalah jin yang menyamar, kau harus banyak berlatih karena trisula tombak ini sudah diturunkan maka harus segera di kendalikan.”


“Baik Pak, terima kasih.”


Lalu Ganding dan Alka berlatih bersama di hutan belakang gua itu, sementar Mulyana narik angkot lagi, ada keperluan yang harus dia lakukan, kata Psikiater itu ada lagi satu anak perempuan yang kemungkinan memiliki masalah seperti Ganding, Mulyana harus mengawasi anak itu dulu baru mulai mendekatinya di rumah itu, bisa dengan menyamar menjadi tekhnisi AC.


“Jadi apa senjatamu Kak?” tanya Ganding.


“Kau mau lihat?” Alka bertanya.


“Ya, kalau kau tidak keberatan.”


“Baiklah.” Alka mengeluarkan senjatanya, sebuah cambuk yang terlihat lusuh tapi sangat kuat, Alka menyabet cambuk itu hingga suaranya menggelegar, Ganding kaget sampai hampir jatuh.


“Kaget aku, keren sekali senjatamu, apakah khodammu juga mengirimkan itu? dalam bentuk apa?”


Alka diam, tidak menjawab.

__ADS_1


“Kak, aku harus apa sekarang?” Ganding bertanya.


“Kau bisa ilmu bela diri?”


“Tidak, tapi kalau soal science aku jago, kakak sekolah SMP ya?”


“Aku tidak sekolah, kita tidak akan belajar pelajaran sekolah di sini.”


“Kok tidak sekolah? sekolah itu bagus, apa kau punya masalah keuangan? Orang tuaku punya yayasan yang biasa bantu orang sulit biaya untuk sekolah, kau mau aku menghubungi mommy untuk bantu Kakak.”


“Aku tidak sekolah, pertama karena aku tidak tertarik, kedua umurku sudah tidak pantas lagi untuk sekolah.” Alka berusaha menolak tapi dia tidak punya alasan yang cukup bagus, makanya dia jujur saja.


“Masa? Umurmu itu baru tiga atau empat belas tahun kan? belum terlambat Kak.” Ganding terus memaksa.


Alka tertawa mendengar itu, Ganding senang Alka jadi lebih mencair, walau tidak tahu apa yang dia tertawakan.


“Aku sudah bukan lagi remaja, kau berapa tahun? enam tahun? kita beda usianya empat belas tahun.”


“Apa! tidak mungkin! Kau pasti bohong,” Ganding menyangkal.


“Tidak, aku tidak bohong, umurku memang dua puluh tahun, tapi aku tidak punya KTP dan sejenisnya karena aku bukan ….”


“Bukan apa?” Ganding penasaran.


“Sudah, jangan banyak bertanya, berlatihlah yang benar, kau itu bawel sekali.”


“Baiklah Kak, aku akan berlatih, tapi aku bingung mau mulai dari mana?” Ganding bertanya.


“Kita mulai dari ilmu bela diri saja ya? karena itu adalah pondasi dari sebuah perjuangan.”


“Perjuangan? memang kita akan memperjuangkan apa lagi? kan, sudah merdeka, tidak ada perang-perangan lagi.” Ganding bingung.


“Negara ini memang sudah merdeka, tapi dunia lain di negara ini suka cari masalah dengan memancing manusia jahat mengikuti jejak mereka, makanya Bapak bersiap agar kita bisa membantu para korban menghadapi persekutuan jin dan manusia yang jahat.”


“Ya, aku sudah dengar kalimat itu beberapa kali hari ini, mari kita mulai latihan bela dirinya.”


Alka akhirnay mulai mengajarkan Ganding bela diri, agak sulit karena Ganding anak rumahan yang suka baca buku, bahkan pukulannya terkadang sangat lemah, Alka lupa bahwa kekuatannya itu bisa bukan kekuatan manusia biasa yang berumur dua puluh tahun.


Tapi dia harus melatih Ganding, karena memiliki senjata tapi tidak memiliki kemampuan beladiri sama saja seperti berjalan dengan satu kaki, bisa tapi sulit dan berat.


“Kak, kenapa bapak bilang bahwa senjataku itu sulit dikendalikan, maksudnya apa? ini kan hanya senjata, kita tinggal gunakan di saat genting, sudah selesai.”


“Kau mau tahu apa yang bapak maksud dengan sulit dikendalikan?”


“Ya, aku penasaran.”


“Baiklah begini saja, keluarkan senjata itu tapi dengan rasa marah ya,” Alka mengusulkannya.


“Baik, akan aku coba.”


Lalu Ganding mengeluarkan tombak trisulanya dengan memikirkan saat-saat yang menyebalkan dan membuat dia marah, saat dia berhasil menciptakan rasa marah itu, tombak keluar dengan sangat berat dan terasa panas, makin lama tombak trisula itu semakin panas, Ganding sampai harus melemparnya karena itu seperti membuat tangannya melepuh.


“Ambil kembli tombak trisulamu, lalu masukkan kembali ke dalam ragamu,” Alka memerintah lagi.


“Baik,” Ganding menjawab.


“Sudah?”


“ Sudah,” jawab Ganding.


“Maka habislah kau!” Alka tertawa terbahak-bahak.


“Apa sih?” Ganding bingung.


“Kita tunggu saja, berapa lama kau akan bertahan, karena senjata itu akan membuatmu menderita.” Alka meneruskan tawanya.


Lalu mereka berdua berpisah, Ganding diantar lagi oleh Mulyana ke rumah, setelah sebelumnya mengeluarkan Ganding samaran dari rumah.


“Kau darimana Pak?” Iseng Ganding bertanya pada Mulyana, mereka baru akan sampai rumahnya Ganding.


“Aku sedang menangani kasus anak yang umurnya dibawahmu, dia kemungkinan juga mengalami hal yang sama denganmu.”


“Oh ya, kasihan sekali, semoga dia bisa menanganinya, tidak mudah menangani hal semacam itu walau kami adalah lelaki.”


“Dia bukan anak laki-laki, dia anak perempuan, untung Psikiater yang menanganimu juga menanganinya, katanya anak itu sempat sembuh karena obat, tapi satu bulan belakangan kambuh lagi karena mereka memberhentikan minum obatnya, jelas kalau anak itu sepertimu, obat tidak akan membantu banyak, mungkin mengulur waktu, tapi tidak akan pernah bisa membantu.”

__ADS_1


“Kasihan sekali, gadis kecil yang malang,” gumam Ganding.


“Kau juga pria kecil yang malang.” Mulyana mengusap kepala Ganding, dia merasa lucu, Ganding mengkhawatirkan orang lain, padahal dia sama kesulitannya dengan gadis itu.


__ADS_2